Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, Adidunsanak Lapau nan Berbahagia,
Tulisan yang ke-7 ini perlu saya revisi untuk meluruskan hal-hal yang belum begitu detail saya ketahui ketika akan menulisnya. Dengan tambahan detail dari Papa saya akan coba untuk merevisinya selengkap mungkin sesuai dengan apa yang diuraikan Papa lewat telpon. Hubungan komunikasi jarak jauh ini mungkin akan ada yang keliru atau tidak pada tempatnya. Saya terbuka untuk semua kritik dan saran yang akan menambah lengkapnya tulisan ini. Terima kasih... Ketika Papa Bercerita 7 (Revisi 1) Latar belakang yang membuat Buya Moh. Natsir (Pak Imam) ikut berjuang mempertahankan prinsip dan pendiriannya bersama Pak Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi berawal dari ketidak amanan beliau untuk tetap tinggal di Jakarta. Berdasarkan pemilu 1955, Pak Natsir menjadi anggota Konstituante RI dan sekaligus Ketua Fraksi Masyumi. Dalam masa itulah dia tampil sebagai juru bicara Islam di Konstituante. Padahal sikapnya terhadap Pancasila berseberangan dengan Pemerintah. Yang dibicarakan adalah Dasar Negara dimana susah untuk mendapatkan kata sepakat. Di kala Pak Natsir berusaha untuk menyatukan pendapat bila dasar negara cukup sila yang pertama saja sebab Ketuhanan Yang Maha Esa telah menelurkan sila - sila yang lain yang hanya sebagai penjabaran saja. Menurut beliau beragama dan berbangsa itu tidak bisa dipisahkan sedangkan bagi Soekarno itu terpisah. Menurut cerita beliau ke Papa, Masyumi hampir menang di sidang Konstituante itu. Anggota Konstituante yang beragama selain Islam masa itu minoritas. Bila dibuat pungutan suara untuk menetapkan Dasar Negara adalah Islam maka besar kemungkinan akan menang. Melihat situasi itulah sering adanya tekanan ke Pak Natsir sebab beliaulah tokoh paling ditakuti akan kenegaraannya masa itu oleh Pak Soekarno. Tekanan dalam bentuk kekerasan dan ancaman sering diterima oleh Pak Natsir menyebabkan dia dan Pak Syafruddin sekeluarga pergi mengungsi ke Sumatera Tengah. Islam sebagai dasar negara hanya berlaku bagi pemeluknya yang mayoritas di Indonesia. Hal ini terbukti dari semua pahlawan nasional sejak zaman penjajahan bila dipersentasekan ada sekitar 90%. Manurut Pak Natsir, Pancasila susah untuk dibikin aturan hukumnya secara mendetail sedangkan Islam dengan segala perangkat hukumnya yang detail dapat menyelamatkan hidup warganya baik di dunia maupun di akhirat. Hal inilah yang sangat ditentang oleh Presiden Soekarno yang tengah dekat dengan Komunis. Kala itu rumah Pak Natsir sering dilempari orang tak dikenal ketika malam hari di Jakarta. Dari anak buah Pak Natsir yang bisa menangkap si pelempar itu, mereka mengaku disuruh Pak Soekarno. Entah ini rekayasa atau sebenarnya, Wallahu a'lam.. Kolonel Ahmad Husein adalah seorang tokoh militer di daerah yang juga menentang kebijakan pemerintah Soekarno. Ketidak seimbangan antara pusat dan daerah membuat daerah-daerah sangat miskin jauh dari kesejahteraan. Pihak militer di daerah kala itu sangat bersemangat untuk memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Tapi kekuatan mereka menurut Pak Syafruddin dan Pak Natsir hanya sepersepuluh dari kekuatan militer pusat. Kolonel Ahmad Husein sibuk berpidato di berbagai kota di Sumatera Tengah dengan sangat berapi-api mengultimatum pemerintah pusat. Sebenarnya Pak Natsir dan Pak Syafruddin telah memperingatkan pihak militer akan kesia-siaan perjuangan bersenjata ini bila terjadi. Namun karena pihak militer telah menyiarkan ultimatumnya, maka merekapun harus ikut bersatu untuk tujuan kebenaran dan keadilan ini. Mereka harus turut bertanggung jawab dengan yang telah dimulai oleh kalangan militer saat itu. Protes daerah Sumatera Tengah ini langsung dijawab oleh Presiden Soekarno dengan mengirimkan pasukan besar-besaran. Brawijaya, Diponegoro dan Siliwangi. Para pejuang PRRI sangat tau bila perjuangan mereka sama sekali tidak seimbang. Tapi berpegang teguh dengan prinsip dan pendirian lebih utama bagi mereka dari pada kecemasan akan ketidak seimbangan itu. Mereka sangat percaya kepada pemimpin sekaliber Buya Mohammad Natsir. Bagi Partai Masyumi beliau telah dianggap sebagai Imam, makanya biasanya dipanggil dengan sebutan Pak Imam. Bagi Papa setelah Buya Hamka dan Pak Natsir ini meninggal dunia, tidak ada lagi baginya yang bisa menyamai ketokohan mereka berdua di kalangan Minangkabau bahkan di Indonesia atas ke-Islamannya. ------------------------ Menurut Papa kala itu sudah tidak bisa lagi dibedakan antara kawan dengan lawan. Negara mereka pahami sedang dalam kondisi darurat perang. Hanya bedil yang berkuasa. Sehingga tidak banyak pilihan bagi mereka untuk tidak mati konyol hanya berdiam di rumah masing-masing menunggu dijemput atau tertembak di jalan atau memang sengaja ditembak karena disangka pejuang PRRI. Apalagi yang paling menggeramkan adanya si Tukang Tunjuk. Hampir semua daerah masa itu melakukan protes terhadap Pemerintah Pusat seperti : - DI TII di Jawa Barat - Kolonel Simbolon di Sumut - Permesta di Sulawesi Selatan - Kahar Muzakkar di Sulawesi Utara - Dewan Gajah di Palembang Tapi yang di Palembang mereka bermain cantik. Hasil-hasil bumi mereka diselundupkan ke luar untuk dijual. Hasilnya mereka gunakan sendiri untuk pembangunan daerah Palembang. Sehingga Pelembang lebih maju infrastrukturnya dari daerah lain di masa itu. Sehingga Pemerintahan Pusat tidak mendapat devisa yang berarti dari Palembang. -------------------- Detik-detik ketika menyerah di tanggal 15 Juli 1961, Pak Imam berbicara kepada semua anak buah beliau di Rimbo Masang itu. Kira-kira seperti ini : "Pak Syaf alah manyarah di Tapanuli. Nan awak disiko manyarah (Bukittinggi). Yarnani jo Si Djas (Papa) ka Kumpulan (Lubuk Sikaping) pai manyarah. Kalo ambo paralu jo si Djas buliah mudah ambo mahubuangi nantik. Pak Dahlan indak amuah manyarah, manuruik no Soekarno alah Kuminih". Setelah Pak Imam berbicara begitu, merekapun bersiap-siap dan berkemas untuk menyerah. Bagi Papa itu adalah instruksi yang harus dia dipatuhi. Papa tau kalo Pak Imam mencoba menyelamatkannya dari akibat berada di rombongan Pak Imam sebagai salah seorang Pimpinan PRRI yang disegani rakyat Minangkabau.. Tentara Soekarno akan memperlakukan rombongan ini lebih teliti disebabkan adanya Pak Imam bersama mereka. Ketika masa screening Pak Imam ditanyai di Kantor Kodim sampai berjam-jam. Pak Imam menjawab semuanya dengan terang. Dimana beliau adalah juga seorang perokok. Rokok yang beliau pakai adalah Rokok asli warga Minang jadul yaitu rokok daun nipah atau daun Tarusan. Beliau sibuk menggulung rokok itu rapi-rapi dan memakan waktu. Melihat itu Tentara yang bertugas disana menawarkan rokoknya yang lebih praktis. Pak Imam menjawab," Terus sajalah bertanya, saya akan terus juga menjawab, yang bekerja (memilin daun) bukankah saya". Artinya adalah si tentara tak perlulah repot-repot bersimpati. Batam, Feb 4, '11 Note : Terima kasih banyak untuk Mak Dave yang mengingatkan kekeliruan saya memaknai penjelasan Papa. Wassalam Rina, 33 th 2 bln, batam -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
