Di Bandung, jalan hidup Natsir berbelok. Perjumpaannya dengan A. Hassan dan
keaktifannya di organisasi Islam membuat Natsir memutuskan menolak beasiswa
ke Belanda. Ia pun mendirikan sekolah Islam modern pertama di Indonesia.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/mbm.20080714.LK127
660.id.html

Lebar jalan itu 1,5 meter. Hanya cukup dilalui satu mobil. Tak panjang, cuma
sekitar satu kilometer. Sepi. Tak ramai mobil melintas di jalan yang
terletak dekat Jalan Otto Iskandar Dinata, Bandung itu. Papan nama jalan itu
pun sudah tidak terlalu jelas. Huruf-hurufnya kabur digosok usia. Namun toh
tetap bisa dibaca: Jalan Pakgade.

Pada zaman Belanda, namanya Gank Belakang Pakgade. Menurut sejarawan Ajip
Rosidi, dulu banyak orang keturunan India berkulit keling tinggal di situ.
Tapi kini hampir tak tersisa. Kalau belakangan Anda sempat lewat jalan itu,
ada tanah kosong tak berbangunan di sana. Entah, kini milik siapa. Tapi,
"Setahu saya, dulunya di situ rumah Hassan," kata Tan Kim, 53 tahun, yang
tinggal di jalan itu. "Hassan siapa, saya tidak tahu."

Hassan yang dimaksud adalah Ahmad Hassan, pria keturunan India asal
Singapura yang kemudian menjadi ahli agama di organisasi Persatuan Islam
(Persis). Ia tinggal di Bandung pada akhir 1920-an, setelah turun kapal di
Surabaya. Dan di rumah Hassan di Jalan Pakgade itulah Mohammad Natsir kerap
datang untuk menimba ilmu agama.

Bahkan, dari diskusi-diskusi sore hari di sanalah, jalan hidup Natsir
berbelok. Natsir muda yang awalnya bercita-cita menjadi ahli hukum itu pun
mulai tertarik (lagi) dengan agama dan memutuskan untuk melempar kesempatan
kuliah hukum.

Perjumpaan keduanya terjadi ketika Natsir berumur 20 tahun dan duduk di
kelas 5 Algemeene Middelbare School (2 SMA). Adalah Fachroeddin
Al-Khahiri-pelajar AMS keturunan India yang bertubuh tinggi, bersuara
lantang, agak emosional, penggembira, dan kalau tertawa berkakakan-yang
membawa Natsir ke rumah A. Hassan. "Pemikiran maju Natsir bertemu dengan
pemahaman agama Hassan yang reformis, maka cocok sekali," kata Ketua Umum
Persis KH Shiddiq Amien. Mereka cocok, meski usia terpaut 20 tahun.

Kecocokan itu yang membuat Natsir kerap singgah. Kadang dengan Fachroeddin,
tapi lebih sering sendiri. Menurut kesaksian Natsir, di rumahnya yang amat
sederhana, di belakang Pajak Gadai, Bandung itu, Hassan menulis, mengedit,
mencetak, bahkan mengepak sendiri buku yang diterbitkannya. Sebuah mesin
cetak kecil dengan leter timah diletakkan di atas ampar di beranda rumah
itu. "Tertarik benar Aba kepada Tuan Hassan itu," tulis Natsir dalam surat
kepada anak-anaknya. "Beliau seorang alim yang original. Beliau seorang ahli
perusahaan yang praktis."

Meski amat sibuk, Hassan, yang ahli menggesek biola seperti Natsir, selalu
menghentikan kegiatannya begitu Natsir datang, dan mengajaknya
bercakap-cakap. "Percakapan dan pertukar pikiran dengan Tuan A. Hassan itu
banyak sekali pengaruhnya bagi jiwa dan arah hidup Aba selanjutnya. Sudah
tentu yang dibicarakan soal agama. Dicampur dengan soal politik, soal
pergerakan kemerdekaan," tulis Natsir dalam suratnya.

Diskusi itu kembali membangkitkan minat Natsir pada agama, yang pernah
dipelajarinya di Solok, "Tetapi sudah bertahun-tahun terbengkalai." Natsir
mulai kembali mempelajari bahasa Arab dan Al-Quran dari dua terjemahan yang
diberikan A. Hassan, terjemahan bahasa Inggris oleh Muhammad Ali dan Tafsir
Al-Furqan karya A. Hassan. Begitu bersemangatnya Natsir mempelajari Islam,
hingga hampir-hampir ia ketinggalan pelajaran di sekolah.

Sebenarnya, menurut pengakuan Natsir, ada tiga guru yang mempengaruhi
pemikirannya. A. Hassan, Haji Agus Salim, dan Ahmad Sjoorkati. Yang terakhir
adalah ulama asal Sudan, pendiri Al-Irsyad, dan juga guru A. Hassan. Tapi
intensitas pertemuanlah yang membuat Natsir lebih dekat kepada Hassan.

Setelah menjadi wakil Fachroeddin dalam Jong Islamiten Bond Bandung, Natsir
kian kerap berkunjung. Setiap sore. Yang membuat Natsir betah datang adalah
keterbukaan dan kelugasan Hassan dalam beragama. Berbeda dengan kiai dan
ulama tradisional yang menjejalkan ilmu dan tak mau dibantah, Hassan
cenderung menyuruh Natsir mencari sendiri jawaban akan keingintahuannya.

Hassan yang lancar berbahasa Arab dan Inggris itu, bersama para pendiri
Persis, memang memelopori pendekatan baru dalam beragama. Dia melarang
taklid (membebek) pada pendapat ulama, membolehkan umat Islam membuat fatwa
sendiri menurut zamannya, dan menghilangkan batas-batas mazhab yang
membelenggu. Bahkan tak segan ia mengubah pendapatnya jika muridnya
mendapati dalil yang lebih sahih.

"Karena Natsir bergabung dengan tokoh pendiri Persis dan A. Hassan, maka
Natsir mendapatkan pemikiran baru yang tercerahkan. Natsir muncul sebagai
tokoh intelektual muda," kata Profesor Dadan Wildan, guru besar Universitas
Padjadjaran yang pernah menjadi Sekretaris Umum Persis.

Tapi bukan hanya Natsir yang terpengaruh. Meski tak pernah masuk
kepengurusan Persis, Natsir dianggap memberi warna modern pada organisasi
ini. "Sehingga Persis waktu itu dikenal sebagai kelompok modernis atau
pembaharu dalam Islam," kata Shiddiq Amien. Natsir jugalah yang
memperkenalkan sistem organisasi yang modern dan tertib di Persis.

Pertemuannya dengan Hassan dan para tokoh Persis membuat Natsir banting
setir. Cita-citanya untuk dapat menjadi meester in de rechten, seorang ahli
hukum, pun ditanggalkannya. Padahal, ketika menerima ijazah AMS Afd AII pada
1930 yang berangka memuaskan, Natsir berhak mendapat beasiswa kuliah di
fakultas hukum di Batavia atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, Belanda.
"Aneh! Semua (beasiswa) itu tidak menerbitkan selera Aba sama sekali," tulis
Natsir kepada anak-anaknya.

Menolak beasiswa sebesar Rp 130 sebulan, Natsir memilih mendirikan sekolah
partikelir dengan gaji Rp 17,50. Setelah berdiskusi dengan Hassan, Natsir
merintis sebuah sekolah kecil di Jalan Lengkong Besar Nomor 16. Untuk
mengirit ongkos hidup, ia pindah dari kontrakannya di Ciateul ke gedung
sekolah. Tinggal di satu kamar dekat dapur.

Ini adalah proyek idealis. Ia ingin membuat lembaga pendidikan Islam yang
modern. Jauh dari kesan pesantren dan madrasah pada saat itu. Ia ingin
menggabungkan ilmu pengetahuan umum yang diajarkan di sekolah Belanda dengan
pelajaran agama Islam. "Maka sistem pendidikan Islam itu, ringkasnya, adalah
ditujukan kepada manusia yang seimbang. Seimbang kecerdasan otaknya dengan
keimanannya kepada Allah dan Rasul," kata Natsir.

Meski memiliki lembaga pendidikan sendiri, Natsir tidak melupakan Persis.
Menurut Shiddiq Amien, Natsir jugalah yang mempengaruhi sistem pendidikan
pesantren Persis pertama di Jalan Pajagalan, Bandung. Tidak seperti di
pesantren tradisional yang santrinya mengaji ramai-ramai, pesantren Persis
mewajibkan santrinya masuk kelas. Di Persis, santri setingkat SMA sudah
diajar psikologi, sosiologi, logika Yunani, dan astronomi. "Pak Natsir juga
yang memperkenalkan sistem administrasi dalam pendidikan pesantren,"
tuturnya.

Natsir saat itu masih berusia 23 tahun. Ia hanya punya semangat. Bahkan
sebelum mengambil kursus guru selama setahun, dia sama sekali tak punya
teori soal membuat sekolah. Rumah kecil yang menjadi cikal bakal sekolah
Pendidikan Islam (Pendis) itu pun tak mampu menampung banyak murid.

Peruntungan sekolah Natsir berubah pada suatu sore. Bertongkatkan payung
hitam, Pak Haji Muhammad Yunus-orang kaya, salah seorang tokoh Islam saat
itu-mendatanginya di gedung sekolah. Mukanya berseri-seri tatkala berkata
kepada Natsir: "Ada gedung yang lebih besar akan kosong. Di jalan ini juga,
nomor 74. Ruangannya lebih banyak, halamannya luas, tempat murid bermain,"
kata Yunus.

Di situlah ide Natsir mulai membuahkan hasil. Dengan mengurangi hafalan,
Natsir menstimulus muridnya berpikir mandiri dan tidak minder. Khotbah Jumat
tidak diberikan oleh guru atau ustad, tapi juga oleh murid. Mereka juga
diajari berkebun di lahan satu hektare di Ciateul. Mereka bahkan, "Belajar
piano untuk meninggikan nilai belajar mengaji."

Murid juga diminta membuat sendiri lagu-lagunya, "Agar tidak membeo kepada
nyanyian yang sudah ada." Setidaknya sekali setahun para murid diminta
mementaskan lagu, sandiwara, musik, dan kerajinan tangan. Tonil Sekolah
Pendis saat itu bahkan amat terkenal di Bandung.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke