Assalamualaikum wr wb

mak Darwin sarato angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta RN nan
ambo muliakan,

Salah satu penyebab menyusutnya keuntungan petani dalam budidaya padi
adalah masih adanya faktor kapitalism di sana, yaitu kebutuhan akan
pupuk an organik yang diproduksi oleh perusahaan besar. Nan tabedo,
alah harago maha, barangnyo pun sarik pulo dicari. Padahal seluruh
supllier menerima izin distribusi dari kepala daerah setempat.

Syukur alhamdulillah saat ini sudah diperoleh jalan keluar dijeratan
kapitalism ini, yaitu pengembangan pertanian organik yang memproduksi
pupuk sendiri dikalangan petani. Untuk itu diperlukan koorporasi antar
sesama petani yang kita sebut dengan gapoktan.

Saya masih muda, baru 32 th & insya Allah apabila diberi kesehatan
mungkin diberi waktu beberapa puluh tahun lagi oleh Allah azza
wajalla. Prediksi saya, kedepan jeratan kapitalism ini akan semakin
menguat, mengikat tubuh kita dari kepala hingga kaki. Apabila di
nagari-nagari ranah minang tidak segera membentuk jaringan koorporasi,
tinggal menunggu waktu akan terjerat tuntas oleh mahluk yang bernama
kapitalism ini.

Untuk itu, perlu dikejar terus menerus, agar nagari terhubung ke
seluruh masyarakatnya, yang tersebar dipenjuru nusantara hingga manca
negara. Mulai merajut benang-benang jejaring antar nagari se ranah
minang & seluruh perantauan. Saya kira, pesan yang disampaikan oleh
alm. Bung Hatta akan semakin jelas, kalau kita tidak segera merajut
koorporasi ini, akan semakin digiling bangsa-bangsa maju yang memegang
supremasi teknologi & ilmu pengetahuan.

Berharap kepada pemerintah ? Saya tidak mau membuang-buang waktu &
harapan untuk itu. Sejak 1998 ketika rezim orde baru tajungkang, ada
secercah harapan dengan apa yang dilakukan presiden Habibie dimana
perekonomian negara kita mulai membaik dengan dicapainya nilai tukar
rupiah hingga Rp.6.000 per $1. Namun saat ini, setelah 12 tahun
berlalu, saya melihat tidak ada perubahan, malah semakin bertambah
sulit. Lagi pula untuk apa menyandarkan harapan pada pejabat-pejabat
yang bersandar pada kepentingan politik & kelompok, bukan kepada
kepentingan masyarakat banyak.

Sejarah perjuangan bangsa ini, sejak awal abad ke 20 memberi pemahaman
kepada saya, bahwa kekuatan civil society jauh lebih berharga dari
pada kekuasaan. Bagaimana kita sebagai bangsa bisa merdeka,
mempertahankan kemerdekaan yang masih berusia muda dengan PDRInya,
hingga kejatuhan 2 rezim penguasa negara ini, semuanya dimulai dengan
civil society yang mengedepankan kepentingan rakyat.

So, selamatkan nagari & selamatkan ranah minang.Hanya itu yang saya
punya sebagai anak bangsa yang masih tersisa cukup utuh.
Dengan cara civil society, bukan dengan parpol-parpol-an atau politik-
politikan, banyak maaf.

wasalam

AZ/lk/32th
Padang



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke