Ck ck ck ck, kesimpulannya ...

(SOL)

Riri

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Dedi Nofersi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 9 Jan 2011 23:29:47 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Untuak manjadi PNS Kayo: Re: [...@ntau-net] OOT : UNTUK ADIK KELASKU,
 GAYUS (Catatan Mafia Pajak)



Jadi kalau ingin jadi PNS kayo, hipotesanyo adolah: 
        1. Masuak STAN, dan manjadi pagawai Pajak.
        2. Masuak Akabri, trus jadi Dandim, Danrem, Dan...Dan dan jendral.
        3. Masuak Akpol - Kapolsek, trus PTIK - Kapolres, Kapolda, jendral en 
jendral.
        4. Masuak STPDN - jadi Camat, Sekda-sekda.Sikola-sikola nan ambo sabuik 
diateh, 
rato-rato gratis dan bahkan dapek uang saku/tunjangan dinas alias menjadi beban 
Negara. Adolah suatu nan ironis, menjadi anak pilihan Negara demi kejayaan 
Bangsa dan Negara dimana Negara telah bersusah payah membiayai pendidikannya 
dan 
jaminan kerja serta masa depannya namun disisi lain mereka-meraka tersebut 
berbuat seperti "rayap".

Tarimo kasih kapado Pak Harman nan lah malewakan curito dibaruah. Mudah-mudahan 
manjadi i'tibar bagi ambo khususnyo untuak bisa mandidik anak-anak jan sampai 
babuek bantuak tu. 
 
Dedi N - 48"In Islam has a peaceful and happiness"
Asal: Kotogadih, Sunua, Kurai Taji, Pariaman.






________________________________
From: Harman <[email protected]>
To: RantauNet <[email protected]>
Sent: Mon, January 10, 2011 9:46:52 AM
Subject: [...@ntau-net] OOT : UNTUK ADIK KELASKU, GAYUS (Catatan Mafia Pajak)



iko bukan artikel baminang - minang, tapi mudah2-an bermanfaat.

wasslam,
harman st.idris

UNTUK ADIK KELASKU, GAYUS (Catatan Mafia Pajak) 

Oleh HERI PRABOWO 

(Alumnus STAN 1996, penulis buku "Catatan Harian Seorang Mafia Pajak")

Ada anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN-Prodip) pada Oktober 2010. 

Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan
berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Purnomo, Ketua BPK
(Badan PemeriksaKeuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono
Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori
terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak
angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama.

Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkarkan
Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada
bosnya, M. Tjiptardjo, Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN. 

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik
hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus
STAN-Prodip yang lantas terjerembap mafia pajak dan berujung menghadapi
proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kita mulai
untuk menapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam. Saya tidak
seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp 100 miliar disita.

Tapi Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di
luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).
Muda, berduit dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak !
Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak
sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami
sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. 

Bahkan saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di
tahanan. Walau tidak seekslusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan
kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan
orang-orang kaya yang ditahan disana. Saya berbangga. Saya bisa selevel
dengan mereka. Kebanggaan yang semu di tengah hujan cercaan. Tidak heran
Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya
jauh di atasnya melakukan hal serupa. 

Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka.
Uang boleh sama, tapi mereka cerdik, berpengalaman dan punya network luas.
Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi. 

Dengan latar belakang kurang beruntung secara ekonomi dan broken home, Gayus
telah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi
mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO
(dropout) yang ketat. Kampus dipenuhi mahasiswa dari golongan menengah ke
bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesedershanaan
selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke
kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. 

Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas.
Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang.
Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA
(taman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori
mahasiswa STAN. 

Lalu kenapa saya dan Gayus bisa lahir ? Lalu, mengapa kami bisa jadi pecinta
kemewahan ? Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah
bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saat bekerja. Dengan
gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata,
mereka jadi orang kaya baru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman
saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing.
Sisanya lagi miskin karena tidak memperoleh kesempatan. 

Saat lulus STAN pada tahun 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan
. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat
teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli
gorengan ayam. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau
berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang
berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi. Maka, saat bertugas di
Jakarta, Gayus tidak menyia-nyiakan kesempatan. 

Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia
beruntung. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan
yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi. Gayus pasti
juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak
pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekeningnya dan
umumnya mereka aman-aman saja. Maka, wajar Gayus percaya diri. 

Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan, Seakan
hanya dialah mafia pajak di negeri ini. Pada masa genderang perang melawan
korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar
tekanan media menghantam. Wajar olok-olok sarkastis menghajar bukan hanya
kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga
berujung linangan air mata. Kejengkelan muncul saat para bos, mafia-mafia
besar justru nyaris tidak tersentuh hukum. 

Gayus lantas bermanuver, bernyanyi. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk
menggiringnya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya. Saat nyanyian tidak
lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan.
Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, menuju
skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur. 

Gayus, adik kelasku ! 

Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka,
berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion.
Walaupun, tidak mungkin jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin tidak berpihak
kepadamu. Mungkin para raja, menteri dan lainnya melenggang dengan tidak
tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari
semua masalah itu. Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab,
itu berawal dari kesalahan kita.

Meskipun kini engkau merasa menjadi kambing hitam. Jika saya boleh
memberikan nasihat, ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa
terjerembap dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja
teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi
aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak
yang baru berkarir. Adakalanya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi,
juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit. 

Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

http://forum.detik.com/untuk-adik-kelasku-gayus-catatan-harian-seorang-mafia-pajak-t228544.html

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke