----@ Darwin Bahar:

Dinda Zultan, pengamat bahasa yang kritis saya harap bersedia sebagai 
penyelaras  akhir, dibantu oleh saya jika masih ada umur.
----

Aha, ayo tagalak gadang ambo mah, bagharah Pak Darwin mangecek'an ambo 
"pengamat bahasa yang kritis".

Antah kok cando kritikus "sedeng" (bukan "sedang" atau "sadang" dalam Bahasa 
Minang) sarupo carito di bawah nan panah ambo lewakan sari [maaf, reposted].

                   ¤¤¤ 

Seorang kritikus sastra senior di karantina di sebuah rumah sakit jiwa karena 
kritik-kritik yang dilontarkannya terlalu tajam tanpa mengindahkan perasaan si 
penulis.  Menurutnya triangle ilmu sastra meliputi kritik sastra, teori sastra 
dan sejarah bila dapat berjalan normal, fungsional dan optimal, maka kemajuan 
ilmu sastra dapat tercapai.  Idealis memang.  

Namun demikian beberapa rekannya menganggap kritikus ini rada ”sedeng”. Hasil 
pemeriksaan psikater menyarankan supaya memberikan buku-buku untuk membantu 
percepatan penyembuhan. 

Setiap tiga hari kitikus gaek ini dikirimi berbagai buku, terutama yang 
berkaitan dengan sastra.  Beliau mampu melahap 2-3 buku hanya dalam tiga empat 
hari saja, lalu mengkritiknya.  Empat lima buku dikirim, seminggu selesai lalu 
dikritik.  Demikian seterusnya.  

Aneh, ”sakit”-nya makin menjadi-jadi.  Teman-temannya kewalahan buku apalagi 
yang sebaiknya dikirim.  Akhirnya diputuskan untuk memberikan buku yang agak 
tebal agar dibaca lebih lama. 

Setelah tiga hari tidak ada kabar darinya meminta buku baru seperti biasa.  
Selang dua minggu kemudian demikian pula; tak ada permintaan. Temannya jadi 
penasaran dan membezoeknya di dampingi teman lain. 

Setelah menanyakan keadaan si kritikus, salah seorang mereka bertanya, 
”Bagaimana dengan buku yang dikirim dua minggu lalu, Pak?””Saya masih 
membacanya!” katanya.

”Kenapa sekarang Bapak membaca lebih lama dan tidak seperti biasanya?” tanya 
temannya menyelidik.

”Buku ini aneh.  Terlalu banyak tokoh yang terlibat.  Hubungan antara satu 
tokoh dengan tokoh lain tidak dijelaskan.  Alur ceritanya melompat-lompat.  
Peran masing-masing tokoh sangat samar.  Si apa ayah, siapa ibu, mana anak?  
Siapa yang lebih muda, lebih tua, dll, sulit ditebak.  Mungkin harus dibaca 
berulang-ulang baru bisa dimengerti,” katanya antusias.

”Satu-satunya yang hal yang paling jelas adalah domisili masing-masing 
tokohnya,” lanjutnya.

”Baik Pak,” kata temannya sambil mengangguk-angguk. ”Silakan Bapak lanjutkan 
membacanya dan kami mohon pamit.”

Setelah keluar ruangan, teman satunya bertanya penasaran, ”Buku apa sih yang 
diberikan?”

”Buku telepon,” kata temannya dingin!

Salam,
ZulTan, L, 50, Bogor

"Give me a fish and you feed me for a day; teach me to fish and I'll eat 
forever, inshaallah."

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke