Batas

Oleh Helen Yahya

 

 

Mak
Kimin menggerutu mendengar laporan kemenakannya.  Urat-urat lehernya menegang.  
Bola matanya mencorong tajam.  Wajah memerah menahan kemarahan.  Bujang Sami 
–salah seorang kemenakan jauh-
otomatis ikut tegang.

  
“Kurang ajar!  Dikiranya kita
tidak tahu batas ulayat?” hidung Mak Kimin mendengus bagai kerbau akan berlaga.

   Bujang Sami hanya tertunduk kaku.

   Melihat itu Mak Kimin melanjutkan
hardik, ”Dan kalian takut dengan ancaman mereka?!  Padahal sebelumnya, saat 
aden masih di situ, mereka tak berani!  Tapi baru sepekan aden tak ke sana...”

   ”Buuuk.., bukan begitu, Mak.  Kami hanya segan beradu pendapat.  Karena
sebagian mereka masih pabisan dan sumando kita,” kegugupan Bujang Sami
jelas tergurat di matanya yang kuyu.

   ”Alaa, pendek betul pikiran wa’ang.  Berdebat atas kebenaran tak ada 
salahnya.  Mana Pidin?  Suruh dia kemari!”
perintah Mak Kimin.  Tangannya
memilin-milin rokok daun nipah.

   ”Dia manakiak, Mak,” jawab Bujang Sami masih sambil menekur.

   ”Kapunduang!  Urusan pribadi
yang diutamakannya!”

   Bujang Sami semakin tegang.  Dia tahu betul tabiat Mamaknya.  Sebagai salah 
seorang Tungganai Kaum Patopang, kadang tak sungkan bertindak keras kepada
anak kemenakan.

   ”Nanti malam kita lanjutkan di
Rumah Gadang.  Jangan sampai ada kaum
Patopang yang tidak hadir.  Kapan perlu,
suruh Kiri memukul canang!”

   Bujang Sami hanya sanggup
mengangguk.  Setelah diteguk kopi pahit
yang diseduh Amainya –istri Mak Kimin- dia bergegas meningkat jenjang rumah
semi permanen yang masih bau semen setelah direnovasi hasil menambang emas dua
pekan lalu.

 

 

   ”Bagamana, Da?” tanya Upik Sida pada Bujang
Sami –suaminya- sesampainya di rumah mereka yang beratap rumbia.

   ”Gara-gara Pidin tidak bisa
menyelesaikan urusan itu, aden yang
kena sirengeh Mak Kimin.  Kapunduang
paja tu!” umpat Bujang Sami ketus.

   ”Uda tidak usah ikut ribut.  Harta dapat dicari.  Tapi jika terjadi 
pertikaian ulah
memperkarakan harta, apa jadinya?”

   :Itu bukan kesalahan orang kampung
kita, Pik.  Dalam pembagian ulayat,
sungai kecil itu adalah batasnya.  Kami
mendulang emas tepat di tengah sungai itu. 
Tapi lantaran orang kita lebih dulu mendapat emas, mereka cemburu dan
mengeluarkan atur sepihak!” geram Bujang Sami sambil menggaruk-garuk kepalanya
yang penuh ketombe akibat selalu berpanas matahari saat mendulang emas.

   ”Lalu bagaimana keputusan Mak
Kimin?” Upik menghidangkan sepiring nasi lengkap dengan sayur pucuk ubi samba 
lado tanak.

   ”Beliau mengundang seluruh kaum
Patopang nanti malam untuk rapat di Rumah Gadang,” Bujang Sami menarik napas
pendek.

   Upik menarik napas panjang, ”Jadi
kapan kembali ke lokasi pendulangan?”

   ”Menunggu hasil rapat itu.”

   Sehabis maghrib Kiri mengguguh
canang dan berteriak memberikan pengumuman.

   ”Mudah-mudahan rapat dapat
memutuskan yang terbaik,” ujar Bujang Sami sambil memandang istrinya yang
sedang hamil dua bulan –anak pertama mereka. 
Kemudian meneguk kopi manis. 
Meraih kupiah yang tergantung di tiang utama rumah.  Lalu menapaki lantai 
menuju pintu yang
berjenjang tiga.  Sambil berharap hasil
musim mendulang tahun ini dapat mengganti jenjang kayu dengan jenjang
semen.  Dapat menukar atap rumbia dengan
atap seng.  Dapat mengganti dinding
anyaman dengan susunan papan.

   Rumah Gadang yang terletak tak
begitu jauh dari rumah Bujang Sami sudah diterangi lampu petromaks.  Beberapa 
laki-laki dari kaum Patopang sudah
mulai berdatangan.  Pergunjingan yang
agak meruncing sudah mulai membingar. 
Mengusik kelengangan Dusun Silokek yang terdiri dari tiga puluh tujuh
rumah.

   Bujang Sami mendehem sebelum
menaiki tangga Rumah Gadang.  Dilihatnya
Mak Kimin dan Pidin sudah bersitegang suara. 
Sedang janang berusaha
menguping saat menghidangkan kopi panas dan nasi ketan.

   Menjelang jam sembilan malam,
setelah sedikit basa-basi, Mak Kimin memulai pembicaraan secara resmi.  
Kemudian dimintanya Pidin, sebagai wakil kepala rombongan pendulang untuk
menjelaskan persoalan yang menjadi perkara.

  ”Penduduk Dusun Seberang Sungai
meminta kami membayar pajak,” Pidin langsung pada poko persoalan.

   ”Kenapa?” tanya seorang lelaki
berjenggot putih.

   ”Menurut mereka daerah pendulangan
kami telah memasuki ulayat mereka,” jawab Pidin.

   ”Apa mereka lupa batas
ulayat?  Sudah ketetapan pemerintah jika
sungai kecil itu menjadi batas dusun kita dengan Dusun Seberang Sungai?! Potong
Mak Kimin.

   ”Kami harus membayar sepuluh
persen harga penjualan setiap satu emas...”

   ”Itu tidak bisa!” rentakan suara
hampir memenuhi Rumah Gadang dimandori gelegar bariton ucap Mak Kimin.

   ”Memang tidak bisa!  Tentu kita tidak akan menyepakati peraturan
sepihak itu!” ulas Patih Sati, yang merupakan guru silat Mak Kimin dan warga 
Dusun
Silokek.

   ”Baiknya bagaimana, Datuk?” sela
Mak Kimin.

   ”Sebaliknya, kita tak bisa juga
memutuskan sepihak.  Harus berunding
dengan Ninik Mamak dan kepala dusun mereka,” suara parau mengandung wibawa.

   “Untuk apa lagi, Datuk?” sergah Mak
Kimin.  ”Bukankah sudah jelas tempat
penambangan itu termasuk ulayat kita!?” 

   ”Ya, Datuk.  Akan kita biarkan mereka meminta pajak di
ulayat kita!?” semangat Pidin.

   ”Tenang dulu.  Kita baru mendengar pengaduan sepihak dari
anak kemenakan kita.  Kita wajib meninjau
kebenaran dari pihak mereka.  Apa salahnya
kita melihat bersama-sama ke lokasi persengketaan itu.  Mungkin saja anak 
kemenakan kita memang telah khilaf?” Patih Sati mengedar
pandangan ke seantero Rumah Gadang.

   Suasana mendadak hening.  Hanya cericit pipit malam yang melengkapi
kelengangan.

   ”Lalu bagaimana selanjutnya?”
pancing Mak Kimin.

   ”Begini Tungganai,” Patih Sati
mencari bola mata Mak Kimin dengan sorot matanya yang tenang bagai air sumur
zam-zam.  Kemudian beralih pada mata
Pidin sambil menebar senyum harum. 
”Beberapa orang wakil serta kepala dusun sebaiknya berkunjung ke Dusun
Seberang Sungai.  Di sanalah kusut akan
diselesaikan.  Di situlah keruh akan
dijernihkan.”

 

 

Akhirnya rapat menyepakati usul Patih
Sati.  Dan, pada hari yang telah
ditentukan, rombongan akan berangkat dengan menggunakan perahu dayung, menuju
lokasi penambangan yang berdekatan dengan Dusun Seberang Sungai di hilir Batang
Kuantan.

   Bujang Sami termasuk ke dalam
anggota tombongan.  Sebelum berangkat,
dia sibuk mempersiapkan perlengkapan mendulang emas.  Peluh mulai membasahi 
pipi mudanya akibat
hangat cahaya mentari pagi.

   ”Apa rombongan Uda akan langsung
mendulang setelah berunding?” tegur Upik Sida sambil menyodorkan kopi manis.

   ”Belum tentu.  Tapi, tak ada salahnya bersiap-siap.”

   “Apa Pidin juga ikut?” pertanyaan
itu terlontar karena mantan kepala dusun itu pernah singgah ke rumah semasa
suaminya tak ada.  Tersirat rasa kecut
mengingat sorot nakal mata Pidin yang telah pula beristri dua.

   “Katanya, dia akan menyusul
setelah menambal perahunya yang bocor. 
Kenapa?” sebenarnya tak ada nada curiga, tapi tanya malah membuat Upik
Sida bermerah muka.

   Bujang Sami berdehem.

   Upik Sida menekur, “Hati-hati, Da,
musuh jangan dicari,” dialihkan topik pembicaraan.

   “Bertemu pantang dielakkan,” canda
Bujang Sami sambil menyongsong rombongan yang dipimpin Patih Sati.  Sebenarnya 
dia merasakan sesuatu yang tak
beres, tetapi panggilan emas lebih menarik perhatian.

 

 

Sebelum benar-benar senja, rombongan Dusun
Silokek telah sampai di lokasi pendulangan. 
Dan, seperti yang telah disepakati, mereka ditunggu oleh Ninik Mamak dan
Kepala Dusun Seberang Sungai.

   “Sebetulnya hanya terjadi salah
paham kecil antara warga kita,” langsung Kepala Dusun Seberang Sungai mulai
bicara mengingat malam akan segera tiba. 
“Kami mengeluarkan peraturan itu karena ada beberapa anak kemenakan kita
yang mendirikan pundun di pinggir
tebing.  Lubang tambang itu mengakibatkan
sawah yang di atasnya jadi terancam runtuh...”

   Patih Sati berdehem keras.

   Mak Kimin menyahut dengan batuk
pura-pura lebih keras.

   Lalu Patih Sati menggantikan ujar,
“Jika itu persoalannya, berarti keterangan Pidin berat sebelah.  Makanya, kami 
minta maaf,” dengan sportif
lelaki berkepala enam itu mengulurkan tangan mendahului Kepala Dusun Silokek
–barangkali, karena teringat silsilah Kaum Patopang, dia adalah kemanakan
Pidin, walau berumur lebih muda.

  
“Jika tak lagi membangun lubang tambang di pinggir tebing tentu pajak
itu tak perlu dibayar.  Lagi pula antara Dusun Silokek dan Dusun
Seberang Sungai adalah daerah yang bertetangga.  Bahkan, anak kemenakan sudah 
banyak pula yang
saling menikah.  Cuma...,” Kepala Dusun
Seberang Sungai seperti sengaja menggantung ucap.

   Kedua rombongan tentu saling
menunggu.  Tapi, bisik-bisik di dalam
rombongan Dusun Seberang Sungai, terdengar bernada miring.

   ”Lanjutkanlah,” pinta Patih Sati.

   ”Masih ada batas lain yang telah
dilanggar oleh salah seorang anak kemenakan kita,” lanjut Kepala Dusun Seberang
Sungai sambil menggerutapkan geraham.

   ”Maksud Pak Dusun?” potong Mak
Kimin.

   ”Piidin?” gagap Bujang Sami.  Ingatannya langsung melayang saat Pidin cigin 
dari lokasi penambangan, pekan
lalu.  Mengingat perangai kawannya itu,
waktu itu dia sengaja mengikuti, ternyata Pidin menyelusup ke pondok sawah
Pinah, padahal suami perempuan sintal itu sedang merantau ke Malaysia.

   ”Kami belum bisa memastikan.  Namun, kami berharap, persoalan itu juga bisa
diselesaikan dengan baik,” tutup Kepala Dusun Seberang Sungai sambil mengajak
berwudu untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah.

   Pati Sati gelisah.

   Mak Kimin lebih gelisah.  Matanya yang merah menatap Bujang Sami tanpa
berkedip.

   Bujang Sami lebih gelisah.  Sorot tajam mata Mak Kimin seperti mengandung
peringatan.  Padahal, Bujang Sami tak
dapat melupakan: bukan Pidin saja yang pernah menyelinap ke pondok sawah
Pinah.  Juga Lencun, Lobai, Kiri dan...
termasuk Mak Kimin!

   Bujang Sami mengendap-endap ke
arah mudik Batang Kuantan.  Menyusuri
jalan setapak sambil mempernyalang mata. 
Bergegas pulang, mengingat Pidin belum juga datang.

 

@ Diracik di negeri hilir
Batang Kuantan, dua tahun lalu dimasak lagi tahun dua ribu satu

 

Disalin ulang dari buku:

Waktu Nayla. 2004.  Cerpen Pilihan KOMPAS 2003.  Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS.

 

Helen Yahya
adalah nama lain Ferri Herlina, kelahiran Padang, 11 Februari 1971.  Ia adalah 
seorang guru SD di Sungai Gemuruh,
Kecamatan Koto VII, Sawahlunto Sijunjung, Sumatera Barat.  Sebelum mengajar di 
dekat ibu kota kabupaten
(Muaro Sijunjung), ia pernah mengajar di SD Negeri Silukah, sebuah negeri di
hilir Batang Kuantan, yang ditempuh dengan menggunakan perahu dan jalan kaki
selama lebih kurang delapan jam dari ibu kota kabupaten.  Pengalaman waktu di 
Silukahlah yang menjadi
inspirasi dalam penulisan cerpennya; walaupun cerpen-cerpen itu lebih banyak
dikoreksi untuk diri sendiri dan dibaca oleh kawan-kawan sejawatnya.



ZulTan L, 50, Bogor

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke