EDITORIAL Media Indonesia, Sabtu, 12 Maret 2011 00:00 WIB      39 Komentar
12   6

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/12/209550/70/13/The-Age-dan-Pende
kar-Mabuk

(Lihat juga: http://bit.ly/dECw9z)

PEMERINTAH dan para pendekar lingkaran dalam istana kemarin kalang kabut.
Pemicunya adalah berita yang dimuat dua media Australia, yaitu the Age dan
the Sydney Morning Herald.

Dua media itu menulis berita utama soal dugaan penyalahgunaan kekuasaan yang
dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berita yang dimuat itu
berdasarkan kawat-kawat diplomatik rahasia Kedutaan Besar Amerika Serikat di
Jakarta yang bocor ke situs WikiLeaks.

Kawat-kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks menyebutkan bahwa SBY
secara pribadi telah campur tangan untuk memengaruhi jaksa dan hakim demi
melindungi tokoh-tokoh politik korup dan menekan musuh-musuhnya serta
menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik dan,
setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.

Itulah perkara yang membuat merah kuping pemerintah dan lingkaran dalam
istana kalang kabut. Mereka justru tergopoh-gopoh membantah berita yang
mereka sebut sebagai sampah.

Tidak hanya itu. Mereka pun berlomba-lomba tampil di muka publik untuk
membela SBY. Mulai dari Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel
Sparringa, Staf Khusus Presiden Deny Indrayana, Menkominfo Tifatul
Sembiring, Menlu Marty Natalegawa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menko
Perekonomian Hatta Rajasa, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Menko
Polkam Djoko Suyanto, bahkan hingga Wapres Boediono.

Mengapa elite pemerintah dan kalangan istana begitu reaktif menanggapi
pemberitaan itu? Di sisi lain, secara substansial seluruh statement yang
dikemukakan mereka seragam, yakni sebatas membantah dan menyatakan bahwa itu
hanyalah berita sampah. Bila semua itu tidak benar, mengapa petinggi kabinet
dan istana harus kelabakan menanggapi berita tersebut?

Semestinya pemerintah tidak perlu terlalu reaktif. Apalagi sampai memanggil
Duta Besar Amerika Serikat Scott Marciel dan memintanya bicara dengan nada
menyalahkan ketidakcermatan Kedubes AS dalam menyimpan data.

Respons istana dalam menanggapi berita the Age dan the Sydney Morning Herald
mencerminkan ketidakmatangan seisi istana dalam menghadapi kebebasan pers.

Lagi pula opini publik yang kuat hanya dapat dibentuk berbasiskan fakta,
bukan fiksi. Respons istana yang seperti 'pendekar mabuk' itu justru membuat
publik terdorong untuk berkesimpulan, jangan-jangan, pemberitaan itu
mengandung kebenaran.

Barangkali, inilah saatnya bagi publik di Australia dan juga Indonesia untuk
menunggu pernyataan Sekretaris Kabinet Dipo Alam bahwa kedua koran Australia
itu selalu menjelek-jelekkan pemerintah dan segera melarang seluruh staf
khusus Presiden untuk memberikan klarifikasi dalam siaran prime time.

Kepada tokoh lintas agama yang menilai pemerintah melakukan kebohongan,
Sekretaris Kabinet itu menyebut mereka sebagai burung gagak hitam pemakan
bangkai yang tampak seperti merpati berbulu putih. Apakah yang akan
dikatakannya kepada dua koran Australia dan Kedutaan AS? Jawabnya, pepatah
lama musang berbulu ayam akan muncul kembali.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke