Assalamualaikum ww para sanak sapalanta,
 
Rasanya belum banyak diberitakan kepada kita tentang konflik lembaga legislatif 
dan lembaga eksekutif di Sumatera Barat hampir sebulan yang lalu, ditulis oleh 
wartawan senior Hasril Chaniago dari Haluan. Mari sama-sama kita renungkan apa 
maknanya bagi rakyat badarai, di Ranah dan di Rantau.
 
Ada tanggapan ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) 
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.







Lalu Siapa Lagi Mengurus Rakyat? 
 
 
 



Jumat, 18 Februari 2011 02:39 


Sungguh menarik mem­­baca berita tentang ‘pertemuan gebrak meja’ antara Tim 
Gubernur dkk. versus Tim Pimpinan DPRD Sumatera Barat se­bagaimana kemarin 
di­be­ritakan beberapa su­rat­kabar terbitan Padang, termasuk Haluan (baca: 
“‘Soal Biaya Perja­lanan Dinas: Gubernur – Pimpinan DPRD Sengit”, berita utama 
edisi Kamis 17 Februari).
Dilaporkan, pertemuan penting tersebut tidak dilakukan di Kantor Gubernur atau 
di Gedung DPRD, tetapi di sebuah rumah makan di Padang, hari Selasa (15/2) 
malam lalu. Gubernur Irwan Prayitno hadir bersama
Wakil Gubernur Muslim Kasim dan Plt. Sekretaris Daerah Mahmuda Rivai. Pimpinan 
DPRD hadir lengkap empat orang: Ketua Yul­teknil dan tiga wakil ketua: Leonardy 
Harmainy, H.M. Asli Chaidir, dan Trinda Farhan Satria.
 
Dalam pertemuan selama empat jam itu (gubernur pergi lebih dulu satu jam), 
masalah pokok yang dibahas antara lain: pertama,  soal mutasi pejabat eselon II 
dan III yang belum juga dilakukan oleh gubernur padahal sebanyak 500 orang 
pegawai sudah diuji potensi dasar; dan kedua, soal biaya perjalanan dinas 
khususnya biaya tiket pesawat yang meng­gunakan sistem at cost (berapa harga 
dibeli sebanyak itu pula dibayar) yang dianggap membatasi keleluasaan anggota 
DPRD. Media lain menga­takan, juga dibahas malam itu soal kelanjutan 
pembangunan dan opera­sional Gedung Balairung (gedung perwakilan Sumbar) di 
Jakarta. Ada yang mempertanyakan, kenapa kalangan dari kelompok politik 
tertentu saja yang menjadi pengurus (direksi dan komisaris) dalam perusahaan 
pengelolanya.
Entah siapa yang memulai, demikian dilaporkan, pertemuan itu berlangsung panas 
sehingga sampai saling menggebrak meja. Bahkan juga kata-kata tak pantas dengan 
nada tinggi saling terucap. Namun tidak ada kesimpulan ataupun kesepakatan dari 
rapat Gubernur dkk. vs. Pim­pinan Dewan itu.
Beberapa kali saya menerima telepon dan pesan singkat (SMS) berkaitan dengan 
peristiwa yang ternyata juga ramai dipergunjingkan di Kantor Gubernur dan 
Gedung DPRD itu. Ada yang mengatakan ini memalukan. Ada pula yang prihatin. Ada 
yang sangat serius. Tapi ada pula yang menanggapi dengan ‘bagarah’: “Buatkan 
saja ring tinju antara kedua tim, biar rakyat dapat hiburan segar…” tulis 
sebuah SMS.
Saya sendiri ingin membahasnya dengan serius, karena ini bukan hal yang bisa 
atau perlu diper-‘garah’-kan. Lagi pula, tak patut kita melihat para pemimpin 
seperti di atas panggung pertunjukan lawak.
Menurut Undang-Undang No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah (sudah beberapa 
kali dire­visi), Pemerintahan Daerah terdiri atas Kepala Daerah dan Dewan 
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Artinya, gubernur dan DPRD adalah sama-sama 
unsur pemerintahan daerah. Jadi, pertemuan Gubernur, Wagub dan Sekda dengan 
pimpinan DPRD adalah pertemuan para  pimpinan pemerintahan daerah. Bukan 
pertemuan sembarangan.
Dalam konsep ‘Negara Pengurus’ sebagaimana pernah diperkenalkan Bung Hatta, 
mereka yang bertemu di RM Suaso itu adalah para ‘pengu­rus’ provinsi Sumatera 
Barat, para pemimpin yang bertanggung jawab atas nasib buruk-baik daerah dan 
rakyat Sumatera Barat. Saya justru rindu mereka para ‘pengurus’ rakyat bisa 
berdebat, bersilang kata, adu pikiran dan konsep, untuk mem­bicarakan kemajuan 
daerah dan kesejahteraan rakyat. Untuk ini, kalau di antara mereka sampai 
menggebrak meja demi me­mer­tahankan konsep dan keyakinannya untuk kebaikan 
rakyat dan daerah, saya kira amat bisa diterima. Bahkan kita perlukan.
Tapi kalau yang mereka perteng­karkan adalah soal kepentingan sendiri-sendiri 
–dukung-mendukung dan adu jago dalam pengangkatan pejabat, berlomba memakai 
biaya dan fasilitas perjalanan dinas, atau berebut posisi yang berkaitan dengan 
proyek dan ‘kepeng-kepeng’— tentu ini sungguh membuat kita prihatin.
Yang lebih membuat kita prihatin dan sedih, adalah hilangnya visi pembangunan 
dan kerakyatan dari para pemimpin sejak era Reformasi. Mungkin banyak kesalahan 
dan kelemahan pemerintahan Orde Baru zaman Soeharto. Tapi dalam melak­sanakan 
visi pembangunan dan kesejahteraan rakyat, pemerintahan Soeharto masih lebih 
baik.
Tengoklah dalam penyusunan APBN dan APBD, misalnya. Di zaman Orde Baru ada 
batasan yang jelas, bahwa biaya pembangunan (untuk rakyat) harus lebih besar 
daripada biaya rutin. Biaya rutin (belanja pegawai dan operasional 
pemerintahan) tak boleh melebihi 40 persen dari APBN atau APBD. Artinya, lebih 
60 persen APBN dan APBD harus untuk pembangunan alias untuk dinikmati rakyat.
Sejak era Reformasi hingga saat ini, tak ada lagi indikator seperti itu. 
Termasuk anggaran untuk rakyat pun mengalami ‘reformasi’. Karena sudah menjadi 
pengetahuan umum bahwa anggaran negara (APBN dan APBD) lebih banyak disedot 
untuk belanja aparatur dan biaya ope­rasional pemerintahan. Lihatlah postur 
APBD Sumatera Barat tahun 2011 ini, misalnya. Dari total Rp2,19 triliun APBD 
Sumatera Barat, tak sampai setengahnya untuk pembangunan (belanja langsung), 
yaitu hanya Rp1,006 triliun (45,8%) saja. Yang lebih besar adalah untuk biaya 
aparatur, gaji pegawai, tun­jangan daerah, termasuk untuk biaya perjalanan 
dinas pejabat dan anggota DPRD yang dipertengkarkan Tim Gubernur versus 
pimpinan DPRD tempo hari.
Di mana-mana pun di muka bumi ini, pemerintah yang hanya mementingkan diri 
sendiri dan mengabaikan kepentingan rakyat, adalah pemerintahan yang rapuh. 
Rapuh karena perilaku para pejabat dan pemimpin itu sendiri. Kondisi seperti 
ini nampaknya sedang dialami bangsa kita hingga ke daerah-daerah, yakni 
rendahnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah dan penye­lenggara negara.
Bersamaan momentum peri­ngatan 10 tahun Reformasi di Indonesia, tahun 2008 
lalu, majalah Newsweek melakukan survei pen­dapat umum di negeri kita. Selain 
menyebarkan angket Newsweek juga mewawancarai secara langsung sejumlah tokoh 
masyarakat dan pejabat penting di tingkat nasional dan daerah. Gubernur Sumbar 
saat itu, Gamawan Fauzi, termasuk yang diwawancarai. Salah satu perta­nyaannya 
berbunyi lebih-kurang begini:  Menurut penilaian Anda, mana yang lebih baik 
pemerintahan Soeharto dibandingkan pemerintahan sekarang?
Tahukah Anda, apa jawaban rakyat Indonesia? Lebih 60 persen menganggap 
pemerintahan Orde Baru lebih baik.
Lalu, tahukah Anda apa se­babnya? Meskipun pemerintahan Soeharto lebih 
otoriter, ada pe­langgaran HAM, dan  korupsi juga terjadi, tetapi rakyat 
merasakan hidup lebih beradab, keamanan lebih terjaga, kesenjangan sosial dan 
ekonomi terus diperkecil, serta harga sembako stabil dan terjangkau.  Juga 
masih lebih banyak pemimpin dan politisi yang memikirkan serta mengurus rakyat, 
dan mereka lebih punya sopan santun sehingga ada rasa malu kalau sampai 
bertengkar hanya untuk memperjuangkan ke­pentingan sendiri. Mereka masih malu 
bila ditertawakan rakyat. (*)
 
HASRIL CHANIAGO 


      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke