Ondeh, mande io ambo tasintak mambaco, informasi nan Uda darwin samapikan dari 
buku Prof N.A. Kwang iko. Ambo akan cari bukunyo da
 
Pangalaman ambo mangatokan, bahaso nan disampaikan professor Kwang iko mengenai 
urang Asia (termasuk kito di dalamnyo), batue 1,000 %.
 
Ambo babarapo kali jadi Chairman Seminar Security Energy dalam Acara Asian 
Security Forum, di S'pore, KL, Bangkok, Dubai, yang membicarakan Pengamanan 
Lintas Crude Oil export, Power Eenergy, Utility Security, etc, mengalami hal 
nan disinyalir oleh profesor kito ko.
 
Perserta dari Indonesia, paling indak amuah batanyo, apokoh mereka paham betul 
isi seminar, atau bhs Inggerisnyo kurang bagus, atau memang indak mangarati 
samo sekali.

Sakali lai, tarimo kasih Da atas informasi nan sangaik baharago ko,
 
wassalam,
Dasriel
--- Pada Sel, 15/2/11, Darwin Chalidi <[email protected]> menulis:


Dari: Darwin Chalidi <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] Why Asians Are Less Creative Than Westerners
Kepada: "Rantau Net" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 15 Februari, 2011, 7:10 PM



Copas dari milis tetangga.

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are 
Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi  
ternyata menjadi "best seller".  (www.idearesort.com/trainers/T01.p) 
mengemukakan beberapa hal ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan 
pikiran  banyak orang:


Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah 
banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion 
(rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah 
populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih 
cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
Bagi org Asia, banyaknya  kekayaan yg dimiliki lbh dihargai drpd CARA 
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai 
ceritera, novel, sinetron atau film yang  bertema orang miskin jadi kaya 
mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh 
pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku  koruptif pun 
ditolerir/ diterima sbg sesuatu yg wajar.
Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan 
pada  pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. 
Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti dan ilmu 
hitung lainnya bukan diarahkan utk memahami kapan dan bagaimana menggunakan 
rumus rumus tersebut.
Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin 
pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" 
(tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dlm  Olympiade 
Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang Nobel 
atau hadiah internasional lainnya  yg berbasis inovasi dan kreativitas.
Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat-  nya sifat 
eksploratif sbg upaya  memenuhi rasa  penasaran dan keberanian untuk mengambil 
resiko kurang dihargai.
Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran 
tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau 
workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi stlh sesi berakhir peserta 
mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan. 
Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:


Hargai proses. Hargailah org krn pengabdiannya bukan karena kekayaannya. 
Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari 
hasil korupsi
Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang 
paling disukainya
Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa 
diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid 
memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya
Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang 
itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lebih cepat 
menghasilkan uang
Dasar kreativitas adlh rasa penasaran & berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
Guru adlh fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dgn 
bangga kl KT TDK TAU!
Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab 
untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan 
mensupportnya.Mudah2an dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu 
yang kreatif, inovatif tapi juga  memiliki integritas dan idealisme tinggi 
tanpa korupsi 



Bila anda juga tertarik utk mengetahui lebih banyak silahkan search di Google 
atau pesan buku nya keAmazon.com 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke