"> Semasa hidupnya, Natsir selalu rindu mengunjungi tempat masa kecilnya.
> Namun, karena kesibukan, keinginan itu tak pernah kesampaian."

Dalam merenungkan kembali dari kejauhan tempat dan waktu perkenalan dan 
pertemuan saya dengan Pak Imam (begitu panggilan kami pada Pak Natsir) 1958-59 
saya heran juga kenapa beliau tak pernah sampai kembali melihat Kampung Halaman 
tempat kelahirannya. Bahkan barangkali beliau juga tidak pernah menyebutkannya 
baik dalam cerita atau tulisannya. Saya regret karena tidak pula terbayang 
untuk menanyakan topik ini langsung kepada beliau. Hal ini hanya terbetik 
terketahui oleh para pencari data dan penulis tentang kehidupan Tokoh Mulia 
ini. Mungkin karena itu banyak orang awam menganggap beliau Orang Maninjau.

Keterkaitan nama Lelaki dari Lembah Gumanti itu bahkan hanya terasosiasi dengan 
nama Osman Gumanti seorang penari populer dalam filem-filem Malaya pada tahun 
1950an.

Salam,
-- Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California, USA 


--- In [email protected], "Darwin Bahar" <dbahar@...> wrote:
>
> Masa kecil Mohammad Natsir dihabiskan di berbagai tempat. Mulai dari Alahan
> Panjang, Maninjau, Solok, hingga Padang. Tempo mengunjungi beberapa tempat
> di antaranya.
> 
> http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/mbm.20080714.LK127
> 657.id.html
> 
> FOTO itu usang sudah: warnanya pudar dan kertasnya tak lagi mulus. Namun,
> hari itu, 3 Februari 1993, mendapatkan foto tersebut, Mohammad Natsir
> gembira bukan main.
> 
> Sambil berbaring, matanya tak lepas foto dengan gambar rumah beratap joglo
> dengan halaman yang luas itu. Tak jauh dari rumah tersebut terdapat sungai
> jernih dengan jembatan kayu jati berukir di atasnya.
> 
> Saat itu, Mohammad Natsir tengah terkulai lemah di sebuah ruang di Rumah
> Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Natsir meminta Hamdi El Gumanti, kini 60
> tahun, salah seorang pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Jakarta, mencarikan
> foto-foto semasa kecilnya di Alahan Panjang, Sumatera Barat.
> 
> Kota sejuk itu sangat istimewa bagi Natsir. Di sanalah, seabad silam dia
> lahir dan menghabiskan masa kecilnya, sebelum berpindah-pindah tempat
> tinggal.
> 
> Mendapatkan permintaan itu, Hamdi terbang ke Alahan Panjang. "Saya kaget.
> Sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu," katanya mengenang. Setelah
> membongkar berbagai album, akhirnya dia menemukan foto yang diinginkan
> Natsir. Segera dia kembali ke Jakarta. Syukurlah, dia tidak terlambat. Tiga
> hari setelah melihat-lihat foto itu, Natsir pun berpulang.
> 
> Semasa hidupnya, Natsir selalu rindu mengunjungi tempat masa kecilnya.
> Namun, karena kesibukan, keinginan itu tak pernah kesampaian. Pada 1970-an,
> dia pernah berencana menengok kampung bersama Syahrul Kamal, salah satu
> kolega. "Namun Syahrul Kamal keburu meninggal," kata Hamdi, yang juga masih
> terhitung kemenakan Syahrul.
> 
> Pada 1991, keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya kembali
> mencuat. Ketika itu Natsir memang tengah berkunjung ke Padang dan
> Bukittinggi, untuk meresmikan gedung Islamic Center. Rencananya, selepas
> acara itu, Natsir mampir ke Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau. Tapi
> rencana tinggal rencana. Mungkin karena terlalu bersemangat, ketika
> meresmikan Islamic Center, Natsir naik gedung hingga ke lantai empat. Sakit
> jantungnya kumat. Akhirnya, Natsir hanya sempat ke Solok. "Di sana, Bapak
> menunjuk beberapa tempat yang sempat diingatnya," kata kata Aisyah Rahim
> Natsir, anak kelima Natsir. Akhirnya, hanya kertas lusuh itu yang menjadi
> alat Natsir bernostalgia.
> 
> l l l
> 
> ALAHAN Panjang, yang dulu dikenal dengan nama Lembah Gumanti, adalah dataran
> tinggi yang subur. Kebun kopi, sayur-mayur, dan persawahan terhampar di
> sana.
> 
> Udaranya pun sejuk akibat sering disiram hujan karena terletak di kaki
> Gunung Talang. Danau kembar, yakni Danau Diatas dan Danau Dibawah, yang
> terdapat di kota itu membuat pemandangan Alahan Panjang rancak di mata. Di
> kota ini mengalir pula sungai Batang Hiliran Gumanti.
> 
> Sungai itu tak bisa dipisahkan dengan hidup Natsir. Di sebuah rumah di tepi
> sungai itulah Mohammad Natsir dilahirkan pada 15 Juli 1908. Muhammad Idris
> Sutan Saripado, ayah Natsir, yang saat itu juru tulis, tinggal bersama di
> rumah Sutan Rajo Ameh, saudagar kopi yang kaya-raya.
> 
> "Mungkin karena kakek saya bersahabat dengan ayah Pak Natsir sehingga mereka
> diajak tinggal di rumah itu," kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh.
> 
> Rumah itu besar dan berhalaman luas. Di sisi kirinya mengalir Batang Hiliran
> Gumanti, yang mengalir dari Danau Diatas. Oleh pemiliknya, keluarga Sutan
> Rajo Ameh, rumah dibagi dua: ia dan keluarganya tinggal di bagian kiri,
> sisanya ditempati Muhammad Idrus Saripado, istri dan anaknya.
> 
> Sayangnya, tidak banyak orang yang mengetahui kehidupan Natsir semasa di
> sana. Maklum, orang-orang yang satu generasi dengan Natsir sudah tidak ada.
> Selain itu, Natsir memang tidak lama tinggal di Alahan Panjang: sebelum dia
> masuk Holland Inlander School (HIS) atau sekolah rakyat, dia pindah ke
> Maninjau.
> 
> Satu-satunya orang yang mengenal Natsir kecil adalah Hamdi. Itu pun
> berdasarkan cerita Siti Zahara, neneknya. "Semasa kanak-kanak Natsir
> orangnya lugu, jujur, dan sudah kelihatan akan jadi pemimpin," kata Hamdi
> menirukan ucapan Zahara. Selain itu, masih mengutip ucapan Zahara, Natsir
> juga suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga. "Dia kerap merapikan kamar
> tidur dan suka membantu mencuci piring."
> 
> Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga kerap
> pergi ke surau, yang tak jauh dari rumahnya, untuk mengaji. Surau itu
> bernama Surau Dagang, didirikan para pedagang dari nagari-nagari di sekitar
> Alahan Panjang. Dalam buku biografi memperingati ulang tahunnya yang ke-70,
> dikisahkan ketika kanak-kanak, hampir setiap malam, Natsir memilih tidur di
> surau berselimut kain sarung.
> 
> Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang
> bekerja sebagai pegawai kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang,
> Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian
> pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah. Tak lama berselang, dia
> pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke
> Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya
> sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di
> Bandung.
> 
> Kini, Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti masih berhawa
> sejuk. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas. Namun tempat
> kelahiran Natsir agak berubah. Dihajar bom Belanda dalam agresi militer,
> rumah dibangun kembali pada 1957. Kini rumah yang dihuni seorang kerabat itu
> lebih kecil dari ukuran sebelumnya.
> 
> Di samping kiri rumah masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya
> yang jernih. Jembatan masih ada namun sudah diganti beton. Meski demikian,
> nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir. Nama Natsir juga
> diabadikan sebagai nama salah satu pesantren selain juga nama perpustakaan
> yang menyimpan buku-buku karyanya.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke