Menikam Jejak di Jantung Sumatera



Dua lelaki tua itu saling bertatapan. Terpaan angin dingin Bukitiinggi kala
senja jatuh mengantarkan sendu menelisik, merambati bunga anyelir yang
memucat di samping pintu. Sepuluh menit lalu ada desisan tertahan, ketika
sebuah ketukan di pintu mengiring “Assalamualaikum”. Bergegas si tuan rumah
beranjak dan memutar gerendel pintu. Di hadapannya kini, berdiri seorang
lelaki dari jauh, sama tuanya, dimatanya bergayut kerinduan.



Seketika, seperti di bioskop tua di pasar Atas Bukittinggi, kenangan
terhampar pada jarak satu setengah meter yang membentang diantara keduanya.
Bunyi tembakan mitraliur dan ledakan mortar yang memekakkan telinga, seolah
berlari disela-sela mereka. Kedua lelaki itu menarik nafas tuanya. Demikian
lama waktu melemparkan pada sisi-sisi dunia dengan peradaban berbeda. Lelaki
yang mengetuk pintu itu, demikian rapih menyimpan perjalanan pada keremangan
malam di perpustakaan tua universitas di...........Amerika, sementara itu
yang berdiri dengan dada serasa pecah, di pintu itu, berpuluh tahun
menyaksikan zaman telah mencoba mengubur cerita mereka.



Pada helaan nafas kesekian ketika kerinduan tak jua mencair diantara mereka,
tiba-tiba sebuah tempat bernama Gang Kenanga hadir. Gang Kenanga, ya Gang
Kenanga !. Ditengah rerimbunan rimba tropis Sumatera, pada sepotong tanah di
perbukitan, diantara tebingnya yang curam, mengalir batang Kumpulan yang
tenang. Seperti nama sungai kecil itu, tempat ini berada dalam kekuasaan
Tuanku .......................yang mengepalai sebuah daerah bernama
Kumpulan, sebuah daerah penuh durian hutan yang berjarak..................KM
dari Bukitinggi, menyusuri jalan sempit berliku menyisiri pinggang
perbukitan dan diujungnya terhampar Kota Kecil bernama Lubuk Sikaping, pintu
masuk ke Tapanuli Selatan.



Yah, disanalah lelaki sederhana tetapi sekokoh karang, saleh dan pemimpin
partai Masyumi penentang Sukarno mendirikan pondok, mengungsi !. Yah ketika
jantung Sumatera bergolak.



“Saat itu situasi politik penuh dengan teror,” Natsir mulai bercerita.”Kami
orang-orang yang anti komunis diteror. Rumah saya didatangi puluhan
orang-orang Pemuda Rakyat yang diangkut dengan truk. Usaha kami melaporkan
diri kepada yang berwajib sia-sia saja. Aklhirnya kami merasa Jakarta bukan
lagi tempat yang tepat bagi kami. Kami ke Sumatera. Di sana muncul ide-ide
perlawanan. PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat
dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini
masalah zaman saya, Saidi. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami
tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.” (M. Natsir dalam Perspektif Kini
--- Oleh: Ridwan Saidi).





Pada memori tua kedua laki-laki disenja itu masih terpahat sebaris kenangan,
seperti kemarin baru terjadi. Ya kemarin, waktu terlalu cepat berlari.
Lelaki tua yang tegak di pintu itu, kembali menatap nanap. Seperti operator
pemutar film hitam putih di bioskop tua, kenangan kembali melintas ketika ia
menjadi kurir tentara dalam, ketika perang saudara itu berkecamuk.



Melintas dibenaknya ketika memintasi Aia Kijang dan merenangai Batang
Masang, sungai purba yang menandai peralihan zaman di daerah itu, jauh
sebelum Imam Bonjol mengangkat pedang melawan Belanda. Ketika
langkah-langkah muda mengejar Tenggara, memintas dan menembus rimba. Mungkin
tak sampai beberapa ratus langkah, disanalah tebing terjal mengapit Gang
Kenanga, didasarnya mengalir . Seperempat jam kemudian ketemu batang air
berdiameter 2 meter lalu dimudikkan sekitar seperempat jam ketemu tebing
yang tidak terlalu terjal maka didataran diatas tebing itulah gang Kenanga
berada.



Lelaki sederhana dan teguh itulah yang memerintahkannya menjadi kurir.



Bukittinggi semakin lengang, tapi lengang seperti terusik karena seulas
senyum yang tak pernah berubah karena masa, lelaki yang datang dari jauh itu
tersenyum kecil seperti senyum nabi. Maka runtuhlah sekat kenangan itu.
Lelaki tua di pintu itu terguncang...!. Meskipun waktu telah memakan jasad,
melamurkan mata. Tetapi lelaki di tangga, dihadapannya adalah tetap sahabat
kecilnya dari palunan rimba raya Sumatera. Mereka berangkulan.



Malam semakin mendaki lereng Ngarai. Pada jalan berliku di sisinya,
keremangan terjebak di mulut lobang Jepang. Bunyi uwir-uwir, jangkrik
membangun orkestra dengan partitur melagukan shimponi kenangan. Telah
berpuluh tahun tembakan berhenti menggema mengganggu senja yang sakral.
Malam telah berganti siang, siang telah berganti masa, kota ini sarat
sejarah. Kedua lelaki itu saling tatap dan kedua pasang mata itu berhenti
pada kepulan uap kopi Bukit Apit di atas meja.



Bersambung.........



Cerbung ini lahir atas kerjasama koloboratif saya (Andiko) dengan Rina
Permadi. Cerbung ini terinspirasi dari napak tilas Mak Ngah dengan Papanya
Rina. Cerbung ini terus dalam perbaikan.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke