Maninjau Paska Pemberontakan PRRI  [image:
PDF]<http://bachtiarchamsyah.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=31>
 [image:
Print]<http://bachtiarchamsyah.net/index2.php?option=com_content&task=view&id=31&pop=1&page=0&Itemid=41>
 [image:
E-mail]<http://bachtiarchamsyah.net/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=31&itemid=41>
  Written by admin
  Monday, 22 June 2009

http://bachtiarchamsyah.net/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=41

  Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat yang berlangsung sejak tahun 1958
baru dapat dipadamkan pada tahun 1961. Kekalahan itu begitu menyakitkan
sehingga Sumatera Barat—tak terkecuali Maninjau—menjadi seperti kota mati.
“Ibarat negeri yang dikalahkan garuda,” ujar Munif Abdi, menggambarkan
daerahnya ketika itu. Munif, pemuda negeri Bayur yang ketika itu duduk di
bangku SMP merasakan betul situasi dan kondisi seperti itu. Di seluruh
Maninjau nyaris tak ada akses informasi kecuali sebuah radio umum di
Balairung Nagari. Media massa cetak seperti koran dan majalah pun tak ada.
Masyarakat Maninjau khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya mengalami
semacam trauma. Penumpasan pemberontak oleh Tentara Pusat (TNI yang
didatangkan dari Jawa) meninggalkan luka yang dalam di tengah masyarakat.
Semangat untuk maju seakan mati suri. Rasa takut bertemu ‘orang asing’
menjadi hal yang umum dirasakan oleh masyarakat. Bahkan seorang Taufik
Abdullah ketika pertama kali pulang ke Sumatera Barat setelah empat tahun
meninggalkan negerinya untuk menuntut ilmu di Jawa, merasakan betul
perubahan itu. Sedemikian rupa perubahan itu dirasakan Taufik sampai-sampai
ia merasa ‘asing’ dan ‘aneh’. Betapa tidak? Turun dari kapal di Pelabuhan
Teluk Bayur, selain tak ada seorang pun yang menyapa dan bisa disapanya, ia
juga merasakan ketertutupan masyarakat.

Di atas bus menuju Kota Padang, Taufik sulit mencari teman bicara
antarsesama penumpang. Bahkan kondektur bus yang diajaknya berbincang
dirasakannya menghindar. Ketika Taufik memulai pembicaraan dengan kalimat:
“sudah empat tahun saya tak pulang,” kondektur itu hanya menjawab pendek,
“Biasa”. Dan hanya itu yang keluar dari mulut kondektur sepanjang
perjalanan.

Keanehan yang dirasakan Taufik baru terjawab ketika di Padang ia singgah di
toko suadara sepupunya, yang biasa dijadikan tempat berkumpul para pedagang
dari kampung halaman Taufik. Wajah-wajah ramah menyambutnya. Tetapi tak
banyak pertanyaan yang mereka sampaikan. Padahal biasanya—tau mestinya—tak
seperti itu yang terjadi jika sekelompok orang menerima kedatangan orang
pulang merantau atau baru pulang dari perjalanan jauh. Lebih dari itu,
bahkan, Taufik mendapat semacam briefing atau nasihat dari mereka tentang
bagaimana harus bersikap dan berbicara.

Tentu Taufik menjadi heran melihat dirinya mendapat nasihat dari orang-orang
yang biasanya lebih suka berbincang-bincang atau bercanda daripada memberi
nasihat. Rasa heran Taufik pun bertambah ketika di perjalanan selanjutnya ia
melihat dengan jelas betapa supir dan kenek bus yang dibayangkannya sebagai
sosok yang berani dan cenderung sinis, begitu saja kehilangan semuanya
ketika busnya distop oleh prajurit TNI. Bukan keramahan yang dipersoalkan
Taufik, tetapi ketakutan yang terpancar dari wajah yang biasanya tegar itu.
“Apakah orang Minang telah kehilangan sesuatu yang selalu mereka
banggakan—kepercayaan diri yang tinggi—di kampung halamannya sendiri?”,
tulis Taufik.
Suasana psikologis semacan itulah yang menyelimuti Sumatera Barat pada
umumnya masa itu. Maka kedatangan seorang pemuda dari rantau seperti
Bachtiar Chamsyah ke wilayah itu menjadi aneh, baik bagi Bachtiar sendiri
maupun bagi masyarakat setempat. Suasana itu menimbulkan keheranan dan
keprihatinan. Trauma yang dialami masyarakat Minang paska pemberontakan PRRI
tak pernah dirasakan oleh Bachtiar di Medan maupun di Kutacane. Padahal
menurut pengakuannya, sebelum memutuskan pindah ke Maninjau, sesungguhnya
dirinya sudah tahu bahwa terjadi sesuatu yang memprihatinkan di kampung
halaman orangtuanya itu. Rasa keingintahuan mengusiknya untuk tahu lebih
banyak, sejauh mana pengaruhnya bagi masyarakat. Tetapi dugaannya tak
sedahsyat realitas yang disaksikannya di lapangan. Semula ia hanya menyangka
masyarakat takut kepada orang yang tak dikenal, atau takut pada Tentara
Pusat. Demi yang dilihatnya masyarakat Maninjau seperti kehilangan gairah
untuk maju, hal itu membulatkan tekad dan semangatnya untuk berbuat sesuatu
bagi mereka.

Pada sisi lain, bagi masyarakat Maninjau sendiri kedatangan Bachtiar juga
menjadi sesuatu yang aneh. Mengapa? Bachtiar adalah anak perantau Minang.
Merantau bagi masyarakat Minang ada dua macam. Yang pertama adalah apa yang
mereka sebut rantau cino (rantau Cina), yaitu merantau yang tak
pulang-pulang lagi ke kampung halaman, semacam membuang diri. Perantau
semacam ini akhirnya meninggal di rantau dan boleh dikata putus hubungan
dengan keluarga yang tersisa di kampung halaman. Merantau model kedua adalah
rantau biaso, yaitu merantau tapi sesekali pulang menjenguk keluarga. Atau
bahkan ketika sukses kelak, mereka kembali ke kampung halaman menghabiskan
sisa usia.
Tapi tak biasa jika yang pulang dan kemudian menetap dalam waktu cukup lama
di kampung itu adalah keturunan si perantau, bukan si perantau itu sendiri.
Tetapi itulah yang dilakukan Bachtiar. Dia, si anak seorang perantau, pulang
ke kampung halaman orang tuanya dan menetap dalam jangka waktu tertentu di
situ untuk menyelesaikan sekolah. Keanehan yang dilakukan Bachtiar bertambah
lagi ketika ia banyak melakukan sesuatu yang tak biasa bagi masyarakat
Maninjau.
Apa gerangan yang dilakukan Bachtiar? Pemuda ini membawa perubahan, baik
bagi masyarakat Bayur sendiri khususnya, maupun masyarakat Maninjau umumnya.
“Ibarat membangkit batang tarandam,” ujar Munif.

Di kampung itu Bachtiar menjadi pembangkit semangat. Banyak yang dilakukan
pemuda yang enerjik itu. Anak-anak muda dihimpunnya dalam suatu organisasi
bernama Ikatan Pemuda Pelajar Bayur (IPPB) di mana Bachtiar sendiri sebagai
pemimpinnya. Di bidang olahraga, diajaknya pemuda-pemuda Bayur berlatih
bulutangkis. Kebetulan di bidang ini Bachtiar punya potensi bagus. Pada
suatu pertandingan bulutangkis dalam rangka acara 17 Agustus, Bachtiar
berhasil mengalahkan seorang anggota TNI. Tentu saja kemenangan itu disambut
gegap gempita oleh masyarakat. “Ada juga orang kita yang mampu mengalahkan
tentara Jawa itu,” begitu komentar warga, seperti ditirukan Bachtiar.
Kemenangan Bachtiar itu membangkitkan rasa percaya diri masyarakat,
khususnya generasi muda.

Di bidang olahraga, tak hanya bulutangkis yang digalakkan Bachtiar, tetapi
juga tenis meja dan bola voli (volley ball). Kegiatan latihan dan
pertandingan olahraga menjadi kegemaran baru masyarakat. Suasana pun menjadi
hidup. Anak-anak muda yang selama itu banyak berdiam diri seperti hilang
akal, menjadi bergairah. Tapi ‘urusan’ belum selesai. Selain olahraga,
Bachtiar juga merambah bidang kesenian. Diajaknya anak-anak muda Maninjau
bermain band, jenis musik yang relatif baru bagi masyarakat. Bukan itu saja,
Bachtiar juga mengajak anak-anak muda bermain drama atau sandiwara, juga
jenis kesenian yang masih baru di sana. Pementasan dilakukan sehabis Hari
Raya Idul Fitri. Puncaknya adalah ketika Bachtiar mengajak anak-anak muda
Maninjau bertandang ke tempat lain yaitu ke Bukit Lawang. Di sana mereka
bertanding olahraga, main band dan mementaskan drama.
Munif bersaksi: “Bachtiarlah yang membangkitkan rasa percaya diri itu!”
Sosok Bachtiar yang anak seorang perantau Minang di tanah Aceh itu bukan
saja membawa kebisaaan-kebisaaan baru bagi pemuda-pemuda di kampungnya
tetapi juga membuka wawasan. Gafar Malik berkisah, di kampung itu ada sebuah
batu yang oleh masyarakat setempat dikeramatkan. “Jika ada layang-layang
putus melewati batu itu, tak akan ada lagi anak yang berani mengejar
layang-layang itu”.  Tetapi Gafar melihat Bachtiar bahkan tenang-tenang saja
duduk di atas batu itu sambil membaca buku. Tentu saja hal itu membuat
masyarakat heboh. Namun Bachtiar berhasil menyakinkan masyarakat dengan cara
bijaksana, bahwa kepercayaan tentang keramatnya batu itu hanya tahayul
belaka. Dan akhirnya masyarakat pun sadar bahwa batu itu tidak keramat
seperti yang selama ini mereka percayai. Buktinya, Bachtiar tak apa-apa
meskipun duduk di atasnya sambil membaca buku. Tentang batu ‘keramat’ itu
Bachtiar bercerita: “Tak masuk di akalku, batu bisa menimbulkan tulah.”
Bachtiar mengakui, memang masyarakat menjadi heboh gara-gara ia duduk di
atas batu ‘keramat’ itu.

Kehebohan yang dibuat Bachtiar belum selesai. Di Bayur itu, di jalan menuju
kawasan yang lebih tinggi, terdapat pohon besar yang juga dikeramatkan
orang. Masyarakat memercayai di pohon keramat itu banyak macannya? Di suatu
malam, dari rumah tempatnya menumpang tidur, dengan berkain sarung Bachtiar
berjalan sambil bermain gitar menuju pohon ‘keramat’ itu, dan dengan santai
tetap saja bermain gitar di bawah pohon itu. ‘Untung’ tak ada macan keluar
dari pohon itu. Jangankan banyak, seekor pun tak ada.
Masih ada lagi kehebohan yang dibuat Bachtiar. Di Maninjau paska
pemberontakan itu wali-wali nagari dijabat oleh mereka yang dekat dengan
pemerintah, dan umumnya bersikap ‘kekiri-kirian’, kalau tak boleh disebut
antek PKI (Partai Komunis Indonesia). Menurut Munif, boleh dikata
masyarakat, khususnya generasi muda, terbagi dua. Satu bagian adalah
anak-anak keluarga besar Masyumi, dan sebagian yang lain adalah anak-anak
muda yang kekiri-kiran. Bachtiar mengaku sengaja mendekati para wali nagari.
Tak ayal kedekatan itu memunculkan heboh lagi. Masyarakat Maninjau—yang tahu
kalau ayahanda Bachtiar adalah seorang tokoh Muhammadiyah di
Kutacane—mengkhawatirkan pengaruh buruk dari kedekatan dengan orang-orang
‘kiri’ itu. Uniknya, menurut Munif, Bachtiar tak sedikitpun terpengaruh oleh
para wali nagari itu. Jangankan terpengaruh, bahkan yang terjadi adalah
Bachtiar mampu mendekatkan kembali kedua kelompok generasi muda yang seakan
terlibat perang dingin itu.
Dari pergaulan dengan Bachtiar itu, wawasan pemuda Maninjau menjadi lebih
terbuka. Masalahnya, Bachtiar, sang pembuka wawasan itu mampu bercerita
dengan lancar tentang kemajuan dunia luar, dari soal olahraga, seni,
politik, budaya, agama dan lain-lain masalah. Menurut Munif, Bachtiar bisa
bercerita dengan memikat tentang grup musik mancanegara yang lagi ngetop
seperti The Beatles, atau bercerita tentang film luar negeri yang lagi
hangat dibicarakan orang. Tentang film dan musik Munif berujar:
“Bahkan Bang Tiar bisa bercerita tentan siapa Rock Hudson dan bagaimana awal
mula dia menjadi bintang film. Bang Tiar bukan hanya tahu lagu-lagu The
Beatles, tetapi juga lagu-lagu dari jenis lain seperti Blues, Cha Cha dan
sebagainya. Kami masih asing dengan jenis musik seperti itu. Bang Tiar sudah
menyenangi Rock and Role, bisa menyanyikan lagu Besame Mucho dengan baik.
Sementara kami waktu itu masih berkutat dengan Ayam Den Lapeh-nya Elly
Kasim.”

Hal-hal baru yang dibawa Bachtiar di Maninjau itu menjadikannya sebagai
rujukan anak-anak muda. Dalam masalah politik, menurut Munif, sudah tampak
keluasan wawasan Bachtiar. Misalnya, Bachtiar sudah bisa bercerita tentang
Das Capital, Marxisme, Leninisme dan lain-lain. Bukan hanya itu, Bachtiar
juga bicara tentang ulama-ulama terkenal dan tokoh-tokoh politik Islam.
Munif mengenang:
“Kalau meminjam istilah anak muda masa kini, Bang Tiar itu bisa dikatakan
sebagai idola bagi anak muda di daerah kami waktu itu. Setiap menghadapi
masalah, ke sanalah anak-anak muda bertanya atau meminta pendapat.
Bayangkanlah kondisi kami remaja-remaja Maninjau yang terputus dengan dunia
luar sekitar tiga tahun, sejak 1958 sampai 1961. Perkembangan kota besar
benar-benar kami tidak tahu.”

Tentang dirinya disebut idola, Bachtiar tidak membantah. Mungkin, katanya,
karena cara bergaulnya yang luwes dan mampu mendekati sekaligus mendekatkan
pihak-pihak yang selama itu berseberangan. Tetapi Bachtiar juga mengaku
bahwa waktu itu dirinya memang mampu tampil agak beda dengan teman-teman
seusianya. Keberbedaan itu antara lain tampak pada aspek penguasaan
informasi yang relatif lebih baik dibanding teman-temannya. Sisi lain yang
membuatnya beda adalah penampilannya yang lebih gagah. Selain faktor
fisiknya yang tinggi semampai dan atletis—karena ia seorang olahragawan
handal, khususnya di bidang bulutangkis—juga karena dalam hal berpakaian ia
bisa tampil lebih trendy daripada orang lain. Masalahnya, pakaian Bachtiar
memang lebih banyak dan lebih bagus. Beberapa di antaranya bermerek yang
cukup membangkitkan keinginan orang untuk memilikinya. Tapi Bachtiar
mengaku, semua pakaian itu bukan didapatnya dari membeli. Orangtuanya, kata
Bachtiar, tak akan membelikannya pakaian-pakaian sebagus itu, sebab mereka
bukan orang yang hidup berkelebihan. Baju-baju dengan merek Arrow, Crocodile
dan lain-lain itu didapat Bachtiar sebagai hadiah atas prestasinya di bidang
bulutangkis. Kebetulan pertandingan-pertandingan seperti itu dalam setahun
bisa berlangsung beberapa kali seperti 17 Agustusan, hari Sumpah Pemuda,
Hari Pahlawan, Hari Angkatan Perang dan lain-lainnya. Sejak di Kutacane,
hampir seluruh pertandingan itu dimenangkan Bachtiar dan hadiahnya rata-rata
adalah baju dengan merek terkenal itu.
Di Bayur itu, menurut Munif Abdi, Bachtiar dan kawan-kawannya tinggal di
sebuah rumah kosong yang ditinggal merantau oleh pemiliknya. Biasanya para
perantau tak keberatan membayar orang untuk tinggal di rumahnya, supaya
rumah tetap terpelihara dan tidak cepat rusak. Dengan adanya Bachtiar dan
kawan-kawannya yang ‘mau’ tinggal di rumah kosong itu, si pemilik tak perlu
repot-repot membayar, karena anak-anak muda itu dengan suka hati mereka
sendiri tinggal di situ. Munif melihat, tinggal di rumah kosong itu tak
ubahnya sebagai kebiasaan pria Minang pada umumnya yang tak biasa tidur di
rumah berdekatan dengan ibu dan saudara-saudara perempuannya. Bedanya, kalau
pada umumnya pria Minang tidur di surau, Bachtiar tidur di rumah orang lain.
Yang pasti tidak tidur di rumah keluarga, walaupun di Bayur itu banyak
keluarga Bachtiar, karena orang tuanya memang berasal dari situ.

Kebisaaan pria Minang tidur di surau itu dibenarkan M. Yatim, paman
Bachtiar. Menurut pensiunan PNS Pemerintah Daerah di Kutacane ini, kebiasaan
itu memiliki dua tujuan. Pertama, sesudah shalat mereka belajar mengaji
al-Quran, pengetahuan agama, adat istiadat dan pengetahuan lainnya. Kedua,
setelah itu mereka belajar silat. M. Yatim menambahkan:
“Pemuda Minang merasa malu betul kalau tidur di rumah berdekatan dengan ibu
atau saudara-saudara perempuannya. Tapi itu dulu. Kalau sekarang agaknya
berjalan dengan perempuan bukan muhrimnya pun no problem. Dulu yang seperti
itu adalah pantangan.”

Ketika ditanya mengapa demikian, Yatim menjawab: “Itu sudah menjadi adat.
Adat itu tidak tertulis. Sulit dicari asal-usulnya”.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke