Assalamu'alaikum Warahmtullahi Wabarakaatuh, Adidunsanak palanta yang mulia,
Hari Ibu ya hari ini? Sebuah tulisan kecil kuhadiahkan khusus untuk semua Mama, Bunda, Ibuk, Mamak, Mandeh, Biyai etc yang berada dimanapun juga. Banyak cinta untukmu .. Ketika Mama Berhaji.. By : Ritrina Nak Kanduang... begitulah Mama selalu memanggilku. Mama kelihatan sangat kelelahan berjalan kaki di tengah panas terik yang mengiringi kami di hari itu. Dia memanggilku yang berjalan disebelahnya untuk mengajakku berhenti sejenak kelelahan. Dari mulutnya selalu saja keluar pertanyaan menanyakan apakah aku kecapek-an. Padahal sepertinya dialah yang sangat kelelahan dan berkeringat banyak. Saat itu kami tengah berada di persimpangan jalan dekat Taman Makam Pahlawan Gulai Bancah Bukittinggi. Persimpangan jalan yang satunya menuju arah Kota Medan Sumut dan satunya menuju arah Kota Bukittinggi itu kami berhenti sejenak di pinggir jalan yang sangat panas terik itu. Ceritanya Mama ingin menguji nyali dan fisiknya untuk persiapan menuju Tanah Suci Mekah yang akan ditempuhnya sebulan lagi. Konon kabarnya cuaca akan sangat panas di musim haji tahun itu. Seminggu sebelumnya Mama masih terbaring lemah di tempat tidur untuk proses penyembuhannya dari sakit Tifus. Sakit yang sudah dua bulan lebih ini membuat dia terbaring sakit tak berdaya. Makin hari tubuhnya yang kurus menjadi semakin kurus saja. Namun Mama memiliki semangat yang kuat untuk sembuh dan untuk naik haji. Niat untuk naik haji ini sudah lama ingin dilaksanakannya. Berhubung karena tabungannya belum juga cukup maka selalu saja tertunda. Di tahun 1988 ini Mama hampir mencukupkan tabungan ONHnya sehingga semangat untuk naik haji begitu menggelora dihatinya walaupun kondisinya saat itu sedang sakit. Keluaga kami bukanlah keluarga orang berada, naik haji adalah sesuatu yang sangat tinggi untuk digapai. Problem terhalangnya naik haji bukan hal lain akan tetapi murni factor biaya. Aku yang sedari kecil sudah dibiasakan hidup sederhana, hemat dan apa adanya, segala sesuatu yang kiranya bisa dimanfaatkan maka dimanfaatkan selagi halal. Begitupun dengan Mama, Mama bekerja keras membantu Papa yang hanya PNS golongan rendah namun telah berhajji (Alhamd) dengan biaya Pemerintah, mengemban tugas dari Departemen Kesehatan RI. Kami sebagai anak- anaknya harus berusaha keras untuk tetap belajar dan berprestasi. Kawan, dirimu mungkin tidak percaya dari mana asalnya Mamaku bisa menabung untuk naik haji. Mama mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari hasil menjahit, beternak dan hasil padi sawah di kampung. Mama memiliki Buku besar Finansial yang berisi segala macam catatan mengenai kehidupan finansialnya. Semua tercatat rapi dengan tulisan tangan khas tulisan miring bersambungnya yang antik. Aku kadang suka nyuri diam-diam membaca buku itu. Bagiku hal yang dituliskannya disitu sungguh sangat menarik. Kadang aku bertanya kenapa mesti dicatat-catat segala, padahal kita kan gak terlalu banyak uang bahkan sering ga cukup. Rupanya menurut Mamaku, bila uang telah melimpah malah justru gak perlu terlalu memikirkan hal financial ini, santai-santai saja. Dengan ketiadaan kami itu makanya segala sesuatu yang berhubungan dengan financial rumah tangga itu dimanage dengan ketelitian tinggi dan sangat konservatif. Begitulah Kawan kira-kira penjelasan Mamaku, kalo pada ga paham buka kamus aja ya..!! Contohnya berkurban disetiap Hari Raya Haji, Mama selalu mengikutinya dengan cara memiliki celengan tersendiri yang selalu diisi setiap ada kesempatan mengisi yang jumlahnya setiap bulan harus sama dengan Biaya Peserta Qurban dibagi duabelas sehingga pas hari H telah genap atau kurang sedikit namun jarang berlebih. Mama memiliki jiwa yang sangat penyayang, jangankan kepada anak-anaknya, pada binatang ternak peliharaannyapun demikian. Bila ada yang sakit Mama akan memberi obat dulu dan makannyapun disuapin. Pernah kambing kami diberi susu lewat dot yang dibeli Mama. Kata Mama biar lekas besar si anak kambing itu walaupun ibunya ada yang menyusui. Susu palsu di dalam botol itu bukanlah susu instand akan tetapi susu yang dibuat Mama dari air tajin yang diberi sedikit gula. Begitu dengan ayam dan bebek kami, aku merasa lucu sekali bila Mama sudah sibuk menyuapi ayam atau bebek yang cacat dari lahir atau kakinya patah sehingga makan lebih didominasi kawannya yang lain. Sampai mereka agak besar dan menjadi santapan sedap bagi kami sekeluarga. Dengan begitu mereka dimanfaatkan sesuai tujuan hidupnya. ----------- Ketika tahun 1988 tabungan Mama yang telah mencukupi untuk dia bisa melaksanakan Haji. Malangnya Mama malah kena penyakit Malaria dan bersambung dengan penyakit tyfus yang membuat badannya yang kurus menjadi lebih kurus lagi. Kakek sering datang menjenguk Mama dan membujuk Mama untuk mengundurkan niatnya sampai tahun depan untuk berhaji. Tetapi Mama berkeras untuk berhaji sebab menurutnya siapa yang berani menjamin hidupnya akan sampai ke tahun depan. Bayangkan Kawan, keras hatinya Mamaku ini. Akhirnya tahun itu Mama pergi juga naik haji dengan diantar oleh kerisauan hati keluarga besar kami mengingat kondisi kesehatan Mama yang belum begitu pulih. Mama begitu kecil dan kurus diantara kawan-kawan serombongan beliau yang terlihat gemuk-gemuk dan makmur. Aku heran kenapa aku menangis Kawan, padahal Mama kan pergi Naik Haji, harusnya aku bangga, Mamaku bisa naik haji. Tapi airmata begitu saja mengalir dan sesegukanku membuat semua orang menjadi menangis, Mama yang sudah naik Bis turun lagi di asrama haji itu ketika dia mau berangkat ke bandara, dia mengulurkan selembar uang lima ribu rupiah untuk membujuk tangisku. Bukan berhenti aku malah tambah menangis. Efeknya membuat pengantar termasuk Kakekku mertua beliau yang sudah tua yang juga sangat menyayangi Mama tidak kuat untuk melepas kepergian Mamaku itu. Rasanya seperti melepas orang meninggal saja ceritanya kemudian hari. Kawan, Mama bagiku sungguh orang yang sangat sangat sangat .....berjasa. Tanpa dia keluarga kami mungkin hancur karena banyaknya jasa beliau yang tidak bisa tergantikan. Alhamdulillah sampai hari ini diriku masih bisa minta tunjuk bumbu apa untuk membuat masakan apa kepadanya. Mama dengan sangat sangat sangat senang hati Mama akan menjelaskan walau sering kelupaan dan kembali menelepon menjelaskannya. Duh Mamaku sayang. hanya bumbu secuil yang ketinggalan bagi dia itu adalah suatu yang besar dan sesegera mungkin dijelaskan kembali. Punyakah dirimu Kawan Mama seperti Mamaku??? Yang membekali anak-anaknya dengan segala ilmu, akidah, akhlaq dan berbagai keterampilan??? Dengan bangga aku tunjuk diriku Kawan..Aku punya ... Satu pertanyaan tercecer Kawan...Sanggupkah aku meniru ketangguhan Mamaku??? Wallahu'alam..Tolong do'akan aku ya, Aku harus bisa..!!! Selamat Hari Ibu Mama... Banyak cinta untukmu... Batam, 22 Desember 2010 Ritrina,S. Ag -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
