Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

Adidunsanak yang mulia,

 

KETIKA PAPA BERCERITA 6

By : Ritrina

 

Sekitar Juli 1961 pasukan preman Ancok Gandi yang menelusuri hutan belantara
di aliran sungai Batang Masang itu sepertinya sangat berambisi untuk
menghilangkan sisa-sisa pejuang dan tokoh pimpinan PRRI saat itu. Sebegitu
kuatnya keinginan mereka itu, berbanding lurus juga dengan usaha penduduk
tempatan untuk menyembunyikan jejak orang-orang yang mereka cari itu. Di
kedalaman hutan itu mereka tidak lagi mengkhawatirkan adanya binatang buas
dan berbisa yang mungkin saja mencelakai mereka. Orang-orang seperti Ancok
Gandi dan rombongannya lebih dikhawatirkan dari semua itu karena
kebiadabannya.

 

Terbayang olehku ketika Papa menceritakan hal ini via telpon menggertakkan
giginya saking geram yang lama dia pendam. Sebab Ancok Gandi dan pasukannya
itu sudah mereka kunci posisinya dan tinggal dihabiskan saja di kerimbunan
hutan di aliran Batang Masang itu. Tapi karenadatang perintah dari Pak
Dahlan untuk membiarkan saja mereka melewati aliran Batang Masang disana
itu, jadinya pasukan tidak jadi menghabisi mereka yang hanya berjumlah 30
orang dengan posisi sangat terbuka untuk ditembaki. Tapi kemudian di tanggal
25 September 1961 pasukan preman Ancok Gandi inilah yang menemukan dan
menghabisi Pak Kolonel Ahmad Dahlan secara membabi buta beserta seorang
ajudannya yang masih bersama beliau. Nama ajudannya itu Yus.  Di subuh yang
naas di kampung Lariang Kenagarian Kumpulan itu. Mereka ditembaki secara
membabi buta ketia beristirahat di sebuah rumah di pinggir hutan disana. 

 

Malam ketika hari terakhir dari kehidupan Pak Dahlan itu, orang kampung
datang membawakan pisang ke beliau di rumah itu. Beliau sempat bercerita ke
mereka, bila besok hari Pak Dahlan ingin pergi ke suatu tempat yang mana
tempat itu beliau rahasiakan. Bagaimanapun beliau tidak akan mau menyerah ke
pemerintahan Soekarno yang beliau anggap telah menjadi seorang Komunis. Nah
saat itulah barangkali menurut Papa peran si Tukang Tunjuak (mata-mata)
beraksi. Masa itu tidak akan bisa kita mempercayai orang-orang kampung yang
rata-rata mendukung perjuangan mereka. Jika satu saja diantara mereka adalah
seorang informan atau Tukang Tunjuk atau sang pengibus, maka habislah
rombongan itu bila tidak berinisiatif untuk bergerak ke tempat lain yang
belum diketahui orang. Menurut Papa, Pak Dahlan agak meremehkan situasi di
saat itu, entah siapalah orangnya itu tapi dialah yang bertanggung jawab
atas kematian Pak Dahlan waktu itu atas informasinya. Padahal pimpinan yang
lain telah banyak yang menyerah dan diberi amnesty oleh pemerintah. 

 

Subuh itu sebagaimana kesaksian beberapa orang di lokasi kejadian waktu itu,
rumah tempat Pak Dahlan menginap itu langsung ditembaki dari luar. Saking
membabi butanya tembakan dari luar, Yus sang Ajudan kepingan kepalanya
sampai terpelanting ke pohon kelapa yang berada di belakang rumah. Pak
Dahlan yang belum mau menyerah itu, mereka tembaki terus sampai-sampai
sarung yang sedang dipakai Pak Dahlan penuh lubang tembakan. Namun bekas
luka tembakan yang ditemui di tubuh Sang Kolonel hanya satu lubang saja di
daerah dadanya. Saat itu Sang Kolonel berpulang memenuhi janjiNya.
Innalillah Wainnalillahi Raaji'uun.

 

Beberapa hari kemudian setelah  Papa selesai proses menyerahnya tanpa harus
bersumpah sebab di Lubuk Sikaping tidak terlalu ketat proses menyerah. Hanya
bikin surat pernyataan saja dan itu bisa langsung diproses untuk pembuatan
KTP (Kartu Tanda Penduduk). Papa pergi jalan ke pasar pagi Simpang Tembok
yang berjarak sekitar 8 km dari rumah di Tilatang Kamang. Setiba disana Papa
duduk di sebuah kedai kopi. Sebenarnya Papa ingin tau tentang siapa yang
membunuh secara sadis Pak Dahlan ketika menginap di Lariang itu. Kebetulan
saat itu ada kemenakan beliau yang juga jadi preman di simpang Tembok itu.
Kita sebut saja namanya Capuak. Saat itu di kedai itu ada Ancok Gandi ini
juga sedang minum kopi. Rumor tentang keberhasilan preman Ancok Gandi ini
beredar melesat dari mulut ke mulut pada masa itu. 

 

Terjadi persitegangan antara mereka bertiga saat itu. Si Capuak bilang ke
Ancok Gandi kalo Papa adalah orang dalam dari PRRI. Si Ancok Gandi langsung
cabut pistolnya yang tersembunyi di balik bajunya langsung diarahkannya ke
kepala Papa. 

 

"Ang macam-macam Ang den tembak," katanya beringas dan sombong.

 

Untung saja si Ancok Gandinya masih agak sedikit waras untuk tidak bikin
sensasi di tengah pasar pagi Simpang Tembok Bukittinggi saat itu. Dia hanya
ingin menunjukkan ke orang-orang yang berada di sekitar sana kalo dia itu
'Orang Bagak' berkuasa karena dapat dukungan Tentara Pusat. Hal itu terbayar
penuh setelah tahun bejalan dan Ancok Gandipun sakit-sakitan dan akhirnya
meninggal. Selama dia sakit tidak seorangpun yang peduli dengannya dan
bahkan sampai akhirnya dia meninggal di Simpang Tembok itu, tidak ada warga
yang mau menyelenggarakan jenazahnya sebab dia sudah berkoar kalo dia itu
Komunis, hanya ada seorang kemenakannya yang akhirnya menyelenggarakan
jenazah Ancok Gandi. Ancok Gandipun lunas di dunia.

 

 

Batam, January 28, 2011

 

Wassalam

Rina, batam

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke