Posted on October 3rd, 2007 in 13 Khazanah by redaksi

http://suara-muhammadiyah.com/?p=128

“Saya memberontak maka saya ada” (Ali Syari’ati).

Ali Syari’ati, adalah salah satu dari sedikit para pemikir Islam yang sangat
gundah dengan fenomena “kematian agama”. Apalagi latar historis saat
Syari’ati tumbuh berkembang menjadi intelektual terkemuka adalah kekuasaan
Syah Reza Pahlevi di Iran (1941-1979) yang mengumbar ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan. Di saat para ulama kebanyakan bungkam atau mengambil
sikap diam dan menjaga jarak dengan realitas sosio-politik kala itu,
Syari’ati tampil untuk melontarkan gagasan-gagasan radikal tentang oposisi
dan revolusi yang bersumber dari ajaran Islam yang sudah dicangkokkan dengan
tradisi revolusioner Dunia Ketiga dan Marxisme. Ali Syari’ati berhasil
membangun ideologi Islam revolusioner yang lantas ditawarkan sebagai
ideologi alternatif atas kecenderungan Marxis dan nasionalis-sekular yang
banyak digemari kalangan muda Iran saat itu.

Ulama, menurut Syari’ati telah mengkhianati Islam dengan “menjual diri”
kepada kelas penguasa, dengan begitu ulama telah mengubah Islam dari
kepercayaan revolusioner menjadi ideologi konservatif; menjadi agama negara
(dîn-i dewlati), yang paling tinggi hanya sebatas menekankan sikap
kedermawanan (philantropism), paternalisme, pengekangan diri secara sukarela
dari kemewahan.

Syari’ati lebih jauh menilai, hubungan khusus ulama semacam itu telah
menjadikan mereka sebagai instrumen kelas-kelas berharta. Lembaga-lembaga
pendidikan Islam yang dikelola ulama dibiayai kaum kelas berharta untuk
mencegah ulama berbicara tentang perlunya menyelamatkan kaum miskin dan
mereka yang tertindas (mustad’afîn). Sebaliknya, dengan menggunakan doktrin
tentang fiqih ekonomi, ulama berupaya mengabsahkan eksploitasi yang menurut
Syari’ati lebih eksploitatif dibandingkan dengan kapitalisme Amerika. Islam
di tangan ulama itu telah menjadi khordeh-i burzhuazi (borjuasi kecil).

Masih menurut Syari’ati, banyak ulama berpandangan sangat picik (ulamâ-i
qisyri), yang bisa mengulang-ulang doktrin fiqih secara bodoh. Mereka
memberlakukan Kitab Suci sebagai lembaran kering, tanpa makna, sementara
pada sisi lain asyik dengan isu-isu yang tidak penting seperti soal pakaian,
ritual, panjang pendeknya jenggot dan semacamnya. Akibatnya ulama gagal
memahami makna istilah-istilah kunci seperti ummah, imâmah, dan nizâm
al-tauhîd. Ulama yang digambarkan Syari’ati itu lebih cenderung fiqih
oriented dan senang bergumul dengan wacana khilâfiyah yang semua itu tidak
terkait dengan problem real masyarakat. Kemiskinan, kebodohan dan
keterbelakangan serta penindasan menjadi isu yang tak tersentuh
(untouchtable) dalam alam pikiran para ulama sehari-hari.

Ali Syari’ati adalah contoh intelektual sui generis (unik) yang berani
melawan mainstreem (arus besar) politik maupun pemikiran Islam. Ia dapat
disejajarkan dengan para pembaharu Sunni pendahulunya, seperti Jamal al-Din
al-Afghani (w.1897), Muhammad Abduh (w. 1905) atau Muhammad Iqbal (w.1938).
Sama dengan Syari’ati, mereka adalah pembaharu pemikiran Islam dan sekaligus
para oposan yang sangat kritis dengan fenomena ketidakadilan dan
imperialisme Barat. Yang membedakan antara Syari’ati dengan ketiga tokoh
Sunni itu adalah bahwa, Syari’ati lebih radikal dalam mengimplementasikan
pemikiran-pemikiran pembaharuannya dan ini yang perlu mendapat catatan tebal
sejarah pembaharuan Islam, bahwa Syari’ati dengan gagasan revolusinya
berhasil menarik gerbong oposisi di kalangan masyarakat Iran untuk melawan
rezim yang berkuasa sampai akhirnya gerakan oposisi itu berhasil melakukan
revolusi bersejarah tahun 1979.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke