KETIKA PAPA BERCERITA 8

By : Ritrina

 

 

Berhasilnya ditumpasnya PRRI di Sumatera Tengah masa 1961 membuat banyak
masyarakat MInangkabau terutama yang berada di Padang Panjang, Bukittinggi,
Lubuk Sikaping, Solok dan Payakumbuh hidup dalam kesedihan. Banyak yang
menjadi korban dari kesemena-menaan Soekarno yang tanpa ba bi bu langsung
menghantam Sumteng  dengan kekuatan penuh. Gerakan kritik dari tokoh-tokoh
yang mencintai tanah airnya itu dijawab dengan penumpasan. Kekuatan yang
sebagian besar adalah orang-orang yang tidak cinta kepada NKRI hanya mabuk
akan kekuasaan dan wewenang. 

 

Pak Natsir yang selama di Rimbo Masang membuat tulisan yang mempersiapkan
bila suatu saat bagaimana sebaiknya pemerintah membenahi kondisi masyarakat
setelah diperangi ini tanpa adanya warna 'meminta-minta' yang menunjukkan
kewibawaan dan kecintaan beliau terhadap umat. Tulisan itu terhimpun dalam
buku yang berjudul Kapita Selecta 3 yang kembali diedit setelahnya oleh
beberapa orang. 

 

Papa yang telah benar-benar bebas karena tidak dicurigai sebagai 'orang
dalam PRRI' merasa aman untuk bepergian di dalam kota. Pernah sesekali Papa
bersepeda di daerah Birugo bertemu dengan anak Pak Natsir yang pertama
bernama Siti Mukhlisah yang biasa dia panggil dengan Lies. Lies waktu itu
tengah pergi ke pasar dari rumah mereka di daerah Jambu Air berjalan kaki
kearah Pasar Bawah Bukittinggi. Sambil berjalan itu Papa bertanya-tanya
tentang kabar sang ayahanda Lies yaitu Pak Imam. Dari mulut Lies Papa
mendengar cerita-cerita tentang pemeriksaan Pak Imam yang kadang sampai
belasan jam di kantor Kodim. 

 

Amnesti yang dijanjikan Presiden Soekarno tidaklah ditepati dengan murni.
Pak Imam masih saja  diamankan tanpa disidangkan untuk memperoleh keadilan.
Mereka terus bercerita tentang orang yang sama-sama mereka hormati itu
sampai mencapai pasar. Lies sangat tau bagaimana Papa sangat hormat terhadap
ayahnya sebab mereka sama - sama hidup mengucil dan bersembunyi di Rimbo
Masang. Rimbo yang menyelamatkan banyak nyawa yang sampai sekarang masih
bisa bercerita tentang kehidupan lalu.

 

---

 

Seperti yang telah saya cerita di awal, masih di tahun 1961 itu Papa pergi
ke Pekanbaru untuk kemudian bekerja di Dinas Kesehatan dimana dia juga tidak
sengaja bertemu dengan Pak Adnan Djamaan bekas ajudan kepercayaan Kolonel
Dahlan Djambek. Selama di Pekanbaru Papa tetap berkirim surat dengan Pak
Imam yang diasingkan di Batu, Malang. Sayangnya surat-surat itu Papa lupa
dimana disimpannya, saking disimpan dengan rapat hingga tidak bisa
diketemukan lagi. Isi surat Pak Imam kebanyakan memberikan nasehat kepada
Papa bagaimana serius untuk kelanjutan karir Papa di Dinas Kesehatan Riau
saat itu. Nasehat untuk mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan
kesehatan. Namun dimana beliau dapat mempelajari hal yang berkaitan dengan
kesehatan ini bila tidak bersekolah. Maka 2 tahun kemudian Papa memutuskan
untuk kembali ke sekolah perawat yang berada di Padang, Sumteng.

 

Selama di Pekanbaru Papa berkenalan dengan seorang gadis manis bernama Yas.
Yas rupanya diam-diam menyimpan rasa suka ke Papa. Oleh orangtua dan
Mamaknya (paman) kedekatan mereka ini diartikan lain. Mereka langsung
menemui Inyiak (Kakek) ayah Papa. Perhitungan untuk peminangan dibuat tanpa
sepengetahuan Papa. Paman Yas telah datang sendiri ke rumah Kakek yang
begitu gembira sebab akan bermenantu. Sayangnya Kakek tidak konfirmasi dulu
dengan Papa yang tengah bekerja di Dinas Kesehatan Riau. Hitungan untuk
pertunangan dan pernikahan ditandai dengan kesepakatan antara keluarga
dimana keluarga besar Yas datang ke rumah Kakek dengan dinanti oleh segenap
keluarga besar kami dengan 'alek (kenduri).  Saat itulah Papa menerima surat
pemberitahuan dari Kakek tentang hitungan untuk perhelatan pernikahannya itu
telah selesai. Tinggal menunggu dia pulang untuk melangsungkan pernikahan di
kampung.

 

---

Papa sangat terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba menanyakan masalah
ini yang dulu waktu kecil pernah kudapatkan dari nenek ketika beliau masih
hidup dan nenekpun menyimpan sebuah foto gadis manis Yas ini yang
diperlihatkan kepadaku. Sayangnya hidup gadis manis ini berakhir tragis. Gak
sabaran..??? Yuk kita lanjutkan.. 

-------

 

Papa yang kaget dengan kedatangan surat Kakek itu langsung pulang ke
kampung. Sebenarnya dia telah mengajukan permintaan untuk sekolah kembali di
Sekolah Perawat di Padang kepada Kepala Dinas Kesehatan Riau. Sebab seperti
nasehat Pak Imam, dia harus memperdalam ilmu keperawatan itu bila ingin
terus mengabdi menjadi perawat. Papa yang kaget dan kesal dengan keputusan
sepihak dari Kakek merasa tidak dihargai keinginan kuat dia untuk
bersekolah. Dan satu hal lain yang mengikat hati Papa waktu itu yaitu Mama.
Mama adalah saudara sepupu Papa dari saudara perempuan Kakek. Dia telah lama
jatuh hati dengan saudara sepupunya yang sangat manis itu. Merekapun telah
baintaian tanpa sepengetahuan orangtua. Namun Mama adalah kemenakan paling
disayang kakek sebab Mama adalah satu-satunya perempuan dari lima bersaudara
anak saudaranya (Nenek). 

 

Jadi Kakek mengklarifikasi keterangan keluarga Yas yang mengatakan bila Papa
telah setuju dengan pernikahan itu. Ternyata setelah Papa pulang ke kampung
Kakek baru tau kemauan anak tertuanya itu dan kebohongan pihak keluarga Yas
yang mengaku-ngaku telah disetujui Papa ketika di Pekanbaru. Padahal
sebelumnya telah mengadakan kenduri 'batando' di rumah dimana orang kampung
telah tahu maksud kelurga mereka itu. Papa yang telah bersiap untuk sekolah
ke Padang tetap pada pendiriannya. Dia tetap berangkat ke Padang dan
bersekolah di Sekolah Perawat Padang selama 3 tahun mulai dari 1963-1966. 

 

Keluarga Yas malu dengan ketidakberhasilan dari acara 'Batando' itu. Yaspun
telah kembali ke Pekanbaru dengan kehampaan. Entah karena gelap mata akan
nasibnya itu atau karena sebab lain, Yas akhirnya menceburkan diri ke Sungai
Siak. Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di usianya yang masih muda
itu dengan menyerahkan dirinya ke arus Sungai Siak. Sungguh sungguh amat
sangat disayangkan bukan Kawan?..

 

Aku pernah berkata ke nenek dulu ketika aku menemukan album foto keluarga
yang disana masih tersimpan foto gadis manis ini. Aku bilang ke nenek,
kenapa ga diteruskan saja pernikahan itu dengan Papa. Sambil tertawa halus
nenek langsung menjawab : " Kok bataruihan dulu tu, indak ka ado cucu den ko
doh." Sambil memegang daguku gemas. Aku langsung terdiam tanpa banyak lagi
bertanya-tanya. Sebab aku sangat kasihan dengan nasib tragis yang mengakhiri
hidup orang yang fotonya tengah kupandangi dengan seksama kala itu. 

 

Batam, Feb 9th, 2011

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke