Kompas, Selasa, 28 Desember 2010 | 04:20 WIB

YUDI LATIF

http://cetak.kompas.com/read/2010/12/28/04204876/menanami.kekinian.dengan.ke
baikan

Kita adalah waktu, yang setiap detiknya adalah kehilangan. Kecuali yang
menanam biji kebaikan, setiap kehilangan menumbuhkan pohon masa depan. Waktu
berlalu bagai kilat. Yang berlalu adalah kekinian yang lekas silam. Yang
mendatang adalah kekinian yang lekas menjemput. George Orwell mengatakan,
"Who controls the past controls the future, who controls the present
controls the past." Maknanya, kemarin dan hari esok ditentukan hari ini.

Dengan angin keburukan yang kita tabur pada hari ini, masa lalu menjadi
hantu, masa depan menuai badai. Dengan biji kebaikan yang kita tanam hari
ini, masa lalu menjadi lumbung keagungan, dan masa depan menyongsong panen
kebahagiaan.

Akan tetapi, siapakah gerangan yang menanam biji kebaikan hari ini?
Mediokritas menjadi warna dominan yang kita sapukan di atas kanvas
kepemimpinan nasional di segala bidang. Warna inilah yang memantulkan
kecemasan ihwal krisis kepemimpinan. Ketidakteraturan menjadi tatanan umum
kehidupan bernegara. Kekacauan tatanan inilah yang melahirkan kemacetan dan
ketakterkendalian di mana-mana. Aji mumpung menjadi etos kekuasaan.
Mentalitas menerabas inilah yang mengembangbiakkan korupsi dan menguras
cadangan kekayaan bersama.

Lembaga yustisia bukan menegakkan hukum, malah melanggar hukum. Legislatif
bukan menata undang-undang, malah mengacaukan undang-undang. Eksekutif tidak
mengeksekusi masalah, malah menutupi masalah dengan masalah lain. Pemerintah
daerah yang mengurusi rakyat secara langsung lebih memikirkan nasibnya
sendiri ketimbang memikirkan rakyatnya. Dengan biaya politik mahal, kurang
dari 5 persen kepala daerah yang dinilai berhasil, ratusan di antaranya
terancam hukuman korupsi.

Pertumbuhan ekonomi dinyatakan naik, tetapi sejatinya lebih didominasi oleh
pertumbuhan sektor finansial. Hanya sedikit kontribusi dari sektor riil.
Pada sisi terakhir, gejala deindustrialisasi memaguti negeri, dengan jutaan
tenaga kerja terancam kehilangan pekerjaan. Para pencari kerja di luar
negeri terjerumus ke lembah perbudakan akibat lemahnya perlindungan negara.

Dengan mediokritas, kemunduran, kekalahan, dan kekacauan di segala lini bisa
dipahami mengapa tunas prestasi sepak bola Indonesia disambut secara gegap
gempita. Kejarangan membawa nilai. Begitu sulitnya menemukan prestasi bangsa
sehingga pencapaian sebelum final pun segera menjadi rebutan klaim elite
negeri. Masing-masing berlomba mengasosiasikan dirinya dengan sumber
keberhasilan. Kekacauan kepengurusan PSSI selama ini, dengan kemarau panjang
prestasinya, segera dilupakan. Pihak-pihak terkait tidak merasa bagian dari
kekacauan dan kekalahan, tetapi secara ramai-ramai merasa menjadi bagian
dari kemenangan.

Dilupakan bahwa dengan jumlah penduduk yang berlimpah, ada begitu banyak
talenta. Tanpa manajemen nasional yang baik, keberhasilan memang
sekali-sekali bisa terwujud, tapi tidak pasti. Tanpa penataan yang rapi di
segala lini, jangan harap prestasi bisa terus berlanjut. Akan tetapi, sifat
melalaikan tanggung jawab dan mentalitas menerabas para elite sekali lagi
tecermin dalam kasus ini. Bukan hanya soal pelayanan tiket yang sulit
diakses, tetapi ada arus pemikiran yang berkembang untuk meraih sukses
instan dengan menambah pemain berbasis naturalisasi.

Kegandrungan pada gebyar lahir, ketimbang isi batin, membuat kita cenderung
melompat pada hasil akhir ketimbang meniti perbaikan proses secara
berkeringat dan bertanggung jawab. Demi selebrasi kemenangan, teknik
manipulasi dikembangkan dengan melumpuhkan peraturan dan kelembagaan. Maka
institusi-institusi yang dirancang untuk memperbaiki kualitas hidup
bernegara, satu per satu mengalami krisis kewibawaan.

Di atas krisis laten institusi-institusi kenegaraan yang telah mapan,
institusi-institusi kenegaraan baru pun seakan mulai layu sebelum
berkembang. Komisi Pemilihan Umum, sebagai penjaga asupan proses demokrasi,
mengalami defisit kepercayaan. Pemilu 2009 boleh dikata sebagai pemilu
terburuk selama era reformasi, dengan dampak kekisruhannya yang mengemuka
pada tahun 2010, yang berakhir dengan pembelotan salah seorang komisionernya
ke partai politik.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai penjaga akuntabilitas demokrasi,
seakan mati suri. Setelah mengalami proses kriminalisasi yang berbau
politis, para komisionernya seperti mengalami krisis kepercayaan diri.
Melengkapi krisis eksistensial ini, Ketua KPK baru dipilih dengan seleksi
yang mahal dan lama hanya untuk memimpin satu tahun. Masyarakat politik
seperti tak punya komitmen yang kuat untuk memulihkan kewibawaan institusi
ini. Mahkamah Konstitusi mulai diterpa isu miring.

Demikianlah tahun berlalu meninggalkan gundah, memperburuk masa lalu sebagai
sumber kutuk. Tahun mendatang memijarkan kecemasan, melemahkan kepercayaan
dalam menyongsong fajar harapan. Kita tidak pernah bisa menghargai masa lalu
dan menguasai masa depan karena tidak merebut hari ini. Memulai Tahun Baru,
marilah kita tanami "kekinian" dengan kebaikan!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke