Pengantar :

 

Assalamualaikum WrWb.

 

Dek mak ngah lah aktif baliak sepulang dari kampung, apolai semangat baliau
kalua baliak soal kenangan lamo, jadi takana pulo kapulangan mak ngah yang
dulu nan ditulis dan dimuek di Koran Online Lokal samaso itu.

 

Semoga pulang nan kini juo ado laporan seperti dulu itu mak, moga2 sidi
bobby jadi manulis, dan mamasuak an pulo dikoran :)

 

Wassalam

Nofend/34+/M-CKRG

 

=> MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!!

Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat
dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang,
Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi
Sumatera Barat.

 

==================

 

[RantauNet.Com] RantauNet, Membuat Kampung di Depan Mata

Nusrizar, Tue, 17 Sep 2002 19:05:32 -0700

 

RantauNet, Membuat Kampung di Depan Mata

 

Padang, mimbarminang.com  Semestinya setahun yang silam ia hendak pulang
lantaran sudah sedemikian taragak dengan kawan-kawan lama. Tapi baru kali
inilah saya bisa pulang, kata Sjamsir Sjarif (67) dengan mata redup. 

                           

Ia menanahan kesedihan. Maklum, harapannya setahun lalu itu ia masih bis
bertemu dengan Sjofjan Asnawi, konco arek nya. Tapi ia mendapat kabar duka,
Sjofjan yang mantan Rektor Universitas Bung Hatta itu sudah mendahului
Sjamsir menghadap Sang Khaliq. 

 

Kalau Anda tak pernah ikut berwara-wiri di miling list paguyuban urang awak
di internet, tentu tak akan pernah mendengar nama itu. Sjamsir adalah 

satu dari sedikit orang yang mau bersusah payah menegakkan panji-panji situs
tempat berkumpulnya urang awak di dunia maya. Situs yang didirikan pada awal
tahun 1990an itu bernama RantauNet. 

 

Bersama dengan Agus Daniel, N.Kosky, St.Kayo, Jusfik dan sejumlah nama lain,
Sjamsir tiap hari mengurusi diskusi macam-macam soal Minangkabau di 

internet. Ia sendiri berpangkalan di Santa Cruz California, AS. Sedang yang
lain seperti St.Kayo misalnya di Kanada, Jusfik yang terkenal dengan nama
Jusfik Antena adalah lelaki asal Cingkariang Banuhampu mengambil homebase di
Belanda. 

 

Sjamsir, master antropologi dari University of Ilionis itu merasa paruh
kedua dari perjalanan hidupnya mesti dibaktikan  ke kampung halaman dalam 

bentuk lain. Yakni mempertemukan orang-orang Minang seluruh dunia di
RantauNet. 

 

RantauNet itu sendiri sudah menghimpun seribuan orang Minang dari berbagai
negara. Tiap jam, server RantauNet yang sudah mengalami pergantian
berkali-kali menjadi penuh dengan email. Isinya macam-macam. Dari sekedar
gurauan sampai ke hal-hal serius tentang Ranah Minang. 

 

Pria yang sampai kini masih kuat berenang 67 lap (sesuai dengan jumlah tahun
usianya) terpasah ke negeri Paman Sam setelah pasca PRRI. Dihitung-hitung,
ia sudah bermukim di AS selama 36 tahun. 

 

Saya meninggalkan kampung pada tahun 1966, setelah berbagai lapangan kerja
yang saya cari tidak terbuka, kenangnya, dalam kesempatan bertemu Mimbar
Minang. 

 

Sebagai seorang aktivis PRRI, ia merasakan betapa pandangan Jakarta terhadap
orang-orang sepertinya begitu tak bersahabat. Selama masa PRRI ia 

bergabung dengan kawan-kawan mahasiswa ke hutan. Ia ikut bersama Sjofjan
Asnawi, Moestamir Makmoer, Saidal Bahauddin, M.Zen Djamil dan lain-lain. 

 

Terakhir saya masih bersama Saidal Bahauddin di Radio Dewan Banteng, saya
jadi salah seorang penyiar berita, katanya. Radio Dewan Banteng yang
dipancarkan pada gelombang 58 meter itu bermarkas di hutan kawasan Sumpur
Kudus. 

 

Kekalahan PRRI menyisakan kekecewaan pada dirinya. Sebagai seorang bekas
guru, ia mencoba melamar menjadi guru pemerintah kembali. Tetapi selalu saja
tak diterima, dengan berbagai alasan. 

 

Maka sepanjang tahun 1963-1966 ia mendapat kesempatan menjadi pendampaing
seorang antropolog AS bernama Nancy Canner yang tengah mengadakan penelitian
di Sumatra Barat. Jadilah saya masuk kampung keluar kampung dengan
menggunakan mobil VW yang sengaja dibawa Nacy dari AS. Kami mewawancarai
berbagai tokoh masyarakat di kampung-kampung, kenang Sjamsir, pria kelahiran
18 April 1935 di Biaro Agam itu. 

 

Setelah masa panjang persahabatannya dengan perempuan AS itu, ia memutuskan
merantau ke AS. Atas referensi NAcy, ia mencoba mengurus visa di 

Kedubes AS di Jakarta. Kala itu, perjalanan ke negeri antek nekolim sangat
dibatasi. 

 

Namun kegigihan jualah yang melerai. Ia diizinkan pergi ke AS pada 11 Maret
1966. 

                           

Dengan menggunakan visa turis, ia masuk ke AS. Semula ia tidak tahu mau jadi
apa ia di negeri itu. Tapi saran-saran dari Nacy membuatnya mencoba 

menambah ilmu di sana. Ia masuk ke UCLA guna memperdalam bahasa Inggrisnya.
Setahun kemudian ia pindah ke UC Davis. Selama masa belajar itu menyambi
berbagai pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di sana.  Itu adalah
masa-masa sulit yang saya lewati, kenang dia. 

 

Awal tahun 70an barulah ia berhasil menyelesaikan masternya. Itupun setelah
pindah pula ke University of Ilionis untuk program studi Antropologi. 

 

Selepas itu ia mendapat kesempatan bekerja Universitas California Santa
Cruz. Bahkan ia diangkat menjadi Director, Third World Teaching Resource 

Center. Hidup enak mulai ia rasakan. Perasan lega setelah menerima berbagai
perlakuan tak enak selama pasca PRRI di Indonesia kini merasukinya. 

 

Tahun 1985 ia sudah mengantongi status permanent resident dari pemerintah
AS. Tapi begitu status tersebut ia peroleh, tak lama kemudian ekonomi AS 

melesu. Pada 1993, terjadi PHK besar-besaran untuk orang-orang asing yang
bekerja di Universitas-universitas AS. Untungnya, meskipun program yang
dijalankan Sjamsir termasuk yang dihentikan, ia masih diperbolehkan
melanjutkan program yang terbengkalai selama setahun. 

 

Tapi sejarah berkata lain, ia akhirnya benar-benar tak lagi berjodoh di
UCSC. Akhirenya ia memilih pensiun lalu menggeluti berbagai usaha untuk 

mencukupi kebutuhan. Mulailah ia menekuni bidang penerjamahan dan
interpreter. Ia bergabung ke dalam Asosiasi Penerjemah California Utara dan
Indonesia Professional Association (IPA). 

 

Rupanya di situ letak karir saya. Tiap hari saya menghabiskan waktu sekitar
lima sampai enam jam untuk menerjemahkan berbagai order dari asosiasi,
katanya. 

 

Jika kebetulan Anda adalah pemakai printer Hawlett Packard (HP) maka
petunjuk pemakaian dalam bahasa Indonesia adalah karya Sjamsir. Sebuah
pabrik Ponsel di Inggris juga memberinya order untuk menerjemahkan petunjuk
pemakaian Ponsel tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Yang paling
membahagiakan adalah ketika saya diberi order membuat manual semua peralatan
mekanik untuk PT Freeport Indonesia. Seluruh petunjuk dalam bahasa
Indonesia, sayalah yang menbuatkannya, kata suami dari Siti Saadiyah yang
dinikahinya pada tahun 1987. 

 

Pada pasca lepasnya Timor Timur, ia mendapat kabar bahwa konsultan pembuat
Undang-undang untuk Timor Lorosae  adalah dari AS. Eh, tak lama rupanya saya
diminta pula menerjemahkan UU versi bahasa Indonesia oleh sang konsultan,
katanya. Hasilnya, ia dapat berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah
haji. 

 

Berkali-kali pula ia mendapat kehormatan sebagai interpreter bagi
perkara-perkara pengadilan AS yang melibatkan orang-orang Indonesia. Salah 

satu yang dikenangnya adalah ketika ia diminta Bank BNI untuk menjadi
interpreter dalam sebuah perkara yang melibatkan bank milik pemerintah RI
itu di AS. 

 

Sekarang order tetap dia terima dari MasterCard dan VisaCard. Jika kebetulan
Anda adalah klien MasterCard, maka kalau ada telepon untuk Anda dari 

pusat MasterCard di AS, itu dipastikan adalah suara Sjamsir Sjarif. Untuk
pekerjaan itu saya terpaksa standby 24 jam di rumah. Karena urusan antara
MasterCard dengan nasabahnya tak siang tak malam. Tengah malam buta kadang
saya terpaksa bangun menjawab telepon mereka, lalu memberi penjelasan kepada
nasabah orang Indonesia, ujar dia. 

 

Kini setelah usia senja, kerinduannya untuk pulang kampung sedemikian
kuatnya. Maklum, ia baru pulang menjenguk emaknya setelah menghilang selama
20 tahun lebih. Ia pulang pada tahun 1985. 

 

Pekan-pekan ini ia sempatkan mengunjungi teman-teman lamanya. Yang sudah
bertemu dengannya adalah Moestamir Makmoer dan Saidal Bahauddin. 

 

Mau menetap di kampung halaman? 

 

Ooo, saya tidak tahu. Saya ingin tetap menjalani hidup ini bak air mengalir
saja. Di alam globalisasi ini jarak 0tak lagi jadi persoalan, saya  akan
kembali ke AS, katanya. Dan tetap akan mengurus RantauNet bersama para
simpatisan lainnya. Ia tetap membuka pintu rumahnya di 335 Gault St., Apt. 1
Santa Cruz, California. Kantong emailnya di tetap terbuka untuk dikunjungi. 

 

Menurut dia RantauNet telah menjadi pembuhul orang-orang awak di mancanagara
dan kampung halaman. RantauNet membuat kampung halaman serasa di  depan
mata, katanya. Selamatlah! (eko)

 

Diulas di koran Mimbar Minang, Padang edisi Rabu 18 September 2002
(www.mimbarminang.com)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke