Assalammualaikum. Wr Wb

Dunsanak MDS ,walau sederhana  cerpennyo sangat menggugah hati , kalaulah kalau 
mimpi jadi keadaan alangkah indah dan tentramnyo iduik ko .
Indak seperti kini,  kama se awak pai ka tampek nan baru ka kota atau nagari  
di dalam negeri perasaan was was selalu timbua tapaso kito berlagak sombong dan 
mengurangi sosialisasi jo penduduk setempat ,kalau pai surang jam tangan ,  
cincin. Dimasuakkan ka saku ... lain pulo kalau kito ka lua negeri ado perasaan 
mc seolah olah martabat awak agak dibawah adonyo, antah salah antah batua 
beberapa bulan nan lalu ambo pai ka nagari tanah ratu , sopir  taksi batanyo " 
dari ma asa apak " , spontan ambo manjawek " Malay" 
Antalah yuang ....
Mohon izin ambo cerpennyo ambo forward group bbm dan ke milis poltabes Padang .

Salam
Iqbal Rahman
Padang, L, 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 1 Mar 2011 21:59:13 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Cerpen lamo NEGERI INI Re: [R@ntau-Net] Budaya Antri

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Cerpen tayang ulang...... (cerpen yang isinya benar-benar mimpi.......)


NEGERI INI
 
Pesawat itu mendarat dengan sangat mulus. Nyaris tanpa goncangan. Di luar cuaca 
sangat cerah. Sekarang pesawat itu bergerak pelan menuju tempat berhenti. 
Pramugari melaksanakan tugasnya yang terakhir, mengucapkan selamat datang di 
negeri tujuan ini, memberitahukan perbedaan waktu dan mengucapkan selamat jalan 
kepada para penumpang. Dan pesawat itu akhirnya berhenti. Para penumpang 
bersiap-siap untuk turun. Tidak terkecuali Bahdar. 

 
Baru sekali ini dia berkunjung kesini. Ke negeri ayah dan bundanya. 
Kedatangannya bukan untuk mengunjungi orang tuanya itu karena mereka tinggal di 
ibukota. Dia bertugas untuk memberi penyuluhan kepada pegawai pemerintah 
tentang 
tata kota, sesuai dengan keahliannya. Penyuluhan itu akan berlangsung dua hari 
di hotel terbesar di kota di atas bukit. Bahdar seolah-olah sudah tahu tentang 
kota yang udaranya sejuk itu. Kota kebanggaan ayahnya. Cerita tentang kota itu 
diceritakan ayah berulang-ulang kepadanya. 

 
Namun, temannya yang orang Negeri Ini mewanti-wanti. Negeri Ini sedang berubah 
ke arah kebaikan tapi sisa-sisa kebiasaan jaman jahiliyah masih belum semuanya 
sirna. Berhati-hati di bandara ketika memilih taksi, berhati-hati di 
penginapan, 
berhati-hati berbelanja di pasar, berhati-hati kalau sempat pergi melancong ke 
tujuan wisata. Berhati-hati, karena ada saja orang nakal. Orang yang 
menggunakan 
kesempatan untuk menipu. Begitu pesan temannya itu.
 
Bahdar keluar dari pesawat, langsung menuju ke tempat mengambil bagasi. Koper 
kecilnya dimasukkannya ke bagasi karena dia harus menenteng komputer jinjing 
dan 
in focus. Seorang portir menyapanya ramah dan bertanya seandainya dia 
memerlukan 
bantuan untuk membawakan bagasinya. Bahdar ingin berbuat baik kepada portir 
itu. 

 
‘Saya hanya punya sebuah koper kecil,’ katanya.
 
‘Kalau bapak mau dibantu akan saya ambil dan antarkan ke mobil bapak,’ jawab 
portir itu.
 
‘Saya mau dibantu. Tapi, sekali lagi hanya sebuah koper kecil. Dan saya rasa 
tidak perlu troli itu untuk membawanya,’ Bahdar menjelaskan.
 
‘Tidak apa-apa, pak. Ongkosnya lima ribu rupiah untuk satu potong. Seperti 
bapak 
lihat di pengumuman itu,’ portir itu menambahkan sambil tersenyum ramah.
 
‘Baik kalau begitu, tolong diambilkan. Ini tanda pengenal bagasi saya,’ jawab 
Bahdar sambil menyerahkan secarik kecil kertas.
 
Portir itu berlalu dengan kertas kecil di tangannya menuju ke ban berjalan. 
Bahdar mencari-cari loket tempat pemesanan taksi. Tapi tidak ditemukannya. 
Beberapa menit saja, sang portir sudah kembali membawakan tas yang beratnya 
tidak sampai sepuluh kilo. 

 
‘Bapak ada mobil jemputan?’ tanya portir itu.
 
‘Tidak. Saya akan menyewa taksi. Dimana tempat memesan taksi untuk ke luar 
kota?’ Bahdar balik bertanya.
 
‘Tidak ada pak. Bapak bisa mengambil langsung taksi di luar itu. Bapak ikut 
saja 
antri untuk mendapat giliran,’ kata portir itu.
 
‘Tapi? Tarifnya harus dirundingkan dulu atau bagaimana?’ Bahdar mulai khawatir 
akan langsung menemukan tantangan yang pertama.
 
‘Oh, tidak pak. Taksi itu semuanya menggunakan argometer. Nanti bapak harus 
membayar sesuai dengan biaya yang tercantum di argometernya.’
 
Bahdar terdiam. Dia masih berpikir tentang kemungkinan akan dijahili nanti di 
tengah jalan. 

 
Sesuai saran portir itu, Bahdar masuk ke barisan antrian. Dia mendapat sebuah 
taksi berwarna hijau metalic. Bersih dan sangat terawat kelihatannya. Sopir 
taksi itu turun membukakan pintu bagasinya. Portir meletakkan koper kecil ke 
dalam bagasi. Bahdar memberikan uang sepuluh ribu rupiah. Portir itu 
mengembalikan lima ribu.
 
‘Tidak usah. Ambillah kelebihan uang itu,’ kata Bahdar.
 
‘Oh tidak pak. Tidak boleh. Hak saya hanya yang lima ribu. Terimalah kembalian 
uang bapak,’ kata portir itu sambil mengulurkan tangan dengan uang lima ribu 
rupiah.
 
‘Tidak boleh? Tidak boleh oleh siapa? Saya ikhlas memberikannya,’ Bahdar agar 
terkesiap.
 
‘Tidak, pak. Terima kasih. Bapak terimalah uang kembalian ini,’ ujar portir itu 
bersungguh-sungguh.
 
Bahdar betul-betul terpana. Dia tidak bisa berkata apa-apa ketika portir itu 
meletakkan uang itu ke tangannya dan minta ijin untuk berlalu.
 
Sopir taksi itu menyapanya ramah dalam bahasa daerah Negeri Ini. Ketika 
dilihatnya Bahdar tidak segera menjawab, karena dia masih melamunkan portir 
tadi, sopir taksi berganti menggunakan bahasa Indonesia.
 
‘Selamat datang di Negeri Ini, pak. Kemana tujuan bapak ? Kemana bapak akan 
saya 
antar ?’ tanya sopir taksi itu ramah.
 
‘Terima kasih. Tolong antarkan saya ke kota di atas bukit,’ jawab Bahdar.
 
‘Baik, pak. Kita berangkat. Bismillah.’
 
Sopir taksi itu ternyata sangat ramah. Umurnya mungkin sebaya dengan Bahdar. 
Dia 
berbicara dengan sangat sopan. Dan beberapa kali bertanya kalau-kalau Bahdar 
sudah merasa cukup nyaman di dalam mobilnya. Kalau-kalau ac mobil itu sudah 
memadai dinginnya. Kalau-kalau Bahdar ingin mendengarkan musik. Atau 
kalau-kalau 
barangkali Bahdar ingin beristirahat tidur saja sepanjang perjalanan. Dan mobil 
itu dikendarainya dengan sangat hati-hati.
 
Bahdar menemukan kejutan kedua. Sopir taksi ini ternyata sangat profesional 
sekali. Dan sangat ramah sekali. Mereka terlibat dalam obrolan santai. Sopir 
itu 
menjawab setiap pertanyaan Bahdar dengan baik. Tidak berlebih-lebihan, tidak 
dengan nada menggurui atau sok tahu tapi hanya dengan keramahan.
 
Pemandangan di sepanjang jalan sangat memukau. Itulah yang jadi bahasan dalam 
obrolan mereka. Lebih tepatnya, Bahdar bertanya tentang objek yang dilihatnya 
dan sopir taksi itu menjelaskan.
 
Mereka sampai di kota di atas bukit dan langsung menuju ke hotel tempat Bahdar 
akan menginap. Sopir yang ramah itu bergegas turun membukan pintu mobil untuk 
Bahdar. Koper kecilnya sudah dikeluarkan petugas hotel. Bahdar mengemasi barang 
jinjingannya, komputer, in focus dan jaketnya.
 
Sopir taksi itu mengingatkan untuk memeriksa semua barang-barang agar jangan 
ada 
yang tertinggal. Ongkos taksi seperti yang tertera di argometer adalah 185,000 
rupiah. Bahdar menyerahkan dua lembar uang kertas seratus dan menyuruh ambil 
saja kembaliannya.
 
Kejutan berikutnya. Sopir taksi itupun tidak mau diberi tip. Dia mengembalikan 
uang kembalian dan minta dengan sesopan mungkin agar Bahdar menerima uang 
kembaliannya.
 
‘Waw. Negeri apa ini? Saya ikhlas memberikan kelebihan uang ini untuk bapak. 
Terimalah!’ pinta Bahdar bersungguh-sungguh.
 
‘Terima kasih banyak, pak. Saya sudah mendapatkan yang hak saya. Selamat 
beristirahat, pak,’ kata sopir itu, seperti portir di bandara tadi, meletakkan 
uang kembalian itu ke tangan Bahdar.
 
Dimasukinya lobby hotel itu. Dia segera mendapatkan keramahan lain lagi. 
Keramahan yang tidak dibuat-buat. Dia disuruh memilih kamar, apakah yang 
menghadap ke pegunungan atau yang menghadap ke sisi kota. Bahdar memilih yang 
menghadap pegunungan. Proses check in sangat cepat dan dia segera menuju ke 
kamarnya di tingkat lima. Hotel ini sangat rapih dan bersih. Karyawannya tampak 
serba ceria dan banyak senyum. Merekapun sopan-sopan. 

 
Bahdar sangat ingin mengetahui reaksi pegawai hotel yang mengantarkan kopernya 
ke kamar. Orang itu diberinya tip sepuluh ribu rupiah. Masya Allah. Orang 
inipun 
menolak. 

 
‘Maaf, pak saya tidak menerima pemberian,’ begitu katanya.
 
‘Tapi anda sudah menolong membawakan koper saya,’ ujar Bahdar.
 
‘Itu tugas saya, pak. Itu pekerjaan saya. Saya digaji untuk itu,’ jawabnya 
sambil tersenyum.
 
Bahdar ingin berteriak rasanya menanyakan, berapa benar sih gajimu? Tapi tidak 
sanggup melakukannya. Dia hanya melongo.
 
Waktu dia sedang di kamar kecil, telepon berdering. Bahdar segera mengangkatnya.
 
‘Maaf, pak. Ini dari front office. Ada seorang tamu ingin menjumpai bapak, 
bolehkah saya mengantarkan ke tempat bapak ?’ suara di gagang telepon itu.
 
‘Tamu saya? Boleh saya tahu nama beliau ?’ tanya Bahdar.
 
‘Sebentar pak. Akan saya tanyakan.’
 
Terdengar suara percakapan di seberang sana.
 
‘Nama beliau pak Syahrul pak. Sopir taksi yang mengantar bapak dari bandara.’
 
‘Sopir taksi? Ada apa? Boleh saya berbicara dengan orang itu?’ tanya  Bahdar.
 
Gagang telepon itu diserahkan ke orang itu.
 
‘Pak. Maaf, pak. Ini hp bapak ketinggalan di taksi saya. Jatuh ke lantai,’ 
suara 
sopir taksi itu.
 
‘Waduh. Sebentar pak, saya periksa di jaket saya,’ jawab Bahdar. 
 
Ternyata benar, hpnya tidak ada di kantong jaket. Berarti hp itu terjatuh ke 
lantai taksi.
 
‘Baik, pak Syahrul. Saya akan turun ke bawah,’ ujar Bahdar.
 
Bahdar segera turun ke lobby. Sopir taksi itu dengan senyum ramah menyerahkan 
hp 
itu. Bahdar hanya melongo menerimanya. Dia tidak mengucapkan apa-apa.
 
‘Saya pamit, pak,’ ujar sopir taksi itu.
 
Bahdar tersentak. Diulurkannya tangannya menyalami sopir itu.
 
‘Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Anda benar-benar mengagumkan saya,’ 
ucapnya setengah kebingungan.
 
‘Terima kasih kembali pak. Selamat istirahat,’ jawab sopir taksi itu sebelum 
berlalu.
 
Mengagumkan, desahnya dalam hati. Orang itu sungguh mengagumkan.
 
Bahdar menemukan banyak lagi kejutan di kota di atas bukit. Di restoran di 
tengah kota. Di taksi yang disewanya untuk pergi melihat-lihat ke tempat 
wisata. 
Di tempat wisatanya sendiri. Dia menemukan keramahtamahan dan kejujuran 
dimana-mana. 

 
Penyuluhan yang dilakukannya berjalan dengan sangat baik. Dia malu sebenarnya, 
karena dalam hal keramahan masyarakat, contoh-contoh dalam makalahnya 
seolah-olah tidak bermakna. Prilaku masyarakat di Negeri Ini bahkan lebih baik 
dari contoh dalam makalah itu.
 
Justru dia yang bertanya dalam seminar itu gerangan apa yang menjadikan 
masyarakat Negeri Ini sebegitu ramah dan jujur. Jawabannya sungguh mengagumkan 
Bahdar. Ceramah yang santun dan terus menerus oleh para ulama serta contoh 
langsung dari para penjabat ditambah dengan tindakan hukum yang 
bersungguh-sungguh. Semua itu telah merubah prilaku masyarakat Negeri Ini.
 
Bahdar membawa oleh-oleh yang sangat berharga itu untuk dipersembahkannya 
kepada 
orang tuanya. Negeri Ini benar-benar telah berubah.
 
 
                                                                        *****
 
 
 
 
 
 
 


Wassalamu'alaikum.
 
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke