"Naik kereta api, tut, tut, tut... Siapa hendak turut..." Eits, kali ini tidak dari Bandung ke Surabaya, tapi dari Padang menuju Pariaman.
Memasuki stasiun kereta api (KA-red) Simpang Haru, Sabtu (5/3),jam bundar di tiang peron menunjukkan pukul 06.10 wib. Belasan calon penumpang terlihat mondar-mandir dari loket pembelian tiket ke arah gerbang stasiun. "Kami ketinggalan kereta," kata Dian Niasari (21) yang akrab disapa Dian, sambil menggenggam erat tangan adiknya, Azizah (12). Niat Dian, hendak mengisi hari libur bersama keluarganya ke pantai Gondoriah Pariaman, dengan menumpang KA Sibinuang. Tapi sayang, KA tersebut telah berangkat pukul 06.00. "Saya masih menunggu empat orang anggota keluarga lagi," tambahnya. Sementara enam lembar tiket KA Dang Tuanku sudah berada di tangannya sebagai penganti Sibinuang. Jam keberangkatan KA Dang Tuangku masih lama, pukul 08. 30 wib. Dari arah ruang yang bertuliskan Dipo Lokomotif terdengar raungan mesin dihidupkan. Mesin itulah yang akan mengarak enam rangkai gerbong yang sedang berjejer di jalur (rel) tiga stasiun. Tampak jelas kesibukan petugas di loket pembelian tiket. Setiap pertanyaan calon penumpang terus dijawab dengan ramah. "Kereta yang ongkosnya lima ribu sudah berangkat?" Tanya Marisa (15), yang raut wajahnya langsung berubah mendengar jawaban "sudah" dari petugas. Pasalnya, Marisa yang akan merayakan ulang tahunnya di pantai Gondoriah, ingin membelikan tiket untuk teman-temannya. "Kita terlambat, naik kereta yang lima belas ribu saja, bayar sendiri-sendiri...." Marisa berkata sambil bercanda pada salah seorang temannya lewat telpon genggam. Murah, itu memang salah satu alasan mengapa sebagian besar masyarakat ingin menaiki KA Sibinuang. Dengan merogoh isi saku Rp 5.000, penumpang akan dihantar pulang-pergi, dari Padang ke stasiun di pantai Gondoriah. Sementara untuk menaiki KA Dang Tuanku, penumpang harus menyediakan Rp 15.000 sampai Rp 30.000 pulang-pergi. Tentu fasilitas dan pelayanan dua KA ini berbeda pula, sama bedanya dengan biaya yang dikeluarkan. Tapi hal itu tidak menjadi soal bagi calon penumpang, terlihat dari silih bergantinya pembeli tiket di loket. Menikmati perjalanan murah, aman, nyaman, dan tepat waktu bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Itulah yang diungkapkan oleh Romeyo, Kabag Humas PT. KAI Divisi Regional II Sumbar. "Kami terus berusaha meningkatkan pelayanan," katanya. Meski di balik keingan besar itu, Romeo menyadari, meningkatkan keinginan masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan KA bukanlah hal mudah. Baginya, harus ada pihak ketiga yang mendukung usaha PT. KAI. Romeyo mencontohkan, dengan penawaran-penawaran baru dari pihak pariwisata di Pariaman. "Tidak mungkin sala lauak, goreng maco, dan pemandangan pantai melulu yang dinikmati masyarakat," tegasnya. Lantas ia juga memisalkan, perihal yang akan mendongkrak keinginan masyarakat untuk naik KA dan berkunjung ke pantai Gondoriah. "Adakan acara tabuik atau acara tradisi lainnya sekaliseminggu," tegasnya. Memasuki pukul 08.00 wib, penumpang sudah berjibun mengisi kursi-kursi tunggu di peron stasiun. Benar-benar beragam, mulai dari orang tua, ibu-ibu yang menggendong anaknya, rombongan remaja, dan tentunya pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Lokomotif mulai digerakkan masinis dari ruang peristirahatan (Dipo) menuju jalur rangkaian gerbong. Dua orang petugas berseragam telah berdiri di bagian ujung gerbong dan sudah bersiap-siap merangkaikan lokomotif dengan gerbong. Ketika gerbong terangkai sempurna, penumpang mulai naik satu-persatu, mencari nomor kursi yang tertera di tiket. Peluit awal keberangkatan berbunyi pukul 08.25 wib, tanda KA Dang Tuanku sedang bersiap diberangkatkan. Kecuali satu gerbong di bagian paling belakang yang disediakan khusus bagi penumpang di stasiun Tabiang, lima gerbong lain sudah terisi penuh. Data yang diberikan pihak PT. KAI, menunjukkan semua penumpang berjumlah kurang-lebih 470 orang. Ketepatan waktu benar-benar ditunjukkan sebagai usaha peningkatan pelayanan. Pihak PT. KAI tidak ingin penumpang kecewa menyangkut ketepatan jam berangkat. Akhirnya Peluit keberangkatan dibunyikan sekali lagi, pukul 08.30. Kereta mulai digerakkan masinis, perlahan, lalu bertambah kecepatan. Sementara kereta beranjak dari stasiun, di loket pembelian tiket masih ada calon penumpang yang bertanya, "masih ada tiket?" Terlambat tentunya untuk jam keberangkatan itu, KA Dang Tuangku sudah berangkat, penumpang musti menunggu lagi jam keberangkatan berikutnya. Yakni dengan Sibinuang, KA serba lima ribu tersebut akan diberangkatkan lagi dari stasiun Simpang Haru menuju Pariaman, pukul 13.30 wib. Naik kreta api tut, tut, tut... ke Padang-Pariaman... *** Laporan: Esha Tegar Putra E-paper Harian Haluan, Senin 07 Maret 2011 Halaman 21 Wassalam Nofend/34+/M-CKRG => MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!! Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang, Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi Sumatera Barat. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
