Suatu hari di bulan Oktober 2007 di Meulaboh, ibukota Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussallam.
"Pak Darwin kembali ke Banda Aceh pakai pesawat lagi saja," ujar Pak Slamet, insinyur senior dari perusahaan yang mempekerjakan saya di Aceh, ketika saya mengatakan kepadanya bahwa saya ingin ikut Tim Survey yang akan kembali ke Banda Aceh keesokan harinya melalui jalan darat. "Saya nanti dimarahi Pak Rudi kalau beliau tahu," lanjutnya. "Sampaikan kepada Pak Rudi, bahwa itu keinginan saya sendiri, dan saya ingin kita lewat Calang," tegas saya. Mendengar jawaban tersebut, akhirnya Pak Slamet "menyerah" Perjalanan darat Meulaboh - Banda Aceh menyusur pantai Barat sepanjang 240 km ketika itu memang merupakan perjalanan yang sangat jauh dari ringan. Sebagian besar jalan sepanjang 150 km Calang - Banda Aceh yang rusak berat akibat bencana, termasuk 110 jembatan masih dalam perbaikan. Ruas yang agak jauh dari pantai yang merupakan jalan melintasi punggung bukit dari ngarai yang dalam dan terjal dengan belokan-belokan tajam yang mecekam. Kendaraan umum dan pribadi, biasanya lebih memilih jalur via Geumpong yang melintasi punggung Bukit Barisan. Juga masih ada sungai Lambeso yang masih harus dilewati dengan pontoon di Lamno. Pesisir Barat Aceh yang rusak berat karena bencana tsunami sebelumnya adalah wilayah yang sama sekali asing buat saya. Adalah kebiasaan saya untuk selalu berusaha mengenal secara dekat wilayah Proyek tempat saya bekerja, walaupun kadang kala harus menempuh perjalanan yang berat dan berisiko. Kondisi fisik yang mulai menurun mengikuti usia yang semakin menua, sama sekali tidak mengurangi keinginan saya untuk meneruskan kebiasaan tersebut . Seperti diketahui, pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,3 menurut skala Richter di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh, yang merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Asia Tenggara. Di Indonesia, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatra gempa menelan lebih dari 200.000 korban jiwa dan 500.000 lainnya kehilangan tempat tinggal. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama. Di ibu kota NAD Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami, sebanyak 71.474 jiwa tercatat hilang atau meninggal. sebuah foto udara yang merekam kondisi Kota Banda Aceh pra dan pascabencana tsunami, memperlihatkan Banda Aceh seperti kota yang baru dialahkan garuda. Namun secara keseluruhan, kebanyakan korban jiwa disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan Sumatra Utara. *** Keesokan harinya sekitar jam setengah sepuluh pagi rombongan kami: Pak Slamet, saya, asisten saya dan beberapa staf perusahaan tersebut yang berkantor di Meulaboh berangkat dengan menggunakan Kijang yang dibawa asisten saya dari Banda Aceh dua hari sebelumnya. Perjalanan dari Meulaboh ke Calang sepanjang 90 km, cukup nyaman karena melewati jalan beraspal menyusur pantai. Udara cerah, laut biru di latar memberikan panorama yang mengasyikan. Di sekitar radius tertentu dari pinggir pantai terlihat bagunanan rusak tanpa penghuni dan pohon-pohon kelapa yang daun-daunnya meranggas karena akar-akarnya mati terendam air laut yang asin. Kami tiba di Calang menjelang tengah hari. Pak Slamet menyarankan agar kami makan siang di sini, karena di kota ini ada rumah makan Padang yang cukup besar, yang tidak akan kami temui lagi di sepanjang perjalanan ke Banda Aceh. Calang yang merupakan ibukota Kabupaten Aceh Jaya, terletak di dataran pantai yang landai berlatar belakang bukit kokoh yang menghadap ke laut. *** Calang, pada hari terjadinya bencana tsunami Dinding air dengan kecepatan tinggi dan daya dorong ratusan ton bergerak dengan gemuruh dan mendorong dan menelan apapun yang ada di depannya, bangunan, manusia, pepohonan dan hewan-hewan, lalu terhenti di punggung bukit, lalu kembali ke laut sembari membawa apa saja yang berada bersamanya. Kota ini nyaris rata dengan tanah. Tanggal 12 Jun 2005, atau sekitar enam bulan setelah terjadinya bencana, saya menerima email dari Ir Sambas, sahabat muda dan rekan kerja sejak lama yang bekerja untuk sebuah program USAID dan ketika itu sedang bertugas di Aceh, di mana dia antara lain menulis. "Berita Aceh yang paling menggetirkan tetapi mulai berangsur senyap dari liputan media masa adalah tentang Kabupaten Aceh Jaya yang beribukotakan Calang. " "Di sini lah sebetulnya kejadian paling mencekam dan menggetarkan." "Bupatinya sendiri, Ir Zulfian Ahmad kehilangan 4 anak dan istrinya, yang sampai sekarang belum ditemukan rimbanya." "Di sini 25 ribu penduduk meninggal. Di kota Calang sendiri, 60 persen penduduk yang meninggal, mayatnya hilang." "Menurut penuturan Bupati Aceh Jaya---yang kehilangan seluruh orang yang dicintainya lebih dari pada hidupnya sendiri itu---dirinya adalah bagian dari yang tersisa-bertahan hidup dalam kegelapan tanpa listrik, empat hari hanya minum air kelapa." "Baru hari kelima ada Indomie yang bisa masuk Calang." "Di hari kelima itulah mereka yang tersisa hidup baru dapat makan sekedar penawar lapar. " "Sekarang ini 40 ribu penduduk Aceh Jaya masih hidup di tenda-tenda pengungsi," tulis Ir Sambas mengakhiri emailnya. *** Rombongan kami tiba dengan selamat di Banda Aceh sekitar jam 10 malam (bersambung) Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
