(Diketik ulang dan dilewakan seizin Uda Dedi Navis)
======================================

Pada masa PRRI. Otang, teman Si Dali, pulang kampung. Seperti banyak orang
lain sebelum APRI menyerbu. Otang seorang gembong. Juga bukan pegawai
negeri. Kalau Otang pulang kampung juga, hanyalah karena alasan khusus.
Katanya, karena solider pada Pak Natsir, tokoh idolanya, yang mengirimnya
magang dipeternakan Amerika di Florida selama setahun. Tapi pengetahuan
peternakannya itu tidak bisa dipraktikkan di kampungnya. Selain hambatan
sosial budaya, juga oleh masalah modal.  Karena itu dia menetap saja di
Jakarta.  Menunggu perobahan kondisi dan situasi yang akan dapat mengangkat
martabat dirinya.

Katanya, betapa dia tidak akan solider.  Dari seorang berayah pemilik
warung, lalu berkesempatan melihat Amerika yang serba wah seperti yang
diangankannya ketika nonton film-filmnya. Bahkan lebih dari pada solider
itu, ialah karena perasaan malu pada diri sendiri bila tidak solider. Otang
menikah sebelum dia ke Amerika. Alasan orang tuanya di kampung, agar Otang
tidak kecantol pada gadis di sana, lalu tidak mau pulang lagi. Pada mulanya
Otang keberatan. Namun segera saja dia setuju demi ketemu calon istri yang
secantik bintang film Titien Sumarni. Bedanya hanya tanpa tahi latat di
bibir atas. Ketika kembali ke kampung karena ikut PRRI, dia sudah punya dua
anak. Dan selama di kampung dia tidak bekerja apapun. Memang tidak ada yang
bisa dikerjakannya. Karena semenjak sekolah di kampung sampai ke Amerika pun
dia tidak belajar untuk bekerja. Dia betajar untuk jadi orang tahu tentang
berbagai ilmu. Dalam masa perang ilmu tidak berguna. Yang diperlukan, kalau
tidak senjata, ya akal. Minimal akal-akalan.

Tibalah masanya kampung Otang diduduki APRI. Oleh PPRl disebut dibebaskan.
Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacul. yaitu
bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan. Di kala gotong-royong
semua laki-laki berbaur.  Apa orang tua, apa petani, apa guru, apa haji, apa
datuk, apalagi orang semacam Otang. Bagi Otang sekali mengayunkan pacul,
melepuhlah tetapak tangannya. Telapak tangan melepuh, tidak dapat dijadikan
alasan istirahat dari bergotong-royong.

Yang jadi komandan APRI di kecamatan itu berjabatan Bintara Urusan
Teritorial, kronimnya Buter. Talib namanya. Sersan Mayor pangkatnya.
Orangnya berbobot besar. Bedegab, kata penduduk. Suaranya bariton. Jika
berteriak, kecutlah semua orang. Berpacu bunyi pacul pada batu untuk
mengeluarkah rumput. Lama-lama Buter Talib jarang mangawasi gotong-royong.
Namun perintah gotong-royong datang hampir saban hari. Melalui seruan Inyik
Lunak dari ujung ke ujung kampung, sambil memalu canang yang berbunyi cer
cer cer. Karena pada paro bahagian canang itu sudah pecah. Dan suara Inyiak
Lunak itu pun serak seperti selaput suaranya juga pecah.

Gotong-royong hampir setiap hari itu sangat menjengkelkan Otang. Juga semua
orang. Bukan karena kehilangan waktu untuk bekerja, juga merasa sengaja
dihina sebagai orang taklukan. Sehingga setiap mendengar bunyi cer cer cer
dari canang yang dipukul dan di-iringi suara pecah Inyik Lunak, lama-lama
berakibat pada ketidak-suksan Otang pada Inyik Lunak. Setiap berpapasan
dengan Inyiak Lunak di jalan, dia selalu melengos ke arah Lain. Kalau lagi
nongkrong di lepau Mak Mango di sudut pasar, lalu Inyiak Lunak datang, dia
buru-buru pergi. Sebaliknya jika Inyiak Lunak sudah tebih dulu nongkrong,
dia batal masuk lepau itu.

Bahkan Otang kian mual pada Inyiak  Lunak setetah tahu, apa yang ditakukan
Buter Talib ketika semua laki-taki beryotong-royong. Bersama salah seorang
kopralnya dia masuk kampung keluar kampung menzinai istri-istri orang-orang
PRRI yang terus bertahan di pedalaman. Kopral Jono juga berbuat yang sama.
Camat Basri yang orang kampung itu sendiri pun sama dengan yang lain dan
yang lainnya lagi. Pembantu Ispektur Polisi Hartono meniduri kedua anak
gadis Sudira, sipir Penjara. "Mau apa kita? Bilang apa kita" itulah
kata-kata yang kaluar dari mulut penduduk negeri yang ditaklukan itu.

Akhirnya, meski tidak ikut perang, cuma karena rasa simpati saja, dia harus
membayar mahal seperti orang taklukan yang lain. Sengsara jugalah jadinya
Otang. Sengsara bukan karena bersimpati kepada PRRI, melainkan karena
istrinya cantik. Atun yang semula jadi istri dibanggakan, kini menjadi
ranjau darat yang membelah-belah jantungnya. Pada waktu penduduk diperintah
gotong-rotong, Buter Talib mampir ke rumah Atun. Malah Buter Talib konon
pernah menginap ketika giliran Otang ronda malam.

Awal-awalnya Otang tidak tahu apa yang terjadi. Mertuanya tidak memberi
tahu. Apalagi Atun. Wajah keruh kedua perempuan itu setiap Otang pulang dari
bergotong-royong tidaklah difahami Otang. Pada mulanya memang begitu. Tapi
ketika Inyiak  Lunak si tukang canang membisikkan agar Atun diantar ke kota,
dia mulai membauni kasus yang sebenarnya. Otang mencak-mencak, Atun dicaci
maki karena tidak melawan perkosaan itu. Dia pun mengomeli ibu mertuanya
yang bersekongkol.
"Otang, cobalah kau tempatkan dirimu sebagai si Atun, atau sebagai aku
sendiri ketika bencana itu tiba. Apa mungkin kami melawan? Apa mestinya kami
mengadu padamu, supaya Si Talib yang berkuasa itu kau hajar?" kata ibu
mertuanya setelah gelegak darah Otang mulai mereda.

Otang tak terhibur. Setumpuk sesal menghimpit dirinya. Menyesal dia tidak
ikut memanggul senjata melawan APRI. Kalau dia jadi tentera PRRI, pasti dia
akan menembak APRI semacam Buter Talib itu. Dua hal yang tidak mampu dia
rasali. Pertama dia pulang kampung karena alasan solider pada Pak Natsir.
Kedua karena Atun begitu cantiknya. Tapi membawa isteri dan anaknya pulang
kampung karena yakin PRRI akan menang perangnya, adalah salah perhitungan
yang paling disesalinya.

Dia marah pada Buter Talib. Marah sekali. Juga benci dan jijik. Tapi
nyalinya hilang demi melihat semua orang berbaju hijau, seperti Buter Talib
terlebi-lebih. Dia sadar, bahwa dia bukan laki-laki yang jantan. Karena dia
tidak pernah belajar jadi jantan, sejak dari sekolah sampai ke Florida sana.
Dia hanya medengar dan menerima apa kata guru dan kata buku.

Maka ketika Bupati Kasdut, teman sekolahnya dulu yang kapten pangkat
militernya, datang inspeksi ke kecamatan, Otang menemuinya.  Diceritakannya
perilaku tentara pada penduduk..."Kalau cara APRI datang membebaskan daerah
ini menjunjung rasa kemanusiaan berbangsa, tiga bulan saja PRRI sudah habis.
Tapi karena tentara bersikap ganas, merampok, memperkosa istri-tstri orang,
perang akan lama. Karana PRRI tidak akan menyerah kepada musuhnya yang
ganas, walaupun bertahun-tahun di hutan rimba."

"ltu dunia tentera, Otang. Resiko buruk bagi yang kalah perang. Tentara
orang awak pun sama ganasnya ketika melakukan operasi militer ke  daerah
lain." kata Bupati Kasdut yang kapten itu. 

"Dengan bangsa sendiri mesti berlaku ganas?'

"ltu kebijaksanaan komando agar rakyat di daerah mana pun tidak lagi
berkhayal untuk berontak."

"Menegakkan kebijaksanaan dengan cara yang ganas itu apa APRI dapat menjadi
pahlawan yang dicintai rakyat?"

"Sampai saat ini kebijaksanaan komando tidak akan berobah." kata Kapten
Kasdut yang Bupati itu.

Otang lalu ingat slogan masa itu: "Jika takut pada bedil, lari ke
pangkalnya." Tak ada gunanya melawan orang yang sedang menang perang. Dan
ketika Bupati Kasdut kembali ke kota kabupaten, Otang minta ikut. Dan
semenjak itu seisi kampung tidak ada yang tahu kemana dan dimana Otang.

****

Dua puluh lima tahun kemudian, si Dali ketemu Otang di Jakarta. Di rumah
Kasdut yang sudah pensiun dengan pangkat kolonel. Sudah jauh beda gaya
Otang. Tenang. Terlihat alim. Gaya bicaranya lembut, Lunak, menurut Nawar.
Dia memelihara jenggot. Model Haji Agus Salim. Putih warnanya. Di kepalanya
bertengger kopiah beluderu hitam yang apik letaknya. Si Dali tidak lupa
padanya. Dia pun tidak. Tapi dia tidak bergabung dengan si Dali di ruang
tengah, Dia di ruang belakang dengan ibu mertua Kasdut yang berusia hampir
detapan puluh tahun.
"Dia sudah jadi penghulu sekarang. Datuk Rajo Di Koto nama gelarnya. Dipitih
dan ditabalkan oleh kaumnya yang merantau di sini. Kata orang, gelar itu
disebut gadang menyimpang. Tidak lazim menurut adat. Urusan kaum itulah
itu." kata Kasdut yang ketika sebelum pensiun telah ditabalkan pula jadi
Datuk oleh kaumnya di kampung. Datuk Raja Kuasa gelarnya. Gelar yang pantas
bagi seorang kolonel yang pernah jadi Bupati. "Kalau aku, aku dapat gelar
yang sah menurut adat. Disepakati oleh seluruh kaum di kampung dan dirantau
lebih dulu." lanjutnya kemudian.

Si Dali penasaran kenapa Otang lebih suka berbaur dengan nenek itu dari pada
dengan sahabat lama yang dua puluh lima tahun tidak ketemu. Dugaan Si Dali
jadi miring. Mungkin dia tidak suka ketemu Si Dali, karena mau menghindar
dari luka lama masa perang PRRI. Luka karena Buter Talib meniduri Atun.
Kemudian menyerahkan Atun kepada Buter pengganti dan penggantinya lagi. Tapi
itu cerita lama. Apa dia masih dendam setelah Buter Talib dan teman-temannya
membayar dosa-dosanya setelah pemberontakan komunis dikalahkan? "Dia sudah
dua kali ke Mekkah." kata Kesdut selagi Si Dali merenung. Katanya lagi
seolah-olah tidak begitu penting: "Ibu mertuaku membawanya jadi muhrim.
Duitnya tentu saja dari aku. Dari siapa lagi, bukan?"

SeJak berangkat dari kampung, keluar dari daerah peperangan, Otang ke
Jakarta membawa segala luka dan perih di hati. Kota itu diharapkannya mampu
melupakan masa lalu. Nyatanya kota itu lebih menaburkan racun masa lalunya.
Terutama melihat orang-orang berbaju hijau seragam yang menggandeng
perempuan yang nampak oleh matanya tidak lain dari orang-orang seperti Buter
Talib yang menggandeng Atun. Ada rasa mual mau muntah dalam perutnya.
Akhirnya dia mengurung diri di rumah iparnya tempat dia menumpang.

Kalaupun dia keluar rumah, tidak tebih jauh dari pagar halaman.

Untuk membunuh sepi dia membaca buku-buku agama, karena buku-buku itu tidak
bicara tentang konflik yang melukai. Isi buku itu pun tidak untuk
direnungkan. Karena dia tidak suka membebankan pikirannya. Koran atau
majalah dihindarinya. Kalau tidak membaca, Otang mengerjakan apa saja yang
bisa dilakukannya di rumah itu. Membersih-bersih, membenahi kerusakan kecil.

Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya karena harus ikut menghadiri
pemakaman seorang kemenakannya. Sekali keluar dari isolasi, hampir
berterusan dia jarang di rumah di siang hari. Hampir setiap hari dia
berkunjung dari satu rumah ke rumah lain, yang semuanya adalah dunsanak atau
orang kampung seasal. Dia diterima dengan tangan dan hati terbuka. Meski
oleh kerabat Atun. Terutama oleh orang-orang tua yang telah kehilangan
kesibukan yang memerlukan sahabat dan kenalan tempat berkisah menghabiskan
waktu. Otang dapat mengisi tuntutan kebutuhan orang-orang seperti itu.
Lama-lama dia tahu betul apa yang diperlukan mereka. Perempuan-perempuan
menyukai berita sekitar perjodohan dan kematian orang-orang seasal di
kampung maupun dirantau. Laki-laki lebih menyukai berita situasi di kampung
atau reputasi orang-orang sekampung mereka. Yang pegawai suka pada berita
kenaikan pangkat orang-orang dikenal mereka.

Otang tidak mencari berita-berita itu. Berita itu dia pungut dari
orang-orang yang ditandanginya. Lama-lama jadilah Otang sebagai sumber
berita otentik. Diapun tahu berita yang disukai di masing-masing mereka dan
masing-masing golongan. Lama-lama Otang seperti sosok yang dirindukan. Sama
dengan kerinduan orang pada loper koran.

Lama-lama Otang mendapat jodoh juga. Seorang janda dari salah satu keluarga
yang secars rutin dikunjungi. Bagaimanapun suatu rumah tangga memerlukan
biaya. Meski menurut kata mertuanya ketika melamarnya, Otang tidak pertu
memberi belanja pada istrinya. Namun Otang adalah seorang laki-laki yang
ingin istrinya berarti. Terpandang tinggi melampau Atun yang secantik
bintang film itu. Karena itu dia perlu sumber nafkah. Pekerjaan yang
menghasilkan uang. Pekerjaan apa yang dapat dilakukannya dalam umur yang
sudah saparo baya itu? Bekerja di kantor? Kantor apa yang mau menerimanya.
Berdagang? Dagang apa? Apa dia bisa? Modalnya mana? Otang bingung. Waktunya
sehari-hari lebih banyak habis mencari kemungkinan mendapat pekerjaan yang
sesuai dan pantas. Pagi dia sudah keluar rumah, menjelang malam baru dia
pulang.

Semua orang-orang tua yang dikunjunginya secara rutin itu pun bingung.
Mereka bingung karena Otang tidak lagi datang. Kemudian ada seorang dokter
tua yang tidak lagi praktek karena usia. Biasanya dia memanggil Otang
menurut gaya lama: Engku Otang. Dokter itu berkata: "Engku Otang, apa yang
Engku lakukan, sebetulnya sama dengan yang aku lakukan sebagai dokter
mengunjungi pasien. paham?

Sebenernya Otang tidak paham. Namun dia mengangguk juga. Lama kemudian baru
dia pahan setelah berdiskusi dengan istrinya. Mestinya dia dibayar pada
setiap kunjungan ke rumah-rumah itu. Jangan hanya dikasi makan atau minum
setiap berkunjung. Lalu ketika akan pergi diselipkan selembar uang ke
sakunya diiringi ucapan: "Sekadar sewa oplet." Tapi bagaimana caranya minta
bayaran kepada kenalan dan orang-orang sekampungnya itu? Rikuh rasanya.
Menurutnya berkunjung ke rumah-rumah orang itu bukan suatu profei yang
bersifat komersial seperti dokter. Namun istrinya lagi yang memberi gagasan.
"percuma saja uda belajar di Amerika dulu."

SeJak itu kunjungan-kunjungan rutin ke rumah-rumah mereka itu dia kacaukan
jadwalnya, baik hari maupun jamnya. Tentu saja dia disambut dengan rasa
cemas dan sedikit omelan manja. Alasannya Otang sederhana saja. yakni oleh
karena ada kesibukan baru. Maklum dia sudah beristri dan bertanggung jawab
kepada rumah-tangganya. Kadang-kadang dia katakan betapa sulitnya dia dapat
bus atau oplet.
"Kenapa tidak pakai taki saja, Engku." kata mereka pada umumnya. Nah, sejak
itu Otang mendapat biaya taksi. Padahal dia tetap memakai kenderaan umum.
Pada perempuan tua yang suka bicara agama, Otang tahu sekali kisah yang
mereka sukai. Misalnya kisah Nabi Musa masa kecil yang dihanyutkan ibunya di
sungai Nil, lalu terdampar dekat istana Firaun. Atau kisah Zulaika yang
tergila-gila pada Nabi yusuf, atau kisah kesetiran Khadijah pada Nabi
Muhammad dan sebaliknya. Kalau ada kasus yang aktual, Otang tak lupa
mengkajinya dengan menyitir Al-Quran atau Hadist Nabi. Tak obahnya seperti
seorang dai yang handal. Adakalanya dibawanya buku agama untuk
perempuan-perempuan itu, yang dibelinya di kaki lima simpang Kramat. "Buku
ini bagus, Uni. Ada tulisan Arabnya. Ada Latinnya. Berulang-ulang
membacanya, kian dakat kita kepada redha-nya." kata Otang. Taklah lupa dia
membacakan sebagian isinya. Tentu saja ketika akan pulang,
perempuan-perempuan itu mengganti dengan berlipat ganda harganya, di samping
member biaya taksi.

Oleh karena perantau seasal kampungnya banyak di Jakarta, rata-rata yang
dapat dikunjunginya tiga empat rumah dalam sehari. Tujuh hari dalam
seminggu. Masing-masing dikunjunginya sekali sebulan untuk orang-orang kaya
atau pejabat. Sekali dua bulan untuk golongan lain. Pada hari seperti
menjelang ldul Fitri atau setiap pedagang atau pengusaha selesai tutup buku
tahunan, Otang kecipratan rezeki yang bernama zakat banyak. Oleh orang-orang
kaya seperti itulah Otang sampai bisa dua kali ke Makkah. Sekali dia pergi
bersama istrinya. Semua orang memberinya uang. Ada dollar. Ada real. Bahkan
yen. Tentu saja ada rupiah. Dan semua dengan iringan basa-basi: "Sekedar
pembeli korma." Lumayan banyak. Hampir sebanyak ONH Plus.

****

Otang jatuh sakit. Kena stroke dan komplikasi lainnya, kata dokter. Di rumah
sakit dia dirawat di bangsal. Setelah semalam dia dipindahkan ke ruang VIP.
Karena ada banyak kenalannya yang menjamin biayanya. waktu Si Dali melayat,
banyak karangan bunga pada berjejer di gang arah kamar Otang dirawat. Di
kamarnya yang luas pun puluhan keranjang hias buah-buahan. Pada setiapnya
ada kartu nama. Karena ingin tahu, Si Dali membacai kartu nama itu. Kartu
nama pada karangan bunga di gang itu pun dia baca. Ada nama profesor yang
top, pengusaha klas kakap, pejabat tinggi, staf ahli menteri dan juga nama
Kasdut.

Otang membuka matanya ketika Si Dali memanggil namanya dekat ke telinganya.
Lama dia menatap Si Dali dengan pandangan yang sayu. Seperti banyak yang
akan dikatakannya. Terenyuh juga hati Si Dali. Namun dia tidak menampakkan
betapa perasaannya. Dia coba tetap tersenyum untuk meyakinkan Otang bahwa
sakitnya tidak gawat. Lama juga Si Dali meremas tembut lengan Otang yang
tidak dipasangi alat infuse. Sampai Otang memicingkan mata seperti mau
tidur.

Suara pelan pelayat yang duduk di rice terdengar nyata ke telinga Si DaLi.
Mungkin juga ke telinga Otang. "Engku Datuk ini manusia langka. Tak kan ada
penggantinya kalau beliau tak kunjung sembuh" kata yang seorang.

"Beliau seperti perangkat komunikasi hidup." ulas yang lainnya lagi.

"Tak obahnya seperti Inyiak  Lunak di kampung kita. Pembawa berita suka dan
duka keliling kampung sambil memukul canang yang khas bunyinya karena telah
pecah sebagian."

"Tapi Inyiak  Lunak dengan canangnya cuma menyampaikan berita buruk saja."
Kata yang lain lagi.

Tiba-tiba Si Dali merasakan getaran kuat pada tangan Otang yang dipegangnya.
Demikian juga kaki Otang seperti hendak menerjang-nerjang. "Panggil dokter."
Kata Si Dali seperti berteriak. Dan semua orang serta merta berdiri di
sekeliling ranjang Otang. Memandang dengan rasa cemas. Bingung karena tidak
tahu mau melakukan apa.  Tak lama kemudian dokter tiba. Semua pelayat
disuruh keluar.  Mereka menanti di ruang tunggu khsus pelayat dengan
perasaan masing-masing.

Si Dali duduk pada kursi fiber. Pikirannya tertumpah pada kondisi Otang yang
tiba-tiba gawat. Pikirannya menjalan kemana-mana dalam mencari sebab-sebab
Otang yang secara tiba-tiba gawat itu. Apa Otang merasa tersinggung karena
mendengar kata-kata salah seorang pelayat, yang menyamakannya dengan Inyiak
Lunak si tukang canang dengan canangnya yang pecah?

Si Dali yakin menyebut nama Inyiak Lunak dekat Otang, apalagi menyamakan
dirinya, membangkitkan luka masa lalunya. Masa lalu ketika perang berkancah
dikampung halamannya. Ketika negara memandangnya sebagai penghianat bangsa.
Ketika istri dan mertuanya sama menghianatinya.  Ketika ukuran dan nilai
kekhianatan tidak lagi jelas.

A.A. Navis
Kayutanam, 5 Desember 1997


Wassalam
Nofend/34+/M-CKRG

=> MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!!
Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat
dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang,
Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi
Sumatera Barat.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke