DJAMALUDDIN ADINEGORO DATUK MAHARADJO SOETAN (14 Agustus 1904 - 8 Januari 1967)
PADA suatu hari di tahun 1985, menjelang HUT PWI ke-39, saya waktu itu Ketua PWI Cabang Sumatera Barat-akan meresmikan pemberian nama gedung PWI Cabang Sumatera Barat sekarang dengan nama Balai Wartawan Djamaluddin Adinegoro. Putra beliau, Adiwarsita Adinegoro telah berjanji dengan saya akan hadir pada upacara peresmian nama Balai Wartawan Padang tersebut dengan nama ayahnya. Sementara, pihak kemenakannya di Talawi (menurut garis ibu) juga telah mengijinkan pemakaian nama pamannya itu yang akrab dipanggilnya dengan Om Djamal. Pada waktu itu, bukan Balai Wartawan Padang saja yang diberi nama "Adinegoro", tapi juga nama-nama jalan di Sumatera Barat. Selaku Ketua PWI Cabang Sumatera Barat, saya menulis surat kepada Walikota Padang, H. Syahrul Udjud, S.H., Walikota Bukittinggi, Drs. Umar Gafar, dan Bupati Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, H, Noer Bahri Said Pamuncak berikut kepada masing-masing Ketua DPRD-nya. Saya meminta pemerintah daerah yang bersangkutan berkenan memberi nama salah satu jalan di kota atau di wilayahnya dengan nama Djamaluddin Adinegoro. Ternyata permohonan atau permintaan PWI Cabang Sumatera Barat tersebut mendapat sambutan hangat dari ketiga pemda yang tersebut di atas. Pada masing-masing nama jalan tersebut, kami ikut meresmikannya bersama Gubernur Sumatera Barat H. Azwar Anas Dt. Rajo Suleman. Memilih ke tiga daerah itu agar mengabadikan nama Nestor Pers Indonesia tersebut, punya argumentasi tersendiri. Di kota Padang karena ibu kota Propinsi Sumatera Barat. Ruas jalan dari Tabiang arah ke Bukittinggi diberi nama Jalan Adinegoro. Di Bukittinggi karena di kota itu Adinegoro berjuang dan menjadi Komisaris RI untuk Sumatera pada tahun 1945 dan menerbitkan SK. Harian Kedaoelatan Rakyat dan membangun Kantor Berita Antara dengan menggunakan peralatan yang amat sederhana berupa tiang-tiang dari bambu yang dibelinya dari Jorong Bukit Apit, Bukittinggi. Kemudian untuk memajukan kecerdasan rakyat dan masyarakat yang berilmu untuk mengisi kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, maka didirikan Volksuniversiteit di kota sejuk Bukittinggi tersebut pada tahun 1946. Di kabupaten Sawahlunto Sijunjung adalah karena Adinegoro putra daerah kabupaten tersebut. Waktu itu, Talawi termasuk daerah Kabupaten Sawahlunto Sijunjung (sekarang Nagari Talawi masuk Kota Sawahlunto). Dekat harinya menjelang 9 Februari 1985 Hari Ulang Tahun PWI atau Hari Pers Nasional, datanglah telepon dari berbagai kalangan masyarakat kita. Yang saya ingat ada dari kantor gubernur, dari Bukittinggi, dari mahasiswa Unand, dan lainlain. Suara dalam telepon itu ada yang bernada ramah, lemah lembut, tapi ada juga yang manimpalak saya. Katanya, kenapa kok nama orang Jawa nama gedung PWI Sumatera Barat? Saya jawab, tahukah Anda bahwa Djamaluddin Adinegoro itu orang Minang? Almarhum lahir di Talawi, Sawahlunto, 14 Agustus 1904, meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 Sejak tahun 1926 sudah menyandang gelar sako adat Datuk Maharadjo Soetan dari pesukuan Patapang Sikundono. Karena percakapan ini via telepon tentu saja saya tak melihat wajahnya, tapi saya merasakan si penelepon itu terpurangah. Jadi, amat banyak orang Minang yang belum kenal dengan tokoh-tokoh nasional berasal dari Sumatera Barat. Djamaluddin Adinegoro adalah adik Maha Putra Prof. Mr. Moh. Yamin yang juga lahir di Talawi, tanggal 23 Agustus 1903. Keduanya adalah putra bangsawan lokal Oesman Bagindo Chatib yang pada mulanya jadi Tuan Pakuih (Vakhuis Meester) kemudian jadi Tuanku Laras (demang/districthofd). (Dikutip dari Buku "Mesin Ketik Tua" karya almarhum Kamardi Rais Dt. P Sumulie) Dari E-Paper, Harian Haluan, 13 February 2011 Wassalam Nofend/34+/M-CKRG => MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!! Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang, Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi Sumatera Barat. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
