Ketika Papa Bercerita (11) By : Ritrina
Pergolakan yang terjadi di masa PRRI sangat membuat trauma ketakutan yang bersangatan di sebagian besar rakyat Sumatera Tengah. Sekalipun ada yang ingin menyerahkan diri kepada Tentara APRI, tetap saja dipersulit dan ditakut-takuti terlebih di masa awal pergolakan. Hal ini terkadang membawa keputus asaan di kalangan penduduk lokal. Sebuah cerita yang diceritakan kembali oleh Papa yang menimpa keluarga kami yang lainnya adalah meninggalnya salah seorang ayah dari sepupu kami di Rimbo Manduang. Hutan rimba yang berjarak setengah jam perjalanan ke dalam HUtan BUkit Barisan dimulai dari Dusun Sonsang, Tilatang Kamang. Tempat persembunyian pejuang PRRI atau penduduk laki-laki yang tidak mau diam di kampung sebab sangat beresiko disangka mata-mata PRRI. Sebuah rimba di perbukitan Bukit Barisan yang memanjang sepanjang pulau Sumatera. Tempat dimana penuh cerita mistik yang sering dipergunakan orangtua zaman dahulu untuk menakut-nakuti anak cucu supaya disiplin. Ohya Kawan, tempat ini bukanlah tempat yang asing bagiku. sewaktu kecil aku sering diajak Papa ke tempat ini bila musim panen cengkeh tiba. Kami memiliki kebun cengkeh di tempat ini, sebuah lereng perbukitan dimana dibawahnya mengalir sungai kecil yang jernih. Persawahan menyubur di tengah-tengah pusaran perbukitan itu dengan padi-padi yang menguning mengundang senandung burung bernyanyi diantara bulir-bulir bermakna itu. Di tengah kebun cengkeh itu berdiri sebuah gubuk bertingkat dua. Bagian bawah digunakan untuk menyimpan peralatan berkebun dan bagian atasnya untuk istirahat dan makan, layaknya homestay rimbaraya. Jarak 5 meter di samping gubuk kami ada sebuah sumur yang sangat jernih airnya. Akupun sering memakai sumur itu sewaktu kecil dulu. Ternyata Kawan, disanalah seorang keluarga kami pernah terkorban, ditembak dari jarak yang sangat dekat. Itupun ke ketahui baru hari dimana kutulis catatan kecil ini. Nama Pak Tuo itu adalah Nazar. Kenapa saya memanggilnya Pak Tuo? Sebab istri beliau yang masih sehat sampai sekarang ini saya panggil dengan sebutan Mak Tuo. Mak Tuo adalah saudara tiri dari Papa. Zaman dahulu apabila seorang laki-laki yang agak dareh baik dari segi financial, kealiman ataupun dari keturunan, maka hampir bisa dipastikan akan memiliki istri lebih dari seorang seperti halnya kakek kami yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting di dalam kampung kami. Beliau menjadi Imam mesjid kampung dan disegani sebab telah pergi berhajji. Berhajji masa itu sangatlah sulit. Terkadang bisa memakan waktu berbulan-bulan baru bisa kembali sebab dilalui dengan kapal laut. Dimana-mana masa itu laut bukanlah tempat yang aman untuk berpetualang. Belum lagi adanya pergolakan bersenjata dari Negara-negara penjajah, namun juga masih banyaknya bajak laut yang membuat perjalanan laut adalah suatu pertualangan antara hidup dan mati. Kakekpun akhirnya beristrikan 4 orang dan ibunya Papa adalah istri kedua beliau. Sedangkan ibunya Mak Tuo adalah istri pertama. Pak Tuo di masa mudanya adalah seorang relawan perang penjajahan. Mulai dari Agresi Belanda ke-2 sekitar tahun 1948. Sebagai seorang pemuda tanggung beliau membantu tentara Republik untuk menjemput nasi bungkus ke kampung-kampung untuk dibagikan ke tentara. Setiap kampung dipergilirkan untuk membantu Tentara yang tengah bertugas di sekitaran Kamang. Ketika Agresi Belanda kedua usai, sebagai tanda terima kasih pemerintah memberikan jabatan sebagai Tentara AURI dan beliaupun bertugas pelabuhan udara Tabing di pinggiran kota Padang. Masa perang PRRI, Pak Tuo Nazar ini ikut bergabung jadi tentara lua (sebutan untuk tentara PRRI). Beliau tergabung dengan pasukan yang dikomandani oleh seorang bekas tentara KNIL peranakan Jerman asal Menado yang kemudian masuk Brimob bernama Komisaris Besar Polisi Ben Zadel Berg. Dimana salah seorang kakak Mamaku yang tertua yang aku panggil dengan sebutan Mak Datuak juga bergabung di kesatuan ini. Ohya kawan, tentunya kamu ingat dengan Etek Mardiana yang kuceritain hilang dulu itu? Nah, Mak Datuak ini adalah suami dari Etekku yang cantik itu. Pak Tuo Nazar telah memiliki tiga orang anak hasil perkawinan beliau dengan Mak Tuoku. Satu orang perempuan dan dua orang laki-laki. Ketika itu mereka masih kecil-kecil. Nasib berkata lain kepada PakTuoku ini. Beliau gugur ditangan Tentara PRRI sendiri dan masih seorang tetangga di kampung kami. Orang ini sebut saja namanya Remi berasal dari sebelah kampung kami bernama Kampung Anduriang. Peristiwa itu terjadi di awal tahun 1960. Pasukan ini sedang bersembunyi di seputaran hutan di kedalaman Bukit Barisan di Rimbo Manduang. Hari itu Pak Tuo Nazar sedang mandi di sebuah sumur. Sumur yang biasa disebut dengan Lubuak. Lubuak itu berdinding sedikit tebing yang membatasi pandangan dari luar. Diatas tebing itu Pak Tuo meletakkan baju dan senjatanya. Dari balik semak datanglah Remi mengendap-ngendap di rimbunan hutan itu diam-diam mengambil senjata Pak Tuo. Pak Tuo yang tidak siaga sebab sedang mandi terkejut dan dengan cepat Remi menembak Pak Tuo yang sedang mandi itu. Pak Tuo langsung jatuh bersimbah darah yang mengalir di parit kecil menganak sungai. Innalilah Wainnailaihi Raaji'uun.. Letusan senjata itu didengar oleh kawan-kawan sepasukan Pak Tuo yang berada tidak terlalu jauh dari sumur itu. Mereka segera berlari melihat apa yang telah terjadi. Remi yang telah memegang senjata Pak Tuo lari ke dalam rimbunan Hutan. Melihat Pak Tuo yang telah diam tergeletak bersimbah darah, Kawan-kawan Pak Tuo segera menyebar menyisiri hutan mencari pembunuh Pak Tuo. Tidak berapa lama Remipun tertangkap. Dari keterangannya, dia berani menembak Pak Tuo karena ingin memiliki senjata Pak Tuo. Dengan modal senjata itu dia ingin ke kampung untuk melapor menyerahkan diri sebab sudah tidak sanggup lagi ikut berperang. Oh ya Kawan, kala itu, untuk bisa menyerah dengan resiko ringan haruslah menyerah bersama senjata yang ada ditangan. Kalo tidak tentara Pusat akan menyiksa mereka dengan kejamnya sebab dikeragui malah jadi mata-mata saja. Jadi akan lebih mudah menyerah bila bersama senjata yang dipakai untuk melawan mereka. Tentara Pusat sangat yakin bila seorang tentara PRRI tidak mungkin tidak memiliki senjata, sebab ada bantuan dari Amerika terutama dipersenjataan. Menurut Papa, Remi ini ada gangguan jiwa ringan sehingga dikeragui alasannya itu. Namun kawan-kawan Pak Tuo tetap menyidangkannya dan membawanya ke Palupuah. Palupuah kala itu adalah salah satu markas pusat tentara PRRI. Sejak dibawa ke Palupuah itu, Remi tidak pernah kembali ke kampung. Ada desas-desus yang menyebutkan dia dihukum mati disana. Jenazah Pak Tuo akhirnya dikuburkan di dalam rimbunan hutan Sumatera itu. Tepatnya di Lurah Tuhua. Tempat itu sangat jauh dari Rimbo Manduang. Bila berjalan kaki harus masuk ke Rimbo Takuruang, baru kemudian bertemu dengan Lurah Tuhua.Memakan waktu dua jam lebih berjalan dari Rimbo Manduang. Menurut Papa, barangkali karena kondisi yang lagi gawat itu dan bunyi tembakan tadi maka pasukan memakamkan Pak Tuo begitu jauh ke dalam hutan Bukit Barisan. Tahun 1970 Papa bersama seorang tetua kampung yang ikut menguburkan Pak Tuo Nazar dulunya karena beliau berladang diseputaran hutan itu yaitu St. Maradjo, Ni Eneng adik Pak Tuo dan seorang anak beliau yang biasa kupanggil Da En. Mereka berempat pergi mencari kuburan tersebut. Dengan membawa sedikit perbekalan dan beberapa beralatan pertukangan dengan maksud ingin manandai kuburan Pak Tuo. Akhirnya perjalanan melelahkan itu berhasil menemukan kuburan itu. Kuburan yang tidak ada tanda-tanda sama sekali, hanya sebuah pohon yang tumbang di dekatnya yang mengingatkan Pak Dt. Maradjo akan lokasi kuburan itu. Ziarah pertama dan terakhir setelah kepergian Pak Tuo. Batam, 16 Maret 2011 Note : Tulisan ini sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada pahlawan-pahlawan yang telah gugur demi tegaknya keadilan yang sampai sekarang belum begitu berhasil dinikmati semua lapisan masyarakat di bumi Indonesia ini. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
