Dinda Duta sarato Sanak sa Palanta;

Dek karano tulisan langkok Prof Prof Azyumardi alah dikopaskan dek nakan
Armen, di bawah  ini ambo  kopaskan tulisan lengkap Radhar Panca Dahana yang
salah satu paragrafnya pernah ambo kutip beberapa hari nan lalu.

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+) 

 


Mana Riedl dan Gonzales Kita?


Selasa, 21 Desember 2010 | 03:40 WIB

 

Radhar Panca Dahana

 

http://cetak.kompas.com/read/2010/12/21/03400545/mana.riedl.dan.gonzales.kit
a

 

Kegembiraan atas kemenangan timnas Indonesia dalam semifinal Piala Suzuki
AFF 2010 melawan Filipina tidak sebatas ruang lengkung Gelora Bung Karno,
tetapi juga ruang fisik dan imajiner bangsa, membuat haru sekaligus cemas.

 

Keharuan menyeruak saat menyadari betapa rakyat negeri ini begitu rindu
dengan emosi kolektif di mana rasa bangga dan kehormatan bersama, sebagai
sebuah negeri sebuah bangsa, dapat dipulihkan.

 

Sudah terlalu lama emosi kolektif dari rasa kebangsaan kita kehilangan
alasan untuk berbangga dan mendapatkan rasa hormat dari bangsa lain. Seakan
negeri besar ini hanya pariah dalam pergaulan internasional, hanya obyek
penderita menghadapi perlakuan bangsa lain.

 

Dalam situasi inferior yang mengenaskan itu, rakyat seperti subyek yang
tidak berdaya melihat pemerintah-pengemban amanah dan tanggung jawab
utama-justru invalid menunaikan tugas. Pemerintah terlalu sering absen dalam
urusan yang menyangkut kepentingan publik. Pemerintah bahkan justru sering
melawan rakyatnya sendiri.

 

Semua itu terlihat dari pelbagai demo, konflik petugas dan rakyat, hingga
kasus-kasus yang menempatkan rakyat kecil sebagai pesakitan, lebih dari
seorang koruptor besar atau pengkhianat negara. Pengurus serikat usaha
berkelas UKM bahkan berkata, "Sejak kapan pemerintah membina dan
memberdayakan UKM, sepertinya UKM kita berjuang sendiri. Kalau memperdaya
dan memeras, ya, mungkin." (Kompas, 22/10/2010)

 

Menanggapi banyak kecelakaan kereta api, Suyono Dikun, Ketua Tim Teknis
Revitalisasi Perkeretaapian, menyatakan di harian yang sama, "Pemerintah tak
pernah serius perhatikan kereta api."

 

Musikus Jockie Soerjoprajogo dari Mufakat Kebudayaan berulang kali
mengingatkan pemerintah untuk tidak mengklaim keberhasilan musikus Indonesia
menjadi tuan rumah di negeri sendiri sebagai hasil kerja mereka. "Itu hasil
usaha para pemusik kita sendiri."

 

Pemerintah hanya melayani kepentingan dan prestise diri sendiri, dengan
mengatasnamakan dan menggunakan fasilitas rakyat. Kekecewaan atas absensi
itu bertambah akut dengan penyelesaian yang tak cukup terhormat pada
berbagai persoalan: masalah perbatasan, TKI, "pencurian" klaim budaya, dan
sebagainya.

 

Akal sehat rakyat berulang kali dikhianati oleh perilaku abnormal dan
deviatif, dari nafsu purba dan hedon, penguasa.

 

Rasa cemas itu

 

Semua kenyataan psikologis rakyat Indonesia itu adalah ironi dalam
kemeriahan penonton di leg satu dan dua semifinal AFF. Sukses timnas tidak
serta-merta menjadi pengakuan pada prestasi organisasi terutama pemimpinnya.
Teriakan "Nurdin turun," tetap membahana.

 

Ejekan dan cemoohan juga muncul di Facebook, Twitter, Youtube, dan
sebagainya. "Ingat, ini Timnas Indonesia, bukan Timnas PSSI," ujar pengguna
Twitter. Di Youtube muncul tayangan yang mempertontonkan potongan adegan di
mana "Indonesia menang, Nurdin malah menunduk mencium tangan SBY." Rasa muak
jelas terlihat terhadap perilaku penguasa yang terus mengeksploitasi
kemampuan publik untuk kepentingan sendiri.

 

Kita pun dapat menyaksikan sendiri bagaimana hampir seratus ribu penonton
dan jutaan pemirsa teve lainnya hampir tidak mengaitkan sukses timnas
Indonesia dengan kinerja pemimpin, juga tidak pada Presiden SBY, walaupun ia
hadir dan turut bersorak di stadion. Seolah publik, seperti dalam banyak
contoh kasus di atas, tidak rela jika sukses sepak bola itu diklaim sebagai
prestasi pemerintah.

 

Di sini rasa cemas itu muncul. Ketika ketidakpercayaan publik kepada
pemerintah dan para pemimpin tergerus, usaha negara untuk survive dan
berdaulat di dunia mendapat ancaman serius. Absensi dan ketidakpercayaan
membuat masyarakat semakin tidak peduli kepada pemerintah dan pada akhirnya
juga tidak peduli-baca membangkang-semua kebijakannya.

 

"Tidak peduli pada negara (cq pemerintah)" akan menjadi semangat yang
meluas, yang pada titik ekstremnya akan melahirkan kerancuan dan kekacauan
pada semua tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Kebenaran dan cara
mengatur hidup akan berlangsung secara komunal atau sektarianistik. Klaim
horizontal akan bertaburan, dan perpecahan seperti tinggal menunggu susut
sumbu bom waktu.

 

Pemimpin zuhud

 

Di bagian lain, semangat "tidak peduli negara" itu sesungguhnya juga dapat
berdampak sangat positif ketika semangat itu dipilin menjadi tekad dan kerja
untuk tegaknya kemandirian. Hal ini sungguh akan menciptakan kekuatan luar
biasa, bahkan mungkin lebih hebat ketimbang yang diinisiasi oleh pemerintah.

 

Keberdayaan publik yang mandiri akan menjadi kunci eksplorasi kemampuan dari
potensi-potensi terbaik bangsa yang masih terpendam. Inilah mungkin inti
wahyu Tuhan dalam Islam yang menyatakan, "Allah tidak akan mengubah nasib
sebuah kaum bila bukan kaum itu sendiri yang melakukan." Kata "kaum" dalam
wahyu ini merujuk pada suatu kolektiva, bukan persona atau katakanlah
pemimpin.

 

Dalam kasus timnas Indonesia, pemain naturalisasi Cristian Gonzales berperan
vital. Namun, dengan segala hormat dan terima kasih kepadanya, kerja
Gonzales tidak akan berarti tanpa kerja sama 10 orang pribumi dalam timnas.
Tanpa mereka, Gonzales tak akan memperoleh umpan untuk menciptakan gol-gol
cantik.

 

Namun, lebih dari itu, ada seorang Alfred Riedl, yang dengan dingin melatih
dan mengawasi setiap detik pertandingan. Tak ada luapan emosi berlebihan.
Sebuah sikap yang memperlihatkan keprihatinan-semacam asketisme-meditatif,
bahwa capaian temporer tidaklah berarti bagi tujuan akhir yang diinginkan.
Inilah satu sikap zuhud dari kepemimpinan yang hilang di kalangan pemimpin
dan elite kita. Sukses publik tidak begitu saja dipelintir untuk
menyelebrasi diri sendiri, seperti yang dilakukan para pejabat lewat iklan.

 

Sukses dari masyarakat atau bangsa yang mandiri adalah justru stimulator
bagi sikap yang lebih prihatin dari seorang pemimpin. Karena ia menyadari
betapa tugasnya menjadi lebih berat, dan euforia yang berlebihan justru
menyimpan ancaman yang lebih mengerikan.

 

Tetapi di mana Riedl dalam segelintir elite kita? Di mana Gonzales yang
menjadi avant garde semua usaha perbaikan ini? Radhar Panca

 

Dahana Budayawan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke