Korrie Layun Rampan

http://goesprih.blogspot.com/2009/08/mengenal-selasih.html

Selasih merupakan nama samaran Sariamin Ismail. Ia dilahirkan di Talu,
Sumatra Barat, 31 Juli 1909. Setelah lulus SD 5 tahun (Gouvernement School)
pada tahun 1921, ia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah guru (Meisjes
Normaal School) dan tamat tahun 1925. Sejak itu ia terjun di dunia
pendidikan. Pada tahun 1925 ia mengajar di Bengkulu dan tak lama diangkat
sebagai kepala sekolah. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Padangpanjang,
lalu tahun 1939 dipindahkan ke Aceh. Di daerah ini hanya bertahan dua tahun.
Sejak 1941 ia mengajar di Kuantan dan sampai tahun 1968 ia terus berkiprah
di dunia pendidikan di daerah Riau. Pengalamannya mengajar sejak tingkat SD
hingga SMU memberi warna tersendiri di dalam kehidupannya selama
bertahun-tahun. Ia juga pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bond Dames
Afdeling Cabang Bukittinggi (1928-1930), dan anggota DPRD Riau (1947- 1948).

Sejalan dengan pekerjaannya sebagai guru, Selasih giat dalam pertunjukan
sandiwara bertendens pendidikan. Ia mementaskan sejumlah sandiwara di
beberapa kota di Riau seperti Kuantan, Tanjung Pinang, Pekanbaru, dan
lain-lain.

Menulis di zaman penjajahan tidaklah mudah. Selain berbagai pembatasan yang
dikenakan terhadap karya tulis, juga pengarangnya setiap saat harus siap
mempertanggungjawabkan pikiran-pikiran yang diuraikan di dalam tulisannya
itu. Sariamin yang aktif sebagai anggota organisasi politik Indonesia Muda
dan Gerakan Ingin Merdeka merasakan bahwa dirinya selalu berada di bawah
ancaman jika ditemukan bukti melakukan perlawanan terhadap rezim penjajah.
Ia menunjukkan, sejumlah temannya yang aktif dalam perkumpulan di bawah
tanah seperti Aziz Chan, Djafar Djambek, Alwi Luwis, dan lain-lain harus
mengakhiri hidup di ujung bedil, atau selama bertahun-tahun mendekam di
balik jeruji. Pada zaman itu menjadi pengarang sekaligus sebagai pejuang
untuk kemerdekaan tanah air. Untuk itulah ia menggunakan sejumlah nama
samaran, agar dapat terhindar dari penciuman pihak keamanan (polisi)
kolonial. Beberapa nama samarannya ialah Sekejut Gelingging, Seri Tanjung
Dahlia, Sen Gunting, Seri Gunung, Bunda Kanduang, Mande Rubiah, Ibu Sejati,
Seleguri, dan Selasih.

Nama Selasih ditemukannya secara tak sengaja pada saat ia mulai dihinggapi
mimpi untuk menjadi pujangga pada tahun 1932. Pada tahun itu ia selesai
menulis novel Kalau Tak Untung. Ia merasa ragu, dengan nama apa novel itu
diterbitkan. Pada awalnya ia ingin menggunakan nama Ibu Sejati, akan tetapi
nama itu sudah dikenal luas sebagai nama seorang penulis yang bersikap
melawan kebijakan pemerintah kolonial. Nama lainnya Seleguri juga sudah
dikenal. Dalam hubungan itu Darman Moenir mencatat penjelasan Selasih lewat
ceramah sastra di Taman Ismail Marzuki, 17 September 1986 (lihat Horison,
No. 11, Th. XXI, November 1986, him. 385-386) di mana, "Sebelum mengirim
Kalau Tak Untung ke Betawi (Jakarta), cukup lama Sariamin berunding dengan
diri sendiri. Pada mulanya dia ingin menggunakan nama Ibu Sejati. Sayang,
nama ini terlanjur dikenal sebagai yang suka melawan dan menentang tindakan
pemerintah (Belanda) sehingga Suska-redaktur utama Persamaan, jadi pusing;
terpaksa membayar denda! Namun, Seleguri pun terkenal (di Medan) sebagai
penulis Lukisan Dunia dan Sunting Melayu." Setelah memilih sejumlah nama
samaran, akhirnya ditetapkan nama Selasih, yaitu nama "sejenis
tumbuh-tumbuhan yang keadaannya hampir sama dengan seleguri: tak berguna,
bunganya pun amat kecil tak berseri; dicari hanya ketika demam untuk
dijadikan obat."

Novel Kalau Tak Untung terbit pada tahun 1933. Aman Datuk Madjoindo memberi
komentar lewat radio-beberapa hari setelah novel itu diluncurkan-bahwa telah
lahir pujangga putri pertama di Hindia Belanda. Para pengarang lainnya
seperti Armijn Pane, Kasoema Datuk Pamuntjak dan lain-lain memuji
keberhasilan Selasih, dengan menyebutkan ia sebagai pionirdalam penulisan
novel dari gendernya.

Mungkin ada yang ingin tahu sejak kapan dan hal apa yang mendorong Selasih
menulis? Menurut penuturannya pada ceramah yang sudah disebutkan di atas, ia
menulis sejak bulan Mei 1926, ketika ia menjadi guru di Matur. Seorang
mantan gurunya, Sitti NoerMariah Naro setengah memaksa agar ia menulis untuk
majalah Assyarag yang terbit di Padang. Majalah ini merupakan milik
Persatuan Guru Perempuan, dan banyak mendorong bakat-bakat baru dengan
memberi kesempatan tampil dengan gagasan-gagasan yang inovatif. Di antara
pimpinan majalah ini terdapat nama Rasjid Manggis dan Rustam Effendi.
Tulisan pertama Selasih di majalah itu berjudul: "Perlukah Anak Perempuan
Bersekolah?"

Bakat menulisnya lebih berkembang setelah pada tahun 1927 ia pindah di Lubuk
Sikaping. Dari segi tempat bekerja, sejak dari Bengkulu dan Matur, Lubuk
Sikaping lebih memungkinkan menemukan bacaan yang mendorong bakatnya
menulis. Pada tahun 1927 itu ia berjumpa dengan Abdul Latief yang
memperkenalkan padanya majalah Seri Pustaka, Panji Pustaka, dan Bintang
Hindia. Setelah ia pindah di Bukittinggi cakrawala wawasannya lebih
diperlebar oleh beberapa surat kabar seperti Persamaan, Sinar Sumatera, dan
Sumatera Bond. Pada media massa inilah Selasih mengembangkan bakatnya
menulis, baik di bidang sastra, seni-budaya, pendidikan, dan juga politik.

Terbitnya Kalau Tak Untung lebih membesarkan hatinya, bukan hanya karena
namanya melejit sebagai wanita pujangga, akan tetapi imbalan yang diberikan
Balai Pustaka sungguh-sungguh membanggakan. Oleh karena itu ia kemudian
menulis novel kedua, Pengaruh Keadaan, dan terbit tahun 1937. Meskipun novel
ini tidak sekuat Kalau Tak Untung, akan tetapi penerbitannya di Balai
Pustaka merupakan suatu kepuasan tersendiri.

Pada tahun 1939 Selasih ikut serta dalam lomba mengarang roman yang diadakan
oleh Balai Pustaka. Naskahnya yang diberi judul Harapan Ibu menduduki
peringkat sembilan dari dua belas pemenang. Sayangnya naskah itu hilang,
karena penerbitannya terbentur keadaan ekonomi pemerintah kolonial Belanda
yang ambruk karena maleise dan sedang menghadapi suasana Perang Dunia II.
Hal yang membanggakan dari sayembara itu di mana pengikutnya mencapai dua
ratus lima puluh enam naskah, dan ia menduduki ranking sembilan, merupakan
suatu kebanggaan tersendiri.

Di samping menulis karya fiksi ia juga menulis puisi dan menerjemahkan
sejumlah karya dari Barat maupun dari Timur, terutama karya-karya yang
ditulis dalam bahasa Belanda, dan dari Timur terutama dari karya-karya
pengarang Cina. Sebagian puisinya dipilih Sutan Takdir Alisjahbana untuk
antologi Puisi Baru (1946), Toeti Heraty dalam Seserpih Pinang SepucukSirih
(1979), Linus Suryadi AG dalam Tonggak I (1986) dan Korrie Layun Rampan
dalam Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (dalam proses
penerbitan).

Sebagai sastrawati yang mengalami tiga zaman (Belanda, Jepang, dan
kemerdekaan) ia menimba banyak pengalaman berharga. Ia sempat berhenti
menulis sejak zaman penjajahan Jepang dan baru memulai lagi pada awal
1980-an. Pada pemunculannya yang kedua ia menerbitkan sejumlah buku cerita
anak-anak seperti Panca Juara (1981), Nahkoda Lancang (1982), Cerita Kak
Mursi (1984), dan lain-lain. Dorongan mengarang ini didapatkan pada tahun
1981 ketika Menteri P dan K Dr. Daoed Joesoef menemuinya pada tanggal 18
November 1981, memintanya menulis lagi. Dorongan ini disanggupinya, dan
sampai tahun 1986 ia berhasil menulis dua puluh satu naskah - yang rata-rata
setebal 200 halaman- dan sebagiannya diterbitkan dalam Proyek Penerbitan
Buku Sastra Indonesia dan Daerah yang dikelola pihak P dan K. Di antara buku
ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau.

Novel paling akhir Selasih berjudul Kembali ke Pangkaian Ayah yang
diterbitkan Mutiara Sumber Widya pada tahun 1986. Penerbitan ulang novel ini
dilakukan oleh Penerbit Balai Pustaka pada tahun 1997. Dengan sejumlah karya
sastra yang telah ditulisnya itu, namanya tercatat dalam sejarah sastra
Indonesia sebagai sastrawati yang digolongkan di dalam kelompok Angkatan
Balai Pustaka, yaitu kelompok sastrawan awal dalam sejarah kesusastraan
Indonesia modern.***

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke