Yth. Palanta Rantaunet,

Melanjutkan posting ambo ttg Panyingkul, di bawah ko ambo kopi-kan sebuah
tulisan dari laman jurnalisme orang biasa itu. Artikelnyo agak panjang, tapi
menuruik ambo paralu dibaco. Apolai di palanta ko banyak nan suko sejarah
dan alah berkali2 awak menggali dan badebaik soal sejarah Indonesia dan
sejarah kampuang awak.

Salam
Budhi

======================
Dikutip dari: http://www.panyingkul.com/view.php?id=867&jenis=risetkita

Kamis, 14-05-2008  Risetkita: Pramoedya versus Sejarah Resmi
*:: Nurhady Sirimorok ::*

Sejarah selalu ditulis oleh para penguasa, oleh pihak pemenang. Ini juga
terjadi di Indonesia. Di masa Orde Lama, berkembang historiografi Indonesia
sentris dimana mereka menolak sumber sejarah dari luar, terkhusus yang
berasal dari Belanda. Sejarah mesti ditulis oleh orang Indonesia menurut
perspektif orang Indonesia. Ulasan citizen reporter *Nurhady Sirimorok* yang
mengambil Pramoedya Ananta Toer sebagai titik-tolak penulisan versi sejarah
berbeda.(p*!*)


Pembalikan penulisan sejarah yang ekstrim ini mengharuskan Muhammad Yamin
mengais-ngais mitos untuk mencari entitas kekuasaan yang secara geografis
mirip dengan ’Indonesia’. Dia kemudian menemukan mitos tentang kemaharajaan
Sriwijaya dan Majapahit yang bisa dijadikan representasi Indonesia di masa
pra-kolonial.

Karena ditulis oleh penguasa, maka mitos ini bisa menjadi kebenaran
satu-satunya, bahwa dulu suatu wilayah yang kini bernama Indonesia, pernah
ada sebelum bangsa asing mengangkangi wilayah ini. Tentu pernyataan ini
lebih merupakan pernyataan ideologis ultra nasionalistik ketimbang simpulan
ilmiah. Sebab ’Indonesia’ secara etimologis adalah nama pemberian seorang
ilmuan berkebangsaan Jerman, dan seluruh tapal batasnya adalah bekas tanah
jajahan Belanda: Hindia Belanda. Jadi secara geografis Indonesia tidak
pernah ada sebelum masa kolonial. Dia adalah produk pasca-kolonial, sesuatu
yang disangkal oleh para sejarawan Orde Lama — dan banyak sejarawan Orde
Baru.

Di masa Orde Baru, militerisasi penulisan sejarah terjadi secara sistematis,
mulai dari produksi hingga diseminasinya secara luas ke seluruh media
pendidikan Indonesia, bahkan merasuk hingga ke film-film, yang dikenal
dengan nama ’film perjuangan’. Dalam repesentasi masa lalu ala Orde
Baru,Indonesia digambarkan sebagai bayi yang diselamatkan oleh tentara
rakyat yang kemudian berkembang menjadi tentara nasional Indonesia. Peran
para cendikiawan, pedagang, agamawan, petani dan buruh, dibungkam atau
dijajarkan di barisan belakang pasukan militer. Pendeknya, militer adalah
penyelamat bangsa, baik dalam pertempuran maupun dalam perundingan. Karena
itu para suster harus merawat dan menghibur mereka, para petani dan nelayan
harus berkorban untuk memberi makan para mereka, para intelektual mesti
dihujat karena tidak berani berada di garis depan pertempuran. Seluruh
bangsa harus menghamba pada penyelemat bangsa ini. Begitulah garis besar
narasi historiografi ala Orde Baru.

Nah, warisan model sejarah seperti ini —Indonesia sentris dan militeristis—
membuat distorsi besar-besaran pada informasi sejarah dan memengaruhi
pemikiran kita ketika, katakanlah, memilih bacaan untuk kita konsumsi
sebagai pengayaan intelektual kita. Kedua versi historiografi ini masih
menyimpan efek yang jauh lebih parah dari sekadar distorsi informasi: mereka
berwatak menunggalkan kebenaran. Kita selalu dipaksa untuk mencari kebenaran
tunggal dalam sebuah narasi sejarah, dan biasanya kebenaran itu ditentukan
oleh sang penguasa. Namun karena kita telah dicekoki kebenaran tunggal ini
sejak kecil, kita sering tidak sadar akan dampaknya.

Selanjutnya, bagi sejarah resmi Orde Lama, sumber sejarah dari Belanda
seharusnya tidak diterima, sejarah di masa ini cenderung menarik garis tegas
antara kawan dan musuh di tapal batas negara. Sejarah jenis ini buta akan
peran para bangsawan dalam membantu langgengnya kolonialisme di Hindia
Belanda, dan menutup mata terhadap peran orang-orang Belanda radikal seperti
Sneevliet dan Multatuli dalam mengangkat penderitaan dan memperjuangkan
nasib rakyat terjajah. Historigrafi ini meminta kita secara totaliter
membenci seluruh rakyat Belanda dan Jepang, dan mencintai seluruh orang
Indonesia.

Sedangkan sejarah versi Orde Baru, mengkombinasikan nasionalisme sentris
yang menarik garis kebangsaan sebagai penentu kebenaran:
luar-salah-dalam-benar, dengan watak militerisme yang bertangan besi.
Historiografi Orde Baru menganggap sumber selain, atau tidak senafas dengan,
yang dipelajari di sekolah adalah sumber bertendensi makar. Sejarah
alternatif terlalu sering dianggap musuh yang harus ditumpas dengan kekuatan
militer, dan bukan sebagai bahan debat ilmiah yang bisa memperkaya
pengetahuan kita tentang masa lalu bangsa ini.

Kedua tradisi historiografi ini cederung menggunakan tangan kekuasaan
sebagai penentu arah sejarah, menentukan bagaimana sejarah dituturkan, dan
tema apa yang layak dan tidak layak untuk dimasukkan dalam tulisan sejarah
formal. Oleh karena itu mereka menulis sejarah dari atas, sehingga tak heran
bila kisah-kisah sejarah yang kita baca di sekolah adalah sejarah tentang
penguasa, atau bagaimana penguasa itu merebut kekuasaan dari penguasa
sebelumnya. Sejarah tokoh-tokoh yang membungkam aktor selain ’tokoh-tokoh
sejarah’ resmi yang berperan juga berperan penting. Historiografi jenis ini
juga sering menjadi sejarah tanggal-tanggal beku yang kehilangan proses maha
kompleks yang terjadi di masyarakat bawah (karena dia hanya himpunan
’hasil-hasil’ yang terjadi pada ’momen-momen’ bersejarah). Akhirnya yang
terbentuk adalah, sejarah tentang ’perjuangan (fisik)’ dalam proses
menemukan kembali Indonesia ’yang hilang’ selama masa kolonial. Sejarah
jenis ini lupa bahwa semua orang adalah tokoh sejarah, semua tempat adalah
tempat bersejarah, semua peristiwa adalah peristiwa bersejarah dan
seterusnya.

Semua ini memengaruhi cara berpikir kita sebagai produk sekolahan Orde
Baru.

*Sejarah Alternatif Pramoedya*
Pramoedya jelas berdiri di seberang kedua kecenderungan penulisan sejarah
ini. Sebagai sastrawan dan sejarawan dia sangat tekun mengumpulkan dokumen
dari berbagai macam sumber, kisah-kisah tutur dan pengalaman pribadinya
untuk dituliskan ke dalam karya sastra maupun kronik sejarahnya.
Bertahun-tahun dia membuat kliping koran dan mengumpulkan dokumen dari masa
sebelum dia mengenal arsip sejarah. Pun, dia mencerap dongeng-dongeng dari
masa kecilnya, dan mencatat dengan detil pengalaman hidupnya baik pada masa
perang maupun sesudahnya. Dari bahan-bahan yang luar biasa luas dan mendalam
inilah dia menyusun banyak novel, cerpen, esai, dan kronik sejarahnya.

Baiklah mari kita lihat apa yang dia lakukan terhadap sejarah Indonesia
secara kronologis.

Tentang masa Jawa kuno, dia menulis ulang mitos tentang kisah Ken Arok dan
Ken Dedes dalam Arok Dedes serta tentang jatuhnya Majapahit dalam roman
panjang Arus Balik, yang berbeda dengan pelajaran sejarah resmi kita. Dalam
karya-karyanya ini dia membuat narasi baru dengan menggali banyak sumber
sebelum melakukan tafsir ulang yang rasional terhadap kitab-kitab dan
cerita-cerita lisan Jawa Kuno itu yang berseliput mitos itu.

Tentang masa Kolonial—kadang dia menyebutnya sebagai masa pra-Indonesia—dia
menulis bahwa Budi Utomo tidak lebih hanya perkumpulan para elit Jawa
berpendidikan Belanda, yang kemudian mengalami ’nasionalisasi’ oleh sejarah
resmi Indonesia, bahwa mereka adalah perwakilan dari seluruh rakyat
Indonesia. Dia juga menggambarkan pertentangan antara feodalisme Jawa akhir
abad ke 19 dengan memperhadapkannya dengan semangat Revolusi
Perancis—egalité, liberté, fraternité (ini terutama muncul dalam Tetralogi
Burunya).

Selain itu, dia juga memperkenalkan sastra sosialis karya para aktor
pergerakan Sarekat Islam yang menurutnya lebih radikal dibandingkan Budi
Utomo dalam menantang kekuasaan Belanda. Antara lain karya-karya ini ditulis
oleh Semaoen dan Mas Marco Kartodikromo. Dia juga mengangkat banyak sastra
karya keturunan Tionghoa dan Eropa, yang dia himpun dalam Tempo Doeloe,
Antologi Sastra Pra-Indonesia. Pada rentang masa yang cukup panjang, dari
masa pemerintahan kolonial hingga Orde Baru, ketika antologi ini pertamakali
diterbitkan pada 1982, kedua jenis sastra alternatif ini telah
ditenggelamkan oleh rezim Balai Pustaka bentukan pemerintah Belanda dengan
menyebutnya sebagai ’sastra rendah’. Dengan kata lain, dalam kasus ini, dia
sedang membentuk alternatif terhadap sejarah perkembangan sastra Indonesia.

Dalam novel-novelnya tentang masa ’perang kemerdekaan’ dia tidak bercerita
tentang kisah para pemimpin perang yang berhadapan dengan pasukan Belanda,
yang lalu secara heroik gugur atau berhasil merebut benteng Belanda.
Sebaliknya, dia lebih banyak berkisah tentang nasib laskar kelas bawah,
siasat biduanita kampung, petani dan rakyat jelata pada umumnya, yang
menanggung beban berat akibat perang itu—misalnya dalam novel Larasati dan
Di Tepi Kali Bekasi. Dalam roman Keluarga Gerilya dia tidak bercerita secara
simplistik tentang mata-mata Belanda yang mementingkan diri sendiri yang
akhirnya berhasil di berangus. Dalam prosa ini dia menggambarkan secara
kompleks bagaimana satu keluarga mengalami perpecahan akibat keyakinan kuat
akan revolusi, yang sama benarnya menurut logika umum, antara anak dan
ayah.

Tentang masa pemerintahan Orde Lama, antara lain dia menangkat tema warga
peranakan dalam Hoakiao di Indonesia yang menyebabkan dia dijebloskan ke
penjara rezim Orde Lama. Buku ini menantang tesis yang menjadi dasar
dikeluarkannya PP no. 10/1959 yang menyebabkan banyak warga keturunan
Tionghoa terusir dari rumah dan penghidupannya, terutama di daerah pedesaan.
Dalam buku ini, dia menulis ulang sejarah alternatif tentang gelombang
kedatangan Hoakiao (Tionghoa Perantauan) ke Nusantara, yang tentu dianggap
berbahaya sebab menyebutkan bahwa Hoakiao juga banyak berperan dalam
perkembangan peradaban dan perjuangan kemerdekaan Indonesia moderen.

*Menulis ulang sejarah Indonesia*
Masih banyak lagi contoh penulisan sejarah alternatif Pramoedya yang bisa
kita urai di sini, namun untuk kesempatan ini cukuplah dengan contoh-contoh
di atas. Lantas apa yang bisa kita tarik dari alternatif Pram terhadap
sejarah Indonesia? Pertama, dia selalu menampilkan kaum marginal yang tidak
tertampung, atau dibungkam, dalam penulisan sejarah resmi Indonesia. Dia
bercerita tentang petani, lasykar rendahan, biduwanita, orang desa, Hoakiao
dan yang cukup penting, banyak tokoh perempuan. Kecenderungan ini mirip
dengan yang disarankan oleh sub-altern studies, sebuah pengkajian sistematis
dan informatif mengenai kelas, ras, kasta, umur dan gender yang memungkinkan
masyarakat marginal untuk bersuara.

Kedua, dia menunjukkan sejarah sebagai proses, bukan hanya hasil. Dia
mengurai proses menjadinya bangsa Indonesia dengan banyak aktor yang
masing-masing punya kontribusi penting. Dia mengulas tentang apa yang
terjadi sebelum adanya sistem pemerintahan yang disebut ‘kerajaan’ dan
secara detil menjelaskan pertelingkahan apa terjadi di dalam kerajaan itu
sendiri. Dia mengangkat proses struktural yang menyebabkan munculnya
pergerakan kemerdekaan, yang sebagai konsekuensinya mengangkat berbagai
aktor alternatif seperti redaktur koran, pelajar Indonesia, kalangan
keturunan (Eropa dan Tionghoa), yang kesemuanya jarang disentuh dalam
sejarah nasional resmi.

Ketiga, dia menunjukkan secara meyakinkan momen-momen sejarah (alternatif)
yang penting dalam proses menjadi Indonesia, yang berlainan dengan momen
yang dianggap bersejarah oleh sejarah resmi, semisal pembentukan Budi Utomo
dan Sumpah Pemuda. Dalam hal ini, misalnya, dia menyebutkan terbentuknya
koran Medan Prijai di Bandung pada 1907, sebagai momen penting yang memantik
semangat nasionalisme di Indonesia. Sebuah tesis yang kelak diamini oleh
Benedict Anderson , dimana pers diangap sebagai penyebar efektif semangat
kebangsaan (nation) pada masa awal terbentuknya semangat nasionalisme. Bila
mengikuti tafsir ini maka hari Kebangkitan Nasional, bisa jadi tidak
tunggal, bukan Cuma tanggal 20 Mei. Selanjutnya, Pramoedya juga menunjuk
terbentuknya Sarekat Islam sebagai gerakan yang lebih penting ketimbang Budi
Utomo. Dalam hal ini, dia menuturkan ulang masa lalu pembentukan bangsa
Indonesia dengan mengangkat penggalan sejarah Indonesia yang dianggap tidak
penting oleh versi resmi.

Keempat, dia memberikan pemaknaan lain (baru) terhadap tokoh-tokoh sejarah
seperti Ken Arok, Ken dedes, dan yang lebih akrab bagi kita, Kartini .
Sebagai contoh, kisah tentang Kartini dalam buku Panggil Aku Kartini Saja,
menantang arus narasi resmi sejarah Indonesia. “Dalam buku ini, Kartini
tidak ditampilkan sebagai putri priyayi, melainkan sebagai gadis yang
mengidentifikasikan diri sebagai rakyat biasa dan juga memperjuangkan
kepentingan rakyat.” Jadi dia tidak hanya disebut sebagai pejuang emansipasi
perempuan, tetapi juga pejuang emansipasi kalangan priyayi yang melakukan
‘bunuh diri kelas’, mengambil jalur lain yakni berjuang untuk rakyat kecil.

Salah satu pesan penting yang tersirat dalam kerja panjang Pramoedya
mengatakan bahwa kita, rakyat biasa, seharusnya menulis versi kita sendiri.
Kita mesti menentukan gerak arah sejarah kita dengan membangun basis
informasi tentang masa lalu kita sendiri. Ini akan memungkinkan kita
membangun pemahaman sendiri terhadap masa lalu kita, dan bukan hanya
mengeja, sambil terbata-bata, tafsir ‘dari atas’ tentang masa silam kita.

*Epilog: Pram dibayar apa oleh pemerintah Indonesia?*
Demikianlah, Pramoedya telah melakukan kerja panjang dan ketat untuk
menuliskan ulang sejarah nasional Indonesia. Sebuah upaya yang mendapat
apresiasi banyak kalangan di dalam dan luar negeri. Berbagai penghargaan
telah telah disematkan ke dadanya dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke
puluhan bahasa asing. Lantas oleh pemerintah Indonesia dia dibayar apa?
Karena sejarah, baik dalam bentuk fiksi maupun non-fiksi, adalah salah satu
media terpenting untuk menancapkan kuku ideologi penguasa kepada rakyatnya,
maka sangat berbahaya bila ada ancaman serius terhadap versi resminya. Atas
alasan inilah karyanya dilarang oleh pemerintahan Soeharto hingga rezim itu
runtuh. Pram juga pernah menghuni bui di bawah pemerintahan Kolonial
Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Bila digabung, dia telah mendekam di
penjara selama kurang lebih 18 tahun. Itulah harga menulis sejarah
alternatif di Indonesia, setidaknya hingga masa Orde Baru.(p*!*)


Referensi:
- Asvi Warman Adam (2005) History Nationalism, and Power, dalam Vedi Hadiz
and Daniel Dhakidae, Social Science and Power in Indonesia, Equinox Publ.,
Jakarta and ISEAS, Singapore. Hal. 251.
- Asvi Warman Adam dan Bambang Purwanto (2005) Menggugat Historiografi
Indonesia, Penerbit Ombak, Yogyakarta. Asvi Warman Adam (2007) Seabad
Kontroversi Sejarah, Penerbit Ombak, Yogyakarta.
- Katherine E. McGregor, (2007) History in Uniform: Military Ideology and
the Construction of Indonesia’s Past, KITLV Press, Leiden
- Eka Kurniawan (2006) Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
- Nyoman Kutha Ratna (2008) Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
- Benedict Anderson (2006) Imagined Communities, Reflections on the Origin
and Spread of Nationalism, Verso, New York (Revised Edition).
- Razif Bahari (2007) Pramoedya Postcolonially, (Re-)Viewing History, Gender
and Identity in the Buru Tetralogy, Pustaka Larasan, Denpasar.
- A.S. Laksana ed. (1997) Polemik Hadiah Magsaysay, ISAI, Jakarta.

*Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan pada diskusi peringatan ”Dua
Tahun Pramoedya Ananta Toer dalam Memoriam,” di Fakultas Ilmu Budaya Unhas,
28 April 2008.

*Citizen reporter Nurhady Sirimorok dapat dihubungi melalui email
[email protected]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke