Sato sakaki.

Awal tahun 80-an dulu, Lembaga Manajemen FE UI pernah menyelenggarakan
kursus "Evaluasi Proyek Aspek Makro". Hitungan-hitungan di bawah ini
termasuk yang dikaji di sini, disebut sebagai biaya ekonomi eksisting atas
suatu kondisi. Biaya ekonomi ini ada yang dapat diidentifikasikan dan ada
yang tidak. Ada yang dapat dihitung dan ada yang tidak. Kalau melihat
hitung-hitung di bawah, biaya ekonomi akibat kemacetan tersebut dapat lebih
besar lagi. Misalnya berkurangan waktu produktif karena sering terlambatnya
masuk kantor, bertambahnya biaya perawatan dan pengobatan akibat stres, etc.
etc.

Pertanyaan tentu, apa solusinya? Dugaan saya, pindahkan ibu kota. Nah
hitung-hitungannya di sini apakah manfaat ekonomi dari pemindahan ibukota
lebih besar daripada biayanya. Pendekatan yang lazim digunakan adalah dengan
memperbandingkan kondisi 'dengan proyek' dengan kondisi 'tanpa proyek'.
Dengan adanya proyek pemindahan ibukota, maka biaya-biaya tersebut dapat
ditiadakan (ada saving). Saving tersebut diidentifikasikan dan dihitung
sebagai salah satu manfaat ekonomi dan setelah dijumlahkan dengan
manfaat-manfaat lainnya, kemudian dibandingkan dengan biaya ekonomi
(investasi barang modal serta biaya O&M), dihitung dengan satuan biaya
ekonomi (biaya rill atau biaya oportunitasnya).

Pertanyaan berikutnya kalau proyek pemindahan ibukota ini viable secara
ekonomi (EIRR > social discount rate) mampukah bangsa ini untuk memikul
biaya ekonomi pemindahan ibukota tersebut--yang pastinya tentu besar sekali,
terutama jika pemindahan ibukota ini dilakukan 10 atau 20 tahun ke depan?
Pertanyaan berikutnya adilkah? 'Beneficiaries' proyek pemindahan ibukota ini
hanya penduduk Jakarta + sebagian penduduk Botadebek, sedangkan biayanya
dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia melalui APBN. 

BTW, beberapa waktu yang lalu, Pak JK pernah menulis tentang solusi
pemindahan ibukota guna mengatasi kemacetan ibukota (pernah saya lewakan di
sini [*] ). Kesimpulan beliau: negatif, atawa itu bukan solusinya.

Saya yang berpikir sederhana ini setuju sekali dengan pendapat Pak JK. Entah
nanti, kalau Indonesia--minimal--sudah semakmur Malaysia.

Sekian dan mohon maaf,

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+), Depok

[*] Jakarta Mestinya Tidak Semacet Ini, Kompas, Rabu, 25 Agustus 2010 |
03:08 WIB

(http://cetak.kompas.com/read/2010/08/25/03084877/jakarta.mestinya.tidak.sem
acet.ini )

. 


 
<http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/139101;_ylc=X3oDMTJza2phZG9
rBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzExMjAxMjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzOTE
wMQRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMzAwMzQ5MDQ1> [R@ntau-Net] Warga
Jakarta Rugi Rp 43 Triliun per Tahun Akibat Macet 


Posted by: "Chalik, Kurnia(JKT-SSD)"
<mailto:[email protected]?Subject=%20Re%3A%20%5BR%40ntau-Net%5D%20Wa
rga%20Jakarta%20Rugi%20Rp%2043%20Triliun%20per%20Tahun%20Akibat%20Macet>
[email protected] 


Wed Mar 16, 2011 11:25 pm (PDT) 




Sebuah tulisan menarik dari Uda Andrinof Chaniago.

 
<http://www.detikfinance.com/read/2011/03/17/114457/1594024/4/warga-jakarta-
rugi-rp-43-triliun-per-tahun-akibat-macet?f9911013>
http://www.detikfinance.com/read/2011/03/17/114457/1594024/4/warga-jakarta-r
ugi-rp-43-triliun-per-tahun-akibat-macet?f9911013

Jakarta - Kemacetan parah yang terjadi di Jakarta membuat warganya rugi yang
nilainya mencapai Rp 43 triliun per tahun. Karena konsumsi BBM naik, serta
jasa perbaikan kendaraan yang makin mahal.

"Setahun itu bisa Rp 43 triliun total kerugian akibat kemacetan, kalau yang
agregat itu sekitar Rp 28 triliun. Tapi 20 triliun itu sangat besar
pemborosan," ujar Ekonom UI Andrinof Chaniago saat dihubungi detikFinance,
Kamis (17/3/2011).

Menurut Andrinof, dampak kerugian kemacetan Jakarta tidak begitu terlihat
dalam ekonomi makro. Namun, dari segi konsumsi masyarakat, kemacetan dapat
meningkatkan konsumsi warga Jakarta tetapi tidak meningkatkan pendapatannya.

Pasalnya, kemacetan memaksa warga mengeluarkan pendapatannya untuk tambahan
BBM, jasa perbaikan kendaraan, dan sebagainya.

"Efisiensi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat negatif. Kemacetan membuat
pertumbuhan ekonomi tak berkualitas banyak pemborosan, bagi rumah tangga dan
warga, konsumsi meningkat dibanding pendapatan untuk barang tertentu tetapi
daya beli masyarakat menurun. Ini tanda perekonomian tidak efisien bagi
pribadi dan keseluruhan," ujar Anggota Tim Visi Indonesia 2033.

Meskipun, lanjut Andrinof, ada juga beberapa kalangan yang merasakan
keuntungan dari kemacetan tersebut.

"Memang untuk yang bermodal kuat, pengusaha IT, jasa IT, otomotif itu,
apartemen itu untung. Bagi kalangan tertentu memberi keuntungan," ujarnya.

Namun, Andrinof menilai pertumbuhan seperti tersebut bukan merupakan
pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.

"Tapi itu tidak berkeadilan, tidak mensejahterakan tidak menurunkan
pertumbuhan ekonomi secara agregat, tapi menambah konsumsi yang tidak
produktif," pungkasnya.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke