Ketika Papa Bercerita (9)

By : Rina 

 

 

Ketika RRI dibombardir oleh tentara pusat tahun 1958, Papa tengah belajar di
SMA B Bukittinggi kelas tiga. Sekarang SMA itu bernama SMA 2 Bukittinggi.
Sepupu dia yang bernama Nur'aena tengah pula belajar di SMPI di Jirek
Bukittinggi kelas 1 yang kelak menjadi pendamping hidup Papa. Papa langsung
teringat akan sepupunya itu lalu menyinggahinya untuk dibawa serta pulang ke
kampung di Desa Kalung Tilatang Kamang sekitar 8 km dari pusat kota
Bukittinggi. Sekolah SMPI bersebelahan dengan Sekolah PGA yang terletak di
Dokabu Jirek. Ketika saya tanya apakah saat itu mereka telah 'baintaian'
mereka sama-sama mengelak. Rasain no. penasaran kan..???. Simpan dulu ya
penasarannya..

 

Selama masa pergolakan itu Mama tidak diizinkan Inyiak (Paman) beliau untuk
melanjutkan kembali sekolah di SMPI Jirek. Banyak kisah mengerikan yang
sampai ke telinga para orangtua masa itu yang tidak berani melepaskan anak
gadisnya pergi jauh dari pengawasan mereka. Inyiak menyekolahkan Mama ke
Pekan Kamis, sekolah keterampilan putri yang mengajarkan segala macam
tentang keterampilan untuk gadis remaja kala itu. Termasuk memasak dan
menjahit pakaian. Mama berkawan dengan seorang istri Camat yang bergelar
Datuak Rangkayo Basa. Irma nama istri beliau. Banyak kegiatan yang mereka
lakukan. Mulai dari memasak bila ada kunjungan Orang pusat untuk Camat
sampai menari pasambahan dan gelombang untuk acara penyambutan. Sehingga
Mama lumayan aman di masa itu sebab kedekatannya dengan Camat Koto Malintang
Pekan Kamis Tilatang Kamang itu.

 

Pak Camat waktu itu berpihak kepada Tentara Pusat dan dia jugalah yang
membentuk sebuah pasukan khusus untuk penyergapan yang bernama Pasukan
Combad (baca : kombed). Pasukan yang sangat dihindari oleh pasukan PRRI yang
bergerilya sebab pasukan ini diambil dari orang kampung yang dilatih khusus
dengan persenjataan lengkap. Bahkan menurut Papa, pasukan ini lebih ditakuti
penduduk masa itu dari pada OPR. 

 

Irma istri Pak Camat dulunya adalah orang biasa di kampung. Sewaktu masa
perang dengan Belanda, Pak Camat ikut berperang. Waktu itu pertempuran pecah
di dekat pasar Pekan Kamis. Pak Camat sewaktu menggerakkan pasukan untuk
menyerang Pak Camat berdiri memberi komando, saat itulah dia kena tembakan
di bagian pahanya. Irma waktu itu bertugas sebagai Anggota Palang Merah. Dia
melihat Pak Camat tertembak langsung mendekati beliau dan menyeretnya ke
tempat yang aman. Pak Camat berhasil sembuh berkat Allah SWT melalui
pertolongan pertama dari Irma. Hubungan mereka kemudian berlanjut hingga Pak
Camat akhirnya mempersunting Irma, si gadis penolongnya itu ketika telah
sembuh.

 

Pamanku ada dua orang yang ikut keluar dari pihak Mama, sedangkan dari pihak
Papa adiknya. Menurut Mama, Nenekku (Alm) adalah seorang yang pemberani. Dia
selalu tegar dan menyemangati putra-putranya. Ikut keluar artinya memerangi
kelaliman. Pimpinan di daerah kita sudah memutuskan untuk berjuang maka
tetaplah berjuang.  Nenek ikut membantu dengan dapur umum ketika tentara
pusat belum masuk ke Kaluang. 

 

Kampung-kampung penuh dengan lubang mortir yang ditembakkan dari arah Pasa
(Bukittinggi kota). Lubang-lubang besar sebesar kubangan kerbau dengan
kedalaman kira-kira tiga meter yang melubangi apapun di kapung itu dimana
tetap ada hingga awal tahun 1980an. Selain mortir yang ditembakkan juga ada
serangan udara dari pesawat-pesawat tempur. Di atas Bukit Kaluang sebuah
bukit di desa itu selalu ada yang bersiaga, memberitahukan ke penduduk
ataupun tentara PRRI yang  berada di kampung bila terlihat iring-ringan
tentara pusat berjalan menuju arah kampung itu. Bila tanda diberikan,
biasanya Mama dan Nenek langsung bersembunyi di bawah kolong rumah yang
sudah dibikin Inyiak (Kakek) lubang persembunyian. Di atasnya ditaruh kasur
kapuk yang besar sampai dua lampis. Gunanya menghindari serpihan Mortir yang
jatuh. Namun bila mortirnya tepat ke dalam lubang, alamat mereka tinggal
nama.

 

Setelah kampung dikuasai Tentara Pusat, banyak orang laki-laki dewasa yang
menyingkir ke dalam Rimbo (Rimba) di Bukit Barisan. Rimba itu bernama Rimbo
Manduang. Di sana ada pesawangan yang diisi sawah penduduk dan beberapa
pondok kecil. Salah satu pondok itu adalah posko darurat Tentara PRRI dimana
ada sebuah Gong besar yang terbuat dari kayu yang ada lubangnya, mereka
menyebutnya Tontong. Bila dipukul dengan pemukul kayu khusus disitu akan
berbunyi gema pukulan yang terdengar sayup sampai ke kampung. Pukulan
Tontong dibedakan jadi beberapa kode supaya penerima pesan di kampung paham
maksud pemeberitahuan melewati bunyi Tontong yang sayup-sayup sampai itu ke
kampung. Orang kampung akan mengirimkan pesan berantai dan beberapa saat
kemudian sunyilah kampung. Ada yang bersembunyi di lubang ada yang bergegas
masuk hutan. Dusun itu bernama Sonsang, tempat kelahiran Papa dan saudaranya
yang mana hanya berjarak seratus meter saja dari terjalan perbukitan Bukit
Barisan di tengah-tengah pulau Sumatera.

 

Sebuah peristiwa tragis yang saya telah dengar dari beberapa orang tua
termasuk dari Papa dan Mama adalah terbunuhnya tiga orang laki-laki dewasa
yang bendirikan Dangau (Gubuk) di Rimbo Manduang itu. Mereka mengungsi ke
Rimba untuk keamanan diri daripada mati sia-sia di kampung, difitnah Tukang
Tunjuk atau semacamnya. Laki-laki dewasa bila berada di kampung tanpa ada
alasan misalnya sebagai Guru atau tenaga kesehatan akan langsung dicurigai
sebagai pasukan PRRI. Salah satunya bernama Mak Siagiar, Mak Idi dan dua
temannya. Di dangau tengah rimba itu hari itu mereka sedang memasak nasi di
bagian belakang dangau yang berfungsi sebagai dapur darurat. Tungku api
dengan kayu bakar yang tersedia melimpah disana. Ketenangan mereka
bersembunyi tiba-tiba menjadi porak-poranda diterjang sebuah mortir yang
meledak pas di tungku nasi mereka itu. 

 

Empat orang itu semuanya terkena ledakan mortir. Tubuh mereka tercabik-cabik
mengeluarkan darah yang menganak sungai. Periuk nasi pecah dan nasi
berserakan di sekitar mereka. Ketika orang kampung mendekati dangau itu,
terlihat ada satu orang yang masih bernyawa. Beliau adalah Mak Idi tetangga
Nenek di kampung Kaluang. Mak Idi langsung dibawa pulang ke kampung ketika
bunyi pesawat dan mortir telah berhenti senyap. Tontong dibunyikan kembali
dan kondisi kembali aman untuk sementara. 

 

Mama dan Nenek ikut menjemput Mak Idi yang dikabarkan orang terkena mortir.
Karena kondisi yang darurat, Mak Idi hanya dibawa dengan sarung yang
disangkutkan ke bilah kayu dan didegeng (dipikul) oleh empat orang.
Masing-masing memegang ujung bilah kayu itu. Mak Idi yang terluka parah di
kepala berayun-ayun dibawa turun dari rimbo Manduang yang berbukit-bukit
itu. Sepanjang jalan darah menetes dari luka kepala beliau itu. Bahkan Mama
sempat melihat benak beliau dari luka kepala yang terbuka itu. Namun Allah
SWT masih sayang pada Mak Idi. Beliau selamat hingga bisa hidup sampai
tuanya.Orang kampung selalu mengenang peristiwa bersejarahdi kampung Kaluang
itu bila melihat Mak Idi yang selalu berkepala plontos hingga tuanya.  Mak
Idi mendirikan lapau di samping mesjid Kaluang atas izin Inyiak sebagai
Angku Imam disana. Aku sering bermain di lapau Mak Idi yang ketika ku kecil
telah kupanggil Inyiak Idi. Aku suka kacang tujin (kacang bawang) yang
dibungkus kertas minyak warna-warni dengan bungkus berbentuk segitiga. Nyam.
nyam. nyam...

 

Sekitar tahun 1959 Papa masih berada di kampung di Sonsang. Sekitar dua
ratus meter ke arah pinggiran Bukit Barisan. Ketika itu Papa sudah bergabung
dengan tentara PRRI tapi masih berada di kawasan kampung sebab kampung belum
diduduki tentara pusat. Suatu hari  mendaki bukit Sonsang. Di atas bukit itu
ada sejata besar yang digunakan oleh pejuang PRRI untuk menembak tentara
pusat yang masuk ke kampung atau membalas serangan dari pesawat-pesawat
tempurnya. Sesampainya di atas hanya ada seorang tentara yang menjaga
senjata itu. 

 

"Kama nan lain? 

"Bi mancari paisok turun," jawab kawan Papa itu.

 

Tiba-tiba dari arah Koto Malintang datang satu pesawat tempur tentara pusat,
dimana biasanya mereka membombardir kampung dan bukit-bukit disekitaran
kampung. 

 

"Wak tembaklah," kata Papa ke tentara yang menjaga alat berat yang bernama
senjata ASE.

"Jadih,

"Masuakanlah piluru no tu, tu arahan".

"Yo, wak arahan ka muko pesawat tu.

 

Merekapun sibuk mempersiapkan serangan penyambutan untuk sang pesawat tempur
itu. Peluru dimasukkan, sejata diarahkan ke atas siap membidik sasaran.

 

Mulanya pesawat itu terbang tinggi, lama kelamaan merendah melewati mereka
bersiap untuk menghujani kampung itu dengan bombardier. Tepat ketika sasaran
telah terkunci, kawan Papa langsung menarik picu tembakan senjata itu.
Peluru itu mereka lihat jelas menembus arah depan dari pesawat. Pesawat itu
tetap terbang namun menjauh dari kampung dengan meninggalkan asap di udara.
Mereka tidak tau apakah pesawat itu akhirnya jatuh atau selamat kala itu.
Yang jelas mereka telah berhasil mengusirnya dari kampung.

 

Sekitar tahun 1971 Papa mendengar sebuah pesawat ditemukan di Bukik
dibelakang Danau Singkarak oleh peladang tebu disana. Di dalam pesawat itu
ada tulang belulang manusia ditemukan dua orang. Papa langsung pergi ke
tempat kawannya yang dulu sama-sama di atas bukit Sonsang itu menembak
sebuah pesawat pembom itu. Kawan Papa marah-marah waktu Papa mengingatkan
kembali kenangan itu, dan berasumsi bila yang ditemukan itu adalah pesawat
yang mereka tembak dulu itu. 

 

"Ondeh.Si Djas, nak kaditangkok si Djas bacarito mode tu dinan rami ko",
kebetulan mereka ketemu di pasar.

"Sia juo nan kamanangkok awak laih goh, kan awak lah diagiah amnesty, salah
merekalah manga manggaduah kampuang awak," jawab Papa mantap. 

 

 

Batam, Feb 17th, 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke