Ren,

Kalau ambo, 2-3 pertanyaan partamo, ambo langsuang pamit, Ren. 
Pertimbangan ambo, kalau ditarimo baliau lamaran ambo, berarti baliaupun akan 
menjadi Bapak ambo. 

Iyo tidak lantas angan ambo do, tidak telap di saya da

Jepe, ba a agak ati, jepe?

Riri
48/L/bekasi




Powered by Iuran Bulanan

-----Original Message-----
From: Reni Sisri Yanti <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 30 Dec 2010 02:28:47 
To: [email protected]<[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
Ichon Ayang<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; <[email protected]>; 
dwiwahana<[email protected]>; Saptaritakomala Dewi<[email protected]>; 
<[email protected]>; eva y. nukman<[email protected]>; fadhil 
zamir<[email protected]>; <[email protected]>; uni 
hardian<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; Herman 
Jambak<[email protected]>; <[email protected]>; Muhammad 
Reza<[email protected]>; mus mulyadi<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Lamaranmu KuTolak !!

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya 
menuju khitbah.
 
Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.
Dan  ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran   
semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah   
berbeda.
 
Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka 
menggenapkan agamanya.
 
Maka,  di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang  lelaki  
muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'  sang  perempuan 
muda, dari sisinya.
 
"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.
"Iya, Pak," jawab sang muda.
 
"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?" tanya sang setengah baya sambil 
menunjuk 
si perempuan.
"Ya Pak, sangat mengenalnya," jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
"Lamaranmu  kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak  bisa. 
Aku  tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model  seperti  
itu!" 
balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya 
saja, ketemu saja  baru sebulan lalu."
"Lamaranmu  kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku  takmau 
kau  akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.  Jangan-dkau nggak 
tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,  keras.
 
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. 
Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."
 
"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.
"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus," jawab 
sang muda, percaya diri.
"Lamaranmu  kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu,  kamu 
 
bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku  ini  kan?"
"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang 
nggak datang kalau saya suruh berangkat."
"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau 
ngatur 
keluargamu?"
 
Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."
"Kamu lulusan mana?"
"Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di 
Indonesia lho Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? 
Menganggap saya bodoh kan?"
"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja 
tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."
"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu 
kelak?"
 
Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."
"Jadi kamu sudah bekerja?"
"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan 
produk saya Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak 
bakal 
sempat memperhatikan keluargamu."
"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu 
laku."
"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja 
saja nggak becus begitu?"
 
Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."
"Rencananya maharmu apa?"
"Seperangkat alat shalat Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."
"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan 
emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."
 
Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"
"Kamu bisa apa itu, internet?"
"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya 
nge-net."
"Lamaranmu  kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran  untuk 
 
internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."
"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."
"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? 
Aku 
nggak mau punya mantu gaptek gitu."
 
Bisikan, "Tapi Ayah..."
"Kamu kesini tadi naik apa?"
"Mobil Pak."
"Lamaranmu  kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya  Riya'. 
Nanti  hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."
"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"
"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya 
payah. Memangnya anakku supir?"
 
Bisikan, "Ayahh.."
"Kamu merasa ganteng ya?"
"Nggak Pak. Biasa saja kok"
"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik 
ini."
"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."
"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"
 
Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal 
agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang 
sudah menyerah pasrah.
"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Pun  pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh juz   
saya 
cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.   Hadits-pun cuma 
dari Arba'in yang terpendek pula."
Sang setengah  baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup.  Kau 
lebih  hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku  masih  
tertatih."
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.
 
Ini harus happy ending, bukan?
:)
 
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=116464095941
 
Renny,ancol



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke