Assalamu'alaikum Warahmatullahi  Wabarakaatuh,

Adidunsanak Palanta yang saya hormati,

 

Melanjutkan kisah perjalanan Papa sebelumnya yang bergelut dengan masa
pergelokan di masa mudanya yang penuh lika liku. 

 

KETIKA PAPA BERCERITA 4

By : Ritrina

 

 

Saya kutipkan tanggapan Buya Mas'oed Abidin tentang tulisan saya untuk
menyegarkan kembali ke tulisan yang sebelumnya :

 

"Ananda Rina, yang ditulis Rang Gaek atau Pak Natsir itu adalah saran kepada
Pemerintah RI pimpinan Soekarno melalui Jendral Abdul Harris Nasution
tentang bagaimana menyelesaikan bekas anggota PRRI secara nasional, agar
tidak menjadi beban sosial masyarakat Indonesia. Hebatnya beliau (Rang Gaek,
panggilan kami terhadap Pak Natsir, sebab ada beberapa panggilan terhadap
beliau itu, ada dengan panggilan 'Pak Imam' (bagi pencinta Masyumi), Abah
(bagi anak anak beliau di Jabar), 'Pak Natsir' (umum panggilan kekerabatan),
ada 'Abu Fauzie' ini panggilan khusus yang hanya diketahui beberapa anak
anak beliau tertentu saja, sekali lagi hebatnya beliau tidak menulis
bagaimana semestinya pemerintah memperlakukan beliau agar bebas, tetapi
beliau menyarankan bagaima seharusnya pemerintah menyelesaikan kemelut PRRI
agar tidak menjadi beban sosial masyarakat Indonesia. Yang ditulis Pak
Natsir itu banyaknya 42 halaman diketik oleh Pak Buchari Tamam, Mazni Salam
dan juga Buya sekali sekali, diketik, dikoreksi, diketik lagi, dikoreksi
lagi, berkali-kali sampai pas untuk konsumsi penguasa, tanpa harus mengemis
merendah diri, inilah khasnya konsepsi Pak Imam itu. Judulnya adalah
"Mengumpulkan Kerikil Kerikil Terpelanting", yang kelak dimasukkan kedalam
Capita Selecta 3 sampai hari ini ... Buya juga mengutip kembali tulisan itu
di dalam Buku yang sedang Buya ulangi mengeditnya dengan judul "Hidpkan
Da'wah Bangun Negeri (HDBN), Taushiyah Da'wah Mohamad natsir", buku ini
sudah diberi pengantar oleh Prof.Madya Siddiq Fadzil dari UKM Malaysia sejak
Ramadhan 1330 H yang lalu, sayang masih belum dapat Buya terbitkan sampai
hari ini ... Pak Natisr selama di Padang Sidempuan Sept 1961 itu ditempatkan
di sebelah rumah Kolonel Bahari Effendi Siregar (Komandan Koren 22 Kawal
Samudera), tersimpal maksud tersembunyi dengan halus mengawasi sekaligus
membatasi gerak beliau, karena beliau tinggal dalam kompleks Korem itu,
walau bebas didatangi siapapun. Disinilah beliau ditemui oleh Mas Hardi dan
utusan Jenderah Abdul harris Nasution, dan juga oleh teman teman dari
Masyumi dari seluruh tanah air. Begitu bbanyaknya tamu beliau setiap
harinya, akhirnya beliau selesai merampungkan pesan untiuk pemerintah RI
itu, maka beliau dipindahkan ke Batu Malang dan berakhir di Wisma Keagungan
di Jakarta sebelum semua tahanan politik ini dibebaskan 1967, yang beliau
mulai dengan mendirikan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia pada Pebruari 1967
di Masjid Al Munawwarah, Kampung Bali II, Tanah Abang Bukit, Jakarta Pusat
itu.

Pelajaran berharga, bagi pejuang tidak ada masa yang disebut berhenti. 

Termakasih ananda Rina 

Wassalam Buya HMA" 

 

Saya coba bertanya kembali bertanya ke Papa tentang keterangan Buya ini dan
diterang beliau sebagai berikut :

 

Waktu di Gang Kenanga di dalam Rimba Sumatera itu, Papa sering menyaksikan
Pak Imam (Buya Moh. Natsir) mendiktekan isi buku Capita Selekta 3 ini ke
seorang anak muda yang berkulit putih bersih berasal dari Sunda, tapi Papa
lupa nama anak muda tersebut. Naskah yang telah diselesaikan di Rimba itulah
yang kemudian kembali di edit oleh Pak Bukhari Tamam, Pak Mazni Salam dan
juga oleh BUya sendiri. Kebetulan Papa kenal dengan ketiga editor ini yang
semuanya Urang Awak. Papa ketemu Buya ketika Buya ke Rumah Sakit Achmad
Muchtar Bukittinggi. 

 

Sebelum ke Padang Sidempuan itu, ketika Pak Imam turun, Beliau ditempatkan
di rumah Inyiak Datuak Palimo Kayo di daerah Jambu Aia yang mana rumah itu
terbuat dari kayu dan berkandang di bawahnya juga terdapat kolam ikan
(tabek).

 

Saya kutipkan kembali tanggapan dai Buya HMA :

 

Betul ananda Rina, 

Waktu turun dari Lembah Masang (Kab Agam) tu, Pak Natsir ditempatkan di
Jambu Aie (rumah Buya Datuak Palimo Kayo), tapi kutiko alah dapek kaba Pak
Dahlan Djambek ditembak OPR di Palupuah, mako Pak Natsir dipindahkan ka
Padang Sidempuan oleh kawalan Kodam II Bukit Barisan (atas Perintah Pangdam)
dengan pengawalan sebagian adalah bekas pasukan PRRI yang dipakaikan kepada
mereka pakaian Kodam II Bukit Barisan tu ..

Jadi Pak Natsir bisa diselamatkan keluar dari daerah Sumatera Barat (Kodam
III 17 Agustus) itu, kemudian ditempatkan di Padang Sidempuan diterima oleh
masyarakat awak nan terkoordinir oleh SKM (Serikat Keluarga Minang).

Sekretaris Pak Natsir adolah pak Buchari Tamam, nan manjadi Sekretaris
baliau juo sampai ka Dewan Da'wah didirikan Pebruari 1967. 

Baliau nan mairiengkan Pak Natsir sampai ka Padangsidempuan tu.

Sekedar panambah catatan ananda.

Teruslah gali kenangan dari Papa.

 

Terima kasih kembali untuk Buya HMA yang mau ikut memberi keterangan dalam
tulisan saya yang saya yakin penuh dengan kekurangan sebab saya lahir 1977,
jauh setelah peristiwa Masa Pergolakan itu telah berakhir. Saya baru mulai
banyak bertanya ketika sewaktu SD saya bercerita tentang kepahlawanan
President Soekarno yang dibeberkan di Buku pelajaran sebagai tokoh hebat.
Namun Papa memberi sedikit keterangan yang membuat saya banyak bertanya dan
terungkaplah kalo Papa adalah seorang yang ikut memberontak ketika Pak
Soekarno telah condong ke komunis di masa itu. Sehingga menimbulkan beberapa
pergolakan di daerah di luar Jakarta.  

 

Kembali ke cerita Papa dimana dia telah ikut menyerah dimana September 1961
adalah masa-masa akhir dari PRRI (Pemerintahanan Revolusioner  Republik
Indonesia). Waktu itu Pak Imam (panggilan untuk Buya Moh. Natsir pimpinan
partai Masyumi) telah bergerak ke arah Bukittinggi melewati Kampung Tantaman
Palembayan, dimana disana  telah dinanti oleh Tentara Soekarno (sebutan
kepada Tentara Pemerintah RI yang sah yang hampir semuanya adalah suku Jawa
di bawah pimpinan Letkol. AH Nasution). Sedangkan Papa bersama seorang kawan
beliau keluar hutan mengarah ke Lubuk Sikaping melewati Kumpulan. Beliau
menyerah kearah yang berbeda dengan rombongan keluarga Pak Imam supaya lebih
mempermudah untuk kembali ke kampung halaman.  

 

Sewaktu menyerah di daerah Kumpulan, diharuskan untuk melapor langsung ke
Komandan Tentara yang bertugas disana. Waktu itu sang Komandan sedang
dicukur rambutnya oleh seorang tukang pangkas.  Sayangnya Papa lupa nama
Komandan tersebut.

 

'Mau apa kalian? Tanya si komandan.

'Kami mau menyerah Pak," jawab Papa.

'Tunggu dulu ya, saya mau cukuran dulu," jawab si komandan.

 

Setelah selesai si komandan menyuruh anak buahnya membuatkan Surat sebagai
bukti bila Papa dan kawannya itu telah menyerah. 

 

'Pak, kami gak punya ongkos, kampung kami di Bukittinggi," kata Papa minta
pengertian si komandan.

'Ya sudah, kalian nanti saya tumpangkan ke mobil tentara yang akan ke
Bukittinggi, kalian tunggu saja disini," kata si komandan.

 

Rupanya 'kembali ke pangkuan ibu pertiwi' itu betul-betul dijalankan oleh si
komandan sehingga Papa diperlakukan dengan sewajarnya dan tidak disiksa atau
dianiaya seperti banyak cerita tentang kekejaman tentara Soekarno ini. Atau
barangkali ini hasil dari taktik Papa untuk tidak bergabung dengan rombongan
pak Imam  ketika menyerah. Wallahu'Alam.

 

Setibanya Papa di kampuangnya yaitu desa Kaluang Kenagarian Tilatang Kamang,
Papa membuat KTP (Kartu Tanda Penduduk). Karena ketiadaan yang disebabkan
oleh perang pemberontakan yang telah berlangung lebih dari 3 tahun itu, maka
memutuskan untuk pergi merantau ke Pekanbaru. Kebetulan di Pekanbaru telah
duluan merantau adik bungsunya yang biasa saya panggil dengan sebutan Pak
Etek (sebutan untuk saudara Ayah yang paling kecil di Minang). Menurut
cerita Nenek dahulu, Pak Etek adalah saudara Papa yang paliang 'marasai'
sebab dia tidak ada mengecap pendidikan seperti saudara-saudaranya. Dia
sudah terbiasa ikut Nenek untuk mencari ikan di sawah-sawah dan menjualnya.
Menjual es berkeliling-keliling juga pernah dilakoninya. Sehingga di umurnya
masih sangat muda dia telah merantau ke Pekanbaru dan memiliki kehidupan
yang lebih layak dibandingkan Papa di masa itu yang benar-benar habis
setelah masa perang. Walaupun begitu, pengalaman yang Papa dapatkan selama
perang itu, tidak bakalan mau dia tukarkan dengan apapun saking berharganya
menurut beliau.

 

Di Pekanbaru Papa mulai menata hidup barunya di negeri yang telah aman. Dia
melamar kerja di Dinas Kesehatan berbekal ijazah yang dia punyai. Syukur
Alhamdulillah Papa diterima bekerja di Dinas Kesehatan Propinsi Riau di
akhir tahun 1961. 

 

Suatu hari Papa melihat sebuah sepeda usang di dalam gudang Kantor Dinkes
Riau itu. Beliau lalu meminta sepeda itu ke atasannya untuk dipakai pergi ke
tempat kerja. Ketika diperbolehkan untuk membawa sepeda usang itu, Papa lalu
membawanya ke bengkel dekat seberang jalan disana. Papa menyerahkan sepeda
usang tersebut untuk dipreteli supaya layak dipakainya ke tukang sepeda di
bengkel itu. Ternyata setelah melihat raut muka si tukang sepeda, Papa
teringat dengan seseorang yang dulunya adalah Ajudan Kolonel Dahlan Djambek.
Nama orang itu adalah Bpk. Adnan Djamaan. Hati Papa luruh melihat kehidupan
Bapak itu yang dulunya penuh wibawa sebab dia adalah tangan kanan dari
seorang Kolonel yang disegani. Tapi kehidupannya setelah atasannya itu
ditembak mati oleh tentara bentukan tentara pusat yang disebut OPR itu
sungguh memiriskan hati.

 

OPR adalah singkatan dari Organisasi Pertahanan Rakyat yang dibentuk oleh
Tentara Soekarno (Tantara Pusek) yang direkrut dari rakyat untuk menghadapi
PRRI. Tentara mempergunakan OPR ini untuk mengamankan dan mempertahankan
kota dan kabupaten yang mereka 'bebaskan' dari PRRI, memungkinkan tentara
maju untuk 'memerdekakan' daerah baru. Lebih kurang enam ribu pemuda dalam
OPR dibagi jadi dua kelompok yang ditugaskan memelihara keamanan dan fungsi
pembangunan serta mengamati dan menahan orang yang dicurigai sebagai
pengikut PRRI. 

 

Dari sinilah bermulainya orang-orang yang di kampung dijuluki si Tukang
Tunjuk. Mereka seperti hantu pengacau yang sangat arogan. Main tunjuk
sesukanya dan berkuasa membuat orang-orang dipenjara bahkan dibunuh atau
dihilangkan. Salah satu yang membikin muak orang kampung, mereka selalu
bicara dengan Bahasa Indonesia layaknya para tentara yang kebanyakan orang
Jawa di masa itu. Hanya saja logat mereka yang membikin orang muntah
mendengarkannya. Tambahan lagi mereka bila kurang senang atau ingin
memfitnah seseorang tinggal kasi silang rumahnya atau ngarang cerita ke
tentara, sehingga orang itu atau keluarga itu akan terseret masuk penjara
atau dihilangkan.

 

Salah seorang keluarga kami yang hilang dimasa ini adalah istri pertama dari
kakak Mama yang bergelar Datuak Junjuangan. Istri beliau yang bernama
Mariana hilang ketika melapor  bersama ayahnya dan anaknya yang masih kecil.
Waktu itu Mak Datuak yang ikut menjadi tentara PRRI bertugas di daerah Rimba
Palupuh. Sewaktu dia bersama istri dan anaknya yang masih kecil di pinggir
hutan itu. Entah hantu pengacau mana yang melaporkan, tiba-tiba mereka
disergap tentara. Mak Datuak berhasil kabur ke dalam hutan sedang Etek
Mariana dan Abang sepupu yang biasa saya panggil Bang Pen ketika itu masih
umur 2 tahun ditangkap oleh mereka. Etek dibawa ke  Markas Intelijen Tentara
yang terkenal sangat kejam masa itu. Namanya Sesi 1 yang bila sekarang
berada di dekat bangunan bioskop Gloria Bukittinggi.

 

Etek Mariana yang konon kabarnya adalah seorang perempuan tercantik di
kampung kami saat itu, diharuskan melapor ke Markas Inteligen Sesi 1 di
kantor mereka. Hari yang naas bagi Etek waktu itu ketika melapor sekitar
siang. Biasanya setelah sekitar satu jam, Etek telah selesai dan kembali
pulang ke kampung. Tapi waktu itu sudah lebih satu jam di dalam kantor itu,
beliau yang ditemani ayah kandung beliau yang membawa bang Pen yang masih
kecil, tidak juga muncul-muncul. Bapak beliau yang cemas dan takut bertanya
ke tentara yang bertugas di PIket Kantor disana. Di jawab mereka Etek sudah
sedari tadi keluar dari pintu itu. Padahal Bapak menungguinya di depan pintu
itu semenjak Etek masuk kesana. Menurut cerita Papa, Tentara yang bermarkas
di kantor itu sangatlah kejam dan tidak perberikemanusiaan. Boleh dibilang
bila dicaripun Etek susah untuk menemukannya. Mereka akan bersepakat untuk
menutupi akan hal apa yang terjadi dengan diri Etek. 

 

Sampai detik ini keberadaan Etek Mariana tidak pernah diketahui lagi. Beliau
hilang di tahun 1960. Tepatnya kapan, Papa kurang begitu ingat.

 

 

To be Continued.

 

Batam, 18 January 2011

Rina Permadi

 

 

OPR adalah singkatan dari Organisasi Pertahanan Rakyat yang dibentuk oleh
tentara pusek yang direkrut dari rakyat untuk menghadapi PRRI. Umumnya dari
golongan merah alias PKI. OPR adalah singkatan dari Organisasi Pertahanan
Rakyat yang dibentuk oleh tentara pusek yang direkrut dari rakyat untuk
menghadapi PRRI. Umumnya dari golongan merah alias PKI.

OPR adalah singkatan dari Organisasi Pertahanan Rakyat yang dibentuk oleh
tentara pusek yang direkrut dari rakyat untuk menghadapi PRRI. Umumnya dari
golongan merah alias PKI. Di antara

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke