Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Adidunsanak yang di Palanta,

 

 

Menyambung cerita Papa yang beberapa tahun silam dianggap sebagai cerita
tabu, maka semakin bersemangat saya untuk tetap menceritakannya kembali.
Seorang peneliti yang mana penelitiannya dibukukan oleh penerbit Mizan
dimana judul bukunya adalah " Mohammad Natsir dalam Sejarah Politik
Indonesia. Dia curhat di kata pengantarnya tentang bagaimana stressnya dia
sehingga hampir putus asa dengan penelitiannya yang seperti membentur batu
cadas itu. Bahan-bahan sangat sulit didapatkan, boleh dibilang langka
kemudian hal yang ingin ditelitinyapun 'tabu' untuk diungkapkan sebab dia
meneliti di tahun 1993 dan baru sanggup dia selesaikan di tahun 1999.
Sungguh perjalanan yang panjang untuk sebuah Tesis. Buah kesulitan demi
kesulitan yang dia alami berbuah manis di Desember 2010 yang baru lalu,
sebab Mizan menerbitkan penelitiannya ini menjadi sebuah buku yang bisa
Kawan peroleh di Toko Buku Gramedia. Kebetulan saya beli di Batam di kota
rantauan saya ini.

 

Mukaddimah saya kali ini panjang lebar sebab dari perkembangan
posting-posting yang saya lihat mulai bermunculan di Palanta RN ini. Saya
melihat adanya pro dan kontra dari beberapa sisi sudut pandang. Bagi saya
pribadi sebagai anak dari seorang pejuang PRRI yang boleh Kawan sebut
sebagai pemberontak yang mengobrak-abrik kesatuan bangsa, tetap ingin
membongkar semua fakta secara benar dan adil. Fakta-fakta yang ada yang
dilakoni sendiri oleh Papa saya, tetap akan saya suarakan. Sekalipun
beberapa diantara Tetua Palanta yang sendiri yang benar-benar mengalami
namun tetap ingin menyembunyikannya seperti sebuah 'aib' monggo silahkan
saja, tanpa mengurangi semua rasa hormat yang saya miliki untuk anda semua. 

 

Tolong jangan biarkan saya terpengaruh dengan rasa ketakutan yang telah lama
lapuk itu. Anda mungkin mengalami masa sedih, malu, dan penuh ketakutan dan
kengerian itu, tapi bagi kami yang tidak pernah tau bagaimana bila 'masa
bagolak' itu sungguh pernah terjadi, sungguh sungguh amat menarik hati untuk
kami cungkil lagi dan lagi. Sungguh hati kami ingin merasakan sejuta rasa
yang pernah  dirasakan di masa itu, untuk kami jadikan kenangan dan
pelajaran yang berharga. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kenakalan ini
untuk selalu berusaha menyungkil-nyungkil duri yang telah lama tertanam
dalam daging suku Minang tercinta ini.

 

KETIKA PAPA BERCERITA 5

BY : Ritrina

 

 

Menjemput cerita yang tercecer  karena ingatan yang harus dikeluarkan lagi
oleh Papa yang telah mengendap selama kurang lebih setengah abad yang lalu.
Mari kita simak bersama.

 

Sekitar Juli 1961 dua pondok yang didirikan di tengah Rimbo Mansang berjarak
10 meter. Satu pondok untuk Pak Imam dan keluarga dan satunya para pengikut
yang terdiri dari :

 

1.      Bukhari Tamam asal Bukittinggi

2.      Tk. Suleman yang kemudian bergelar Dt. Tan Kabasaran asal
Bukittinggi  

3.      Masri asal Aia Kidjang Kumpulan

4.      Yarnani (Wali nagari Kumpulan)

5.      Papa (H. Djasri .S) Asal Sonsang Tilatang Kamang

6.      Seorang pemuda Sunda yang lihai mengetik

7.      Dt Tumangguang asal Durian Kunik Kumpulan 

8.      Su'ud orang Kumpulan yang pintar masak

 

Sedangkan Pondok yang ditempati Pak Imam bersama Ummi istri beliau dan
anak-anaknya Siti Lis, Asnah dan Fauzi.

 

Namun walaupun letak persembunyian yang jauh di tengah hutan belantara
Sumatera itu, Pak Imam selalu saja menerima tamu hampir setiap harinya.
Kebanyakan tamu selalu saja membawa buah tangan untuk mereka selain update
berita terakhir  seputar keadaan masa itu. Inilah bentuk keberpihakan
masyarakat di kampung-kampung, meskipun tempat pak Imam selalu dikunjungi
selama di Rimbo Mansang itu, akan tetapi kerahasiaan tetap terjaga dengan
baik.

 

Suatu hari masih di bulan Juli 1961 itu, Batalyon 140 ingin bersilaturahmi
dengan Kolonel Dahlan Djambek yang bermarkas di Rimbo Mansang tapi berjauhan
dengan tempat Pak Imam. Papa ditugasi untuk mempertemukan mereka dengan
Pimpinan Batalyon ini. Namun Pak Dahlan tidak mau bertemu di komplek
persembunyiannya, sehingga Papa mencari tempat di dekat Aliran Batang Masang
yang lebar itu. Seorang kawan Papa yang bernama Su'ud memasak nasi dan
'sambalado' sebagai lauk untuk acara temu kangen antara Sang Kolonel dengan
pasukannya itu yang dikomandani oleh seorang yang berasal dari Aceh. Namanya
Pak Malintara, yang mana pasukannya biasa di sebut pasukan PDD (Pasukan
Dahlan Djambek). Pertemuan itu berlangsung aman dan penuh keakraban di
tengah hutan rimba itu. Karena tempat yang dipilih adalah tempat yang tidak
dipersiapkan sebelumnya, maka mereka hanya makan nasi putih dengan lauk cabe
(sambalado). Walaupun demikian, mereka melahapnya dengan penuh kenikmatan.

 

Menurut Papa yang mengawasi pertemuan itu, Pak Dahlan sendiri makan dengan
lahapnya. Sebab untuk mencapai tempat tersebut, mereka harus berjalan cukup
jauh dan dengan sangat hati-hati supaya tidak bertemu dengan pasukan Combad
bentukan Tentara Pusat yang terdiri dari OPR yang sebagian besar adalah para
preman. Karena yang dibawa saat itu hanya periuk tempat memasak, maka daun
Simantuangpun  telah berubah fungsi jadi piringnya. Suasana sungguh sangat
nyaman dalam rangkulan buah manis silaturahim.

 

Selang tidak berapa lama, mereka kembali bersiaga di sepanjang aliran batang
Masang itu. Terlihat dari jauh berjalan sekitar 30 orang pasukan Combad.
Papa mengenali pemimpinnya adalah Preman Tembok yang bernama Ancok Gandi.
Sepertinya dia dan pasukannya itu sangat bernafsu untuk menghabiskan sisa-
sisa pejuang PRRI yang tersisa di dalam Rimbo Masang itu.  Yang tidak lain
adalah Pak Dahlan dan Pak Imam. Papa dan rombongan ketika itu berada di
tempat yang memungkin mereka untuk menghabisi 30 orang pasukan Combad itu,
tapi datang perintah dari Pak Dahlan untuk membiarkan mereka itu lewat saja.
Papa tau bila kawan-kawannya 'manggaritih' ingin menghabisi preman komunis
itu, sebab perangai mereka yang sadis ke orang-orang yang mereka curigai
sebagai orang PRRI. Dihilangkan atau ditembak dari jarak dekat walaupun yang
lawan tidak memegang senjata adalah hal biasa bagi mereka.

 

To Be continued...

 

 

Batam, 26 Januari 2011

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke