Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Cerpen nan ditulih hampia sapuluah tahun nan lapeh......
SEORANG SOPIR TAKSI
Sebuah taksi berjalan pelan di belakangku. Begitu aku berbelok kekiri di
persimpangan jalan taksi itu ikut berbelok dan terus melaju menuju ke arah
mesjid. Suara azan maghrib tengah berkumandang dan terdengar lantang dari
pengeras suara di kubah mesjid. Taksi itu berhenti persis di depan mesjid. Dari
kejauhan kulihat sopir taksi itu keluar dari taksinya. Tangannya memegang
kopiah
beledru hitam. Aku yang masih beberapa puluh langkah lagi dari pagar mesjid
dapat melihat sosok sopir yang kurus tinggi itu. Dalam hati aku bergumam, ‘wah,
seorang sopir yang saleh rupanya, alhamdulillah.’
Waktu melihat kebarisan saf yang sudah tersusun rapi, mataku bersirobok dengan
mata pengemudi taksi kurus tinggi tadi. Dia berada di saf yang pertama.
Pandangan matanya tajam. Guratan wajahnya terlihat keras. Aku hanya sepintas
melihatnya sebelum pandangan mataku menyapu segenap jamaah yang saat itu sudah
siap memulai shalat. Kamipun shalat. Seselesai shalat, seperti biasa aku
memutar
dudukku menghadap serong ke belakang ke arah kanan. Kami larut di dalam
kesyahduan dan keheningan zikir.
Dalam keheningan itu aku dikejutkan oleh zikirnya yang mendengus, lirih dengan
bunyi lah…lah…lah… beraturan. Sepertinya dia berusaha menahan suara itu tapi
tetap saja ujung lah…lah…lah… berhamburan keluar di setiap tarikan nafasnya.
Matanya terpejam dan kepalanya berayun-ayun mengiringi desisan suara lirih itu.
Beberapa puluh detik aku sempat memperhatikannya sebelum istighfar, memejamkan
mata pula, aku mencoba menghindar darinya untuk meneruskan kesunyian zikirku.
Kemudian aku tutup rangkaian zikir itu dengan shalat sunah ba’diyah.
Waktu aku mengakhiri shalat dengan tolehan salam ke kiri, laki-laki sopir taksi
itu sudah duduk persis di belakangku, sudah lebih dahulu selesai shalat
agaknya.
Diulurkannya tangannya kepadaku diiringi ucapan salam yang lengkap,
‘assalamu’alaikum warahmatullahi wabaratuh’. Akupun menjawab utuh.
‘Khusyuk benar rasanya saya shalat di sini. Mesjid apa namanya ini pak haji?’
katanya memulai percakapan.
‘Alhamdulillah kalau begitu. Mesjid Al Husna. Sampeyan sopir taksi yang di
depan
mesjid itu bukan?’ aku bertanya berbasa-basi.
‘Benar. Nama saya Ali Masykur. Rupanya pak haji mengenali setiap jamaah mesjid
ini dan tahu kalau ada pendatang baru.’ ungkapnya dengan dialek Jawa Timur.
‘Bukan begitu. Kebetulan saya melihat taksi sampeyan berjalan perlahan di
belakang saya sebelum berbelok ke arah mesjid ini tadi.’
‘Oh iya, saya ingat tadi mengikuti pak haji. Saya sedang mencari-cari dari arah
mana datangnya suara azan. Begitu saya melihat menara mesjid saya langsung
bergegas dan tidak ingat mengajak pak haji bersama-sama. Maafkan saya.’
‘Tidak apa-apa. Jadi tiap hari membawa taksi?’ aku coba mengalihkan
pembicaraan.
‘Berganti hari. Sehari jalan, sehari istirahat.’ jawabnya.
‘Tapi ngomong-ngomong ini mesjid Muhammadiyah rupanya?’
‘Bukan. Kenapa agaknya?’ tanyaku setengah menyelidik.
‘Masak sih bukan mesjid Muhammadiyah? Dari cara shalatnya, dari cara zikirnya,
dari suasana mesjidnya saya yakin ini mesjid Muhammadiyah.’
‘Baiklah, coba jelaskan bagaimana ciri mesjid Muhammadiyah dan bagaimana pula
ciri mesjid yang bukan Muhammadiyah? Karena ini bukan mesjid Muhammadiyah,
mesjid apa lagi kira-kira menurut dugaan sampeyan?’
‘Saya terlahir dari lingkungan NU. Orang tua saya, orang sekampung saya semua
orang NU. Di mesjid kalangan NU sesudah azan biasanya ada alunan salawat badar,
imamnya biasanya pakai sorban dan berbaju gamis. Sesudah shalat biasanya kami
zikir beramai-ramai. Sesudah itu kami bersalawat nabi sambil bersalam-salaman
sebelum mengerjakan shalat sunat. Sedang di sini tidak demikian. Dan biasanya
yang tidak melakukan demikian hanya di lingkungan orang Muhammadiyah, yang
kononnya selalu bersu’uzhon bahwa orang NU terlalu banyak bid’ah. Apakah mesjid
ini benar-benar bukan mesjid Muhammadiyah?’ tanyanya lagi.
‘Bukan. Mesjid ini bukan mesjid Muhammadiyah dan bukan mesjid NU. Mesjid ini
mesjid umat Islam. Di mesjid ini kami tidak pernah mempercakapkan Muhammadiyah
atau NU, kami berusaha hanya mempercakapkan Islam tanpa ada sekat-sekat.’
‘Wah! Cerita baru bagi saya. Bagaimana dengan amalan-amalan sehari-hari seperti
zikir dan sebangsanya? Apakah juga hanya berdasarkan Islam tanpa sekat-sekat
itu
tadi?’
‘Betul sekali. Cukup hanya berdasarkan Islam. Lagi pula bukankah yang sampeyan
maksudkan tadi hanya menyangkut ibadah-ibadah sunah? Apakah shalat tadi
misalnya
berbeda dengan shalat yang sampeyan kenal atau sampeyan lakukan? Apakah bacaan
al fatihahnya berbeda dengan yang sampeyan kenal? Mudah-mudahan tidak berbeda
bukan? Islam tidak pernah membagi diri menjadi NU dan Muhammadiyah. Di mesjid
ini kami bersama-sama membaca-baca kitab hadits baik sahih Bukhari, Muslim, Abu
Daud dan sebagainya. Yang menyangkut amalan sehari-hari, apa-apa yang kami
baca,
dan kami yakini kesahihannya atau bisa pula setelah kami bertanya kepada para
ustad, kami coba mengamalkan. Kalau memang tidak ada tuntunan suatu amalan
tersebut kami tidak mau melakukan.’
‘Kalau tidak salah itu juga yang dikatakan oleh orang-orang Muhammadiyah. Itu
juga yang dijadikan alasan oleh mereka untuk mengatakan orang NU sering
mengada-adakan amalan yang tidak ada tuntunannya. Bukankah itu berarti bahwa di
mesjid ini lebih diterima faham Muhammadiyah?’
‘Sekali lagi tidak. Kalau orang Muhammadiyah mengatakan demikian tidak ada
sangkut pautnya dengan kami di mesjid ini. Kami berusaha menjadi orang Islam,
mengikuti al Quran dan hadits Rasulullah SAW. Itu saja. Tahukah sampeyan bahwa
NU dan Muhammadiyah itu hanya ada di negeri kita ini saja sementara Islam ada
di
seluruh bagian bumi? Apakah sampeyan akan menuduh imam shalat di masjidil Haram
orang Muhammadiyah pula karena di sana juga tidak ada zikir bersama-sama, tidak
ada salawat badar? Coba bayangkan kalau sesudah zikir semua orang harus
bersalam-salaman pula seperti yang saudara katakan tadi, belum selesai semua
orang disalami sudah masuk lagi waktu shalat, bisa jadi urusan semua orang
nantinya hanya shalat dan bersalam-salaman saja.’
‘Benar juga yang pak haji katakan. Tapi apakah pak haji terganggu dengan cara
zikir saya tadi?’
‘Mulanya saya terganggu. Artinya saya tertarik untuk memperhatikan sampeyan.
Tapi tidak lama, setelah itu saya sudah larut lagi dengan diri saya sendiri.’
‘Apakah jamaah disini kira-kira terganggu?’
‘Saya tidak tahu. Tapi paling tidak tentu sampeyan merasa seolah-olah begitu
karena cara sampeyan kebetulan agak berbeda dengan jamaah di sini. Tapi
bukankah
tidak ada yang menegor sampeyan?’
‘Tidak ada yang menegor tapi saya telah tampil berbeda. Tentu akan jadi omongan
jamaah lain.’
‘Tidak perlu pula sampeyan pikirkan.’
‘Bagaimana sebenarnya pandangan pak haji tentang NU dan Muhammadiyah di negeri
kita ini? Apakah itu merupakan suatu kekeliruan?’
‘Wah! Sampeyan jangan terlalu cepat menafsirkan kemungkinan pendapat orang
lain.
Saya tidak pernah mengatakan NU dan Muhammadiyah itu merupakan suatu
kekeliruan.
Berkumpul dalam suatu wadah organisasi dengan nama apapun tentu tidak ada
salahnya. Mau bergabung dengan NU atau Muhammadiyah sebagai suatu induk
organisasi massa Islam silahkan saja. Apalagi kalau tujuannya untuk
kemashlahatan umat, untuk mendidik umat dengan pesantren-pesantren, dengan
madrasah-madrasah, dengan sekolah-sekolah bahkan sampai ke perguruan tinggi.
Semuanya itu bagus sekali. Yang kurang elok adalah kalau sesudah itu yang lebih
ditonjolkan adalah organisasinya ketimbang Islamnya. Lalu saling merasa
organisasinya yang serba lebih. Lalu saling jelek menjelekkan. Cara seperti ini
tentu bukan cara-cara Islam.’
‘Benar. Benar sekali yang pak haji katakan. Saya setuju. Setuju sekali.
Baiklah.
Apakah saya boleh sering-sering menumpang shalat di mesjid ini? Kalau pas
kebetulan liwat dekat-dekat sini?’
‘Masya Allah! Tidak ada istilah menumpang shalat di mesjid. Mesjid itu tempat
shalat. Mesjid yang manapun. Janganlah sampeyan merasa bahwa mesjid itu
bersekat-sekat, ada mesjid kelompok ini, kelompok itu.’
‘Benar pak haji. Pak haji benar sekali. Saya yang salah melulu. Saya mohon
maaf.’
Perbincangan kami berakhir saat dikumandangkan azan shalat Isya.
*****
Wassalamu'alaikum
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi
________________________________
From: Arman Bahar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, March 13, 2011 9:32:32 PM
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] Tablig Akbar. oleh Ustazd Abu Thohir LC
diMesjidUmar bin Khattab, Jln Delima - Pekanbaru
Alhamdulillah, lah matrap kegiatan musajik mak Zultan tu mah.....
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/