Kompasiana : Rubrik Sosial dan Budaya : Judul :   "Baralek (Pesta Perkawinan) 
di Kampungku.              Oleh : Reflusmen.       Makanan terbaik dalam 
“Dulang” saat Baralek berasal dari para menantu. Sepertinya terdapat persaingan 
terselubung diantara mereka. Masing-masing ingin menunjukan/ mengambil hati 
mertua dan keluarga besar suami ha ha ha.

Nun jauh disana, di Nagari Tanjung Barulak, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat, 
ditengah paham individualistis yang melanda sebagian masyarakat kita, 
alhamdulillah, tradisi dari nenek moyang yaitu pelaksanaan Baralek  secara 
gotong royong, sampai sekarang masih berjalan dengan baik. 

Istilahnya, Indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh (tidak lapuk kerena 
hujan, tidak susut karena panas). 

Berita baik ini kami terima beberapa hari setelah adik (perempuan) yang bekerja 
di Jakarta (tinggal satu rumah ) sampai di Kampuang. Di sana ketemu Pemuda 
lajang teman kecilnya nan merantau ke Sintang. Ibu kota Kabupaten di Utara 
Kalimantan Barat, berbatasan dengan Serawak Malaysia. 
Asam di gunung, ikan di laut, bertemu dalam kuali. Kalau jodoh tidak kemana. 
Begitulah kira-kira gambarannya.

Tulisan ini merupakan hasil reportase selama mengikuti pesta pernikahan 
(Baralek) adik kami di kampuang. Tempat Baralek adalah di rumah Ibu penganten 
perempuan (Anak Daro), sesuai dengan adat di Minang, dimana garis keturunan 
adalah mengikuti Ibu (Materelenial). Konon, system Materelenial ini hanya ada 
di Minang

Baralek ini dilaksanakan secara gotong royong, baik dari sisi biaya, maupun 
pelaksanaannya. Orang tua Anak Daro ataupun orang tua mempelai lelaki 
(Marapulai) bisa disebut tinggal beres.

Makanan untuk panitia “Sapokok” adalah gulai Kambing dicampur rebung. Kambing 
berasal dari beberapa orang “Sapokok” atau keluarga yang sekaligus mengikahkan 
anaknya. Rebung, tinggal petik di hutan tak jauh dari rumah

Makanan untuk kaum lelaki, tersedia dalam dulang yang dibawah oleh kaum Ibu 
yang di undang. Jenis dan kualitas makanan dalam dulang ini, tergantung dari 
kedekatan/hubungan dengan tuan rumah. Semakin dekat, akan semakin baik 
kualitasnya. Makanan terbaik berasal dari menantu perempuan. Sepertinya 
terdapat persaingan terselubung sesama menantu. Ingin menunjukan/mengambil hati 
mertua dan keluarga besar suami ha ha ha.

Konon, dijaman doeloe, isi dulang menantu perempuan ini bisa mencapai puluhan 
jenis, semua makanan yang enak-enak dimasukan. 

Saat ini, sesuai hasil rapat/kesepakatan pemuka Nagari, isi dulang dibatasi 
maksimal sebanyak lima piring. Para menantu tak kehilangan akal, walau hanya 
lima piring, masing-masing piring diisi semangkok nasi, seekor ayam, seekor 
ikan yang besar, pisang kualitas terbaik, kue kampong (lepat bugis dengan aneka 
rasa) dan satu cetak kue basah yang juga dihiasi. Enakkkkk…..

Persaingan ini terjadi karena makanan dari menantu  akan diletak 
ditengah-tengah, tempat duduk kaum lelaki yang terpandang. Datuk, Alim Ulama 
dan cerdik pandai.

Pesta perkawinan di kota dilaksanakan oleh kedua keluarga penganten pada satu 
tempat. Sedangkan di kampong kami, pada hari yang sama, baralek diadakan baik 
di rumah penganten perempuan (Anak Daro), maupun di rumah penganten lelaki 
(Marapulai).

Sekitar jam 12 siang, Anak Daro dengan pakaian kebesarannya, berkunjung ke 
rumah Marapulai, dilanjutkan ke rumah Ayah dari Anak Daro (Rumah Bako) dan ke 
rumah Ayah (Rumah Bako) Marapulai.

Setelah Anak Daro turun, kaum lelaki naik ke rumah Marapulai untuk menyantap 
hidangan dalam dulang, sekaligus mempersiapkan rombongan yang akan mengantar 
Marapulai ke Rumah Anak Daro.

Setelah Marapulai naik ke rumah Anak Daro, yang ditunggu oleh kaum laki-laki 
pihak Anak Daro, rombongan Marapulai ini disambut dengan petatih-petitih 
(berbalas pantun) dengan bahasa kiasan. Saking serunya, Berbalas Pantun ini 
bisa sampai tengah malam untuk mendapatkan kesepakatan bahwa Marapulai diterima 
oleh pihak Anak Daro.

Berbalas Pantun yang memakan waktu cukup lama dan terkesan tidak effisien, 
disebabkan masing-masing pihak harus mengambil keputusan secara musyawarah/ 
demokratis. Ketika salah satu pihak (Rombongan Marapulai atau pihak Anak Daro) 
bermusyawarah untuk menjawab atau menerima pertanyaan/permintaan lawan bicara, 
pembicaraan yang berisi pendapat pro dan kontra di dengar oleh lawan bicaranya. 
Unik, menarik dan lucu. Sering hadirin tertawa terbahak-bahak mendengar istilah 
dan bahasa yang kocak ha ha ha.

Selesai Berbalas Pantun , baru makanan dalam dulang disantap. Makan sepuasnya. 
Wenakkkkkk tenannnnnn. Lamak/Enak Banaaaaaa.

Jatiwaringin, 28 Pebruari 2011.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke