Assalamu'alaikum,

 

Di dalam buku Moh Natsir dlm sejarah politik Indonesia (Peran dan jasa MOh
Natsir dlm dua periode) yang dikarang M Dzulfikriddin yang berasal dari
penelitian tesisnya yang dimulai 1993 s/d 1999 kurang lebih enam tahun.
Saya coba kutip 3 point tentang latar belakang PRRI dari 16 point yang dia
kemukakan baik langsung ataupun tidak langsung.

 

1.      Kesulitan lain yang dihadapi Kabinet Ali II adalah timbulnya
kecaman-kecaman thd berbagai tindakan korupsi yang dilakukan oleh banyak
pejabat pemerintah pusat. Kasus yang mencuat dalam hal ini, misalnya
penangkapan atas diri Roeslan Abdul Gani pd tgl 13 Agustus 1956, karena
keterlibatannya dalam pekara korupsi yang dilakukan oleh Lee Hok Thay,
pemimpin sebuah percetakan Negara. Penangkapan itu dilakukan oleh Kol.
Alexis Kawilarang (Komandan TT III Jabar) atas perintah  Deputi KSAD Kol
Zulkifli. Akan tetapi  atas perintah PM Ali, yang juga merangkap menteri
Pertahanan kepada KSAD AH. Nasution, Roeslan dibebaskan. Sebaliknya Mochtar
Lubis disidang dan ditahan karena memberitakan kasus korupsi ini di koran
Indoensia Raya yang dipimpinnya. Kejadian ini membuat perwira-perwira AD
terpecah menjadi dua kelompok : Nasution dan kelompok Lubis. Lubis
menyatakan bahwa pemerintah dan Nasution telah membantu dan melindungi
pejabat yang melakukan korupsi.

2.      Pada tanggal 30 November 1957, terjadi usaha pembunuhan terhadap
Presiden Soekarno yang sedang mengunjungi sekolah anaknya di jalan Cikini
Raya, Jakarta. Soekarno berhasil selamat, tetapi beberapa anak terbunuh dan
cedera karena ledakan granat. Pemerintah dan Pimpinan AD menuduh Kol.
Zulkifli Lubis sebagai otak di balik peristiwa itu, yang tentu saja dibantah
keras oleh Lubis. Lebih dari itu, tuduhan pembunuhan yang diarahkan kepada
perwira di Sumatera serta orang-orang yang anti dengan KOnsepsi Presiden dan
Demokrasi Terpimpin, yakni Masyumi, PSI dan Partai Katholik.

3.      Pada 29 November 1957, misi pro-Indonesia yang mendesak Belanda
untuk mengadakan perundingan mengenai Irian Barat, gagal memperoleh dukungan
dalam sidang Majelis Umum PBB. Akibat terjadinya pemogokan besar-besaran di
perusahaan2 milik Belanda pada 3 Des 1957. Keesokan harinya, para pemuda dan
kaum buruh yang digerakkan oleh SOBSI mengambil alih kapal-kapal dan
perusahaan-perusahaan Belanda. Ditambah dengan adanya instruksi dari Mentri
Kehakiman GA. Maengkom untuk mengusir seluruh warga Negara Belanda yang ada
di Indonesia, maka kebrutalan terhadap warga Negara Belanda semakin
menjadi-jadi dimana-mana. Soekarno mendukung aksi itu, meskipun Hatta dan
AH. Nasution mengencamnya. Dengan dasar SOB, KSAD AH. Nasution mengeluarkan
Dekrit pada tgl 13 Des 1957 yang berisi pengambilalihan seluruh perusahaan
Belanda dibawah pengusaan dan kekuasaan militer.

 

Natsir dan Kasimo mengkritik tindakan Maengkom dan sikap pemerintah terhadap
ancaman fisik kepada warga Negara Belanda. Menurut mereka, Hal semacam ini
akan  akan memburukkan citra Indonesia di luar negeri, yang akhirnya akan
menyulitkan Indonesia dalam mencari dukungan Internasional dlm diplomasi
mengenai Irian Barat. Kritik Natsir ini menyebabkan harian Rakyat corong
utama PKI dlm terbitan 7 Des 1957, menuduh Natsir sebagai antek Imperialisme
yang bermaksud melindungi kolonialisme. Akibatnya Natsir sering menerima
ancaman dari penelepon gelap dan dikirimi surat kaleng. Rumah Natsir juga
dikepung dari segala penjuru oleh pemuda2 PKI, sedangkan polisi tampak
tenang-tenang saja menyaksikan ancaman itu. Perlakuan itu juga dialami oleh
Sjafruddin Prawiranegara dan Boerhanuddin Harahap. Oleh karena keadaan itu
berlangsung setiap hari, Natsir dkk melapor kpd Kejaksaan Agung dan
Kepolisian, tetapi tidak ada reaksi dr mrk. Hari2 berikutnya, Harian Rakyat
semakin berani menyerang Natsir dkk, bahkan mengaitkannya dengan usaha
pembunuhan thd Presiden Soekarno di Cikini. Dalam keadaan demikianlah mereka
meninggalkan Jakarta dengan cara berbeda sebab keamanan pribadi dan keluarga
sudah tidak terjamin lagi. Sementara Dr. Soemitro Djojohadkusumo seorang
tokoh PSI ikut bergabung ke Sumatera setelah setiap hari dicaci maki oleh
koran PKI dengan tuduhan terlibat korupsi semasa  menjadi menteri. Di Padang
ternyata ada pula Saladin Sarumpaet (Tokoh partai Kristen Indonesia) dan
Amelz (Tokoh Masyumi Aceh).

 

Mudah2an ada gunanya

Wassalam

Rina, 33 +, Batam

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke