Pak Ephi, iko ado ciek curito lamo dari mak Lembang.

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of Muhammad Dafiq Saib
Sent: Sunday, June 15, 2008 2:39 PM
To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] AIR MANCUR

 

Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

 

Carito nan lain lo ciek lai.......

 

AIR MANCUR

 

Aku dalam perjalanan menuju Bukit Tinggi, untuk mengikuti sebuah seminar yang 
dilangsungkan di kota itu. Dari kantor kami ada dua orang utusan, aku dan 
Suprapto. Kami berangkat bersama-sama dari Jakarta. Suprapto berharap akan 
lebih menikmati kunjungan ke Bukit Tinggi karena berangkat bersamaku. 

 

Dari bandara kami langsung menuju Bukit Tinggi dengan sebuah taksi. Prapto 
sudah untuk ketiga kalinya berkunjung ke Sumatera Barat. Dia sangat mengagumi 
keelokan pemandangan di negeri ini seperti yang diceritakannya kepadaku. Kami 
berbincang-bincang santai.

 

Tak terasa, kami sudah memasuki lembah Anai, dengan jalan berliku di bawah 
tebing terjal berbatu. Aku mengingatkan sopir taksi agar nanti berhenti di Air 
Mancur. Prapto yang sedikit mengerti bahasa Minang menoleh kepadaku sambil 
tersenyum.

 

‘Pasti kau mengingatkan pak sopir untuk berhenti di air terjun lembah Anai,’ 
katanya.

 

‘Benar. Rupanya kau mengerti bahasa Minang,’ jawabku.

 

‘Aku mengerti ketika kau menyebutkan nama dengan istilah yang salah kaprah itu. 
Kalian menyebut air terjun itu air mancur. Bukankah itu keliru ?’ Prapto 
berkomentar agak sedikit berlebihan.

 

‘He.. he..he.. kau yakin itu salah kaprah?’ tanyaku.

 

‘Ya, iyalah. Kau tentu mengerti arti kata memancur. Air yang menyembur ke atas. 
Menyembur ke atas itu yang disebut memancur. Masak kau tidak pernah melihat air 
mancur di depan Hotel Indonesia?’ dia semakin sok tahu.

 

‘Bagaimana dengan air mata?’ aku memancing dengan sebuah pertanyaan.

 

‘Maksudmu? Apakah air mata juga sama dengan air macur, begitu?’

 

‘Bukan. Apa istilahnya ketika air mata keluar? Ketika kita menangis?’ tanyaku 
lagi.

 

‘Ya mengeluarkan air mata. Aku tidak mengerti maksudmu,’ jawabnya agak sedikit 
bingung

 

‘Pernah mendengar istilah mencucurkan air mata?’ tanyaku.

 

‘Ya, pernah. Mencucurkan air mata. Artinya mengeluarkan air mata. Artinya 
menangis. Apa hubungannya?’

 

‘Begini, den Mas. Mencucur  itu artinya keluar dari suatu tempat, lalu setelah 
itu jatuh. Mencucurkan air mata, artinya mengeluarkan air dari mata dan 
akhirnya air mata itu jatuh ke bawah. Ke pipi, ke sisi hidung. Itu artinya 
mencucur. Ketika yang mengeluarkan air itu adalah mata, kita menyebut 
mencucurkan air mata. Nah, sebentar lagi kau akan melihat air mencucur. Air 
jatuh dari sela batu di atas bukit yang ketinggian. Dalam bahasa Minang disebut 
ayia mancucua, yang oleh karena pengucapan secara cepat berubah menjadi ayia 
mancua. Nah! Apakah kau masih menyangka kami sala kaprah?’ 

 

‘Oo. Jadi begitu ceritanya. Lalu apa bahasa Minangnya air mancur ?’

 

‘Air mancur sebenarnya juga bukan bahasa Indonesia yang benar. Yang benar 
adalah air memancur. Dalam bahasa Minang disebut ayia manyambua. Atau air 
menyembur dalam bahasa Indonesia.’

 

‘Tapi, sebentar. Bukankah orang Minang juga mengenal kata pancuran? Apakah ini 
juga seharusnya pancucuran?’

 

‘Awalan pan atau pen dalam bahasa Indonesia menunjukkan tempat. Akhiran an 
menunjukkan kejadian yang berulang atau berketerusan. Nah, lalu apa kata 
dasarnya? Pasti bukan cur. Cur tidak ada maknanya. Yang ada makna adalah cucur. 
Jadi yang benar, adalah pencucuran atau dalam bahasa Minang  pancucuran. Dalam 
pengucapan terjadi penyederhanaan menjadi pancuran. Dalam bahasa Indonesia 
disebut secara salah kaprah lagi, seperti istilahmu, pancuran. Orang Jakarta 
menyebutnya pancoran.’’

 

‘Hebat juga analisamu.’

 

‘Aku bukan ahli bahasa. Aku bahkan tidak tahu istilah yang tepat untuk 
pemendekan ucapan seperti mancucua menjadi mancua tadi.’

 

‘Baiklah. Aku ralat dan aku cabut pernyataanku bahwa orang Minang salah kaprah 
ketika menyebut Ayia Mancua di Lembah Anai,’ ujar Prapto tersenyum.

 

Taksi kami terus melaju. Di sebelah kanan, terlihat sungai dengan batu-batu 
besar di dasarnya. Lebih jauh lagi adalah tebing yang ditumbuhi pohon kayu yang 
cukup rapat. Di bawah pohon-pohon kayu itu adalah semak belukar. Taksi ini 
berhenti di pelataran parkir sekitar 50 meter dari Ayia Mancua. Aku dan Prapto 
turun dari mobil. Kami berjalan mendekati kolam di dasar air terjun. Prapto 
membasuh mukanya dengan air dingin yang sejuk itu. 

 

Kami berjalan-jalan  di sekitar tempat itu. Melihat ke arah lembah dengan 
batang air di bawah. Dengan rel kereta yang bagaikan tergantung di atas lembah. 

 

Kami kembali ke taksi untuk meneruskan perjalanan. 

 

‘Tempat ini sebenarnya mempunyai makna tersendiri bagiku,’ ucap Prapto 
seolah-olah kepada dirinya sendiri, ketika kami mulai melanjutkan perjalanan.

 

‘Tempat ini? Ayia mancua atau Lembah Anai ini?’ tanyaku.

 

‘Aku tidak tahu tempatnya yang pasti. Tapi ayahku dulu terkorban disini,’ 
tambahnya.

 

‘Maksudmu korban lalu lintas?’

 

‘Bukan. Beliau gugur sebagai anggota TNI yang dikirim memerangi PRRI di tahun 
1958. Aku belum lahir ketika itu.’

 

Aku terdiam mendengar ceritanya. Kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. 

 

‘Tahun 1958?’ tanyaku memecah kesunyian.

 

‘Ya di sekitar bulan Mai 1958. Begitu menurut cerita yang aku dengar. Rombongan 
ayahku dihadang pasukan PRRI di Lembah Anai ini. Beliau terkorban bersama 
beberapa orang tentara lainnya. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di 
Padang,’ Prapto menambahkan.

 

Kami kembali terdiam.

 

‘Perang itu meninggalkan banyak sekali luka,’ aku berkomentar asal-asalan.

 

‘Aku tahu. Perang itu tidak seharusnya terjadi.’

 

‘Tapi toh dia sudah terjadi,’ komentarku, sekali lagi asal-asalan.

 

‘Adakah anggota keluargamu yang jadi korban?’ tanya Prapto.

 

‘Kemenakan ayahku. Dia bukan tentara. Seorang murid SMA. Waktu tentara APRI 
datang ke kampung kami, anak-anak muda seumurnya lari ketakutan. Mereka lari ke 
daerah persawahan. Mungkin mereka bermaksud untuk bersembunyi di sawah, di 
dalam kerimbunan padi. Tapi mereka dipergoki oleh tentara APRI dan ditembaki 
tanpa ampun. Pada hari yang sama ada lima orang anak muda mati tertembak di 
kampung kami.‘

 

‘Sebuah perang yang sangat kejam....,’ Prapto menarik nafas, mendesah lirih.

 

‘Begitu adanya,’ aku menambahkan. 

 

‘Kau tentu juga belum lahir kala itu ?’ dia bertanya.

 

‘Belum. Tapi cerita itu aku dengar dari ayahku sendiri.’

 

‘Ayahmu ikut jadi tentara PRRI ?’

 

‘Tidak. Ayahku seorang petani.’

 

‘Sebagai petani beliau tidak mendapat kesulitan dari tentara APRI?’

 

‘Boleh dikatakan tidak. Beliau disuruh ikut latihan ketentaraan bersama-sama 
orang kampung lain. Yang memenuhi persyaratan diangkat menjadi OPR, tentara 
lokal bentukan APRI. Ayahku yang tidak menyukai ketentaraan dinyatakan gagal 
dalam latihan itu. Bahkan sejak latihan baris berbaris. Ayah sengaja 
menampilkan diri beliau seperti orang bodoh. Tidak satupun perintah pelatih 
tentara itu yang beliau turuti secara benar.’

 

‘Pelatihnya tidak marah?’

 

‘Tentu marah. Ayah ditempelengnya. Tapi sesudah itu dilarang mengikuti latihan. 
Justru itu yang beliau harapkan.’

 

‘Aku sangat membenci yang namanya perang,’ ucap Prapto.

 

‘Karena ayahmu terbunuh di dalam peperangan?’ tanyaku sedikit menyelidik.

 

‘Entahlah. Tapi aku benci karena perang pada umumnya sangat bengis. Tidak 
beradab. Korban yang paling banyak adalah rakyat yang tidak ikut berperang,’ 
ujar Prapto bersungguh-sungguh.

 

‘Aku setuju dengan yang kau katakan. Perang itu bengis dan biadab. Lihatlah apa 
yang terjadi di Aceh beberapa tahun yang lalu. Bukankah kita mengikuti 
beritanya?’ aku mengingatkan.

 

‘Betul sekali yang kau katakan. Perang seperti di Aceh itu sangat mengenaskan. 
Perang yang mengambil korban di kalangan rakyat yang tidak terlibat tapi 
dicurigai. Jadi korban dari kedua belah pihak yang berperang.’ 

 

‘Dan kau lihat lagi perang di Irak. Di Afghanistan,’ aku menambahkan.

 

‘Betul. Perang akibat nafsu angkara murka. Pemimpin-pemimpin negara yang 
menyulut peperangan. Yang menggiring rakyatnya masuk ke dalam kancah 
peperangan. Akibatnya selalu sangat memilukan. Kehancuran dimana-mana. Tapi.... 
Syukurlah Sumatera Barat tidak hancur ketika terjadi perang PRRI.’

 

‘Tidak hancur secara fisik, tapi moral masyarakat cukup hancur,’ jawabku.

 

‘Aku mendengar tentang itu. Masyarakat Minangkabau berbondong-bondong 
meninggalkan kampung halaman mereka, pergi merantau sesudah perang PRRI.’

 

‘Kecuali sebagian. Termasuk ayahku yang tetap bertahan sebagai petani di 
kampung sampai usia tuanya,’ jawabku.

 

‘Ayahmu masih ada kan?’

 

‘Beliau berpulang dua tahun yang lalu.’ 

 

‘Huh, jadi kemana-mana cerita kita. Hanya karena aku mengingat Lembah Anai.’

 

‘Tadi kau bilang, kau belum lahir ketika ayahmu meninggal. Tentulah ibumu 
sangat sedih ditinggal ayahmu.’

 

‘Tentu saja. Tapi begitulah kehidupan. Ibuku berjodoh dengan seorang laki-laki 
dari Minang. Seorang duda. Beliau menikah waktu aku masih berumur empat tahun. 
Laki-laki suami ibuku itu sangat baik. Aku memanggilnya ayah, dan beliau 
benar-benar seperti ayah kandungku. Ibuku melahirkan tiga orang adik-adikku. 
Ayahku itu yang pertama kali membawa kami mengunjungi negeri ini ketika aku 
masih murid SMA.’

 

‘Beliau masih hidup?’

 

‘Masih. Ayah dan ibuku tinggal di Bogor.’ 

 

Taksi kami merangkak mengikuti iringan bus dan truk yang terampun-ampun mendaki 
di Silaing Kariang. Ayia Mancua dan Lembah Anai sudah kami tinggalkan di 
belakang kami. Kami masih melanjutkan obrolan ke hilir ke mudik.

 

 

                                                                        *****

 

 

di http://lembangalam.multiply.com <http://lembangalam.multiply.com/>  dan 
www.palantalembangalam.blogspot.com 
<http://www.palantalembangalam.blogspot.com/>  


 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of Ephi Lintau
Sent: Tuesday, March 01, 2011 8:11 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kera Lembah Anai

 

da Afrijon....baa kok tasabuik bana..air terjun tuh dengan namo aie 
mancua......, padohal jaleh2 itu aie tajun....bukan aie mancua....., apo dek 
kebiasaan urang tuo2 dulu atau ado penyebab lainnyo...?
salam
ephi

2011/3/1 <[email protected]>

Assalamu'alaikum WW

Tadi sore kami lewat di Lembah Anai darai Pakanbaru manuju Padang, sambik 
menikmati sejuk dan segarnyo udaro Aia mancua kami baranti kami baranti di tapi 
jalan menjelang Malibo Anai nan di tapi jalan bapaga pengaman tembok, dieteh 
tembokko babarih kera-kera jinak mananti urang nan datang mambaok makanan.

Kebetulan wakatu di baranti di Aia Mancua kami dibari sabungkuih kacang dek 
kawan nan manggaleh makanan disitu, lalu kami latakan kacangko ditapak tangan 
dengan tanpa raso curiga dan takuik karo-karo ko datang maambiak kacang dari 
tapak tangan sacaro bagantian dan manadahkan tangannyo pulo kalau alah abih 
dimuluiknyo.

Suatu pemandangan dan situasi nan alami terjadi komunikasi bisu antaro urang 
nan baranti jo karo-karo nan manunggu uluran tangan urang nan mambaok makanan.

Suatu rekreasi Flora Fauna menyegarkan dialam nan sejuk di Kawasan Cagar Alam 
lembah Anai nan paralu dinikmati dan dijual kepada turis.

Bagi dunsanak nan ingin mancubo kalau lewat disiko silahkan baranti dan 
talabiah dulu siapkan makanan nan bisa dimakan karo-karo Lembah Anai ko.

Tks
Afrijon Ponggok
43,L,sdg di Pdg
Powered by Telkomsel BlackBerry(r)

 

-- 



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke