Alhamdulillah....

 

Pak Emi, akhirnya bisa juga Rina membaca kenangan masa kecil Bapak ttg PRRI
ini,

Rina sering membaca tulisan Bapak tentang berjualan es torpedo bali ciek
dapek duo karena es torpedo belang dua dan punya dua rasa. Jadi bila Rina
minta diceritain ttg PRRI Rina yakin dapat cerita yang fresh dari ingatan
masa kecil Bapak yang waktu itu berumur 10 tahun.  

 

Janjang gantuang tempat Bapak jualan dulu adalah jalan favorit Rina untuk
bisa jalan ke pasar atas sambil membeli limau gadang atau jeruk Bali,
sewaktu menjual telur puyuh di  Pasar Bawah hasil ternakan kami untuk
menyambung sekolah. Sebab hanya di atas jenjang gantunglah adanya Amai-Amai
yang berjualan jeruk bali ini, murah sekali dan rina suka. 

 

Dari Pasa Banto perhentian Merci jalan kaki ke dalam pasar los maco tempat
telur puyuh dititipkan. Seribu butir tangan kiri seribu butir di tangan
kanan, tempatnyapun bekas tempat roti Khong Guan menambah berat lenganku.
Namun Alhamdulillah kami semua jadi Sarjana bahkan Abang Cudek sekarang
sudah specialis Paru dan dinas di Bangkinang. Alhamdulillah.

 

Kehidupan yang keras yang Bapak jalani membuat Bapak jadi seorang yang
pemberani dan bertanggung jawab. Yang telah melewati masa bagolak itu sering
menyebut dirinya seorang yang punya angok balabiah.  Saking mengerikan
suasana perang kala itu. Rina dari kecil ditemani dengan cerita-cerita
seperti ini dari orangtua kakek dan nenek. Walaupun merasa ngeri dan takut
tapi ada keasikan tersendiri bila mengetahui hal-hal baru.

 

Papa waktu PRRI itu sudah dewasa sudah kelas 3 SMA B di Birugo jurusan Ilmu
pasti sedangkan Mama masih kelas satu di SMPI Jirek. Papa langsung pergi ke
Sekolah Mama dan membawanya pulang ke kampung. Mereka sama-sama lari ke
kampung di Tilatang Kamang sesaat setelah serangan udara itu. Entah dikala
takut dan cemas yang bersangatan waktu tumbuh rasa diantara mereka,
entahlah. Mrk sama-sama malu mengungkapkannya. Akhirnya Papa pulang ka
Bako..Hehe.

 

Terima kasih Bapak, telah mau membaginya dengan kami di Rantaunet ini.
Mudah-mudahan ada sambungannya atau detailnya yang spesifik.

 

Wassalam

Rina

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of [email protected]
Sent: Friday, March 04, 2011 5:36 PM
To: Rantau
Subject: Re: [R@ntau-Net] Pilihan itu....

 

Rina dan sanak di Palanta
 
Sebelum pesawat menembaki sender RRI. Kami di beri tahu agar membuat lobang
perlindungan. Ibu dan ayah menggali sebuah lobang yang muat untuk kami
bersama ibu ayah. Dan adik-adik saya 4 orang. 
Ketika pesawat itu merendah, kerna Sender RRI tak jauh dari Rumah kami di
Gurun panjang.
Suheimi kecil dan adik2 kecil terbirit-birit berangkulan bersama ibu dan
ayah merunduk masuk lobang dibawah tanah

Itulah kali pertama saya melihat pesawat terbang merendah menukik dan dan
bunyi peluru yang memekakan anak telinga.
Kami menggigil ketakutan berangkulan dalam pelukan ayah ibu yang. Tercinta




-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke