Elin Yunita Kristanti | Selasa, 22 Maret 2011, 13:25 WIB 

VIVAnews - Pada Rabu 30 September 2009, gempa dahsyat 7,9 skala Richter 
mengguncang wilayah Pariaman, Sumatera Barat. Dampaknya sampai ke Kota Padang. 
Sedikitnya 1.117 orang tewas kala itu. 

Setahun lebih paska bencana, aktivitas di bekas wilayah bencana kian normal. 
Namun, di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman, 
bekas-bekas gempa masih terlihat jelas.

Di sekitar Korong, wilayah setingkat dusun, Kapalo Koto, misalnya, terlihat 
gundukan tanah merah setinggi empat meter. Di bawah lapisan tanah itu, terkubur 
rumah-rumah warga yang terbenam oleh longsor. 

Sementara, bukit bekas longsor masih menyisakan gerusan tanah merah berpasir 
yang setiap saat bisa menimbun apapun yang ada di bawahnya. Aliran irigasi yang 
hancur tertimbun longsor mulai ditumbuhi semak belukar.
 
Jalan menuju Korong Lubuak Laweh Jajaran dari Kapalo Koto sudah bisa dilalui 
kendaraan berdindingkan gundukan meterial longsor. Dua wilayah itu adalah 
lokasi kuburan massal para korban gempa.

Beberapa menit paska gempa mengguncang, tiga korong tertimbun longsor. Di Pulau 
Koto, terdapat gundukan tanah yang mengubur satu sekolah dan  perumahan guru, 
serta beberapa warga setempat. Di Korong Cumanak, longsor akibat gempa juga 
menimbun ratusan rumah warga yang saat ini menjadi kuburan massal.
 
Sementara, di Korong Lubuak Laweh Jajaran, 132 warga tertimbun longsor dari 
sekitar 400 orang yang mendiami kawasan lereng perbukitan ini. Dari Pasar 
Tandikek, lokasi ketiga korong ini bisa ditempuh dengan kendaraan melewati 
jalan mendaki yang cukup terjal.
 
Di lokasi longsoran ini, warga tidak mendirikan kembali rumahnya yang roboh dan 
hilang tertimbun longsor. “Sangat berbahaya jika dijadikan pemukiman kembali, 
pemerintah menganggapnya sebagai zona merah bencana,” kata Wali Korong Labuah 
Panjang Jajaran Ismael pada VIVAnews.com.

Gempa pun masih menyisakan trauma. Menurut Ismael, banyak warga yang terkena 
musibah satu tahun lalu belum pulih dari trauma kehilangan sanak  keluarganya 
akibat bencana. 
 
“Mereka lebih banyak diam dan bila mengingat kejadian itu akan memperberat 
usaha mereka untuk pulih,” kata Ismael. Warga kehilangan rumah, harta, serta 
keluarga. Segelintir korban masih terlihat tinggal di hunian sementara 
(huntara) yang terkesan kian tak layak karena digerus waktu.
 
Bahkan warga masih menempati sejumlah kawasan yang berada tak jauh di lokasi 
bekas longsor. Mereka bertahan di lokasi rawan longsor dengan alasan tidak 
memiliki tanah lain.
 
”Sekarang banyak warga di korong saya memilih  mengontrak rumah di Pasar 
Tandikek sambil menunggu realisasi transmigrasi lokal yang dijanjikan 
pemerintah,” kata Ismael yang sempat tertimbun 18 jam saat longsor 
menghancurkan dusunnya. 
 
Janji ini telah diucapkan pemerintah sejak satu tahun lalu. Sekitar 100 kepala 
keluarga dari Korong Labuah Panjang Jajaran hingga kini masih berharap 
transmigrasi lokal ini bisa terwujud karena kondisi dusun mereka tidak layak 
untuk dijadikan lokasi perumahan. Korban dari Korong Cumanak juga bernasib 
serupa. Kediaman mereka yang diapit perbukitan terjal Gunung Tigo dan aliran 
sungai ini menyimpan potensi bencana. 
 
Di depan pasar nagari, perusahaan pengembang mulai membangun gedung-gedung 
berkonsep minimalis yang akan dijadikan sebagai pusat pertokoan. Jalan lingkar 
dari Kecamatan Patamuan menuju Padang Lua, Kabupaten Agam, pun rampung 
dikerjakan.
 
Sejumlah rumah tipe 21 mewarnai dusun-dusun di Nagari Tandikek. Rumah ini 
dibangun berdasarkan inisiatif warga yang dikerjakan secara gotong royong. 
Sebuah lembaga kemanusian dari Kanada (GenAsisst/CWRC) menggelontorkan dana 
sebesar Rp18 miliar untuk membangun sebanyak 890 unit rumah warga yang hancur.
 
Saat ini, 870 unit rumah mini telah ditempati warga. ”Sisanya akan diselesaikan 
dalam pekan ini karena sudah mulai dikerjakan,” ujar Program Manager CWRC Mona 
Sorainsong. Lembaga ini hanya membantu dana sebesar Rp15,6 juta untuk membangun 
kembali kediaman warga yang roboh.
 
Selain bangunan bantuan dari CWRC, sejumlah bangunan semi permanen sejumlah LSM 
juga mewarnai Nagari Tandikek. Nagari yang hancur karena gempa dan longsor ini 
masih menyisakan keheningan dan kepedihan karena bencana telah merenggut banyak 
hal dari mereka. (Laporan: Eri Naldi, Sumatera Barat | umi)

http://us.wap.vivanews.com/news/read/210778-berkunjung-ke-kuburan-masal-gempa-sumbar-2009

⁠
Wassalam
Nofend/34+ CKRS

Sent from Bus AKAP®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke