Ko takok di awak, sutan Mancayo suko nonton film INDIA. Pangalaman
katiko partamo jatuah cinta pasti mantun. Sasak lo angok wak wkt ampia
basuo jo RUKIAH. Amuah mudo lo wak liak. Cuman kurang tampak sakik
hati bidin, pakiak panuh dandam dan harus baleh dandam.

On 2/7/11, andi ko <[email protected]> wrote:
> Sanak Palanta
>
> Saya kirimkan cerpen lanjutan mengenai PRRI. Cerita ini fiktif belaka dengan
> pelaku juga fiktif. Tetapi kejadian Pasar Kamang di Bombardir oleh tentara
> pusat adalah kejadian nyata. Sumber peristiwa saya ambil dari buku karangan
> Syamdani, PRRI : Pemberontakan Atau Bukan, terbitan Media Presindo, 2008.
> Maaf kalau ada kesamaan nama dan kemungkinan kesamaan peristiwa.
>
> Selamat menikmati dan mohon masukan
>
> Salam
>
> Andiko Sutan Mancayo
>
> ____________________________________________________________
>
> *Senyum yang Tergantung : Kamang dibombardir*
>
>
>
> Allahu Rabbi Tuhan ar-Rahman,
>
> Mula-mula sengsara tiba di badan,
>
> Di negeri Kamang orang namakan,
>
> Malam Selasa petang Isnayan.
>
>
>
> Pukul tiga malam serdadu datang,
>
> Pikul senapan serta kelewang,
>
> Tegak di halaman bedil dipegang,
>
> Kemendur Tiga opas sudahlah terang.
>
>
>
> (Sya’ir Parang Kamang-H. Ahmad Marzuki. Anak dari Syekh Haji Abdul Manan,
> seorang tokoh terkemuka di Kamang dan juga tokoh penting dalam pemberontakan
> Nagari Kamang tahun 1908 terhadap Kompeni Belanda)
>
>
>
>
>
> Kamang !.....
>
> Pagi baru saja mendaki, perlahan matahari merambat, menjilat dinding-dinding
> rumah gadang, waktu akan mengantarkannya ke bubungan, dan tentunya, pada
> puncak yang runcing, matahari yang tertusuk, akan memendarkan cahaya,
> menerangi beberapa rangkiang, satu si bayau-bayau dan satu sitinjau lauik.
>
>
>
> Bidin sedang bersiap, seorang pemuda tanggung yang hatinya sedang
> berbunga-bunga. Tiba-tiba sekeliling rumah gadang ibunya, berubah…”parak”
> kecil tempat mandehnya menanam berbagai bumbu, telah berubah menjadi lautan
> bunga, ada anyelir, kembang sepatu, bunga bakung, dan tentu saja pokok-pokok
> mawar dan melati. Yah begitulah perasaan ketika sedang jatuh cinta.
>
>
>
> Ah….Bidin mendesah, lama sekali waktu berjalan. Tak sabar rasanya hendak
> melangkah ke halaman, kemudian menghilang kekerumunan pasar, ya pasar. Hari
> ini Senin, November 1959, Pasar Kamang pasti sangat ramai. Orang-orang akan
> berdatangan dari kampong-kampung di sekitar Kamang dan bahkan para
> “penggalas” akan dating dari kampong-kampung dan koto-koto kecil disekitar
> Agam.
>
>
>
> Tapi bukan itu yang sedang di pikirkan Bidin. Sejak sebuah senyum simpul
> dilemparkan Rukiah, si Gadih Rantih kembang nagari kepadanya ketika melintas
> di “alek Nagri” beberapa waktu lalu, Bidin seolah demam. Air diminum seperti
> sekam, nasi dimakan serasa duri. Malam larut dan hening tak menghantarkannya
> pada dengkur menjelang pagi, tetapi justru mengantarkannya pada penyakit
> yang sulit obatnya. Ya….”pitanggang”, sebuah penyakit yang membuat orang tak
> bisa tidur-tidur, malam terlewati dengan menghitung kasau di langit-langit
> surau tempat ia tidur bersama teman-temannya. Matanya menelitisk tiap ikatan
> antara kasau dan lae, disanalah atap disusun, dan disela-sela itu selalu ada
> senyum simpul itu, senyum simpul Rukiah. Bidin telah di racun rindu !
>
>
>
> Ah….Bidin mendesah dan bergumam
>
> “Alah den tutuik jo tapak tangan, namun di salo jari tampak juo”….ondehhh
> Rukiah…..
>
>
>
> Bidin sudah tidak tahan lagi. Seketika ia bergegas menuruni tangga rumah
> gadang mandehnya, lalu seperti orang ketinggalan kereta, bidin berlari ke
> pasar Kamang. Cinta telah membuatnya tak peduli dengan desas desus, bahwa
> Bukittinggi telah jatuh ke tangan Tentara Pusat, nyaris tampa perlawanan. Ya
> tampa perlawanan !. Jauh-jauh hari, tentara PRRI dan pejabat sipilnya telah
> mengungsi jauh ke arah Kumpulan dan membangun pertahanan disana. Bidin
> mendengar, seorang Buya besar, juga ikut berada disana.
>
>
>
> Sudahlah…..!, Bidin tak mengerti.
>
>
>
> Bidin terus melangkah kearah pasar dan berhenti di tikungan kecil. Disini,
> di tikungan kecil ini Bidin akan menunggu, ya menunggu si jantung hatinya
> lewat. Tak perlu menyapa, tetapi cukup menanti, menanti senyum simpul yang
> telah merusak ketenangan malam-malamnya. Bidin menunggu, harap-harap cemas.
> Kala itu, matahari semakin merambat naik.
>
>
>
> Menunggu….pantaslah kata orang bijak mengatakan, menunggu adalah pekerjaan
> yang paling membosankan. Bidin berputar-putar di area yang tak lebih dari 3
> kali 3 meter, berputar-putar sambil bergumam-gumam. Setiap berputar, yang
> tampak hanyalah sudut los pasar, kembali berputar kebelakang, hanyalah jalan
> lengang dibelakangnya. Meskipun pasar sudah mulai ramai, keramaian orang
> tawar-menawar ketika pagi itu, ibarat gerombolan kumbang yang marah, di
> tingkahi oleh denting besi beradu dari tempat pengrajin besi, tukang titik.
> Bagi Bidin, itu semua siksaan teramat dahsyat. Mata tertumbuk pada
> karung-karung cabe, sementara pikiran melayang pada penantian. Inilah
> kepedihan menanggung rindu, indah sekaligus konyol !.
>
>
>
> Aha…….di kejauahan, terlihat melangkah gontai dua orang perempuan. Satu
> orang perempuan setengah tua sedang melangkah bersisian dengan seorang gadis
> yang melangkah riang. Gadis itu nyaris penampakan nyata dari gadis impian
> Minangkabau. Pipi ibarat pauh dilayang, betis ibarat padi bunting, rambut
> bak mayang terurai, kalau berjalan, semut terinjak tak mati, tapi tertarung
> alu patah tiga. Begitu anggun.
>
>
>
> Bidin seperti mendapat serangan jantung, hampir saja dia lupa bernafas,
> salah tingkah. Semakin dekat gadis itu melangkah kearahnya, demam Bidin
> semakin meninggi. Jelas sekali gemuruh di dadanya. Hhhhhhhhhhh, Bidin
> menghiurp nafasnya, menenangkan diri, menhirup nafas dan melepaskannya
> pelan-pelan. Dadanya terasa hangat, hangat karena nafas ditahan, tetapi
> lebih terbakar karena rindu akan senyum yang menikam. Bidin memperbaiki
> posisi berdiri, dengan sedikit bersandar, mencari posisi rileks sambil
> bersiul-siul kecil dan Rukiah semakin dekat !.
>
>
>
> Keduanya menunggu !. Bidin menunggu senyum simpul itu, sementara Rukiah
> menunggu reaksi yang akan timbul karena senyum simpulnya. Mereka semakin dek
> !
>
>
>
> Tepat ketika Rukiah melempar senyumnya dan Bidin dengan kesipan mental penuh
> menanti dengan mata berbinar, di udara terdengar seperti siutan, hasil
> gesekan udara dengan benda keras...
>
>
>
> Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut.....................
>
> Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah benda seperti jantung pisang,
> melayang terjun, hendak menghunjam bumi.
>
>
>
> Bidin terkesiap, jantungnya hendak berhenti berdetak, lidahnya kelu dan
> tubuhnya seolah lumpuh. Bidin hapal betul, benda apa itu, sebuah benda yang
> seketika akan menciptakan malapetaka, benda yang akan mencerai beraikan ayah
> dengan anak, memisahkan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta, yang
> lewat benda itu maut akan datang. Bidin menggigil, bunyi suitan yang akan
> diikuti dengan sebuah ledakan dahsyat itu adalah MORTAR atau MORTIR.
>
>
>
> Beberapa bulan lalu, Bidin bersama serombongan pelajar lainnya dilatih untuk
> menghadapi serangan yang akan datang dari Jawa. Tiga batalion utama tentara
> reguler telah dikirim ke Pekanbaru menghadapi pasukan penerjun tentara pusat
> yang di pimpin Ahmad Yani dan Nasution. Di Padang, tempat ia bersekolah,
> hanya tersisa pasukan yang terdiri dari pelajar dan pemuda-pemuda simpatisan
> yang diharapkan akan mempertahankan pantai barat dari gempuran tentara pusat
> yang datang dari laut. Sebagai persiapan, Bidin dan kawan-kawan
> diperkenalkan dengan berbagai senjata yang konon kabarnya diturunkan dari
> kapal selam di lepas pantai pulau Cingkuak di depan Padang. Salah satu
> senjata itu adalah Mortar yang saat ini akan jatuh dikeramaian pasar pagi
> Kamang,..........Bidin menggigil !.
>
>
>
> Sejurus kemudian, terdengar ledakan yang memekakkan telinga............
>
>
>
> DUAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRR
>
>
>
> Seperti ada sebuah kekuatan, sudut pasar itu terlempar ke udara, tercerai
> berai. Ketika debu akibat ledakan itu mulai terhembus angin, terlihat lobang
> cukup besar dengan beberapa tubuh bergelimpangan-mandi darah. Terlihat
> sebuah kaki telah berpisah dengan pemiliknya, darah merembes disekitar itu.
> Seketika rintihan dan terikan kesakitan meningkahi riuhnya pasar.
> Orang-orang seperti kebingungan kemudian berlarian mencari perlindungan.
> Orangt-orang sudah tidak peduli lagi, yang penting selamat. Karena pasar
> demikian ramainya, orang-orang saling bertabrakan, panik dan rusuh. Nah saat
> itulah datang suitan yang menakutkan itu kembali.....
>
>
>
> Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut....................
> .duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!!
>
> Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut.....................
> duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!!
>
> Ssssssssssiiiiiiiiiiiiiuuuuuuuuuuut.....................
> duaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr !!!!!!!!!!!!!!!!!!
>
>
>
> Bidin terlonjak, badannya seperti terangkat. Bertubi-tubi jantung pisang itu
> berjatuhan dan meledak...tubuh-tubuh bergelimpangan, sementara Bidin,
> tersandar, dadanya sesak. Yang pertama dia pikir adalah terbang kedepan
> menyambar Rukiah dan mencari perlindungan. Tetapi kepalanya terasa pening
> dan telinganya seperti pecah. Ledakan itu telah mengguncang nyalinya.
>
>
>
> Tetapi....tidak.....dia harus menyelamatkan Rukiah, harus, meskipun hujan
> mortir harus di hadangnya. Inilah kesaktian cinta itu dan Bidin telah di
> rasuki oleh perasaan aneh itu.
>
> Bidin kemudian segera berdiri dan memukulkan tangan ke kepalanya untuk
> menghilangkan rasa pusing akibat efek ledakan itu. Kabut akibat debu jalan
> yang terhambur dihadapannya, mulai menipis dihembus angin, Bidin melangkah
> dan.........
>
>
>
> Bidin merasakan langit seolah runtuh dan menghimpit dirinya, langkah kakinya
> terhenti di hadapan sesosok tubuh yang terkapar, di sela rambutnya yang
> terurai itu, mengalir cairan berwarna merah, perlahan merembes ke sisi kiri
> dan membasahi tanah, cairan itu darah. Bidin terguncang, dihadapannya kini
> terbujur Rukiah tak bergerak !.
>
>
>
> Bidin terguncang !
>
>
>
> Segera ia raih tubuh itu ke pangkuannya, ia dekap dan berusaha mengirimkan
> do’a agar perempuan yang dicintainya itu hanya mendapat luka kecil. Wajah
> Rukiah pucat pasi, darah terus merembes dan mengenai sarung Bugih yang di
> bawa Bidin. Bidin tak peduli, ia berusaha menutup luka yang mengeluarkan
> darah dengan sarungnya, tapi darah itu terus merembes.
>
>
>
> Semakin lama tarikan nafas Rukiah semakin lemah, matanya berkaca-kaca,
> perlahan dengan tenaga yang nyaris hilang, ia berusaha tersenyum. Bidin
> terpaku diam, di sela matanya menetes satu cairan bening, merambat ke bawah
> menjalari rahang kokohnya dan menetes jatuh ke rambut Rukiah. Detik ketika
> air mata itu jatuh, senyum Rukiah terhenti berikut dengan nafas lemahnya.
> Satu kekuatan tak terlawan telah memenggal cinta mereka, Rukiah berpulang.
>
>
>
> Bidin merasakan dadanya seperti rengkah, ada gelombang kemarahan yang sulit
> ia tahan. Ia baringkan tubuh kekasihnya di tanah dan berdiri menantang
> suitan mortar dan ledakan yang berjatuhan disisinya. Sarung yang dilumuri
> darah kekasihnya terhempas-hempas dipukul gelombang angin ledakan.
> Dihadapannya, bergelimpangan tubuh-tubuh tampa dosa para pengunjung pasar
> pagi itu, darah ada di mana-mana. Kamang pagi itu di bombardir mortar
> tentara pusat.
>
>
>
> Bidin berteriak, histeris !
>
>
>
> Syair perang Kamang diatas, mengantar gigilnya, mengiring arwah kekasih
> pergi.
>
>
>
> Andiko Sutan Mancayo
>
>
>
> (7 Januari 2011)
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke