Bismillahhirrahmanirrahim - Sanak Palanta RN yang kami hormati, kami sharing
sebuah laporan ICG untuk kita renungi dan sebagai bahan melakukan antisipasi
dalam tantangan melaksanakan ABS-SBK diranah Minangkabau sarato ranah rantau
untuak anak cucu awak kemudian hari, semoga berkenan.

Kami copaskan dari link
http://www.hidayatullah.com/kolom/sudut-pandang/14938-di-balik-kerusuhan-ciketing

Laporan ICG mengungkapkan, bahwa kristenisasi menjadi penyebab ketegangan
antar agama di Indonesia



oleh: *Amran Nasution
 *
*MENJELANG *tutup tahun 2010, koran Kompas berulang-kali memuat tulisan
tentang ancaman kekerasan berlatar belakang agama. Misalnya,  pada edisi 16
Desember 2010, koran itu menulis bahwa kekerasan berlatar-belakang agama di
Indonesia makin marak. Dan persoalan itu harus diselesaikan tuntas karena
kekerasan yang menodai multikulturalisme itu bakal mengancam demokrasi
Indonesia.  Apalagi pemerintah selama ini absen dalam penyelesaian masalah.

Persoalan ini, kata koran itu, mengemuka dalam peluncuran Jurnal Maarif
edisi akhir tahun  di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta, sehari sebelumnya,
serta diskusi yang dilakukan Maarif Institute, lembaga yang dipimpin Ahmad
Syafii Maarif, bekas Ketua PP Muhammadiyah . Tapi benarkah  analisa para
ahli Maarif Institute yang disebar-luaskan Kompas itu?  Benar  kalau
dikatakan peristiwa kekerasan sekarang meningkat.  Tapi salah kalau
dikatakan peningkatan itu hanya terjadi pada kekerasan  berlatar-belakang
agama. Memang setiap sore berita televisi selalu diwarnai peristiwa
kekerasan dari pelbagai pelosok Tanah Air.  Tapi kekerasan itu bukan hanya
berlatar-belakang agama seperti dianalisa para ahli Maarif Institute.
Analisa itu terkesan dipaksakan untuk tujuan tertentu. Begitu pula Kompas
yang terus-menerus memberitakan isu yang sama.

Cukup banyak kekerasan terjadi sebagai ekor Pilkada. Ada kekerasan karena
perampasan lahan, penggusuran pedagang kaki lima, tawuran antar-penduduk
desa, antar-preman, antar-pelajar, bahkan antar-mahasiswa. Malah yang
tercatat sebagai peristiwa kekerasan paling seru adalah ketika dua kelompok
preman bertarung di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, di Jalan Ampera
Raya, akhir September lalu.

Dua kelompok menggunakan berbagai jenis senjata tajam seperti golok dan
kelewang. Malah beberapa menggunakan senjata api. Terjadi tembak-menembak di
jalan raya, di siang bolong, tanpa polisi bisa mencegah. Korban pun
berjatuhan. Setidaknya 3 orang terbunuh, 12 terluka termasuk 3 di antaranya
polisi. Yang hendak dikatakan:  Maarif  Institute – dan institute semacamnya
yang banyak tumbuh di masa 8 tahun pemerintahan Presiden Bush di Amerika
Serikat yang  memerangi Islam – tak boleh memicingkan mata bahwa Indonesia
sekarang  memang cendrung rusuh, termasuk rusuh antar-agama.

Kekerasan berlatar- belakang agama yang  paling terkenal adalah peristiwa
Ciketing, perkelahian kelompok masyarakat  setempat dengan rombongan jemaah
HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) yang  mengadakan pawai di jalan
mengakibatkan sejumlah orang cedera, 12 September lalu. Akibat pemberitaan
seru Kompas diikuti media lain  – yang tak berimbang (*cover both side*) –
polisi menangkap pelaku tawuran hanya dari kelompok masyarakat setempat.
Padahal menurut Ketua Front Pembela Islam (FPI)  Habib Riziek Shihab di
dalam rombongan HKBP ada dua jemaah bermarga Purba dan Sinaga membawa pisau
dan tertangkap tangan oleh polisi pada waktu itu tapi segera dilepaskan.
Selain itu ada 9 anggota masyarakat terluka tapi anehnya tak ada jemaat HKBP
yang ditangkap.

Maka di tengah laporan media massa yang tak berimbang, pendapat sementara
tokoh yang bias, tapi kemudian tersebar luas tanpa sikap kritis media
massa,  adalah amat menarik membaca laporan *International Crisis Group
 (ICG)*, 24 November 2010 lalu, berkaitan dengan peristiwa kekerasan
berlatar-belakang agama, terutama peristiwa Ciketing. ICG bukan institusi
Islam, jadi jelas tak ada hubungannya dengan FPI mau pun MUI.

ICG adalah lembaga nirlaba yang independen berpusat di Brussels, Belgia.
Institusi itu kini dipimpin Louise Arbour, wanita berusia  63 tahun, bekas
Hakim Agung Kanada dan  bekas Komisi Tinggi PBB Urusan HAM (*United Nations
High Commissioner for Human Rights*). Tentu jangan bandingkan *ICG
*dengan *Maarif
Institute, Setara Institute, Wahid Institute*,  atau *Moderate Muslim
Society *(MMS), dan organisasi semodel lainnya. ICG terlalu berwibawa dan
rekomendasinya tentang masalah pertikaian, konflik, atau peperangan,
diterima banyak negara, termasuk lembaga internasional semacam Uni Eropa,
Bank Dunia, atau PBB.

Maka sungguh aneh bin ajaib, ketika membuat analisa tentang kekerasan
berlatar-belakang agama di Indonesia sebagai evaluasi akhir tahun, Maarif
Institute atau organisasi sejenisnya mau pun Kompas sama sekali tak
menyinggung laporan ICG. Apakah karena ICG mengungkap gerakan Kristenisasi
padahal fakta itu harus disembunyikan?

Dalam laporan 20 halaman itu, ICG menyimpulkan salah satu penyebab
meningkatnya ketegangan Islam dengan Kristen di Indonesia adalah
Kristenisasi yang agresif dilakukan Kristen Evangelical,  kelompok Protestan
fundamentalis yang dianut banyak penduduk Amerika Serikat.

*Kristen Evangelical* yang mencampurkan agama dan politik itu mulai berkibar
sebagai pendukung Partai Republik di zaman Presiden Ronald Reagan, tapi
betul-betul dominan di dalam percaturan politik Amerika Serikat di dua
priode pemerintahan Presiden George Bush. Bush sendiri berteman dekat dengan
para pendeta aliran itu seperti Pat Robertson, Jerry Palwell (meninggal
dunia beberapa tahun lalu), James Dobson, atau Franklin Graham.

Di zaman Bush, negeri Islam seperti Afghanistan diserang dan diduduki, Iraq
dijajah. Lantas para pendeta Evangelical membenarkan langkah-langkah
Presiden Bush itu kepada rakyat Amerika Serikat. Belum cukup. Para pendeta
diikut-sertakan (*embedded*) bersama  pasukan Amerika Serikat di Iraq dan
Afghanistan guna menyebarkan ajarannya ke tengah masyarakat setempat yang
Muslim.

Kembali ke Indonesia, memang  menurut laporan ICG, ada faktor lain yang
berperan dalam ketegangan hubungan Islam – Kristen, seperti kegagalan
pemerintah, tumbuhnya organisasi  Islam tertentu, dan kebijakan
desentralisasi. Tapi dalam mengembangkan strategi untuk  mengatasi
ketegangan antar-kelompok di Indonesia, laporan ICG  menempatkan
Kristenisasi dalam perhatian khusus. *‘’Isu Kristenisasi bisa mempersatukan
kelompok anti-kekerasan dengan kelompok ekstrim pendukung
kekerasan,’’*tulis laporan itu.

Isu Kristenisasi telah berkembang di Indonesia sejak 1960-an. Tapi selama
ini sensus penduduk tak menunjukkan pertumbuhan pengikut Kristen yang
signifikan. Dari sensus tahun 2000, penduduk Protestan 5,8%, Katolik 3%,
Hindu 1,8%, dan Islam 88,2%. Sisanya Budha dan Kong Hucu.

Begitu pun di kalangan ummat Islam isu Kristenisasi sangat mendapat
perhatian. Tak aneh kalau Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri pada 2006
membentuk Komite Penanggulangan Bahaya Pemurtadan (KPBP). Belakangan nama
itu berubah menjadi Komite Dakwah Khusus (KPK).

ICG mengungkapkan bahwa Kristen Evangelical aktif  melakukan Kristenisasi di
Banten dan Jawa Barat, dua provinsi yang mengelilingi Ibukota Jakarta.  Bila
sukses, kelompok agama ini akan bisa mendapatkan tempat berpijak yang kuat
di Ibu Kota.

Dari catatan ICG diketahui sejumlah organisasi Kristen dari Amerika Serikat
memiliki kegiatan di berbagai daerah di Indonesia, tapi terutama aktif di
Jawa Barat.  Ada *The Joshua Project *yang beroperasi di kalangan etnis
Sunda,  Lampstand (Beja Kabungahan) digerakkan misionaris Amerika Serikat
sejak 1969, Patners International berbasis di Spokane, Washington, memiliki
belasan group di Jawa Barat sebagai patner lokal, Frontiers dari Arizona,
dan *Campus Crusade for Christ  *berbasis di Orlando, Florida,  memiliki
cabang di Indonesia dengan nama *Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia
(LPMI)*.

Pada Desember 2006, LPMI membuat masalah di Batu, Malang, Jawa Timur. Ketika
itu, LPMI mengadakan pelatihan. Dalam acara doa, pendetanya meletakkan
al-Quran di lantai dan menyuruh para peserta latihan mengelilinginya untuk
sebuah upacara mengusir setan. Sang Pendeta dan para peserta doa kemudian
ditangkap pihak berwajib karena tindakan menghina al-Quran (*blasphemy*).

*Dana Luar  Negeri*

ICG memfokuskan laporannya pada Bekasi, kota yang dari data lembaga itu
menunjukkan peningkatan jumlah penganut Kristen. Di tahun 2000, Bekasi
memiliki penduduk 1.668.494 jiwa, 89% adalah Muslim, 6,5% Protestan, 3,2%
Katolik. Pada tahun 2009, jumlah penduduk itu meloncat menjadi 2.145.447
jiwa, di antaranya 87,3% Muslim, 8,05 Protestan, 2,98 Katolik. Artinya, ada
penurunan prosentase penganut Islam dan Katolik, tapi terjadi peningkatan
prosentase penganut Protestan.

Meningkatnya jumlah penganut Protestan, menurut laporan ICG, sebagian
mungkin disebabkan terjadinya perpindahan orang Batak penganut Protestan
dari Sumatera Utara ke Bekasi guna mencari pekerjaan.

Tapi laporan ini pun mengungkapkan betapa gencar gerakan Kristenisasi di
kawasan itu yang menurut ICG, antara lain dibiayai dana luar negeri. Di sana
ada *Sekolah Alkitab Terampil dan Terpadu (Integrated Bible Training School)
* yang dijalankan Edhie Sapto, seorang Madura yang dulu beragama Islam.
Anehnya, seluruh pamplet dan atribut sekolah bertuliskan Arab tapi
mengajarkan Bibel. Lebih aneh lagi, sekolah yang dulu di bawah Yayasan Kaki
Dian Emas dan kini Yayasan Bethmidrash Talmiddin itu, menurut laporan ICG,
mensyaratkan setiap siswanya bisa diluluskan setelah mengkristenkan 10
orang.

Tapi dalam hal menggarap orang Islam yang paling kontroversial tentulah
Yayasan Mahanaim atau *Mahanaim Foundation. *Didirikan sebagai lembaga
pendidikan dan sosial pada 1999 oleh Pendeta Rachel Indriati Tjipto Purnomo
Wenas atau lebih dikenal sebagai Iin Tjipto. Sebagai bagian dari jaringan
Pantekosta di Jawa, Mahanaim dijalankan keluarga keturunan China dan
ditujukan untuk menggarap orang miskin, terutama anak-anak jalanan.

Maka yayasan ini memiliki rumah penampungan anak yatim yang dinamakan Rumah
Harapan dan sekolah gratis dari taman kanak-kanak sampai SMA. Tampaknya
yayasan ini memang bersimbah duit. Pada 2007, yayasan ini mengklaim memiliki
aset bernilai Rp 125 milyar, dan setiap bulan menghabiskan dana Rp 1 milyar
untuk aktivitasnya. Dalam ukuran Bekasi jumlah itu tak bisa dibilang
sedikit.

Yayasan memiliki divisi bisnis yang menjalankan toko buku sampai servis
ruangan pendingin (AC), termasuk bisnis properti. Salah seorang pengurus
yayasan sempat  dihukum 10 tahun penjara karena terlibat manipulasi
pembangunan perumahan militer.

Tapi urusan bisnis dan manipulasi pembangunan perumahan militer itu tak
sampai menyebabkan pengurus yayasan bentrok dengan organisasi Islam di
tempat itu seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Gerakan Pemuda
Islam (GPI), Front Pembela Islam (FPI), dan Jemaah Ansharut Tauhid (JAT).
Yang menimbulkan ketegangan jelas karena gencarnya *upaya mengkristenkan
orang Islam (Kristenisasi)*, terutama ditujukan kepada *kelompok miskin,
lemah, dan tak berdaya*.

Pada 1 Desember 2007, misalnya, yayasan itu membagi-bagikan makanan kepada
orang miskin dalam sebuah acara hiburan musik, tari-tarian, dan atraksi
kembang api, yang dinamakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Acara itu
dilaksanakan di tempat terbuka di kawasan perumahan PT Taman Puri Indah,
Pekayon. Anehnya, mayoritas hadirin adalah Muslim. Wajar kalau organisasi
Islam di Bekasi menuduh acara itu adalah tipu-daya untuk melakukan
Kristenisasi.

Yang paling kontroversial adalah festival dua pekan yang digelar Yayasan
Mahanaim November 2008, disebut Bekasi Berbagi Bahagia (B3). Acara
dilaksanakan di 100 tempat terpisah di sekitar daerah itu dengan
membagi-bagikan hadiah telepon genggam, televisi, mobil, bahkan amplop
berisi uang kontan. Dalam kesempatan itu Yayasan Mahanaim pun mensponsori
perkawinan massal yang melibatkan 153 pasangan Muslim.

Organisasi Islam setempat – tergabung dalam koalisi Front Anti-Pemurtadan
Bekasi (FAPB) -- sudah melakukan protes terhadap Mahanaim malah sebelum
festival itu berlangsung, yaitu ketika yayasan membagi-bagikan Bibel pada 17
Mei 2008. Yayasan itu dituduh memurtadkan orang miskin melalui bujukan uang
dan fasilitas lainnya.

Pada Hari Pendidikan 2 Mei 2010, ada demonstrasi anti-Narkoba di Bekasi.
Ketika melewati Masjid Al-Barkah, sejumlah orang yang ikut arak-arakan
memakai baju yang di bagian belakangnya ada sulaman bintang David bewarna
kuning, memisahkan diri dari barisan, membentuk formasi salib.

Mereka mengembangkan bendera dengan gambar singa dan pedang, dan tujuh nama
Tuhan (menurut Kristen): Adonai, El Shaddai, Jehova Rapha, Jehovah Nissi,
Jehovah Shalom, Jehovah Shamah, dan Master of Breakthrough. Mereka
membagi-bagikan stiker bertuliskan"*Yoel generation’*’, dan kemudian
meletakkan Mahkota Kristen (Christian Crown) di depan Masjid.

Tak begitu jelas dari mana mereka berasal. Tapi menurut laporan ICG, dari
stiker bertuliskan ‘’Yoel generation’’ yang mereka bagi-bagikan bisa ditebak
mereka ada kaitan dengan kelompok Evangelical, atau di Bekasi dikenal
sebagai kelompok pemilik Yayasan Mahanaim. Di Cirebon, Jawa Barat, misalnya,
Mahanaim membuka blog internet dengan nama *Generasi Yoel*. Pendeta Iin
Tjipto menjadi kontributor tetap di blog itu.

Maka tak mengejutkan kalau komunitas Islam bereaksi atas aksi di depan
Masjid Al-Barkah yang  merupakan provokasi dan penodaan agama (blasphemy).
Pada 8 dan 9 Mei 2010 ada tabligh akbar yang mengundang para pembicara
terkenal seperti Kiai Athian Ali, Abdul Qadir Djaelani, atau Abu Bakar
Basyir. Selain itu kelompok Islam mengirim delegasi memprotes peristiwa di
depan Masjid Al-Barkah ke alamat para pejabat Pemda Bekasi.

Murhali Barda, Ketua FPI Bekasi membacakan pernyataan ummat Islam Bekasi
yang ditandatangani 40 tokoh, antara lain, menolak pembangunan gereja yang
tak sesuai peraturan berlaku, menolak segala bentuk aksi Kristenisasi di
komunitas Muslim, dan polisi agar menindak para pelanggar hukum dan
menghukum berat para perusak keharmonisan beragama.

Banyak ekses terjadi karena aksi agresif Kristenisasi di Bekasi. Salah
satunya adalah konflik warga dengan kelompok HKBP yang sedang berusaha
membangun gereja di daerah itu. Satu hal yang pasti harmonisasi umat
beragama di sana rusak dan terganggu.

Pertanyaan yang relevan sekarang: kalau *Maarif Institute, Wahid Institute,
Setara Institute *dan terutama Kompas, menggebu-gebu mengutuk kekerasan atas
nama agama, bagaimana sikap mereka terhadap aksi Kristenisasi terhadap orang
miskin, lemah, dan tak berdaya?

Betul memilih agama adalah hak warga negara. Tapi pilihan itu dilakukan oleh
warganegara yang  bebas dan merdeka. Bukan orang miskin yang lemah tak
berdaya dan terpaksa menukar agamanya dengan rayuan supermie, beras, telepon
genggam, atau uang di dalam amplop. Tidakkah tindakan memanipulasi kaum
lemah atas nama kebebasan beragama harus dikutuk juga karena menghina
martabat dan harkat manusia?

*Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung dengan IPS
(Institute for Policy Studies) Jakarta*
*
*
Wassalamualaikum Wr. Wb. Copas oleh Darwin Chalidi, Tangerang Selatan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke