Oleh: Nurcholish Madjid

Kosmopolitanisme dan mobilitas tinggi pola budaya Pesisir menuntut adanya
dasar kebebasan dan persamaan yang kuat. Jika masyarakat Jawa secara garis
besar sering dipandang sebagai antipoda masyarakat Minangkabau, juga secara
garis besar, keterangannya ialah bahwa masyarakat Jawa tumbuh dalam
lingkungan topografi vulkanik paling besar dan paling aktif di muka bumi,
dan lebih besar daripada Ranah Minang. Kondisi topografis serupa itu
menjadikan Tanah Jawa kawasan paling subur di muka bumi, suatu kesuburan
ekstra produktif yang divalidasikan oleh sebutan Sanskertanya sebagai Java
Dwipa (Pulau Padi). Implikasinya ialah tumbuhnya masyarakat agraris
produktif yang memerlukan pembagian kerja hirarkis dalam masyarakat yang
mengenal stratifikasi sosial yang cukup ketat. Dalam gabungannya dengan
kemampuan mobilisasi kekuatan untuk tujuan-tujuan politik dan militer, Tanah
Jawa menjadi home base yang sangat handal bagi kerajaan besar Majapahit
untuk melancarkan ekspansi wilayah kekuasaannya sehingga meliputi seluruh
Nusantara, kurang atau lebih.

Tetapi untuk kebesarannya itu, Majapahit harus menerima kenyataan
perdagangan global yang sudah sejak sekitar empat abad sebelumnya dikuasai
oleh masyarakat dagang Muslim, yang untuk lingkungan Nusantara berpusat di
kota-kota pesisir sepanjang kedua sisi Selat Malaka. Oleh karena itu, untuk
keperluan internasionalnya, Majapahit tidak mungkin bersandar kepada
penggunaan Bahasa Jawa semata, betapapun canggih dan kayanya bahasa itu, dan
harus mengikuti kecenderungan umum Nusantara untuk menggunakan Bahasa
Melayu. Ditambah lagi bahwa bagi tujuan-tujuan ekspansi teritorialnya,
Majapahit juga harus bersandar kepada lembaga dan prasarana bahari
(maritim), dengan Bahasa Melayu sebagai bahasa kelautan Nusantara.

Dengan pengalaman kerajaan Majapahit yang berbasiskan pola budaya Pedalaman
masyarakat agraris ekstra produktif dalam tatanan sosial berlapis dan
hirarkis, kemudian diperkuat dengan wawasan bahari kota-kota pantai
perdagangan Nusantara, masyarakat Jawa tumbuh sebagai yang paling terlatih
untuk menangani kekuasaan kenegaraan dalam skala besar, dalam hal ini skala
Nusantara. Dominasi masyarakat Jawa di bidang kekuasaan kenegaraan semakin
sulit ditandingi oleh masyarakat-masyarakat Nusantara lain yang cenderung
mengalami fragmentasi sosial-politik, mendekati hakikat metafor pesisir atau
pantai dengan hamparan pasirnya yang berserakan. Tetapi tumpuannya yang amat
berat kepada masyarakat berpola budaya Pedalaman dengan stratifikasi
hirarkisnya, masyarakat Jawa mengalami hambatan yang relatif lebih besar
daripada masyarakat-masyarakat berpola dasar budaya Pesisir seperti
Minangkabau dalam memahami dan menerima pandangan negara kebangsaan modern
(modern nation state) yang berciri asasi keadilan, faham persamaan manusia,
keterbukaan, mobilitas tinggi, dan kosmopolitanisme.

Kenyataan di atas itu agaknya disadari oleh sebagian besar para anggota
masyarakat Jawa yang terpelajar dalam arti modern, berkat kesertaannya dalam
pendidikan Belanda. Karena itu dalam Kongres Pemuda 1928, mereka yang pada
hakikatnya merupakan peserta terbesar, hampir tanpa masalah dapat menyetujui
dan menerima Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan untuk bangsa dan negara
modern yang mereka dambakan. Dengan peristiwa amat bersejarah itu,
masyarakat Jawa berpola dasar budaya Pedalaman untuk pertama-kalinya secara
institusional resmi dipersatukan dengan masyarakat--masyarakat berpola dasar
budaya Pesisir, paling terkemuka di antaranya ialah masyarakat Minangkabau,
guna mendukung perwujudan "proyek" raksasa, yaitu pembentukan negara
kebangsaan modern Indonesia yang kokoh, bersatu dan berdaulat, dan yang
adil, terbuka dan demokratis.

Sebenarnya gabungan kerjasama konstruktif antara lapisan terpelajar
masyarakat Jawa dengan imbangan mereka dari masyarakat Minangkabau telah
terwujud beberapa tahun sebelum 1928. Sarekat Dagang Islam, yang kemudian
menjadi Sarekat Islam (dan kelak berkembang lagi menjadi Partai Sarekat
Islam), pada hakikatnya adalah wujud simbiose mutualistis antara Jawa dan
Minang, dengan tokoh-tokoh representatifnya, Haji Samanhudi sebagai salah
seorang pemrakarsa pertama, kemudian Haji Omar Said Tjokroaminoto dan Haji
Agus Salim. Karena proses pertumbuhannya itu, Sarekat Islam merupakan
gerakan sosial-politik pertama yang sungguh-sungguh berdimensi nasional,
dalam arti bahwa wilayah pengaruhnya meliputi hampir seluruh kawasan Hindia
Belanda. Sifat keislamannya yang mengatasi batas-batas kesukuan dan
kedaerahan, dengan dukungan nyata kerjasama lintas daerah dan suku antara
Jawa dan Minangkabau, Sarekat Islam adalah wujud paling dini jiwa
keindonesiaan. Politik Etis Belanda dan pendidikan modernnya telah
membuahkan hasil sampingan positif berupa tumbuhnya kesadaran nasionalisme
modern. Tetapi sampai dengan tampilnya Sarekat Islam, kesadaran itu baru
menghasilkan gerakan-gerakan kepemudaan berdimensi terbatas kepada kesukuan
atau kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes dan Jong
Ambon. Gerakan kepemudaan pertama yang berdimensi lintas suku dan daerah
adalah buah pikiran seorang tokoh Sarekat Islam asal Minangkabau, Haji Agus
Salim, dengan sarannya kepada seorang tokoh pemuda mahasiswa priyayi tinggi
Jawa yang santri, Raden Syamsurijal, untuk membentuk Jong Islamieten Bond
(J.I.B.) sebagai alternatif Jong Java yang mengecewakan Syamsurijal. JIB.
tumbuh sebagai tempat persemaian para pemimpin Islam berpendidikan modern
Belanda, yang kelak memegang tampuk pimpinan inti Partai Politik Islam
Masyumi.

(bersambung)

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke