Belajar Dari Ayam Kampung.          Oleh : Reflusmen.     Dagingnya enak, 
telurnya mengandung protein lebih banyak. Harganya lebih mahal dibanding Ayam 
Ras. Mengapa tidak dipelihara secara intensip seperti ayam negeri?.

Bicara ayam kampung, asosiasi KITA bisa kemana-mana, tergantung sudut pandang. 
Bisa positive, bisa negative. Rubah sudut pandang jadi positive agar kita jadi 
bahagia. Begitu yang ku dapat dari Louis Sastrawijaya si Motivator saat ikut 
Inhouse Traning beberapa waktu yang lalu dan yang kubaca dari buku 100% 
MOTIVATED! Karangannya. (Pelajaran ke 1).

Sisi positive dari Ayam Kampung adalah : dagingnya enak, telurnya mengandung 
protein lebih banyak. Harganya lebih mahal dibanding Ayam Ras. High risk, high 
return. Hidup itu jangan dibikin susah, kalau mau enak yaa mahal ! Begitu 
celoteh temanku waktu ngobrolin kuliner. Rasa bintang lima, harga kaki lima. 
Emang ada ? (Pelajaran ke 2)

Berangkat dari statement yang sederhana tentang kelebihan Ayam Kampung, 
melayang-layang dibenakku pertanyaan. Kok nggak dipelihara intensip seperti 
ayam negeri?. Daging dan telurnya mahal!. Akhirnya aku mencoba memelihara Ayam 
Kampung dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Begini ceritanya.

Ayam Kampung memperbanyak keturunan dengan cara mengerami telurnya. Telur 
menetas karena kehangatan. Oleh sebab itu sangkar bagian dalam kulapis dengan 
seng dan kemudian kumasukan rumput kering. Induk ayam senang bertelur disangkar 
yang empuk, bahkan ayam tetanggapun ikut bertelur disana. Semua telur yang 
dierami menetas, mungkin efek dari seng yang membawa kehangatan. Soal yang 
enak-enak, binatangpun suka, apalagi manusia (Pelajaran ke 3).

Setelah ayam menetas, aku teringat lagu waktu kecil : Anak ayam turun sepuluh, 
mati satu tinggal sembilan dstnya. Agar tidak mati, semua anak ayam aku masukan 
kedalam peti ukuran 1 x 1 x 1 meter. Induknya kumandiin agar kawin lagi supaya 
cepat bertelur (kata orang tuaku). Apa yang terjadi ? Didalam peti anaknya 
menjerit: cit-cit-cit (Seperti Anak ayam kehilangan induk. Kenyataan !). Satu 
minggu induknya merepet disamping peti karena kehilangan anaknya. Siapa yang 
mau kehilangan anak ? (Pelajaran ke 4)

Dalam peti kupasang bola lampu yang ditutupi dengan seng (seperti Kap lampu 
petromak). Dimalam hari semua anak ayam tidur dibawah kap tersebut mencari 
kehangatan. Makanya anak ayam tidur dibawah ketiak induknya, pernah lihat kan! 
Kalau masa kecil sampai dewasa anda hidup di Metropolitan mungkin nggak pernah 
liat, percaya deh, aku nggak bohong he he he. : (Pelajaran ke 5)

Setelah anak ayam berkembang menjadi sebesar burung Merpati, semuanya ku lepas 
ke alam bebas. Apa yang terjadi ? Sedih hatiku, mengapa kulepas?. Hanya dalam 
tempo satu hari, semua ayamku habis dimakan anjing dan kucing karena ayamku 
tidak pernah diajarkan membelah diri. Di dalam peti hidup dimanja dapat makan 
dan minum setiap hari. Mungkin ini bisa terjadi juga buat anak yang dimanja 
oleh orang tuanya. Berkaca dari itu, anda tidak boleh berharap banyak kepada 
pegawai baru untuk langsung tancap gas, perlu dibimbing dulu seperti anak ayam 
tadi ha ha ha. (Pelajaran ke 6).

Bagaimana dengan Induknya yang kumandiin, apa memang cepat kawin ? ha ha ha.
Ternyata dia bermesra-mesraan dulu dengan si Jago, si Jagopun tau bahwa si 
betina habis mengeram, belum bersih kali ya ! Masa nipas ?. Kalau manusia yang 
nggak kuat iman, mungkin sudah Poligami. Kalah sama ayam ha ha ha.
Ayam kampung itu tidak produktip bertelurnya, hanya 120 butir dalam setahun. 
Beda dengan ayam ras yang bertelur 260 butir per tahun (www.sentralternak.com). 
Inilah jawaban dari pertanyaan mengapa ayam kampung tidak dipelihara intensip. 
Cost and benefitnya nggak mecing. Alias rugi atau bahasa si tukang kredit, 
nggak feasible. (Pelajaran ke 7).
Ayam kampung kok dibahas ! Ada-ada wae he he he
*) merepet (bahasa melayu) = marah-marah.

Wassalam : Reflus L 53 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke