03 AGUSTUS 1991


Mengoreksi pemberontakan



Sumber :
http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/1991/08/03/NAS/mbm.19910803.NAS11981.id.html



Leirissa membantah PRRI gerakan separatis. Itu dibuktikannya lewat
PRRI-Permesta. Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis. PERISTIWA itu
sudah berlalu hampir 40 tahun. Tapi selalu menarik untuk dibicarakan.
Soalnya, inilah pemberontakan sesudah Indonesia Merdeka yang melibatkan
wilayah paling luas dibandingkan pemberontakan lain: Sumatera dan Sulawesi.
Pemberontakan DI/TII hanya meliputi Aceh dan Jawa Barat. Pemberontakan yang
selalu disebut gerakan separatis untuk memisahkan Sumatera dan Sulawesi
dengan Jawa ini juga melibatkan sejumlah perwira dan pemuka partai Masyumi
dan PSI. Mereka antara lain eks Kolonel M. Simbolon, eks Kolonel Kawilarang,
eks Kolonel Zulkifli Lubis, eks Letkol. Achmad Husein, eks Perdana Menteri
M. Natsir, dan eks Presiden PDRI Syafruddin Prawiranegara (keduanya
Masyumi), serta Menteri Sumitro Djojohadikusumo (PSI). "Padahal, gerakan ini
bukan separatis, seperti RMS, DI/TII, atau PKI Madiun," kata R.Z. Leirissa,
Ketua Jurusan Sejarah FS UI. Memang inilah salah satu yang ingin dibuktikan
Leirissa melalui bukunya, PRRI-Permesta. Strategi Membangun Indonesia Tanpa
Komunis, yang baru saja diterbitkan PT Pustaka Utama Grafiti. Bukan
separatis? Pemerintah pusat justru menganggap PRRI (Pemerintah Revolusioner
Republik Indonesia), yang diumumkan 15 Februari 1958 dan dipimpin Syafruddin
Prawiranegara sebagai perdana menteri, sebagai negara dalam negara. Maka,
lima hari kemudian, pesawat-pesawat AURI mengebom Padang, pusat
pemberontakan. Lalu, pertempuran pun pecah di berbagai daerah di Sumatera
Barat, Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara. Barbara Sillars
Harvey, ahli politik Asia Tenggara dari Universitas Cornell, menyebut
pemberontakan ini, sebagaimana disimpulkannya dalam buku Permesta:
Half-A-Rebellion (yang diterjemahkan Pustaka Utama Grafiti di bawah judul
Permesta: Pemberontakan Setengah Hati), sekadar untuk menggertak pemerintah
pusat agar aspirasi mereka dipenuhi. Menurut Leirissa, tuduhan separatis
untuk PRRI seperti dipahami semua orang sejak dahulu, seperti juga ditemukan
dalam buku Memenuhi Panggilan Tugas (Jilid 4) yang ditulis Jenderal (Purn.)
A.H. Nasution, muncul karena ada fakta-fakta yang hilang. "Yaitu kaitan
langsung antara Musyawarah Nasional dan PRRI," kata Leirissa. Semua ini
memang bermula dari ketidakpuasan sejumlah daerah mengenai otonomi dan
pembagian kue pembangunan setelah Indonesia Merdeka. Sebagian pemuka daerah
itu menganggap daerah mereka dianaktirikan karena pembangunan terpusat di
Pulau Jawa. Padahal, Sumatera, yang kaya karet dan hasil perkebunan lainnya,
atau Sulawesi, yang kaya kopra, merupakan pemasok devisa terbesar bagi
Indonesia. Ketidakpuasan itu meningkat ketika Wakil Presiden Hatta, yang
dianggap sebagai simbol orang daerah, mengundurkan diri akhir 1956 karena
berbeda pendirian dengan Presiden Soekarno. Pecahnya dwi tunggal ini
menimbulkan kekecewaan di daerah-daerah. Lalu, muncul pula kebijaksanaan
KSAD Mayor Jenderal Nasution memutasikan sejumlah perwira, seperti Wakil
KSAD Kolonel Zulkifli Lubis dan kawan-kawan, yang tentu saja menimbulkan
ketidakpuasan bagi mereka yang terkena pemindahan tersebut. Kekhawatiran
orang-orang daerah itu, yang hampir semuanya antikomunis, makin terdorong
setelah melihat eratnya hubungan antara Soekarno dan PKI, yang masuk lima
besar dalam pengumpulan suara pada Pemilu 1955. Akhirnya, pada akhir 1956,
dengan disponsori para perwira militer di daerah, berdirilah Dewan Banteng
(Sumatera Barat), Dewan Gajah (Sumatera Utara), Dewan Garuda (Sumatera
Selatan), dan Permesta (Sulawesi), semacam pemerintah darurat di daerah
masing-masing. Leirissa lewat bukunya ini mengungkapkan betapa sebenarnya
telah terjadi rekonsiliasi antara pemerintah pusat dan PRRI, melalui
Musyawarah Nasional (Munas) yang disponsori sejumlah perwira TNI AD yang
kurang sreg dengan kebijaksanaan Nasution. "Literatur yang saya baca tak
menyiratkan hubungan PRRI dengan Munas," kata Leirissa, yang menulis soal
ini sampai dua bab. Munas yang berlangsung di Jakarta, 10-13 September 1957,
dihadiri para pejabat dan tokoh masyarakat daerah, serta para pembangkang,
seperti Achmad Husein, Ventje Sumual, dan kawan-kawan. Munas ini memenuhi
beberapa tuntutan orang daerah, seperti mengupayakan keutuhan dwitunggal
Soekarno-Hatta, dan penyelesaian pertentangan di Angkatan Darat. Sebagai
tindak lanjut Munas, kemudian dibentuk Panitia 7. Salah satu keputusan
Panitia 7 ialah memberikan amnesti umum kepada semua pembangkang, yang
rencananya akan diumumkan 3 Desember 1957. Tiba- tiba, tiga hari sebelum
pengumuman, ketika Soekarno menghadiri sebuah upacara di Perguruan Cikini,
Jakarta, sejumlah granat dilemparkan ke alamat Kepala Negara. Soekarno
selamat. Tapi suasana jadi gawat. Pihak militer berhasil membongkar dan
menangkap pelaku penggranatan sehari kemudian, dan tuduhannya dilontarkan ke
arah kaum pembangkang. Pemerintah lalu membatalkan semua keputusan Panitia
7. Februari 1957, kaum pembangkang mengadakan pertemuan di Sungai Dareh,
Sumatera Barat, untuk merapatkan barisan. Lalu terbentuklah PRRI. "Kami
sudah diblokade. Maka, seperti kata pepatah Minang, musuh tak dicari, bersua
tak dielakkan," kata Achmad Husein, 67 tahun, yang kini jadi pengusaha di
Jakarta. Peristiwa Cikini dituding Leirissa penyebab gagalnya penyelesaian
perselisihan itu secara damai, dan akhirnya PRRI harus mempertahankan diri
dengan mencari senjata dari dinas rahasia Amerika, CIA. "Sejak semula mereka
tak berencana untuk memberontak," katanya. Tuduhan terhadap Zulkifli sebagai
dalang Cikini sampai sekarang tak pernah terbukti. "Saya tak suka kekerasan.
Mana mungkin melakukan itu?" kata Zulkifli kepada TEMPO. Zulkifli, yang kini
menetap di Jakarta, malah menuduh peristiwa itu buatan musuh mereka untuk
menggagalkan hasil Munas. Amran Nasution, Indrawan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke