Assalamualaikum ww para sanak sapalanta, Terharu oleh cerita rakyat bernuansa moral ini dari tradisi Islam, saya ingin tahu : adakah padanannya dlm tradisi kita di Minangkabau ? Siapakah tokoh-tokoh moral dlm tradisi Minangkabau, yg dapat jadi idola/panutan ? Tolong saya dicerahkan, krn tak banyak pengetahuan saya ttg hal ini. Terlebih dahulu terima kasih banyak. Wassalam,
------Original Message------ From: Saafroedin BAHAR Sender: Rantau Net To: Rantau Net ReplyTo: Rantau Net Subject: Re: [R@ntau-Net] (Hanya) Karena Sebuah Apel Sent: Jan 15, 2011 20:23 Menyentuh dan sangat mendidik, Dinda Ajoduta. Wassalam, Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. From: ajo duta <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 15 Jan 2011 08:13:35 -0500 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [R@ntau-Net] (Hanya) Karena Sebuah Apel Assaalaamu'alaikum saudaraku, Pagi ini sambil menguis sebuah apel saya kirim kisah ini. Makan sebuah apel dipagi hari beberapa saat sebelum sarapan, sebuah lagi sebelum makan siang dan sebuah apel lagi pengganti makan malam, menjadi rutinitas saya beberapa tahun ini. Ini mengikuti petunjuk dokter saya. Kata dokter rutinitas ini akan membuat anda sehat. Wallahu'alam. Boleh dicoba. Ah, sudah ikuti saja kisah dibawah ---------------------------------------------------------- Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya. Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya? Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga. Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut. Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keada Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
