FYI...
--------------------------------Dari: Syafruddin Ujang <[email protected]>
Judul: [RGM_GM] Sapta: Saya Ingin Tour de Singkarak Jadi Ikon Sumbar
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 18 Januari, 2011, 9:41 PM


DR. Sapta Nirwandar:

Saya Ingin “Tour de Singkarak” 

Itu Jadi Ikon Sumbar

 
JAKARTA – Orang Padang tidak, sumando pun tidak! Tetapi, tekad bulat seorang 
DR. Sapta Nirwandar –Direktur Jenderal Pemasaran, Kementerian Kebudayaan dan 
Pariwisata—untuk memajukan dunia kepariwisataan Sumatra Barat tak perlu 
diragukan lagi. Dialah yang menjadi arsitek digelarnya balap sepeda 
internasional di Ranah Minang yang diberi label “Tour de Singkarak”.


Mengapa Tour de Singkarak? Kenapa tak Toer de Maninjau atau Tour de Jam Gadang? 
Kisahnya bermula ketika tahun 2007 lalu Pemda Kabupaten Solok menggelar 
Festival Singkarak Danau Kembar di mana pria kelahiran Lampung tahun 1954 itu 
hadir membuka ivent ini dan menyaksikan betapa
indahnya danau yang berada di jantung Sumatra Barat itu. Sesuai julukannya
sebagai sosok yang mampu mencarikan solusi, pamong karier yang menjadi 
pejabat eselon I sejak berusia 40 tahun itu pun langsung menggagas digelarnya 
iven internasional balap sepeda; Tour de Singkarak. 

 
“Sayang sekali, ranah nan elok dengan alamnya yang indah,
budaya yang unik dan makanan yang lezat ini tidak menghasilkan sesuatu 
dalam dunia kepariwisataan. Mudah-mudahan bukan saya saja yang berpikir 
begitu,” kata Sapta Nirwandar di ruang kerjanya, lantai 17 Gedung Sapta Pesona, 
Kembudpar, Jakarta, Kamis (6/1) lalu kepada Haluan. Berikut petikan 
wawancaranya tentang Tour de Singkarak, tentang keindahan alam dan keunikan 
budaya dan kelezatan kuliner Ranah Minang ini.


Bagaimana dengan Tour de Singkarak 2011, apa jadi dilanjutkan?

Kenapa tidak? Tour de Singkarak tetap akan kita
lanjutkan, bahkan kita tingkatkan. Tidak hanya dari segi kuantitas tapi juga
kualitasnya. Kita sudah belajar selama dua tahun dan kita harus meningkatkan
kualitas itu. Karena itu, pada pelaksanaan 2011 ini, kita sudah menjalin
kerjasama dengan beberapa pihak untuk meningkatkan kulitas pelaksaaannya dan 
PR-ingnya (promosinya).
 

Antara lain dengan siapa kerjasama itu?

Pada TdS ketiga ini, kita betul-betul mulai masuk the riil go internasional. 
Kita pingin kelasnya TdS itu kelasnya internasional. Walapun sekarang sudah 
internasional, tapi masih dianggap seperti di Asean lah. Untuk itu, setelah 
muhibah ke Paris, Perancis, beberapa waktu lalu, kita langsung MoU dengan 
manajemen Tour de France dan bahkan mereka sudah survey ke Sumbar. 


Bentuk kerjasamanya?

Kita sudah menyetujui proposal mereka hingga 2013. Sepanjang tahun 2011 ini, 
mereka hanya dalam batas sebagai konsultasi. Ya, konsultasi soal 
penyelenggaraan, ya juga dalam bentuk rekomendasi group-group
pembalap yang cukup bergensi yang akan diundang ke Tour de Singkarak ini.
Pokoknya, TdS itu benar-benar berkelas. Nah, di tahun 2012, kalau nanti
masyarakat Sumbar mendukung, pemerintah daerah juga mendukung, bahkan nanti 
pihak Tour de Frane akan lebih fokus lagi. Tidak lagi sebagai konsultan, tetapi 
juga ikut sebagai penyelenggara, sehinga pada 2013 mereka tinggal 
merekomendasi beberapa negara atau group untuk ikut meramaikan TdS karena 
standarnya sudah betul-betul internasional.


Artinya Pemerintah Pusat tetap komit untuk lima tahun penyelenggaraan TdS?

Ya, kita dari pusat sangat serius untuk tetap menyelenggarakan Tour de 
Singkarak itu hingga tiga tahun ke depan. Jadi, selama lima tahun itulah kita 
menyiapkan pondasi. Nantinya, saya ingin TdS menjadi cipil societi. Benar-benar 
menjadi milik masyarakat, benar-benar menjadi ikon Sumatra Barat. Tour de 
France bukan lagi milik pemerintah, tetapi sudah menjadi milik masyarakat. 
Pemerintah hanya menjadi pendorong dan menerima uang dari pajak hotel dan 
restoran saja. Enak kan?
 

Bagaimana Anda melihat sisi infrastruktur di Sumbar? 

Ya, benar. Infrastruktur itu perlu dipersiapkan dengan baik. Jalan, jembatan, 
rambu-rambu, hotel, restauran dan segala macamnya. Tetapi, saya rasa, masa’ 
sudah tahun TdS kita selenggarakan, hotelnya belum tumbuh juga, wismanya belum 
ada juga, jalannya belum baik juga. Semua itu jadi tanggung jawab bersamalah. 
Ya, pemerintah daerah, yang pengusaha, ya pelaku pariwisata, ya masyarakat, ya 
LSM dan ya juga pers yang akan menggelorakan semangat TdS agar benar-benar 
menjadi ikon Ranah Minang di masa depan. Ujung-ujungnya, kita berharap investor 
mau datang dan para pelancong mau datang. Kalau ada wisatawan yang datang ke 
Sumbar, maka mereka akan bilang; 
“Ooo....ke lokasi Tour de Singkarak!” (Sapta merentangkan tangan dan 
tertawa lepas).


Apakah pemda dan masyarakat Sumbar sudah serius dan siap menerima pariwisata?

Kalau yang lalu, menurut saya, pemda provinsi, kota dan kabupaten cukup serius. 
Cuma perlu perbaikan-perbaikan di sana sini, terutama dari sisi manajemennya, 
termasuk pengaturan kerjasama dengan pemerintah pusat. Mana yang menjadi 
tanggung jawab pemerintah pusat dan mana pula yang menjadi tanggung jawab 
pemerintah daerah. Mana yang menjadi tanggung
jawab pemerintah provinsi dan mana pula yang menjadi tanggungjawab 
pemerintah kota maupun kabupaten. Itu saja koq.

Soal kesiapan masyarakat Sumbar menerima TdS, itu relatif. Kalau menunggu 
siap, kapan siapnya? Kalau dibilang nggak siap, ya nggak jadi-jadi. Tetapi, 
ketika dilaksanakan, ternyata siap juga. Jadi, menurut saya, kita kriet saja 
sesuatu yang kemudian mereka pasti akan menerima dengan
baik, sehingga nanti mereka merasa TdS ini menjai miliknya dan mereka bias 
berkontribusi untuk membantu.

Bayangkan saja Tour de France. Waktu mereka memulai 107 tahun yang lalu, 
mungkin saja sepedanya masih sepeda onthel, bukan seperti sekarang yang sudah 
pakai titanium dan harganya ratusan juta. Toh, masyarakatnya sangat enjoy, 
pengusahanya pun siap menjadi sponsor.


Bentuk kontribusi yang Anda harapkan?

Bagi masyarakat Minang yang ada di kampung halaman, saya berharap mereka bisa 
berbenah dan menerima pariwisata sebagai suatu amanah. Ada nilai 
silaturahimnnya. Orang datang berkunjung itu kan silaturahim. Jadi, jangan 
dilihat dari sisi negatifnya bahwa pariwisata itu akan mendatangkan mudarat. Di 
manapun di Indonesia ini, tak ada yang setujud pariwisata itu melanggar susila, 
melanggar budaya dan agama. Wong, para pembalap di suruh makan bersila dan 
pakai kain sarung di Rumah Gadang,  mereka pada mau koq. Nah, kalau ada sejuta 
orang berkunjung ke Sumatra Barat, nilai ekonominya kan besar, lapangan kerja 
terbuka, bareh Solok akan habis, oleh-oleh akan laku. 

 
Bagaimana dukungan dari elit dan pengusaha Minang?

Elit pemerintahan cukup mendukunglah. Pak Mendagri, Pak Ketua DPD sangat punya 
perhatian. Cuma saya sedih dengan urang awak yang duduk di sejumlah BUMN. Saya 
lihat mereka belum berpikir positif untuk apa Tour de Singkarak itu kita 
adakan. TdS ini bukan untuk Kembudpar, apalagi untuk Sapta Nirwandar atau 
Raseno Arya. Semen Padang itu, kalau pun tidak menyumbangkan dana, mbok ya 
bikin tempat-tempat istirahat para pembalap dalam bentuk tenda bagonjong kan 
bisa. Lalu pakai logo Semen Padang. Toh, ---maaf saja---, kalau pun Semen 
Padang, Telkom, Bank Nagari dan lain-lain itu ikut menyalurkan dana untuk 
pelaksanaan Tour de Singkarak ini, kan tidak rugi. Ada juga koq nilai 
promosinya. 
 

Apa sudah ada dampak kunjungan setelah TdS ini?

Kalau ada yang tanya berapa jumlah wisatawan yang datang pada saat itu? Ya 
enggak bisa dong! Kita mesti ukur nanti dari jumlah kunjung setelah itu. Tds 
hanya medium untuk promosi. Sama saja denga orang Singapura mengadakan F1 dan 
Abudabi menyelenggarakan F1, ada Wimbledon di London dan sebagainya, itu kan 
tujuannya untuk meningkatkan citra promosi. Nah, TdS adalah media promosi bagi 
Sumatra Barat ke mancanegara.
 

Dampak lainnya?

Ya, orang akan berkunjung ke daerah ini. Orang akan menikmati kulinernya yang 
lezat. Masak negeri seindah Ranah Minang kita biarkan membisu dan kita pandangi 
saja setiap hari tanpa memberi nilai tambah. Padahal, Tuhan sudah 
mengaunegerahkannya kepada kita semua. Begitu juga makanan yang enak-enak itu. 
Makanya saya terus mendorong digelarnya Minang Food Festival di Malaysia. 
Kalau tahun ini Pemda provinsi, kota dan kabupaten siap, kita juga akan 
fasilitasi lagi. Di mana mendatang, saya ingin ada Minang Food Festival 
Internasional di Padang, Jakarta atau di mana saja. Makanan China saja 
dipromosikan, padahal juga ada gajihnya. Kenapa Minang tidak! Jadi, marilah 
kita berpikir untuk Minangkabau, siapa lagi kalau bukan kita yang akan 
melakukannya. *---------------------------------
Tambahan info terkait TdS:Pemenang Lomba Foto TdS 2010 Kategori The 
TOUR: http://photowinners.org/tds-2010/winners/tour
Pemenang Lomba Foto TdS 2010 Kategori The 
CULTURE:http://photowinners.org/tds-2010/winners/culture
Bagi yg belum sempat melihat foto-foto liputan TdS 2010 lalu, silahkan klik 
link-link berikut tanpa harus login ke Facebook:Singkarak 
#1:http://www.facebook.com/album.php?aid=217332&id=666199046&l=7c35dd0a81
Mak Itam 
#2:http://www.facebook.com/album.php?aid=217756&id=666199046&l=dd7f66d4cb
Pagaruyuang 
#3:http://www.facebook.com/album.php?aid=218513&id=666199046&l=8ddbde95d4
Kelok 44 
#4:http://www.facebook.com/album.php?aid=221246&id=666199046&l=4aa7276cf5
Padang Panjang 
#5:http://www.facebook.com/album.php?aid=232980&id=666199046&l=a85b9a08fc
Muko-Muko 
#6:http://www.facebook.com/album.php?aid=233030&id=666199046&l=b7c6ebccf1
Pariaman 
#7:http://www.facebook.com/album.php?aid=239713&id=666199046&l=d73baf7d33
Semoga bermanfaat positif buat kita semua, kita tunggu dan sambut TdS 2011. 
Terima kasih.
Salam,Nofrins Napiluswww.nofrins.west-sumatra.comwww.faceofindonesia.com/nofrins

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke