Sanak Palanta RN nan ambo hormati, sabuah carito dari Tunisa nan maubah
carito sebuah kediktatoran, Jan lah sampai bantuak iko pulo nagari awakko
hendaknyo.

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/bouazizi-pria-yang-membakar-dirinya-sendiri-pemicu-revolusi-tunisia.htm


*Bouazizi, Sarjana Muda Tukang Sayur Pemicu Revolusi Tunisia*

Jumat, 21/01/2011 15:34 WIB | email | print | share





Dia sekarang terkenal di seluruh Tunisia dan dunia Arab, menjadi sebuah
legenda yang sebenarnya. Namun Muhammad Bouazizi tak pernah meminta dirinya
menjadi buah bibir pembicaraan orang. Bibinya, Radia Bouazizi mengatakan
impian Bouazizi adalah menyimpan uang yang cukup untuk dapat menyewa atau
membeli sebuah truk pick-up. "Bukan untuk dipakai berjalan-jalan," katanya,
"tetapi untuk pekerjaannya." Keponakan-nya adalah seorang penjual
sayur-mayur. "Dia akan pulang dengan lelah setelah mendorong gerobak
sepanjang hari. Yang ia inginkan adalah sebuah mobil pick-up." Namun
sebaliknya, ia malah telah memulai revolusi.



Muhammad Bouazizi itu seperti ratusan pemuda putus asa lainnya, pemuda
tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi. Banyak dari mereka punya gelar
sarjana, namun menghabiskan hari-hari mereka berkeliaran di kafe-kafe yang
melapisi jalan-jalan berdebu di kota miskin ini, 300 kilometer sebelah
selatan ibukota Tunis .



Bouazizi, 26 tahun, tidak memiliki gelar sarjana, yang hanya bisa ia capai
hanya tingkat "Baccalaureat" yang secara kasar setara dengan sekolah tinggi.
Dia, bagaimanapun, lebih beruntung daripada kebanyakan orang yang setidaknya
ia masih bisa meraih penghasilan dari menjual sayuran, pekerjaan yang dia
lakoni selama tujuh tahun.



Tetapi pada tanggal 17 Desember mata pencahariannya terancam ketika polisi
menyita gerobak sayur dan barangnya engan mengatakan bahwa ia berjualan
tanpa izin. Itu bukan pertama kalinya itu terjadi, tetapi itu akan menjadi
yang terakhir.



Tidak puas dengan menerima denda 10 dinar Tunisia, ia mencoba untuk membayar
sekitar 7 dolar (setara dengan penghasilannya sehari jika lagi beruntung),
polisi diduga menampar pemuda kurus ini, meludah di wajahnya dan menghina
ayahnya yang telah meninggal.



Dihina dan merasa kesal, Bouazizi, yang mencari nafkah untuk keluarganya
yang berjumlah delapan, pergi ke markas provinsi, berharap untuk mengeluh
kepada pejabat pemerintah daerah setempat, tapi mereka menolak untuk bertemu
dengannya.



Pada pukul 11: 30 am, kurang dari satu jam setelah konfrontasi dengan polisi
dan tanpa memberitahu keluarganya, Bouazizi kembali ke gedung putih elegan
dua lantai dengan kerai biru melengkung tersebut, menuangkan bahan bakar di
atas dirinya sendiri dan membakar diri.



Dia tidak langsung mati namun sempat menjalami perawatan di rumah sakit
hingga 4 Januari. Ada begitu banyak kemarahan atas penderitaannya bahkan
Presiden Zine El Abidine Ben Ali, sang diktator, sempat mengunjungi Bouazizi
pada 28 Desember untuk mencoba meredam kemarahan rakyat. Tapi protes tidak
dapat ditekan dan pada 14 Januari, hanya 10 hari setelah Bouazizi meninggal,
pemerintahan 23 tahun Ben Ali di Tunisia telah berakhir.



Meskipun bangga dengan konsekuensi dari aksi bakar diri Bouazizi,
keluarganya masih tak terlukiskan rasa sedih mereka. "Muhammad melakukan apa
yang dia lakukan demi harga dirinya," kata ibunya, Mannoubia, berdiri di
ruang bersama dengan saudaranya Karim, 14 tahun.



Dia menunjuk ke dua kasur busa tipis berwarna hijau zaitun di lantai di mana
dua anaknya tidur. Satu-satunya furnitur di ruangan rumahnya adalah sebuah
lemari besar. Sambil menangis, ibunya mengeluarkan jaket hitam dan abu-abu,
dengan penuh kasih mencengkeram sebelum membenamkan wajahnya di dalamnya.
"Baunya dirinya masih terasa," katanya dengan sesunggukan.



Beberapa saat kemudian, Mannoubia berhenti menangis, menyeka mata birunya
dengan ujung jilbabnya yang multi-warna, sebuah pemandangan langka di Tunis
yang sekuler tapi secara umum berpenduduk konservatif, di wilayah pedesaan
di negara ini.



"Saya bangga dengan anak saya, walaupun saya harus berkabung, dan saya
sedih, tetapi syukur kepada Allah, hidup Muhammad, dia tidak mati," katanya
tegas. "Dia hidup, namanya terkenal. Saya bangga dengan apa yang terjadi di
Tunis , saya bangga bahwa dia dikenal di seluruh dunia Arab."



Warga Sidi Bouzid semua sangat bangga bagaimana tindakan Bouazizi telah
memacu banyak orang dengan apa yang sebut sebagai "revolusi rakyat" dan
bagaimana ia telah mengguncang pemerintah Arab despotik di tempat lain.



Sama seperti wanita muda "Neda" menjadi simbol gerakan hijau Iran setelah
dia ditembak saat menonton demonstrasi dua tahun yang lalu, Bouazizi telah
menjadi simbol populer di kalangan orang Arab. Aksinya dicontoh juga.



Ada hampir selusin orang meniru aksi bakar dirinya di beberapa ibukota Arab,
beberapa diantaranya termasuk di Kairo dan Aljazair. Namun, mereka tidak
terprovokasi sama sebagai reaksi rakyat di Tunisia sewaktu Bouazizi tewas,
meskipun frustrasi menggelegak dari Mesir dan Aljazair lebih tinggi,
pengangguran korupsi dan otokratik.



Frustrasi tetap ada Sidi Bouzid - meskipun pergolakan di Tunis telah
memberikan para pengangguran sebuah harapan. Pada hari Kamis kemarin, Jaber
Hajlawi, seorang pengacara 22 tahun menganggur dan salah satu tetangga
Bouazizi, bersandar di dinding saat ia menyalakan rokok. "Kami diam
sebelumnya, tetapi Muhammad menunjukkan kami bahwa kami harus bereaksi,"
katanya.



Dibalut jaket kulit pendek hitam dan jeans biru dengan rambut hitam gel, ia
melihat hal ini bagian dari pemberontak. "Saudara saya memiliki gelar PhD,
namun dia bekerja di pasar swalayan. Masalahnya adalah bahwa kualifikasi
tidak berarti apa-apa, itu semua tentang siapa yang Anda tahu," katanya.
"Sekarang, kami mengharapkan perubahan. Saya ingin kebebasan saya dan hak
saya, saya ingin bekerja. Saya ingin pekerjaan."



Permintaan lapangan pekerjaan bergema di seluruh kota . Sekitar 100 meter
dari tempat Bouazizi melakukan aksi bakar dirinya sendiri, ratusan laki-laki
muda berkumpul setiap hari, sangat bersemangat untuk mengekspresikan
pandangan mereka kepada siapa saja yang mengeluarkan sebuah notebook. Mereka
telah membuat spanduk yang ditulis tangan, di dekat potret Bouazizi. "Kami
semua siap untuk mengorbankan darah kami bagi masyakat," tulis salah satu
spanduk.



Mereka sudah tidak sabar dengan rezim baru. "Tidak seorang pejabat pun telah
berbicara kepada kami," kata Muhammad Boukhari, 40 tahun, seorang guru yang
menganggur. "Ke mana mereka? Mengapa mereka tidak mendengarkan apa yang kami
butuhkan?"



"Kami di sini karena kami ingin martabat kami, kami tidak mau harus
mengandalkan bantuan politik atau suap untuk mendapatkan pekerjaan, kami
harus membersihkan sistem."



Pria muda lainnya mendorong melalui kerumunan orang. "Saya lulusan ITI dan
saya telah menganggur selama empat tahun karena saya tidak tahu siapa pun di
kotamadya. Bagaimana masa depan saya? Kami semua Bouazizi, jika harapan kami
terputus-putus." Amarah yang menetapkan Bouazizi masih menyala berkedip di
Sidi Bouzid - dan mungkin tumbuh untuk membuat negara Tunisia terbakar
lagi.(fq/time)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke