Nelayan (2)

By : Rina Permadi

 

 

Bagi seorang nelayan, tidak memiliki perahu adalah sepahit-pahit hidup.
Bagaimana mungkin laut yang terkadang ganas bisa ditaklukkan tanpa kehadiran
perahu. Ibarat petani tidak memiliki cangkul, ibarat penulis tidak punya
laptop ah gaklah..:). Jauh amat, amat aja gak jauh-jauh. Begitulah kondisi
sang Tekong sewaktu kami temui pertama kalinya. Karena dia dianggap
berpengalaman oleh sebagian kawan-kawannya di kampung nelayan itu, akhirnya
kami sepakat menyuruh dia untuk menyewa perahu nelayan lain yang lagi sandar
di pelantar kayu di belakang rumah-rumah mereka yang tiangnya terendam air
laut.

 

Memancing mungkin saya turuni dari keluarga besar yang hampir semuanya
pandai memancing terutama di tabek (kolam ikan). Abang-abang, sepupu-sepupu,
Mama, Papa, Kakek, Nenek, semuanya pintar mamapeh (mancing). Entah kenapa,
saya yang dalam kondisi hamil anak pertama masa itu sangat suka sekali
memancing terutama di laut. Pernah nyoba di darat seperti di rawa, kolam
ataupun parit besar di pinggir jalanan pinggiran batam ini. Tidak ada
satupun yang menandingi rasa yang diperoleh ketika ikan laut tersangkut mata
kail di kedalaman laut itu. Sekalipun ikannya kecil seperti ikan karang
jenis timun, amoy, tokak, katarap dan kerapu, tetap saja sangat menghibur. 

 

Saking seringnya kami pergi memancing memakai Tekong Adi ini, akhirnya dari
beberapa kali diskusi kami memutuskan untuk membantu dia membelikan sebuah
mesin untuk perahu bermotornya. Perahunya dibikin dia bersama bapaknya yang
juga telah lama menjadi nelayan. Akhirnya sebuah kapal bermotor bisa
diadakan dari kerjasama kami, dimana Mas menghabiskan biaya lima juta
rupiah. Dari perhitungan normal, kapal ini bisa bertahan selama tiga tahun.
Selama 3 tahun itu kami bisa memakai Adi kapan saja dengan free of charge
alias gratis. Selama itu, Adi bisa memakai kapal itu untuk keperluan
menjaring ikan, udang, nyedok sotong dan memerangkap ketam atau rajungan.
Simbiosis mutualisma ini sangat bagus baik bagi kami yang hobi mancing dan
juga bagi Adi dimana dia bisa memperbaiki penghasilannya sehari-hari dari
hasil tangkapan memungut hasil laut tanpa harus menyewa perahu nelayan lain.


 

Saya masih ingat sewaktu Mas membawa mereka ikut membeli mesin untuk kapal
itu. Mak yang kepingin ikut ga tahan AC mobil melilitkan kain sarung di
badannya persis seperti Ibu-ibu di daratan tinggi yang bersuhu dingin. Adi
yang ga tahan bermobil muntah setiap persimpangan sehingga begitu selesai
urusan mereka dan tiba kembali ke kampung nelayan mereka di daerah Barelang
itu, ludes semua persediaan makanan dan cairan di perutnya. Sebuah tantangan
besar bagi orang pulau yang terbiasa dibuai air laut harus
terguncang-guncang oleh gesekan roda mobil dan jalan aspal yang berakibat
memberontaknya keseimbangan mereka. Hal ini sebanding bila orang darat yang
tidak biasa di kapal laut diserang mabuk laut yang membuat mereka teler.
"Duh..ayam penyetku.ga besisa..lesap sudah...guyon si Adi sambil senyum
lemas begitu sampai di kampungnya kembali.

 

Hitung-hitungan kasarnya saja, bila kami turun pakai perahu bermotor sewa
maka kami harus bayar 200 ribu rupiah sekali turun. Jika selama setahun kami
turun 20 kali maka total uang yang dikeluarkan 4 juta rupiah. Dikalikan
selama 3 tahun akan menjadi 12 juta rupiah. Untung 7 juta dari sisi sewa
kapal saja bagi kami. Bagi Adi dan keluarganya tentunya sudah sangat jelas,
hidupnya akan lebih sejahtera untuk 3 tahun ke depan bila saja dia rajin
untuk turun ke laut setiap harinya tanpa memikirkan utang, dia hanya harus
menjaga keawetan mesin dan kapal minimal sampai 3 tahun. 

 

Belakangan terpikir lagi oleh Mas untuk menambah pendapatan Adi dari hasil
laut yang di dapatkannya. Pikiran ini bermula dari orang kampung yang baru
merantau ke batam  untuk mencari kerja. Berhubung karena dia orang awak yang
terkata pintar dalam berjualan, maka saya tawari untuk berjualan di pasar
dan sewa tempat kami yang menyediakan dengan sistim bagi hasil. Dia hanya
keluar tenaga saja. Kesepakatan ini berimbas kepada Adi si Tekong Pancung di
laut sana. Mas menyuruh dia untuk memasok ikan dari pulau-pulau kecil yang
susah akses menjual hasil laut mereka ke Batam. Mulai waktu itu, Mas ikut
survey ke pulau-pulau kecil seputaran Batam sampai pulau Moro di Karimun
sana. Berkenalan dan berbisnis dnegan nelayan-nelayan kecil yang terkadang
hidup begitu berat bagi mereka.

 

Hasil tangkapan laut nelayan pulau-pulau kecil itu kemudian dikumpulkan Adi
di fiber-fiber ikan yang kemudian diangkut ke Batam. Setibanya di Batam
ikan-ikan tersebut dipasok ke pasar-pasar. Awal yang dimulai dari hobi ini
semakin mengasyikkan hari-hari penuh kesibukan kami sebagai keluarga kecil
yang baru mencoba hidup di perantauan, jauh dari sanak saudara. Ternyata
kami mendapatkan banyak sekali saudara di perantauan ini. Memang benar kata
Imam Syafi'I yang saya baca dari buku yang kurang lebih mengatakan begini :

 

"Burung kalau tidak keluar sarang tidak akan mendapatkan apa-apa

"Busur kalau tidak melesat tidak kena sasaran

"Kayu Gaharu adalah pohon biasa bila di dalam hutan sana

"Jadi, merantaulah dan kamu akan mendapatkan ganti ayah, ibu dan
saudara-saudara

 

Walau telah banyak mendapatkan pengalaman berharga mulai dari kerjasama
dengan banyak orang ini dan tidak juga selalu mulus, dimana sifat tamak
manusia itu terkadang muncul juga bila ada kesempatan. Jadi diperlukan
kejelian dan kehati-hatian dalam berbisnis ini. Terkadang niat kita membantu
bisa membuat orang itu terjerat kasus hukum seperti penipuan. 

 

Sampai sekarang kami meneruskan bisnis di bidang hasil tangkapan laut ini di
sebuah pasar di dekat rumah. Pasar kecil dalam pusat perumahan yang
dikelilingi oleh ruko-ruko penuh dengan usaha lain yang menunjang
konsumennya. Saat ini ada dua orang mahasiswa yang membantu kami menjalankan
bisnis kecil-kecilan ini selain pembantu yang lain. Mereka dulunya juga
pernah hidup keras di laut Sulawesi Kendari sana dan satu lagi di laut Daek
Lingga Kepri ini.  Dari subuh sampai menjelang siang mereka bekerja di pasar
pagi ini dan sore mereka kuliah sampai malam. Bahkan salah seorang dari
mereka diterima bekerja di perusahaan Properti tempat Mas bekerja selama
ini. 

 

Bapak Ibu mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi kami. Kami sering dapat
oleh-oleh makanan khas Melayu dari mereka ini dan khas Kendari dari yang
satunya. Semalam Mak dan Bapak telah datang lagi mengunjungi kami
sekeluarga. Senang sekali mereka mengejutkan kami dengan kunjungan
tiba-tibanya yang membuat rumah menjadi lebih hidup. Apalagi Mak pintar
masak masakan khas Melayu. So, Sobat senang sekali bukan? Dapat Mak dan
Bapak dari berbagai daerah??? Ayo.. tinggalkan sarangmu dan lekas terbang
cari karunia Tuhan dimanapun kamu berada.

 

The End.....

 

Batam, Feb 11, 2011

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke