Republika, 2008-07-21 21:02:00

 

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/925

 

Nama daerah itu makin terlupakan. Sama dengan sosok besar yang dilahirkan di
dataran tinggi nan sejuk di Sumatra Barat ini. Lembah Gumanti kini lebih
dikenal sebagai Alahan Panjang. Di situlah seratus tahun silam, tepatnya 17
Juli 1908, sang pengukir peradaban Islam itu berasal. Ia Mohammad Natsir.

 

Tak sedikit tokoh umat yang terinspirasi (atau merasa terinspirasi) oleh
Natsir. Tokoh-tokoh yang pernah melejit sebagai 'intelektual muda Islam',
hampir selalu pernah dianggap sebagai Natsir muda. Yusril Ihza Mahendra,
misalnya. Juga Amien Rais. Anwar Ibrahim dari Malaysia pun tak luput dari
masa dianggap sebagai Natsir muda. Tentu banyak nilai-nilai Natsir yang
diserap para tokoh itu. Tapi, tak semua mampu mengikuti seluruh sisi Natsir.
Ada yang gagal meneladani kesederhanaan dan kerendahatian Natsir. Ada yang
kurang sesabar sosok ini.

 

Natsir juga bukan sosok yang selalu sabar. Sesekali ia juga masih tampak
marah. Tetapi, dalam konteks membangun umat dan bangsa, ia seorang pendakwah
sejati. Seorang yang selalu berpegang pada prinsip-prinsip kesantunan dan
kesabaran dalam melangkah. Prinsip itu selalu dijaganya. Dengan kesantunan
dan kesabaran ia jaga keutuhan bangsa dan umat ini. Baginya, bangsa dan umat
bagai dua sisi berbeda dari keping mata uang yang sama. Langkah-langkahnya
hampir selalu diperuntukkan bagi bangsa dan umat sekaligus.

 

Natsir sempat berpolemik panjang dengan Soekarno soal landasan bernegara.
Tentu ia juga berseberangan aliran dengan Kasimo yang Katolik. Tapi, buat
Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim ini, ia duduk dan berbagi
pandang dengan mereka. Ketika bangsa ini terancam terbelah-belah, Natsir
mengajukan 'mosi' yang mengukuhkan kesatuan Indonesia sebagai republik.
Langkah yang sangat menguntungkan Soekarno dalam memimpin. Natsir pun tak
risau ketika tak lama kemudian Soekarno seperti tak mengingat jasanya.
Bahkan, menjebloskannya ke tahanan.

 

Hal serupa terjadi semasa Soeharto. Ia telah membantu Soeharto menata
kembali negeri ini setelah carut-marut G30S/PKI. Setidaknya dialah yang
menjadi kunci pembukaan hubungan kembali dengan Malaysia. Tapi, ia mendapat
perlakuan yang tak semestinya ia dapatkan sebagai negarawan. Buat Natsir itu
bukan soal. Ia berbuat dan berbuat semata untuk kebaikan bangsa dan negara.
Bukan buat kegagahan, kekuasaan, dan harta sebagaimana kebanyakan kita. Ia,
sekali lagi, seorang pendakwah sejati. Seorang yang mensyukuri setiap
keadaan yang dihadapinya. Seberapa pun buruk keadaan itu. Ia akan antusias
memperbaikinya. Ia seorang yang akan melihat gelas yang separuhnya berisi
air sebagai 'setengah penuh'. Bukan 'setengah kosong'.

 

Dalam berpolitik untuk umat, Natsir telah mengukir karya yang hingga
sekarang belum ada tandingannya. Baginya, keislaman akan selalu berjalan
seiring dengan intelektualitas, profesionalitas. Partai Masyumi yang
dibangunnya adalah representasi cara pandang itu. Baginya, berpartai bukan
buat kedudukan dan harta. Berpartai adalah buat memperjuangkan nilai-nilai
kabangsaan dan keislaman yang mencakup intelektualitas-profesionalitas. Ini
sisi lemah bangsa dan umat ini, hingga tertinggal dari bangsa lain. Banyak
tokoh bangsa dan umat kita saat ini yang lemah dalam intelektualitas.
Apalagi profesionalitas. Padahal, tak akan ada bangsa dan umat yang dapat
maju tanpa itu.

 

Lima belas tahun silam sang pribadi itu meninggalkan hiruk-pikuk dunia ini
untuk menghadap-Nya. Seabad kelahirannya sekarang seperti lonceng yang
mengingatkan: tidakkah ini saat tepat buat merenung sejenak, belajar dari
Natsir.

 

(Zaim Uchrowi)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke