Assalaamu'alikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Sebuah carito sajo......


MUSIBAH
DI AWAL TAHUN
 
Pagi
yang cerah. Matahari segera akan terbit. Langit biru pucat tak berawan di awal
tahun baru ini. Mungkin warna pucat di langit disebabkan sisa-sisa asap kembang
api dan mercun yang dibakar dan menimbulkan suara gegap gempita tadi malam. Ya,
tadi malam adalah malam tahun baru. Malam yang diwarnai dengan sebuah budaya
yang semakin menggila-gila dengan pesta kembang api. Sangat banyak orang yang
merasa perlu melalui pukul dua belas tengah malam pada pergantian tahun dengan
ritual-ritual yang dibuat-buat. Di antaranya pesta kembang api.
Berdentam-dentam dan berdesir-desir bunyi kembang api yang dibakar tak
henti-henti.  Entah berapa biayanya.
Entah berapa harga kembang api yang dibakar. Entah apa nikmatnya. Entah apa
maknanya. 
 
Adapula orang yang sengaja melewatkan malam pergantian
tahun di acara-acara khusus. Di hotel-hotel. Di kelab-kelab malam. Judulnya
malam ‘Old and New’. Acaranya tentu
khusus pula. Dan yang bisa menghadirinya hanyalah orang-orang khusus saja.
Orang-orang yang punya uang berlebih, untuk difoya-foyakan.
 
Malam
tahun baru itu sudah berlalu. Bagi yang tidak faham, atau bagi yang tidak
ikut-ikutan, terlihat tidak ada bedanya malam tadi malam. Tidak ada bedanya
pagi hari ini dengan hari-hari sebelumnya. Entahlah.
 
                                                                        ***
 
Teguh
berjalan tergopoh-gopoh menuju rumah pak RT. Sudah jam enam saat itu dan sinar 
matahari
sudah mulai tampak.
 
‘Assalaamu’alaikum……
Pak RT…pak RT…..,’ Teguh berteriak memanggil
 
Teguh
mengulang ucapan salam beberapa kali dari luar pagar. Belum kunjung ada jawaban
dari dalam rumah. Pak Fakhri, pak RT itu  sedang menyapu pekarangan di belakang 
rumah. Setelah beberapa saat, ibu
Lela yang mendengar teriakan salam itu, membuka pintu depan rumahnya dan
melihat keluar.
 
‘Wa’alaikumussalam…..
Ada apa Guh?’
tanya bu Lela.
 
‘Ada perlu dengan pak RT,
bu. Beliau ada di rumah?’ 
 
Wajah
Teguh terlihat tegang.
 
‘Ada…... Masuklah, Guh.
Biar ibu panggilkan bapak ke belakang.’
 
Pak
Fakhri muncul di ruang tamu.
 
‘Assalaamu’alaikum
pak RT…… Maaf saya langsung saja…. Ada
musibah pak….. Pak Martin meninggal…….,’ nafas Teguh tersengal-sengal.
 
‘Inna
lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun……. Pak Martin…..? Pak Martin tetanggamu….? 
Kapan
Guh? Kenapa?’
 
Pak
Fakhri tentu saja sangat kaget. Sore kemarin dia masih berbicara dengan pak 
Martin
tentang rencana pertandingan voli antar RT. Waktu itu pak Martin terlihat sehat
wal’afiat. 
 
‘‘Iya,
pak. Pak Martin….. Saya nggak tahu kenapa, pak RT. Tadi sebelum waktu subuh
katanya, pak Martin dibawa ke rumah sakit, dan jam lima tadi beliau meninggal 
di Rumah Sakit
Mitra. Jenazahnya sebentar lagi akan dibawa pulang,’ jawab Teguh masih
tersengal-sengal.
 
Teguh
adalah tetangga sebelah rumah pak Martin. Pak Martin yang baru berumur sekitar
35 tahun itu adalah pelatih voli Karang Taruna, sementara Teguh adalah pemain
voli terbaik di komplek itu. Teguh sangat akrab dengan pak Martin seperti
umumnya anak-anak muda Karang Taruna yang lain.
 
‘Baik,
Guh. Kamu duluan saja ke sana.
Saya segera menyusul,’ kata pak Fakhri.
 
Limamenit kemudian pak Fakhri sampai di rumah duka.
Sudah banyak tetangga dan warga komplek di situ. Jenazah pak Martin masih belum
tiba. Para pelayat saling bertanya-tanya,
sakit apa pak Martin sebelum meninggal. Pak Kirno, ayah Teguh, bercerita bahwa
dia dikagetkan oleh tangis dan teriakan histeris bibik Suma tadi subuh. Bibik
Suma adalah pembantu di rumah keluarga Martin. Bibik Suma histeris setelah
menerima berita melalui telepon dari ibu Sri, istri pak Martin. Dia langsung
menggedor pintu rumah pak Kirno sambil berteriak-teriak dan meratap. Bibik Suma
mengatakan bahwa dia baru saja ditelpon ibu Martin, disuruh agar memberitahu
tetangga. 
 
Menurut
bibik Suma, bapak Martin baik-baik saja waktu berangkat dari rumah sekitar jam
delapan tadi malam. Bapak dan ibu Martin pergi melewatkan malam tahun baru.
Keduanya berpakaian seperti mau ke pesta. Dan keduanya belum pulang sejak tadi
malam. Lalu tiba-tiba ibu Martin memberi kabar seperti itu.
 
Pak
Kirno segera pula memberitahu tetangga-tetangga yang lain. Mereka berdatangan
ke rumah duka.
 
Tidak
berapa lama kemudian jenazah pak Martin datang dengan menggunakan mobil
jenazah. Ibu Sri duduk di bagian depan mobil bersama dengan ibu mertuanya. Mata
kedua wanita itu sembab karena tangis. Ibu Sri masih memakai gaun pesta, meski
sekarang memakai selendang di kepalanya. Jenazah pak Martin diturunkan dari
mobil dan dibaringkan di ruang tengah rumah itu. Ibu-ibu warga komplek yang
datang melayat di pagi itu ikut menangis, larut dalam kepiluan bersama ibu Sri.
 
Jam
sepuluh pagi jenazah pak Martin dimandikan. Rencananya akan dimakamkan sesudah
shalat zuhur. Orang yang datang melayat semakin banyak. Pak Martin memang sosok
pria yang pandai bergaul. Dia disenangi warga komplek dan rekan-rekan
sejawatnya di kantor. 
 
Melalui
bisik-bisik, beredar cerita bagaimana pak Martin menghadapi maut. Di anrtara
para pelayat. ada yang sama-sama hadir di tempat bapak dan ibu Martin
melewatkan malam tahun baru. 
 
Tadi
malam mereka berpesta di sebuah hotel terkenal. Pengunjung di acara itu banyak
sekali. Semua tempat duduk yang disediakan hotel di ruangan besar itu terisi.
Menjelang tengah malam acara itu diisi dengan nyanyian dan pertunjukan sulap. 
Para pengunjung menonton sambil menikmati hidangan makan
malam. Tepat tengah malam lampu di ruangan itu dimatikan. Semua pengunjung
meniup terompet kertas yang sudah disiapkan. Waktu lampu dinyalakan kembali
para pengunjung melakukan ‘adu gelas’ sambil mengucapkan selamat tahun baru. 
Gelas itu berisi sampanye. 
 
Setelah
itu mereka berdansa. Mula-mula mengikuti musik dengan irama pelan. Makin lama
suara musik itu makin keras dan menggila. Peserta pesta itu semakin asyik
menggoyang-goyangkan tubuh mereka di lantai dansa. Musik demi musik sambung
menyambung. Suaranya sangat memekakkan telinga. Seperti itulah suasana pesta
tahun baru itu.
 
Di
tengah suara hingar bingar itu tiba-tiba ibu Sri menjerit histeris. Pak Martin
yang sedang ikut  berjingkrak-jingkrak
tiba-tiba terjatuh. Terjatuh seperti tapai jatuh. Terjelepok. Dan akhirnya 
tergeletak di lantai. Nafasnya
tersengal-sengal. Dia merintih kesakitan sambil tangannya memegang dadanya. 
Perlu
beberapa menit sebelum musik bisa dihentikan, karena si pengatur musik tidak
segera mengetahui bahwa ada yang jatuh pingsan. Suasana di ruang pesta berubah
menjadi mencekam. Musik yang barusan berdentam-dentam sementara terhenti. Orang
berkerumun di sekitar pak Martin tergeletak.
 
Pak
Martin segera dilarikan ke rumah sakit. Dibawa ke ruangan gawat darurat. Dokter
jaga di rumah sakit itu berusaha memberikan pertolongan tapi hasilnya sia-sia.
Pak Martin tetap tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya jam lima pagi malaikat 
maut melaksanakan
tugasnya, mencabut nyawa pak Martin. Dokter menyimpulkan bahwa dia mendapat
serangan jantung.
 
            
                                                                        ***
 
Siang
itu jenazah pak Martin dimakamkan. Malamnya ada acara tahlilan di rumah duka.
Orang membaca surah Yasin beramai-ramai. Ada
yang hafal luar kepala, ada yang membaca dari kitab al Quran ada yang membaca
buku Yasinan bahkan ada yang membaca melalui tulisan latin dari buku Yasinan
itu. Semua membaca dengan suara keras, berpacu-pacu. Berdengung suaranya.
 
Pak
Kiyai yang memimpin tahlil berulang-ulang mengirimkan bacaan alfatihah, bacaan
surah-surah pendek, semuanya untuk bekal almarhum pak Martin di alam kubur.
Tidak lupa pula beliau mengutip ayat-ayat terakhir dari surah Al Fajr dan
terjemahannya. ‘Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah
kepada Rabb mu dengan senang dan diridhai Nya. Masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba Ku. Dan masuklah ke dalam surga Ku.’
 
Indah
betul yang beliau harapkan. Mungkin beliau tidak tahu bagaimana kejadian
sebelum kematian almarhum.
 
‘Apakah
kematian seperti ini husnul khatimah,
pak? tanya pak Karim berbisik kepada pak Somad di sampingnya.
 
‘Hus!
Tidak usah hal itu ditanyakan,’ jawab pak Somad berbisik pula.
 
‘Saya
bertanya sungguh-sungguh….,’ kata pak Karim pula.
 
‘Saya
tidak tahu. Kenapa hal itu yang pak Karim tanyakan?’
 
‘Karena
pak Kiyai menyitir ayat ‘wahai jiwa yang
tenang’……. Apakah menurut bapak jiwa pak Martin tenang saat ini?’
 
‘Wallahu
a’lam…… Saya tidak tahu. Pak Kiyai juga tidak tahu. Tidak ada di antara kita
yang tahu,’ jawab pak Somad.
 
Pak
Karim tidak meneruskan lagi pertanyannya.
 
 
Jam
setengah sembilan acara tahlilan itu selesai. Yang hadir pulang membawa besek.
Membawa berkah, yang disediakan tuan rumah, sesudah mereka bersama-sama
mengirim amal bacaan untuk almarhum pak Martin. Hari pertama di tahun baru
telah dimulai.
 
 
                                                                        *****


Wassalamu'alaikum,
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke