Suatu hari sekitar jam setengah satu siang di bandara Tabing di bulan
November yang bertepatan dengan Ramadan di tahun 2004. Cuaca teduh karena
matahari tertutup awan.

Pesawat Boeing 737 Garuda GA 163 penerbangan Padang - Jakarta mulai bergerak
meninggalkan apron menuju landasan pacu. Saya baru saja selesai melakukan
kunjungan ke  beberapa kabupaten/kota di Sumatera Barat--yang sejak awal
tahun 2002 rata-rata saya kunjungi setiap tiga bulan sekali--dalam perjalanan
tugas supervisi  terakhir menjelang  berakhirnya masa bakti program USAID
PERFORM  pada akhir Januari tahun 2005, program tempat saya bekerja sejak
akhir 1998 ketika program tersebut masih bernama CLEAN Urban.

Pekan sebelumnya saya baru kembali dari Indonesia Timur, berangkat Minggu
petang ke Makassar, Selasa  jam dua  malam terbang ke Merauke menggunakan
Merpati  dengan ganti pesawat  di Jayapura. Jumat pagi kembali ke Jayapura.
Keesokan harinya kembali ke Jakarta. Manokwari di Papua Barat saya lewati
karena tugas di sana sudah saya selesaikan pada kunjungan sebelumnya.
Ginting yang menemani saya sejak perjalanan  ke  Indonesia Timur sudah
kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.  Tugas ke tiga provinsi di Jawa
dilakukan secara paralel oleh anggota Tim saya yang lain. Besok siang saya
akan berangkat ke Malang lewat Surabaya  lalu  kembali ke Jakarta lewat
jalur yang sama  dan sekaligus mengakhiri kegiatan saya di daerah.  

Di Bandara Sentani, Jayapura kembali saya dapat pelajaran hidup berharga
dari Allah SWT. Merasa sudah  membayar,  saya menyerahkan kepada portir
handbag berisi printer Canon portable dan 'cradle' PDA yang sebenarnya dapat
saya bawa sendiri karena saya hanya menenteng Laptop. Tas itu luput
dinaikkan ke mobil oleh Jos, pengemudi mobil kantor regional yang menjemput
saya dan Ginting. Mengenai printer Canon, saya tinggal membuat laporan ke
kantor, namun  kehilangan 'cradle' membuat PDA yang hanya mampu saya beli
karena disubsidi separuh harga oleh kantor, menjadi besi tua.

Setiba di landasan pacu, pilot membelokkan pesawat ke kiri, pertanda arah
angin memungkinkan pesawat lapas landas langsung ke arah bandara
Sukarno-Hatta di tenggara tanpa perlu memutar ke utara lalu berbelok ke
selatan menyusur  lautan lepas pantai Padang sebelum berbelok ke atas
daratan Sumatera .  Beberapa kursi tampak kosong dan penumpang tidak banyak
terdengar bebicara. Perasan haru tiba-tiba menyelimuti perasaan saya. Saat
ini usia saya sudah 61 tahun lebih, dan belum tentu akan bekerja lagi di
program semacam ini  setelah program ini selesai . Akankah saya masih
berkesempatan mengunjungi kampung halaman tempat saya dilahirkan dan
dibesarkan, tempat yang banyak menyisakan kenangan indah yang tidak akan
pernah terlupakan selama hayat di kandung badan?

Di ujung landasan pesawat berputar, lalu berhenti sejenak, kemudian
terdengar derum mesin dan pesawat melaju dengan kencang, lalu melesat ke
udara. Saya yang duduk  didekat jendela sebelah kiri masih sempat melihat
danau kembar di Solok Selatan di balik perbukitan.

Akankah saya masih berkesempatan mengunjungi kampung halaman saya kembali?

Tidak lama kemudian pesawat mencapai ketinggian jelajah. Dari ketinggian 34
ribu kaki, seperti saat itu, awan kadang-kadang  terlihat seperti lautan
kapas yang tenteram.

Saya sudah tidak ingat, telah berapa puluh kali pemandangan seperti itu saya
lihat, dan  sudah berapa puluh ribu kilometer wilayah nusantara yang sudah
saya jelajahi karena pekerjaan sejak tahun 1981. Dari  33 provinsi di
Indonesia, hanya tujuh yang belum pernah saya kunjungi: Bengkulu, Babel,
Sulbar, Sultara, NTT, Maluku dan Maluku Utara.  Bahkan saya pernah sampai ke
Lirung, pulau kecil di ujung selatan Pulau Talaud,  Sulawesi Utara, yakni
ketika bekerja di ENCONA Engineering, tempat saya bekerja selama 14 tahun
di  sejak tahun 1984, 12 tahun di antaranya menjadi anak buah pakar teknik
lingkungan Prof  Dr  Ir H Soetiman, MSc (Alm) di Divisi TL. Angan saya
melayang ke berbagai peristiwa yang saya alami sejak saya bekerja sejak
lulus SLTA di tahun 1963. Masa yang akan segera berakhir.  

Tiba-tiba saya mendengar suara awak pesawat melalui pengeras suara bahwa
pesawat akan segera mendarat. Tidak lama kemudian pesawat  menjejakkan
roda-rodanya di landasan pacu, melakukan taksi dan merapat di salah satu
garbarata di Terminal II bandara Sukarno-Hatta.

Seperti biasa, ketika hendak ke luar dari ruang kedatangan saya selalu
celingukan mencari sosok seorang perempuan baya berjilbab berwajah bundar
yang sudah mulai berkerut di sana sini dimakan usia, namun selalu saya
rindukan jika berada jauh darinya walaupun hanya sehari dua.

Sesuai dengan rencana, kesokan harinya saya berangkat ke Malang dan tiga
hari kemudian  kembali ke Jakarta.  Dalam bulan Januari 2005 seluruh
kegiatan fisik di lapangan sudah terhenti. Kami hanya mengerjakan
penyelesaian laporan dan paper works lainnya. COP kami Robert meminta CV
beberapa orang dari kami, termasuk  saya guna diajukan kepada USAID untuk
diikutsertakan pada program USAID yang baru: Local Governance Support
Program (LGSP). Akan tetapi karena capacity building untuk korporasi daerah
(BUMD dan RSUD)  yang menjadi pekerjaan utama dan tanggung jawab saya di
program PERFORM tidak lagi dicakup oleh LGSP, saya pesimis untuk masuk
sebagai permanent staff di program baru ini.

Tidak ada perasaan yang terlalu luar biasa ketika saya keluar dari ruangan
saya di lantai II AMEX Building di Jalan Melawai Raya untuk yang terakhir
kalinya pada tanggal 31 Januari 2005, lalu turun ke halaman dan naik mobil
untuk pulang ke rumah.

Dan tidak terasa hari itu sudah enam tahun berlalu. 

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)

Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat 

Depok, 1 Februari  2011.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke